November 12, 2018 37 comments

Bertahun-tahun pada Satu Nama

Bertahun-tahun pada satu nama. Lelah bagimu harus sesakit apa?
Bertahun-tahun ceritamu hanya seputar dirinya.
Penolakan bagimu harus sekeras apa?

Kapan kau akan mencari tahu mengapa semuanya harus berjalan bertahun-tahun?
Sampai kapan kausebut dirimu setia, ketika bahkan tak ada sebuah tangan untuk kautuntun?

Kau yakin tak bisa berhenti menyebut namanya?
Apa itu bukan karena memang kau tak ingin ada nama lain yang menggantikan kekuasaannya?
Kau yakin itu karena kau benar-benar cinta?
Apa bukan karena kau memang tak mau mengenal orang-orang di luar sifat dan kebiasaannya?
Kau yakin ingin sendiri dulu sampai dia menyadari penantianmu?
Apa kau memang seyakin itu kalau dia akan berbalik badan, memeluk, dan meminta maaf karena membuatmu lama menunggu?
Kau yakin alasanmu bertahan adalah senyumannya?
Meski senyum itu bukan untukmu? Kau masih rela? Sungguh?

Kau ini, apa tidak pernah berkaca? Apa tak pernah merasa iba pada garis wajah yang selalu kaumirip-miripkan dengannya? Apa kau tak ingin berhenti? Apa air matamu tak habis menangisi alasan yang itu-itu saja?

Rindu tapi cuma bisa memandang dari layar dalam genggaman. Sayang tapi sudah bertahun-tahun terlupakan. Kau tak rindu dipeluk?
Kau tak rindu ditenangkan?

Kau itu tidak sedang hidup dalam drama sebuah anak remaja. Hidup yang berlalu, membawa perasaannya ikut serta. Artinya, tak ada jaminan penantianmu yang bertahun-tahun itu akan menjadi ketukan-ketukan manis di depan hatinya.

Barangkali masalahnya bukan karena kau tak bisa pergi. Tapi, karena kau terlalu memaksa menanti cinta yang tak pasti.

Berhenti menuliskan namanya. Setidaknya sampai kau mendapat tanda bahwa bertahun-tahun kemarin tak akan menjadi sia-sia.
Berhenti memperpanjang waktumu untuk kaubuang-buang. Kalau bukan untukmu, dia takkan ada dalam dekapanmu, walau mulutmu harus berbusa mendoakan kehadirannya berulang-ulang.

Lagipula, kalau kau cukup berani untuk bertahun-tahun bertahan. Seharusnya kau lebih berani untuk melepaskan dan memaafkan diri sendiri karena terlambat sadar.
Kau itu pantas bersenang-senang tanpa harus menunggu bertahun-tahun seperti yang masih kaulakukan sekarang.
October 29, 2018 2 comments

Lembar Kedua

Ada perasaan yang baru saja tiba dan lalu membuka kedua mata. Untuk kesekian kali, aku ingin berhenti dalam perjalanan mencari-cari di mana sesungguhnya cerminan diriku berada.

Belum lama kekacauan menyandera jiwa, kau datang menawarkan rasa untuk kujaga.
Belum sempat kutamatkan cinta di lembar pertama, sudah kau ajak aku menulis di lembar kedua.

Bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta?

Jadi kini, kau tak perlu lagi bertanya. Hatiku ini sudah hampir kaurampas seutuhnya.
Tak perlu rasanya kutulis berbaris-baris kalimat cinta, karena kita berdua sudah jauh lebih manis dari rangkaian-rangkaian kata.
Kau bahkan tak perlu menyematkan nama lain dalam perbincangan kita hanya untuk memastikan aku akan secemburu apa.

Kita tak perlu bersusah payah, kita hanya ditugaskan untuk melangkah. Berdua.

Lagi, kau tak perlu berjanji untuk tak akan pergi.
Berjanjilah saja bahwa kau ini bukanlah sebuah mimpi.
Kau pergi setelah ini pun aku tak apa.
Asal kau beri izin untukku mengejar mengikuti.

Aku mau kita benar-benar tersimpan rapi di dalam kepala. Menjadi yang paling ingin diingat dan dimaknai keberadaannya.
Aku mau kita berdiri di atas ketentuan untuk saling menjaga. Aku mau, kita masing-masing menjadi satu-satunya.

Terakhir, sebelum kau tersenyum lagi.
"Aku jatuh cinta denganmu" adalah milikku. Yang boleh menjadi milikmu hanyalah "Aku pun begitu".

***
Balasannya di sini.
Ditulis oleh Alfin Rizal.
October 14, 2018 8 comments

Surat Terakhir: Kamu Lupa

Kamu lupa kita pernah ada.
Kamu lupa kita pernah bersikeras untuk menyamakan masa depan yang sewarna. Pernah mengalah demi usia hubungan yang lama. Pernah berjanji untuk berhenti mencari, karena terlalu yakin dengan keselarasan jiwa. Kamu lupa aku selalu punya sandar dan peluk saat kau lelah mengerti kemauan dunia.

Kamu lupa, bahwa melupakan tak pernah tak butuh usaha. Kamu lupa bahwa kedatanganmu yang sebentar itu, selalu memutar semua kembali seperti semula. Sehingga aku harus kembali terjatuh di kedalaman rasa yang sama, dan memulainya lagi dari langkah pertama.

Kamu lupa memberitahuku cara berhenti memanjakan asa. Aku masih saja ingin ragaku kausanding lagi sebagai pasangannya. Kamu lupa memberiku pintu untuk pergi dari arena. Aku kaubuat harus terus berkelahi dengan logika.
Mengapa yang bagimu mudah, bagiku tak ada jalan keluarnya?

Kamu lupa aku ini cuma insan. Yang kebetulan mudah mencintai, sulit melepaskan. Apalagi dulu beberapa kali kaubuatku merasa dinomorsatukan.
Rasanya memang kesepian ini tak akan mudah aku ramaikan.

Tapi apa harus seterjal ini sebuah perjalanan? Yang hanya untuk melupakanmu, aku harus melenyapkan senyuman dan harap-harap di angan.
Apa harus serumit ini kisah seorang perempuan? Yang hanya karena ditinggalkan, ia harus menulis ratusan huruf kesedihan dalam rangkaian.

Tak perlu berpura-pura menyelamatkan karena aku tahu tangan itu adalah sebuah lambaian untuk perpisahan. Tak perlu berpura-pura tanya kabar dan keadaan karena aku tahu kau tidak benar-benar merindukan.

Bebaskan saja seluruh ikatan yang pernah kita karang. Agar aku benar-benar punya ruang untuk mengenang tanpa mengulang.

Kalaupun ternyata kita masih bisa mencoba bersikap dewasa dan terus berjalan sebagai dua orang teman, aku tidak menyepakatinya. Berada di sebelahmu dengan perasaan yang sudah tak ada balasannya, untuk apa?

Kamu lupa mengakhiri semuanya.
Ini kubuatkan "titik" dari seluruh tentang kita.
Semoga kamu berbahagia.

***
Balasannya di sini.
Ditulis oleh Alfin Rizal
September 23, 2018 10 comments

Kita Ini Apa?

Kita ini apa?
Kita ini bagaimana?

Terlalu jauh untuk menjadi dekat. Terlalu dekat tapi tak punya tempat.

Kita ini saling menemukan tapi tak punya nyali untuk memulai. Mengumpulkan banyak kata tapi tak tahu bagaimana cara merangkai. Kita berdua ini pengecut; ingin disatukan semesta, tapi langkah pertama untuk mendekat pun tak ada.

Apa jangan-jangan kita hanya sebatas jiwa yang ingin berdua?
Apa kita ini kesalahan yang dipaksa?
Apakah kita hanya dua hati yang berbunga-bunga? Yang lalu akan layu begitu saja?
Ataukah memang selama ini semua hanya pementasan sebuah drama?

Aku bertaruh, saat ini kau sedang merindukanku, tapi kau tak tahu bagaimana cara untuk mengaku. Karena tanpa kausetujui, aku pun merindukanmu setiap hari. Ingin semua yang kita bicarakan sejak dulu menjadi obrolan nyata. Semuanya jelas, di hadapan mata. Di tengah-tengah kau dan aku, di tengah sumpah kita yang terlalu ingin menyatu.

Tapi tunggu dulu, biar kutanya kau sesuatu. Atas kedekatan ini, adakah ternyata sebuah ego yang diam-diam telah dikesampingkan?
Atas nama kesungguhan hati, adakah mungkin kepercayaan lain yang telah dikorbankan?
Sudah benarkah kalau aku bilang kita sama-sama terjerat dalam kenyamanan?
Karena tak peduli seberapa pun kerasnya aku menentang, kamu tetaplah satu-satunya yang aku inginkan.

Lalu bisakah kau terus di sini bahkan saat keadaan mendorongmu pergi?
Bolehkah kita terus berdua walau tak bersama?
Adilkah pada yang lainnya saat kuminta dunia hanya milik kita saja?

Bisakah kau menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang entah di mana ujungnya?

***

Balasannya, "Sedang Kuusahakan", dari Kak Menda (@fermendkis). Baca saja. Mana tahu mendapat kejelasan atas pertanyaanmu.
September 15, 2018 2 comments

Bukan Saatnya

Di hari kesekian setelah aku mulai kehabisan makna, kamu mendekat dengan hati penuh doa.
Aku seperti dahaga di gurun pasir ternama, kamu melangkah dengan tatapan sedalam samudera.

Hadirmu membuatku teralih, dari kekandasan jalinan yang mencekik mati secara perlahan. Akhirnya, bukan hanya sebuah dalih, aku terlepas dari kenyataan-kenyataan yang bergerak menyudutkan.

Dia berhasil membuangku jauh. Kemudi telah hilang kendali dan menjadikanku tak ingin berlabuh. Kemudian kamu datang menjanjikanku ribuan alasan untuk berbahagia. Kamu memang laki-laki yang tak boleh berakhir sia-sia.

Tapi, rasanya tak pantas memaksa diri untuk kembali berdua hanya agar dia tahu bahwa aku sanggup tanpa hadirnya. Rasanya tak pantas menjadikanmu seorang "pengganti", bahkan ketika memang seperti kamulah yang sejak kemarin kunanti-nanti.
Aku ingin menemuimu sebagai seseorang yang benar-benar harus kutemui, bukan untuk menutupi luka-luka yang seharusnya menjadi urusanku sendiri.

Aku selalu siap untuk kembali jatuh cinta. Tapi, bukan ini saatnya. Bukan ketika aku baru saja diasingkan dari lingkaran kejujuran yang ternyata maya. Bukan ketika tiba-tiba mataku menangkap keberadaanmu sebagai pereda badai di kepala.

Aku tak lelah percaya dengan laki-laki. Bahkan saat seluruh kalimatnya hanyalah bualan yang memperkeruh hati. Aku hanya mulai merasa lelah dengan fase-fase "kasmaran lalu kehilangan". Bosan dengan urutan yang sejak dulu tak pernah ada perubahan.

Ini bukan sebuah penolakan, aku tak pernah menganggapmu datang dengan segenggam permintaan. Terserah padamu mau bagaimana, di sini menemani, atau pergi mencari perempuan lain yang bisa membalas perasaanmu dengan senyata-nyatanya janji.

Pada akhirnya, jawabanku nanti hanya satu:
"berkomitmen, atau tidak sama sekali".

---

Psst! Tulisan ini berpasangan. Baca di sini.
September 2, 2018 27 comments

Terurai

Setiap manusia diberi hati untuk merasakan kepekaan sekitar. Tapi, anehnya, aku tak peka saat kau bilang perasaan di dalam dirimu mulai memudar. Semua berjalan terlalu baik-baik saja untuk aku menyadari bahwa hatiku sudah di ujung lempar. Sehingga aku harus membongkar semak belukar, mencari-cari alasan kenapa yang manis selalu akan menghambar?

Aku kira kita telah berada di usia "berkomitmen atau tidak sama sekali". Artinya, bukan lagi masanya untuk kita datang, bilang cinta, lalu pergi.

Sepertinya ini hanya soal kebiasaan. Kau melatih dirimu untuk biasa menerima, atau biasa mencari lagi saat mulai merasa hampa. Jadi mungkin bukan salahku ketika kau pergi tapi tak ingin mengakhiri. Bukan pula salahmu yang menganggap kita masih belum waktunya untuk berjanji. Sepertinya memang sudah waktunya. Sepertinya restu dunia bukan lagi milik kita.

Aku tak mau mengguruimu, tak mau mendikte perlakuanmu padaku. Biar kau belajar sendiri, bahwa sebab-akibat itu benar ada dan perlu dipahami. Seandainya kau mau berpikir dua kali, seandainya kau tahu tak semua menyediakan kesempatan kedua kali, kau tak akan kehilanganku, aku takkan semarah ini denganmu.

Kukira kita sudah harus belajar dewasa. Tapi, kau masih saja fokus pada "apa yang membuatmu bahagia, apa yang bisa dipotong saat itu juga". Seperti seorang anak di dalam masa tumbuh, belajar memisahkan mana yang menurutnya berguna dan tidak berguna.

Kapan-kapan, menulislah kau dengan tanganmu sendiri. Jujur saja apa yang sedang terjadi, apa yang mengganggu, apa yang ingin sekali kaubenahi. Pasti yang salah selalu bisa diperbaiki. tak bisa serta-merta dihancurkan, tak bisa serta-merta hilang arti.

Kita sudah pernah berkali-kali berjuang sebelum ini. Sebelum pertemuan kita pun, harusnya ada kehilangan yang akan membuatmu tak ingin mengalaminya dua kali. Harusnya, dulu, sebelum kau mencoba untuk menelaahku, kau harus mengkaji dirimu sendiri. Setelah itu mungkin baru kautahu, sebesar apa harapan yang harus kauberikan, agar di akhir aku tak merasa terlalu dikecewakan.

Kalau kisah hanya tersisa kisah, kalau kau belum juga berkaca dan ingin berubah, aku berani untuk hidup sendiri.
Kalau ikatan tali sudah terurai, kalau keeratan kita sudah selesai, aku berani melangkah pergi.
August 29, 2018 11 comments

Self Love

Untuk yang kusayang, diriku sendiri.
Kalau aku harus menentukan siapa yang menjadi pihak terpenting dalam urutan hidupku, jawabku sudah pasti kau. Selama ini, kaupikir untuk apa aku menjadi selalu ingin menang? Untuk apa dulu aku "sendiri" kalau bukan agar kau merasa tenang? Atau, saat ini, untuk apa aku berdua kalau bukan agar kau bahagia?

Aku tahu, kau sedang berada di usia rajin-rajinnya. Rajin belajar, bersekolah, rajin mencari informasi, ilmu, mencari restu, mencari jati diri, rezeki, atau sekadar mencari-cari perhatian seseorang yang tak pernah kaudapatkan sejak dulu. Selama kau percaya yang kaulakukan adalah baik, selama kau punya keimanan untuk hal-hal yang hanya bisa kauyakini dengan baik, lakukanlah, selesaikanlah. Tuai seluruh rasa bangga dari segala apa yang sejak dulu kautanam dengan kerja keras. Kelelahanmu itu berarti, untuk kau mempelajari dirimu sendiri.

Tak usah iri pada kehidupan orang lain yang bahkan kau tak tahu baik dan buruknya. Pikirkanlah walau harus berkali-kali, kau diberikan hidup untuk disyukuri atau disia-siakan dengan hati dan kepala yang panas setiap hari? Percayalah, mereka itu tidak hidup beruntung, kau hanya tak tahu bagaimana perjuangannya. Mereka itu tidak serta-merta punya segalanya, kau hanya tak tahu segiat apa mereka berusaha. "Hidup enak" yang kaubilang itu tak mungkin tak ada durasi dalam prosesnya. Kau bahkan tak tahu selantang dan sepanjang apa doa-doanya.

Untuk yang kusayang, diriku sendiri.
Memang, aku pun setuju, kewajiban paling berat mungkin adalah menerima. Tinggal di lingkungan yang menyakitkan, atau belajar di sekolah yang tak begitu dikenal, atau bekerja bukan pada perusahaan ternama, atau, bahkan hanya menerima kalau kau bukan seseorang yang ingin dia curi hatinya. Sungguh, kalau semua hal tak menyenangkan bisa dan mau ditulis, semua jari-jari manusia pasti sudah mati rasa.

Tapi, tenang. Menerima tidak hanya diperuntukkan bagimu saja. Setiap orang pasti punya titik terendah dalam hidupnya dan mereka pun dituntut untuk menerima. Bedanya, mereka bisa menerima ketentuan-ketentuan dengan lapang dada, kau yang di sini malah masih saja berkutat dengan sumpah serapah atas ketidakberhasilanmu. Kalau sampai setelah ini kau masih sulit menerima, kau, sungguh, benar-benar tak tahu malu.

Untuk yang paling kusayang, diriku sendiri.
Ini pun penting, selagi kau masih bujang, masih belum ada tanggungan lamar-melamar, berlarilah dengan kakimu sampai kau menjadi insan yang paling bebas, berkarya positif tanpa batas, percaya dirilah walau cintamu harus berkali-kali kandas. Jangan terlalu bersandar pada harap-harap atas kriteria pasangan yang akan kaunikahi nanti. Tuhan tahu kau pantas untuk seseorang yang seperti apa.

Aku terlihat bagus bersanding dengannya.
Senyumnya terlihat bagus untuk kukecup setiap paginya.

Tidak sesederhana itu. Pantaskan diri dahulu agar kriteriayang kausebutkan setiap hari di dalam hatiitu boleh menjadi milikmu. Mutiara akan pantas bersama emas atau perak, tidak dengan besi yang dingin dan bau. Jangan lagi meminta banyak hal lalu kesal sendiri kalau tak terkabulkan. Lihat dulu ke belakang, usaha apa saja yang sudah kaulakukan? Jodoh yang kauidam-idamkan tidak begitu saja turun dari langit, harus dijemput. Paling tidak, minimal, sifat, karakter, dan kebiasaan yang kaumau itu sudah ada dalam dirimu sendiri.

Tapi, satu yang harus kauingat, sebebas-bebasnya kau berlarian, kau harus tetap tahu aturan. Karena menjadi muda itu bukan hanya soal tumbuh menua, kau pun harus belajar mengendalikan beban dan tanggungan. Ada pengorbanan waktu, tenaga, dan pengorbanan-pengorbanan lain yang mungkin dulu tak pernah kauduga.

Diriku sendiri, tak perlu jauh-jauh membanggakan dunia, banggakan aku terlebih dahulu. Buat aku percaya kau bisa menaklukan musuh-musuh yang selalu timbul dari dalam hatimu. Bangkitlah gunakan pijakan terkuatmu, bertekadlah gunakan iman-imanmu.

Fokuslah dahulu pada pembelajaran diri, buat dirimu manusia yang paling mengerti dengan kecacatan pun keunggulanmu sendiri. Aku tak kan ke mana-mana. Tuhanmu apalagi, yang punya semua rencana.

Satu lagi, terakhir. Diriku sendiri yang kusayangi, berhentilah khawatir soal jodoh dan rezeki. Sama halnya dengan usia, tiga hal itu sudah disediakan Tuhan untuk kaujemput sendiri. Kau tahu Tuhan tak kan memberikan hal baik begitu saja. Harus ada kemauan dari hamba-Nya.
Ini bukan omong kosong, kau pasti akan menyadarinya nanti. Alasan satu-satunya kau menjalani hidup seperti ini, adalah karena memang hanya kau yang bisa melaluinya, orang lain belum tentu mampu.
Kau benar-benar seistimewa itu.

Oh, iya. Maaf selama ini kau harus terlalu sering mengalah walau tak salah. Maaf kau harus berkali-kali melepaskan yang bahkan belum sempat kaugenggam. Terima kasih karena selalu kuat. Terima kasih karena kau masih hidup dan terus belajar hal-hal hebat.
Aku menyayangimu, sungguh.
August 18, 2018 2 comments

Kekeliruan Rasa

Ada yang lebih hangat dari mentari pagi.
Terbit bukan dari timur, tapi dari dalam hati.
Ada hasrat ingin menyapanya dari selatan.
Yang tak akan sanggup kuutarakan.

Sungguh dua kaki ini tak berarti.
Jalan melewatinya saja aku tak berani.
Sore kini terasa sia-sia.
Senja kini terasa seperti hanya sebuah nama.

Warna putih perlahan mulai memerah.
Seperti kedua pipi saat senyumannya merekah.
Jatuh cinta memang tak pernah tak terasa indah.
Termasuk bahkan perasaan yang sudah ditolak mentah-mentah.

Luka-luka membias di kerling mata.
Mohon ampun agar tiada sakit yang lebih menyiksa.
Aku sungguh, menyukainya.
Dan hal sialan itu terus tumbuh, pada kekeliruannya.

Ingin memaksa, tapi tak kuasa.
Jelas satu rasa bukan untuk aku saja.
Sekarang timbul kembali kata tanya "mengapa".
Mengapa aku merasa berdosa ketika aku hanya jatuh cinta pada teman lama?

Barangkali persahabatan terlalu erat.
Barangkali jalinan cinta akan terlalu mengikat.
Demi jarak yang amat dekat,
terbukakah matamu untuk aku yang tak sengaja terpikat?

Sesederhana itu perasaanku.
Baru tumbuh satu sudah dicabik waktu.
Apa jadinya saat berjumlah seribu?
Apa kemerdekaan memang bukan milikku?

Harapan kini tinggal hembusan angin.
Tertiup lepas, kalah dari kekuatan "amin".

Apalah arti janji walau sekokoh raksasa?
Kalau hingga detik ini pun hatinya tak kunjung peka.

Sudah lama aku hidup dalam hitam kelam kehilangan.
Kertas sudah penuh dengan caci-makian.
Kini, setelah aku ternyata menemukan,
bodohnya aku, dia adalah seorang teman.

Satu hal terakhir.
Kalau teman memang hanya untuk menjadi teman, tolong jelaskan perasaan apa yang kini sedang semesta limpahkan.
Benarkah ini hanya untukku sendiri?
Tak adakah sisa untuk dia nikmati?
August 9, 2018 9 comments

Keluh

Aku benci dengan kata "mulai". Lebih benci dengan saat-saat sebelum memulai. Hal-hal baru selalu kuanggap menyebalkan karena prosesnya pasti panjang. Padahal aku ingin seluruhnya sesingkat merebus mi instan. Aku benci harus merangkak sebelum berjalan. Aku ingin langsung berlari begitu aku mengepalkan tangan.

Aku benci ketika seluruh keyakinan lenyap tiba-tiba, pergi dariku, lepas dari pelukan doa-doa. Percuma rasanya aku merangkai tekad sebulat-bulatnya.
Aku ingin berhenti khawatir pada takdir yang terus mengalir. Aku ingin berhenti mencari tahu, ingin membunuh tanda tanya baru, ingin berhenti haus akan jawaban. Aku ingin menghapus kata "mengapa" atau "bagaimana bisa". Aku ingin dunia berhenti memakai kata "kapan" setelah membanding-bandingkan. Aku benci dengan perbandingan. Karena salah satu harus terpaksa terlihat kurang agar satunya bisa diunggulkan.

Aku ingin hidup setingkat di bawah Tuhan dan orangtua. Tak ingin ada bos, atasan, ketua, atau penguasa. Iya memang, mereka pun pasti memulai dari anak tangga pertama, persis di tempat ini--tempatku berada. Tapi melihat mereka yang selalu seenaknya sendiri, aku menjadi ingin sering berdoa. Mendoakan mereka berhenti menjadi manusia.

Aku ingin kembali menjadi anak kecil berumur empat tahun, saat orang-orang bahagia melihatku membaca. Pasti bahagia sekali saat itu bisa menyenangkan orang-orang dewasa. Karena setelah aku tahu, tinggal di usia kepala dua benar-benar menguras waktu dan tenaga. Aku hampir selalu dituntut untuk mencari hiburan selain liburan. Apa pun di mana pun, asal aku bisa keluar dari area pekerjaan. Yang menuntut? Tentu diriku sendiri.

Aku butuh teman untuk berbicara, tapi aku benci dengan ekor cerita. Karena selalu ada mulut yang mengikuti. Artinya, aku benci dengan sebuah topik yang merembet ke mana-mana. Mulainya apa, akhirnya apa. Disambung-sambung terus, tak juga jera.
Sampai rasanya seluruh kalimat tentang ekonomi, cinta, politik, janji, dan lain-lainnya, ingin kuberi titik sebesar jagad raya.

Aku ingin kedamaian untuk entah apa yang kini sedang riuh di pangkal hati.

Aku ingin mereka yang datang akan menetap walau tak bersumpah. Kurasa diam bertahan walau tak memberikan apa-apa itu tidak terlalu susah.

Aku ingin melimpahkan maaf untuk diriku sendiri. Salah setitik atau sebelanga, aku ingin segera menganggap itu semua tak pernah terjadi. Aku bosan menganggap diriku adalah penyebab dari tiap-tiap kekacauan. Harus berapa kali aku tersesat dalam pikiran dan kebodohan yang menyesatkan? Bukannya menyelamatkan diri, aku malah terjun ke dalam jurang.

Aku mungkin adalah satu di antara milyaran perempuan yang Tuhan tuntut untuk mengerti. Bebanku harus kunikmati agar tak menyiksa nurani. Aku harus tahu diri, dan tahu arti--apa guna diciptakan pundak dan kaki.

Aku ingin merdeka.
Bebas, tak terkurung dalam nestapa.
Aku ingin berlayar berujung samudra. Pasifik atau pun Hindia, asal lautnya membuat jiwa tenang saat itu juga.

Aku ingin, aku--yang selalu mengeluh ini--tahu, bahwa, anak sekolah saja paham, tugas itu untuk diselesaikan. Mereka tahu, masalah itu untuk dipecahkan. Bukan untuk dikeluhkan dan dituangkan dalam barisan-barisan kemarahan. Aku seperti sedang berperang tapi tak tahu dengan apa dan atas alasan apa. Terus-menerus merasa kalah tapi tak ada pemenangnya.

Sudah. Aku sudah punya banyak keluhan. Yang belum punya hanyalah ampunan. Serta cara untuk berhenti mengeluhkan keadaan.

Benarkah bersyukur adalah satu-satunya jalan?
July 28, 2018 3 comments

Puisi?

Untuk laki-laki yang masih mendekap dan terperangkap.

Sampai kapan kau menjadi debu?
Diterbangkan ke sana kemari
Akhirnya terdiam juga di sampul buku

Sampai kapan kau izinkan jantungmu terhunus?
Sampai kapan, matamu mati melihat aku yang tulus?

Jangan memaksa menggapai apa yang tak santai
Jangan berlari di jalan yang memperlambat kakimu sampai

Berhentilah mencari
Berhenti kehilangan dirimu sendiri
Tak usah berdarah-darah dan membuatku marah
Sadarlah,
bangun dari mimpi panjangmu
Temui aku
Aku punya separuh untuk melengkapimu

Jangan lagi membanding lalu membanting
Aku ini kepatahhatian yang tak bisa berpaling

Jangan lagi sendu
Jangan lagi keliru
Jangan lagi tersesat
Jangan lagi terhambat
Kau punya aku
Mari selesaikan puisi ini dengan satu kata 'tamat'

Dariku,
cinta yang tak pernah sempat.
July 7, 2018 9 comments

Rumit

Aku terkejut kau benar-benar hilang. Membawa lari lembaran kisah yang rumpang. Kurasakan kini hatiku telah benar-benar usang. Kita telah terlampau jauh--kau tak lagi berada di seberang. Ada kehampaan yang menyekik hati, begitu aku tahu kau kini tak lagi peduli.

Mungkin memang tidak tertulis di garis tangan kita untuk saling melengkapi. Dan aku percaya, aku memaklumi. Kalau memang aku bukan jodohmu, mau bagaimana lagi? Toh, semua yang kulakukan untukmu tak pernah berarti. Pikirkanlah saja, kalau benar kita saling menerima, mengapa saat ini kau tak ada di depan mata? Kalau benar kita ini masih saling mencintai, ke mana pergimu meninggalkan aku seorang diri?

Apa iya kebohongan di kepalaku tentang ketidaktulusanmu benar-benar nyata? Apa iya, hanya aku yang dulu terlalu mencinta? Jawablah, setidaknya satu, untuk mewakili semuanya.
Apa kau pernah benar-benar ada?

Kalau saja ternyata kita dulu bertemu di waktu yang salah hingga kini harus terpisah, mari bertemu lagi di sudut jalan. Menyatukan lagi perasaan-perasaan yang dulu tak sepenuhnya bertuan. Aku ingin nanti permohonanku terbalaskan. Sayang ... tak ibakah kau melihatku berlutut meminta pengakuan?
Atau kalau ternyata kita dulu menyatu di pemikiran yang belum matang, mari kembali bertemu dan saling bertukar pandang. Aku sungguh merinduimu, asal kau tahu. Perasaan ini terlalu besar untuk menjadi rahasia kecil di dalam doa-doaku. Tak kan bisa lagi berbohong kalau kau memanglah satu yang kumau. Tak apa meski dulu hanya aku yang berjuang, meski kau selalu pergi dan jarang datang. Tak masalah meski dulu aku jatuh dan bangun seorang diri. Tak masalah dulu aku hanya mendengar janji-janji. Aku tak peduli dengan perhitungan-perhitungan itu. Aku peduli denganmu.

Kalau kau kelak membaca tulisan ini, mulai saat itu, cobalah berhenti menjadi pribadi yang selalu ingin menang sendiri. Yang selalu melakukan semuanya tanpa merasa harus ditemani. Aku pun ingin kaujadikan teman berdiskusi, aku ingin dianggap, dimintai pendapat, diajak mencari jalan keluar, atau sekadar ditenangkan kecemasannya. Aku ini ada. Jangan hidup sendiri. Jangan menjadi egois lagi denganku. Kau tahu aku tak kan selamanya mengalah denganmu. Memang benar aku punya hati, cukup besar kalau hanya untuk memaafkanmu--sekali dua kali. Tapi kalau seterusnya kau akan begini, sudahlah, sepertinya memang tak ada kesempatan kedua yang kucari-cari.

Kau terlalu angkuh untuk kuhormati sebagai laki-laki. Kau terlalu nyaman berada di jalanmu sendiri. Tanyakanlah lagi pada dirimu, apa kau sadar selama ini aku setia di sisi? Apa kau sadar saat kaubilang "aku mencintai"? Apa buktinya? Kenapa kau malah pergi, menyesal, tapi tetap tak mau berubah sama sekali?

Kukira ini semua karena kisah kita yang rumit. Ternyata, untuk sepenuhnya mendapatkanmu dari awal memanglah sulit.





Baca "Runyam", di sini, lalu simpulkan sendiri siapa yang paling sakit.
July 4, 2018 7 comments

Kepada yang Dulu Tersayang

Kepada yang dulu tersayang.
Kalau menghapus bukan satu-satunya jalan, maka biar saja kegagalan ini menjadi paragraf-paragraf di keabadian. Untuk seluruh angan yang kemarin belum sempat kita kabulkan, tinggalkan saja semuanya. Jangan sampai ada sisa. Karena percuma. Kau tahu kita sudah tak punya waktu untuk membahasnya berdua.

Nanti, ketika kita telah menemukan jalan berbelok yang terpisah, aku akan berusaha selalu ingat, bahwa “kita” bukan lagi tempat aku memusatkan arah. Cerita kita yang dulu rutin tertulis, harus kurelakan terpotong begitu adanya. Kita tak harus berakhir bahagia seperti dongeng-dongeng anak yang pernah kita baca berdua. Karena sejatinya memang apa yang kita sebut “rumah”, tak pernah semewah istana.

Untuk kesalahan-kesalahan yang belum sempat kita perbaiki, benahi saja dengan cara kita sendiri. Kita tak perlu lagi marah dan merasa kalah. Kita tak perlu lagi berdebat soal ketidakselarasan hati. Kamu kini milikmu, aku kini milikku sendiri. Kita sudah bebas tersenyum dan bermain dengan semua orang tanpa takut dicemburui. Kita sudah bebas berlari ke mana saja dengan siapa saja tanpa takut dicurigai.

Tak ada yang boleh disalahkan dengan perpisahan ini. Terlepas dari fakta siapa yang lebih sakit, atau siapa yang tega mengakhiri, kita tetap dua orang yang pernah saling mencintai.

Kepada yang dulu tersayang.
Segala apa yang pernah kita raih dari sebuah juang, ingat itu sebagai kerja kerasmu sendiri. Jangan libatkan aku lagi. Suatu saat, mau tak mau, kelak kau pasti menemukan pengganti. Lalu jangan pernah ungkit namaku, lebih-lebih kisah kita sebelum ini. Kalaupun seandainya suatu saat terlintas di kepalamu pertanyaan bagaimana kabarku, jangan lakukan apa pun. Jangan mencari kabarku, jangan menghubungi teman-temanku, apalagi berlari ke hadapanku. Kau tahu urusan paling melelahkan adalah dengan masa lalu. Sekuat apa pun ia disingkirkan, ia akan tetap berada di situ. Karena masa lalu tak kan hilang, ia hanya tertutup oleh masa yang baru.

Yang dulu tersayang...
Siap tidak siap, terbit sudah akhir ceritanya. Halaman terakhir yang berisi paragraf-paragraf terakhir, harus segera ditutup agar perasaan berhenti mengalir. Yang boleh kau ingat hanyalah kita pernah saling mencintai. Tak usah mengingat bagaimana cara mendapatkan cintaku lagi.

Kepada yang dulu tersayang.
Aku memaafkanmu, maafkan juga aku. Berhentilah mencari tahu apa yang dulu mengikis hubungan kita. Jangan menolak siapa pun yang nanti datang padamu menawarkan hatinya. Karena aku percaya, cara terdahsyat untuk menutup luka lama, adalah dengan kembali jatuh cinta. Aku telah mengizinkanmu berbahagia, walau bukan aku lagi sebagai alasannya.

Terima sajalah kenyataan—bahwa kita ternyata hanya sepotong masa lalu, bukan teka-teki masa depan.
June 29, 2018 11 comments

Untukku, Miliknya


Sebuah ruang menjadi dua, dipisahkan kaca, yang nyata.
Kamu, ada di sana, dengan sejuta rasa penuh tanda tanya.

Tanpa pernah mempersiapkan dan mempersilakan, kamu tiba-tiba memberi makna.
Aku—perempuan tak tahu malu—percaya, kita akan dijadikan pasangan oleh dunia.
Bahkan tak takut berjanji untuk menjadikanmu satu-satunya.
Karena kamu datang ke hadapanku dengan perasaan paling kuat dari siapa pun.
Mendebarkan dada lebih raya dari kapan pun.


Tapi, kenyataannya, kita adalah kesalahan yang paling berani. Mencelakai diri untuk bisa saling mencintai.
Barangkali, perasaan kita adalah apa yang tak terasa di dalam nadi. Tak peduli walau akhirnya kita akan mati karena pilihan kita sendiri.

Masa depan denganmu yang seharusnya kupeluk, menjadi sebatas bayangan samar-samar di ufuk.
Kita yang selalu ingin mendekat, terus-menerus kehabisan cara mengalahkan sekat.
Aku mencintaimu, dan kau pun begitu.
Tapi tak peduli sekuat apa ingin menyatu, kita tetap hanya sebatas aku dan kamu.
Saling melihat, tapi terhambat.
Seperti ini mungkin rasanya mencintai tapi tak ada perkenan untuk memiliki.
Karena meski aku yang menang dalam lomba, tetaplah dia yang jadi juara.
Meski aku yang berjuang mati-matian di dalam kaca, tetaplah dia yang hidup dalam sebuah kisah cinta.

Pada akhirnya, kita hanya sebatas “saling cinta” yang tak bisa berdua.
Pada akhirnya, hatimu—sekali lagi—tak bisa kuminta untuk selamanya ada.
Karena kamu datang dengan hati yang ingin tapi tak ingin.
Karena, kamu datang padaku sebagai milik orang lain.
June 13, 2018 1 comments

Pengingat Diri

Malam ini aku mendengar kabar baik dari seorang teman, saaangat baik. Saking baiknya, aku hampir menangis. Berpikir betapa beruntungnya dia, diberi jalan yang (terlihat) mulus oleh Tuhan. Betapa bangga orang tuanya, memiliki anak perempuan yang luar biasa. Tentu saja, aku tahu dia tak kan mendapatkannya dengan menengadahkan telapak tangan begitu saja. Butuh banyak kekuatan dan proses pembelajaran sebelum sampai pada pencapaiannya.

Kami berteman hampir enam tahun, tapi baru bersahabat dan mulai sering berdiskusi baru sejak dua tahun terakhir. Tapi meski begitu, aku tahu betul kalau dia seorang pekerja keras. Di sekolah dulu, dia aktif di semua mata pelajaran, terutama Bahasa Indonesia. Pidato, membaca puisi, menulis esai, adalah hal yang biasa. Itulah kenapa, sekarang dia sedang mengerjakan skripsi di program studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Dulu, semasa sekolah, dia hampir selalu juara satu. Kalau tidak juara satu, juara dua. Tak pernah merasakan bagaimana orang tua marah karena kepintarannya ada di urutan belasan atau puluhan. Beberapa kali juga mendapatkan juara paralel. Artinya, di antara siswa-siswa yang juara satu, dia yang nomor satu. Bagaimana tak bangga?

Perempuan ini, sangat mencintai dunia teater beserta panggungnya. Dari SD sampai di Perguruan Tinggi, dia tetap menggeluti akting. Mungkin karena itulah, dia menjadi pandai sekali mengganti air wajahnya menjadi tenang dan tak ada apa-apa, meski sebenarnya kekalutan sedang menggerogoti senyumnya.

Aku tak tahu kalau dunia punya seseorang yang seperti ini, apalagi, dia perempuan. Sekuat itu dia mengartikan hidup dan terus berjalan menikmatinya sebagai sebuah tetapan dari Tuhan. Aku tak bilang dia tak pernah menangis. Tentu saja dia juga sama sepertiku dan remaja perempuan pada umumnya—menangis dan terluka. Beberapa kali dia menangis di depanku saat bercerita. Aku? Jelas ikut terluka. Ternyata, seorang perempuan yang terlihat tegar, tak pernah benar-benar tegar. Kita tak pernah tahu bagaimana isi hati seseorang kalau dia tak bercerita. Kalaupun bercerita, kita tak tahu apakah itu benar-benar kenyataannya, atau dia hanya bicara dusta.

Tadi, setelah dia bercerita tentang kabar baiknya, aku terbawa suasana. Rasanya sesak, ingin menangis dan berteriak. Tapi entah soal apa. Apakah aku terlalu bahagia mendengar temanku sedang berbangga? Ataukah aku kembali menilai diriku tak pernah seberuntung dirinya?

Di atas motor, aku mengatakan ini, “selamat, ya! Aku seneng dengernya. Aku seneng hidupmu lancar. Hidupku loh, kayak gak pernah lancar. Dari tahun lalu aku nyari sesuatu yang bener-bener aku butuhkan, sampai sekarang belum dapet juga”.

Dia menjawab, “masalah orang itu beda-beda”.

Aku merasa tenang dan tertampar dalam waktu yang sama.

Memang benar. Hidup seseorang itu seperti sungai. Panjang, dan terus mengalir. Setiap sungai memiliki rintangan yang berbeda-beda. Ada yang berbatu, ada yang alurnya terlalu deras hingga sulit menyeimbangkan, ada yang terlihat dangkal dan memalukan, ada yang bahkan terlalu dalam dan menyusahkan. Padahal, pada akhirnya, semua tetap akan bermuara pada sebuah kebahagiaan; laut yang tenang.

Aku selalu suka berdiskusi soal kehidupan. Saling belajar untuk memperbaiki, saling mengingatkan kalau kita tak sendiri, pun saling menjaga dari hal-hal yang menyakiti.

Aku bersyukur diberi masalah oleh Tuhan. Karena aku akhirnya bisa berbicara dan mendengarkan.

Sejatinya, porsi tawa dan air mata setiap manusia itu sudah ditetapkan, arah hidup kita pun juga sudah tertulis bahkan jauh sebelum kita dilahirkan. Sejatinya, aku tahu kalau rezeki bukan hanya soal materi dunia. Selama ini aku dilimpahkan hal-hal membahagiakan, tapi dengan bodohnya masih saja terkadang berprasangka buruk dengan Tuhan. Aku melihat kesempurnaan di hidup seseorang, sampai lupa memeriksa kembali anugrah yang Tuhan berikan. Aku juga tahu, kalau patah hati bukan hanya soal ‘melihat kehidupan orang lain lebih bahagia’. Hidup ini jauh lebih luas dari hanya sekadar iri dan menginginkan apa yang tak bisa kita genggam.

Porsinya sama. Seimbang. Letaknya saja yang berbeda. Melihat ke atas hanya diperuntukkan untuk memotivasi, bukan untuk merasa tak percaya diri apalagi rendah diri. Alasan Tuhan, hanya Tuhan yang tahu. Kita, jalan begini saja. Berusaha sekuat-kuatnya, berdoa segigih-gigihnya. Tuhan tak kan menjadikan langkah kita sia-sia.
Semoga saja.

Satu lagi, terima kasih, C, mau selalu mendengar dan bertukar isi kepala. Mau saling menguatkan dan menemani. Mau mengajari tanpa menggurui. Mau menjaga tanpa memaksa. Semoga masih banyak kabar-kabar baik dan buruk yang akan kita bagi, berdua.


temanmu.
June 3, 2018 3 comments

Sebuah Jawaban

Halo! Sebelum baca "Sebuah Jawaban", baca dulu "Sebuah Tanya" di sini.

***

Sejak awal aku sudah menyangka suatu saat yang pergi akan merangkak menyesali. Ternyata benar, kini kau ingin berjuang memilikiku lagi. Kau terlambat datang, Sayang. Aku sudah tak sama seperti perempuan yang dulu tahu-tahu kau tinggalkan. Panggilan “Sayang” untukmu saja sudah terasa hambar tak terselip kesungguhan.

Tapi, sungguh, aku baru tahu alasan kau akhirnya memilih pergi. Apa? Mengobati luka? Apa sesakit itu bersanding dengan ketidaksempurnaanku? Apa memutus yang salah selalu lebih mudah dari pada memberi tahu yang benar?

Rasa dendam itu memang sudah meredam. Sudah tak ada lagi bagian darimu yang membuatku marah ataupun gundah. Aku bahkan bersedia kita berteman, tapi ... kalau mengulang jalinan perasaan, jawabanku adalah tidak. Sudah terlalu banyak kekuatan diri yang dulu kupatahkan sendiri. Sedalam itu aku jatuh cinta denganmu. Benar-benar sedalam itu. Hingga saat kita gagal, kuanggap darimulah seluruh sebab berpangkal.

Aku terlalu sibuk mencari cara untuk terus membahagiakanmu, sampai lupa cara belajar menyelamatkan kebahagiaanku sendiri.

Buktinya, dulu, belum sempat aku berangkat untuk mengagungkan kita, kau sudah menghilang sekerling mata. Belum sempat kupeluk kau dengan hangat, tiba-tiba hatimu berubah arah dengan cepat.
Kemudian, kini, kau bilang ingin kembali, membawa setengah hati yang sudah lama tak kudengar kabarnya lagi. Entahlah, keterlambatanmu membuat aku tak ingin menyiapkan kesempatan lain. Sudah habis rasanya garis-garis senyum yang kau cari-cari.

Tapi terima kasih kau akhirnya menyadari, bahwa ternyata memang akulah perempuan satu-satunya yang paling mengerti. Maaf, aku tak ingin patah hati kedua kali. Tak perlu bersumpah menjadikan kita abadi, dulu kau juga pernah berjanji tak akan pernah menjadikanku sendiri. Ternyata? Dusta.

Pergilah, pergi.
Jangan datang hanya untuk menyesali dan bilang ingin kembali.

Pergilah, pergi sajalah, lagi.

Aku berhenti.
May 27, 2018 31 comments

Fiksi #1


“Aku merindukanmu.”
“:)”, balasan yang terlalu singkat, untuk keinginan bertemu yang terlalu kuat.

Saat itu pukul 03.37 sore di Mataram. Fala menatap profile picture milik seorang laki-laki yang saat ini sedang amat ia cintai. Matanya berkaca-kaca.

Hubungan yang tidak terikat status, menjadikan mereka merasa seperti punya batas, bahkan dalam hal menyayangi. Ditambah, bentangan jarak 700 km yang kini memberatkan mereka untuk bertemu meski mereka mau. Belum lagi libur perkuliahan yang tak sama, biaya berangkat dan pulang, restu orang tua, dan masih banyak lagi yang berani menahan kaki mereka untuk membayar lunas janji-janji pertemuan. Minggu depan, genap sudah 24 bulan penantian Fala untuk kedatangan Fajar yang selalu ia singgung setiap malam.

“Jar ...”, Fala mengirim pesan lagi, dua jam setelah pesan berisi simbol senyuman diterima.
“Iya?”
“Kamu kenapa? Ada masalah apa?”. Saat ini yang Fala rasakan hanya kumpulan rasa cemas yang mengabuti kepalanya. Tumben, Jar?
Tak ada balasan dari Fajar. Yang ada hanya tanda kalau pesan itu sudah diterima, dan dibaca.

Solo-Mataram sudah bukan hanya soal beda kota, ini sudah tentang beda pulau, beda pembagian waktu. Fajar harus menyeberang pulau Bali untuk sampai di pulau Lombok—pulau yang dulu bagi Fajar hanya berisi dua hal; Kota Mataram, dan Fala.
Tapi, sejak kecelakaan pesawat telah merenggut nyawa ayah angkatnya lima bulan lalu, Fajar tak mau lagi menaiki pesawat terbang untuk beberapa tahun ke depan. Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Dulu, saat mereka berdua masih di bangku SMA, mereka bisa bertemu seminggu sekali, sekarang, hampir dua tahun, mereka belum juga bertemu. Dulu, setiap hari mereka bertukar kabar, sekarang, mendapat kabar seminggu sekali saja sudah untung.

Empat tahun bagi Fala bukanlah waktu yang sebentar untuk menjalani sebuah hubungan. Fajar adalah orang pertama yang akhirnya membuat Fala berani untuk jatuh cinta. Empat tahun, Fala diajarkan bagaimana menyatukan hatinya dengan hati lain yang mencintainya, bagaimana menerima perbedaan isi kepala dua orang yang disandingkan, bagaimana cara menutupi kekurangan dan menerima bahwa tak ada satu manusia pun yang terlahir sempurna. Kelas 2 SMA, Fala tak percaya Fajar akan bisa menembus hatinya. Tapi siapa kira ternyata Fajar membuat Fala kini tak bisa lepas darinya.

Setelah empat tahun berlalu baik-baik saja, saat ini, bulan Maret 2016, Fajar tiba-tiba mulai menjadi seseorang yang lain dan beda. Fala mulai mengeruhkan isi otaknya sendiri, mengotori ketulusan-ketulusannya dengan deretan prasangka. Seharian yang ia pikirkan hanya, apa yang telah ia lakukan hingga Fajar berubah drastis menjadi dingin seperti tadi. Padahal sebelumnya, sesibuk dan semarah apapun Fajar, tak pernah Fala menerima pesan sesingkat simbol titik dua dan kurung tutup. Paling singkat, ya ... “Iya, Sayang.”

Jangan menjadi rumit, Jar, tolong.

Di luar lamunannya tentang Fajar, Fala masihlah seorang mahasiswi semester IV yang punya banyak tugas dan tanggung jawab. Ia membawa tiga kewajiban dan tanggung jawab yang besar di dua pundaknya yang lemah. Menjadi bendahara umum di UKM Kesenian, menjadi pianis di band fakultasnya, satu yang terakhir, menjadi koordinator kelas. Kesibukan di perkuliahan menjadikan Fala seringkali lupa menanyakan kabar Fajar, bagaimana hari-harinya, bagaimana organisasinya, Fala lupa, kalau masih ada seseorang yang harus ia jaga hati dan perasaannya.
Mana tahu Fala kalau ternyata tiga tugas baru itu, menjadikannya semakin jauh dari Fajar. Dari yang raganya hanya berjarak 700 km, kini hatinya juga berjarak—ribuan kilometer. Mana tahu Fala kalau ternyata tanya kabar akan menjadi sepenting itu dalam sebuah hubungan. Apalagi untuk mereka-mereka yang cintanya berjarak.

Saat dua orang sudah terlalu sulit untuk bertemu, apalagi yang tetap menguatkan kalau bukan komunikasi yang baik?

***

“La.”
Fala tahu, Fajar pasti punya sesuatu yang harus didiskusikan. Fala juga merasa kalau saat ini mereka sedang berada pada situasi yang paling rumit, selama empat tahun mereka berhubungan, selama dua tahun mereka jauh dari gapaian. Ayo selesaikan ini, Sayang.
“Telepon aja, Jar.”
Fajar langsung menelepon Fala.
“Halo, La”, suara Fajar terdengar tidak terlalu semangat. Tidak seperti telepon-telepon yang lalu. Saat yang mereka bicarakan seluruhnya tentang rindu, dan rindu.
“Halo. Ada apa?”
“La, aku tahu kamu pasti mengerti sekarang aku sedang merasakan apa. Akhir-akhir ini aku merindukanmu dengan sangat, tapi telepon dan pesanku kamu abaikan berminggu-minggu. La, aku rindu. Aku rindu tapi kamu tak ada di situ.”
Hati Fala tersayat. Ia tak tahu kalau Fajar ternyata diam-diam kesakitan, karena rindu-rindu itu harus ia habiskan sendirian. Walau sebenarnya Fala juga rindu, ia tak tahu kalau kesibukannya—yang justru ia lakukan untuk mengalihkan kerinduannya pada Fajar—malah membuat Fajar patah.

“Maaf, aku salah. Bulan ini sedang banyak acara di kampus. Ponselku hanya kupakai untuk urusan acara. Aku juga rindu, tapi mau bagaimana lagi? Fajar, dua tahun aku menunggu kamu datang. Waktu itu kau bilang bersedia mendatangiku meski kita harus kuliah di beda Universitas, kau bilang kau mau melunasi rindu-rindumu, tapi mana? Sampai saat ini aku tunggu kamu, yang aku terima masih hanya ratusan pesan berisi rindu. Jar, rinduku juga sama hebatnya dengan milikmu. Tapi kalau tak ada usaha apa pun untuk bertemu, jutaan pesan berisi rindu akan menjadi seperti menulis surat cinta dengan pena tanpa tinta. Sia-sia, Jar. Sia-sia.”

Mereka, saling menyalahkan.

Fala menangis.
Hati Fajar semakin terluka. Karena saat ia mendengar wanitanya menangis, ia tak ada di sana untuk menenangkannya.
“La ... “
“Jar, bukan hanya kamu, aku juga terluka. Dua tahun aku terkurung dalam ketakutan. Aku takut kau berpaling. Aku takut kau tak setia. Aku takut janji-janjimu akan berakhir menjadi dusta. Jar, aku mencintaimu, tapi kalau kita menjauh karena ego kita sendiri, lebih baik, kita berhenti.”

“Kita belum memulai apa pun, La. Apa yang mau kau sudahi?”
“Untuk hatiku yang terus-menerus khawatir, untuk hatimu yang ingin terus ditemani, mari kita jadikan saja jarak 700 km ini sebagai sebenar-benarnya jarak, antara kita. Aku tahu kau pasti benci mendengarku menangis. Aku pun benci harus terus menanti. Kalau kita berhenti di sini, tak kan ada lagi tangisan yang kau dengar. Tak kan ada lagi janji-janji yang harus kutagih. Kita bebaskan saja diri kita sendiri. Seperti dulu, saat kita belum saling mengenal dan jatuh hati. Aku masih akan terus mencintaimu. Percayalah, aku masih akan selalu mencintaimu. Terima kasih telah menjadi cinta pertama yang indah. Kalau suatu saat kita diizinkan untuk bertemu, aku berjanji akan memelukmu erat. Aku berjanji, akan mencintaimu dengan perasaan yang lebih kuat. Tapi kalau ternyata kita tak diizinkan untuk bertemu lagi, hingga salah satu antara kita menemukan hati yang lain lalu mulai mencintai, biar sudah seperti ini. Jangan lagi bilang rindu. Aku takut akan nekat menemuimu. Maaf, Jar. Aku harus membicarakan ini lewat telepon. Selamat malam.”

Fala mematikan teleponnya. Lalu menangis, sejadi-jadinya.

Malam itu, adalah malam paling menyakitkan untuk Fala. Karena harus melepaskan saat sedang cinta-cintanya. Saat ia harus menyerah tanpa tahu mengapa ia melakukannya. Seketika ia benci pada dirinya sendiri. Karena ia harus memilih untuk selesai, daripada mencari jalan keluar. Ia benci, karena ia menjadi pecundang atas perasaannya sendiri.

Dua bulan berlalu...

Malam hari, 26 Mei 2016, Fala di atas panggung bersama teman-temannya. Mereka membawakan lagu terakhir, lagu ciptaan Fala.
“Lagu ini, ciptaan Nona Fala, yang cintanya terpaksa selesai, sebelum dimulai”, ucap vokalis band itu.

Telah tersemat sebuah nama
Jauh melekat di dalam jiwa
Dulu semuanya sempurna
Sebelum semesta, memisahkan kita

Kini habislah sudah
Dongeng kita yang dulu indah
Selesai sebelum dimulai
Berlalu sebelum bertemu

Tak ada tangan untuk menggenggam
Tak ada kaki untuk berlari
Bahkan saat matahari sudah tenggelam
Aku belum bisa melepas pagi

Bahkan saat bayanganmu sudah menghilang
Aku masih saja terus mencari


Setelah lagu terakhir selesai dimainkan, semuanya bertepuk tangan. Lalu, tiba-tiba ... seseorang di belakang penonton berdiri dan bertepuk tangan. “Dia wanitaku!”, teriaknya. Semua mata penonton sontak melihat ke arahnya. “Pianis itu, sang pencipta lagu, dia wanitaku!”.
Fala terkejut dengan apa yang sedang ia lihat saat itu. Ia berdiri tercengang. Menunggu bayangan pemilik suara tadi mendekat dan menampakkan wajahnya. Meski sebenarnya ia sudah tahu, kalau suara itu milik Fajar, laki-laki yang dua tahun dia tunggu untuk datang. Yang kini sedang berdiri di depan panggung menatap Fala. Yang lalu merentangkan kedua tangannya. Menyiapkan dadanya sebagai sebenar-benarnya tempat untuk Fala mengadu.
Fajar tersenyum. Fala berlari turun dari panggung. Ia menangis menuju pelukan Fajar. Dipeluknya erat laki-laki yang masih sangat ia cintai itu.
“Kembalilah padaku”, Fajar berbisik di pelukan Fala.
Fala menangis.
Fajar melepaskan pelukannya. Memandangi wajah Fala yang dua tahun terakhir hanya bisa ia lihat dari layar ponselnya.
“La, aku minta, mulai sekarang, kamu hanya boleh menangis kalau ada aku. Kalau tak ada aku, jangan. Mau, kan? Memulai semuanya dari awal dengan ikatan baru? La ... mau, ya? Menjadi yang paling kucari saat aku kalut, menjadi satu-satunya tujuan saat aku pergi, dan satu-satunya rumah tempatku pulang. Aku mencintaimu, semua boleh kau katakan, asal bukan tentang perpisahan.”
Fala tersenyum, laki-laki itu terdengar begitu mencintainya. Karena kedatangan dan pengakuannya, kini Fala tahu bahwa—ia harus membenarkan apa yang salah, membenahi apa yang kacau, bukan memotong ikatan dengan satu ucapan “selamat malam” di ujung telepon.
Fala memeluknya sekali lagi.
***
Seluruh pasang mata iri sekali pada saat itu menyaksikan kami.
Saat ini, aku sedang menunggu Fajar keluar dari gedung. Hari ini dia wisuda! Tentu saja, aku sedang bersama orang tua dan adik-adiknya. Kami sudah berjanji, akan terus bertahan bersama. Menerima dan menyelesaikan seluruh tugas yang telah disiapkan semesta. Ya, mungkin hingga nanti, hingga anak cucu kami menceritakan kembali kisah-kisah ini untuk kami berdua.
Semoga Fajar selalu dalam lindungan-Nya. Selalu datang menghangatkan seperti namanya. Beruntung sekali aku, mencintai dan dicintai orang yang sama.
Solo, 26 Mei 2018
dengan kasih sayang Fajar dalam genggamannya,
Rafala Amikadea.
May 20, 2018 45 comments

Saat Kamu Memutuskan untuk Berpaling

Satu-satunya yang aku pikirkan saat aku akhirnya tahu kamu sedang berpaling adalah, "apa yang selama ini kamu cari?". Karena kalau sesuatu yang tak ada padaku telah kau temukan di dalam dirinya, tak ada lagi yang bisa kujadikan alasan untuk menjadi juara. Asal kamu tahu, saat pertama kali kamu berinisiatif untuk mengenal dia lebih baik dari sebelumnya, saat itu juga aku pantas sekali disebut sebagai pecundang. Iya, kan? Ke mana saja aku? Apa saja yang selama ini kuberikan pada kekasihku? Kenapa masih ada celah yang bisa ia pakai untuk menemukan saat masih tengah memiliki? Sebegitu tidak becusnya aku menjaga. Sepayah itu aku menyayangi. Sehingga kekasihku satu-satunya, harus berpaling karena merasa aku sudah tak layak untuk menemani.

Aku yang salah. Bukan. Kesalahan bukan pada kamu yang menyakiti aku. Bukan pula dia yang merebutmu dariku. Aku. Segala kepatahhatianku ini, berasal dari diriku. Yang tidak bisa membuatmu tinggal lebih lama di sini; aku. Yang tidak bisa memagari hubungan kita dengan kuat; aku. Aku yang salah. Karena tidak bisa membuatmu melihatku sebagai seseorang yang patut kau beri ketulusan. Sampai kamu berani menggeser posisiku untuk mendapatkannya. Mengabaikan aku untuk menjadi lebih dekat dengannya.

Seandainya saja, telingaku adalah tempat untukmu yang paling nyaman untuk mengeluh dan menceritakan apa pun di balik seluruh peluh. Seandainya, pundak-pundakku mau kau gunakan sebagai tempat rebah dari seluruh lelah, tentu sampai saat ini aku masih menjadi kekasih yang tak ada duanya. Tentu saat ini di hatimu tak pernah ada cinta lain yang kini sedang kau megah-megahkan namanya.

Apa lagi lalu yang bisa kulakukan selain menerima?

Kalau sudah begini keadaannya, mana mungkin aku tega menjadi orang ketiga dalam hubunganmu dengannya? Mana mungkin aku sampai hati membuat dia merasakan sakit yang sama dalamnya dengan saat aku melihat kalian berdua? Kalau benar akhirnya aku yang harus pergi, tak apa. Aku akan belajar bagaimana menjadi teman tumbuh yang baik, agar kekasihku yang selanjutnya, takkan meninggalkanku untuk cinta baru yang menurutnya lebih baik.
April 18, 2018 47 comments

Mas

Mas, jadilah laki-laki paling menjengkelkan di hidupku. Jadilah egois yang selalu ingin mengalahkanku. Jadilah hangat dan menenangkan. Jadilah manis dengan sikap-sikapmu yang menyebalkan.

Jadilah kamu kekasih yang kepala batu. Bilang pada semua orang bahwa kamu hanya mau aku. Minta aku menjadikanmu nomor satu. Curi semua hatiku lalu cemburu pada siapa pun dan apa pun di dekatku.

Teruslah di sampingku dan maafkan apa pun kekeliruanku. Buat seluruh perempuan bertengkar karena ingin menggantikan posisiku. Beri tahu dunia bahwa kamu terlalu pantas untuk diperjuangkan. Karena kamu memang seindah itu untuk dikagumi tanpa butuh panjang penjelasan.

Mas, seberuntung itu aku akhirnya bisa memenangkan kamu.
Karena cacat dan lukaku yang kau rawat. Karena lemah dan rapuhku yang kau jadikan kuat.
Maka apa lagi yang harus kucari saat Tuhan telah memberikanku kamu? Tempat dengan ketenteraman seperti apa lagi yang harus kusinggahi saat kini kamu-duniaku-sedang duduk manis menatapku?

Mas, beri tahu aku apa pun yang menjadikanmu gundah. Jadikan aku seseorang yang kauinginkan ada saat kau mulai resah. Biar aku datang dan mendengarkannya satu-persatu. Akan kudamaikan kekalutanmu seperti dulu saat kau hampiri aku dan menyelamatkan seluruh haru biruku.

Jadikan aku satu-satunya yang melihat kekacauanmu. Agar hanya aku yang mengerti dirimu. Luapkan kegagalanmu seluruhnya dalam pelukanku.
Biar dunia melihatmu sebagai hati yang tak pernah kecewa. Biar dunia mengingatmu sebagai laki-laki yang sempurna.
Tapi terlepas dari semua itu, Mas, terima kasih karena telah menemukanku. Terima kasih, karena perempuan itu adalah aku.
April 14, 2018 34 comments

Setelah Kamu Pergi

Setahun setelah kamu pergi, hatiku masih belum mengerti cara melangkah untuk menyudahi ini. Aku masih berdiri sendiri, masih larut dalam bekas genggaman tanganmu, masih terpenjara dalam kenangan saat kita berdua belum sejauh ini.

Entah bagaimana atau dari mana aku harus memulai untuk menjelaskannya.
Tentang apa yang membuatku jatuh sedalam ini, atau kapan aku akan berhenti.
Aku kehilangan kata untuk mengartikan kerumitan perasaanku sendiri.

Aku selalu merentangkan kedua lenganku untuk kau merebahkan diri dalam pelukanku.
Aku masih mengantar doa-doa yang akan menjagamu kalau mungkin lengan-lenganku tak bisa mendekapmu.
Aku selalu melakukannya tanpa kauminta. Tanpa kau peduli.

Tapi melihatmu kini bersama yang lain, aku mulai ingin beranjak dari kekalahan ini.

Selebar itu senyumanmu saat bersamanya.
Semudah itu kaujadikan aku sebagai sebuah cerita lama.
Sebahagia itu kalian berdua.
Sesulit itu memintamu mengerti bahwa aku satu-satunya di sini yang menerima ribuan lara.

Tanyakan padanya, maukah dia menerimamu sebagai seorang laki-laki yang selalu ingin dimengerti?
Pastikan sendiri, siapa yang lebih baik untukmu hingga saat ini.
Suatu saat nanti, saat kau telah menemukan jawabannya, silakan kembali.

Karena sesungguhnya aku telah memaafkan seluruh kesalahanmu. Kembalilah tanpa bilang padaku bahwa aku terlalu baik untukmu.
Jangan bicara omong kosong denganku. Cukup datang padaku lalu peluk aku.
Katakan padaku kau takkan mengulanginya dan berjanji untuk selalu bersama denganku.
Atau kembalilah saat kau tahu rumahmu adalah aku.
Bukan dia.
April 7, 2018 16 comments

Bersedihlah

Mengeluhlah kalau kau ingin mengeluh. Lepaskan rasa sakit di dadamu yang mulai riuh. Akui saja bahwa hatimu juga punya sisi yang sangat rapuh. Yang perlahan akan terkikis walau kaujaga dengan sungguh-sungguh.

Bersedihlah kalau kau harus bersedih. Tulis siapa dan apa saja yang membuat lukamu terasa semakin perih. Percayalah bersedih takkan membuat harga dirimu tersisih. Karena sejatinya kau hanya membenarkan bahwa kini jiwamu sedang begitu letih.

Teriaklah kalau kaurasa kau patut berteriak. Luapkan segala emosi di dalam dirimu yang saat ini sedang bergejolak. Keluarkan kekesalan itu sebelum semakin meruak. Terimalah saja sedikit rasa pahit atas harapan-harapanmu yang telah koyak.

Menangislah kalau kautahu ini sudah waktunya menangis. Terima semua kekalahan-kekalahan itu yang perlahan menjadikan batinmu teriris. Tumpahkan semua air matamu sampai habis. Kau pun tahu masalah-masalah yang datang tak akan bisa selalu kau tepis. Jangan bersikeras menghadapi dunia dengan kelemahan ini, egois!

Tak perlu takut untuk terlihat lemah. Bilang saja kalau kau sedang resah. Beri izin dirimu sendiri untuk merasakan apa yang membuatmu gundah. Kau tak perlu khawatir akan kalah. Mungkin saat ini keteguhan hatimu sedang diasah.

Sediakan ruang untuk dirimu sendiri. Biarkan kekeruhan ini terus mengalir hingga perasaanmu jernih kembali. Pahami kesedihan mana yang harus kauganti. Cari tahu kebahagiaan sebesar apa yang harus kaucari untuk membuatmu hidup lagi.

Kau tak perlu memaksa untuk terus terlihat ceria.
Hidup selalu punya rasa pahit sebelum rasa manis tercipta.

Bersedihlah selagi kau masih bisa.
Selanjutnya, silakan kau berbahagia.
Jadikan dirimu insan yang paling kaya akan makna.
Kau yang paling memahami dirimu dibanding seluruh isi dunia.
March 28, 2018 2 comments

:)

Aku ini wanita biasa.
Aku hanya punya beribu-ribu macam cara. Untuk membuat kau menderita, atau tergila-gila.
Maka jangan berharap apa pun dariku. Karena aku tak tahu bahwa mungkin aku ini tak sepantas yang kaukira.

Sesungguhnya aku ini perempuan biasa. Caramu mencintaiku yang menjadikanku istimewa.

Aku pun mungkin tak akan selalu baik padamu. Aku mungkin tak akan selalu sekasmaran ini denganmu. Mungkin suatu saat aku akan berubah menjadi pasangan paling membosankan yang pernah kau temui selama kau menghabiskan waktu. Tapi memang seperti itulah aku; serangkai tulang rusuk yang tak bisa kau ubah sekeras apa pun kaumau.

Apalagi kita masih punya banyak sekali hal-hal untuk dibahas. Perjalanan kita masih jauh, kita bisa saja tiba-tiba menjadi dua orang yang ingin lepas.
Karena datang dan hilangnya perasaan tak pernah menyertakan alasan. Semua hadir dan berlalu begitu saja tanpa perkenan.

Aku ini, manusia biasa yang kebetulan saat ini sedang kaucintai.
Lusa aku tak tahu. Mungkin terus seperti ini, mungkin pula kita perlahan akan hilang arti.

Aku hanya seseorang yang dianugerahi sebuah hati.
Dengan sebuah izin untuk kau miliki. Untuk kauisi kekosongan-kekosongan ini.

Apapun yang terjadi nanti, ingatlah selalu bahwa kita pernah saling jatuh cinta sedalam ini.
March 22, 2018 11 comments

Jangan Kembali

Kamu tidak perlu kembali. Kamu tidak perlu melangkah mendekatiku lagi. Kamu tidak perlu, membuat puluhan panggilan tak terjawab hanya untuk bilang padaku bahwa kau saat ini tengah menyesali. Karena percuma, kamu terlambat datang, aku sudah tidak peduli.

Biarkan saja janji-janji yang dulu hilang sendiri. Jangan mengingat-ingat lagi sehingga kamu tak perlu susah-susah mencariku untuk menepati janji. Aku tak mau terseret ke dalam ingatan saat kau buang aku begitu saja seperti tak punya arti.

Saat itu, aku telah mengizinkanmu bebas mencari yang kau mau. Aku juga menerima kenyataan bahwa perempuan itu bukanlah aku. Aku mencoba mengerti lalu aku berani untuk berjalan menjauhimu. Pada saat itu aku berpikir bahwa mungkin bukan denganku kamu akan menyatu.

Lalu kini, setelah seluruh pertarungan antara hatiku yang ingin terus tinggal, dengan otakku yang ingin lupa, kau datang tiba-tiba membawa air mata? Setelah semua kekacauan ini aku lewati sendiri, kau datang dan berani berkata bahwa aku yang ternyata kaucinta?

Jangan begini. Jangan sampai kita kembali hanya untuk saling menyakiti. Kau tahu aku sudah tak semenyenangkan itu. Sekali-kali aku ingin menjadi muak dengan masa lalu.
Aku bosan dengan seluruh pergelaran drama yang kau tuliskan. Kamu masih terlalu mudah goyah untuk kuperjuangkan.

Carilah yang lebih baik dari aku. Seperti dulu saat kamu akan meninggalkanku. Ciptakan lagi pilihan-pilihan itu. Seperti dulu saat kamu menjadikanku opsi kedua saat kau temukan perempuan baru.

Kau harus tahu aku juga punya hati. Aku ini bukan tempat untuk kau datang dan pergi. Pergilah dariku, carilah yang baru. Lalu belajarlah untuk setia. Terus bersamanya hingga kamu tak sadar bahwa kamu telah larut dalam keteguhan cinta.

Maka dengan senang hati aku akan mendoakanmu. Dengan senang hati aku akan berbahagia atas dirimu.

Tapi kalau kau belum ingin menetap pada satu hati, jangan datang merayu lalu pergi. Semua perempuan itu sama, tak menyediakan kesempatan kedua untuk laki-laki yang mudah menyakiti.
March 18, 2018 4 comments

Perpisahan

Bagaimana bisa kamu menyudahi seluruhnya dengan satu langkah pergi?

Apa bagimu arti sebuah perpisahan?
Membiasakan diri untuk tak lagi saling mencintai? Atau hanya sekadar melonggarkan ikatan dan mengakhiri janji?
Seperti apa bagimu sebuah perpisahan?
Sebuah keputusan akhir yang kauyakini takkan memunculkan penyesalan?
Mengapa kamu harus lari, saat aku mulai mempererat genggaman?

Mungkin bagimu, kita hanya akan belajar terbiasa tertawa tanpa saling menghibur satu sama lain. Kita akan belajar tersenyum tanpa harus saling memandangi satu sama lain. 

Mungkin mudah bagimu.
Mungkin, kamu tak pernah benar-benar memikirkanku.

Asal kamu tahu.
Bagiku, perpisahan bukan hanya sebuah tuntutan dua hati untuk berjalan ke arah yang berbeda. Perpisahan berarti aku harus melipat rapi dan menyimpan semua tentang kita di dalam kotak yang takkan pernah lagi kubuka. Aku harus menghapus semua ingatan tentang kita hingga aku bisa mendefinisikanmu sebagai hampa. Aku harus mulai menata segala yang kacau dan kembali mencoba percaya pada yang lainnya.

Kalau saja melupakan semudah membatalkan perjanjian,
kalau saja memaafkan semudah pergi dari sebuah pertanggungjawaban,
kalau saja, semua proses melepaskan, melupakan, dan mengikhlaskan bisa kupersingkat agar bisa segera kuakhiri tanpa penyiksaan,
aku mungkin akan diam saja dan menikmati semua kegagalan kita.
Karena saat ini, tak peduli seberapapun kuatnya aku ingin lupa, aku tetap mengingat semuanya dari baris kenangan pertama.

Tapi...
Mengapa yang bagiku begitu berat menjadi terlalu mudah untuk kauselesaikan?
Mengapa perpisahan kita seperti ratusan persoalan yang harus kupecahkan sendirian?
Kepada siapa kini aku harus meminta bantuan saat aku melaluinya dengan penuh kesulitan?
Kepada siapa aku harus mengeluhkan keadaan, saat satu-satunya orang tempat kubergantung telah melepaskan diri dari pelukan?
March 7, 2018 9 comments

Kita

Ketika kita telah berjanji untuk terus bersama, mau tak mau kita harus terus bersama. Walau tak semua hal harus kita jalani berdua.

Aku diajarkan untuk selalu setia dan bertahan dengan pilihanku apapun keadaannya. Susah ataupun senang, aku harus selalu ada. Dengan beban atau tanpa beban, dengan masalah atau tanpa masalah, aku harus terus berdiri di sana.
Menjalani sebuah komitmen memang tak sederhana, karena itu aku mengajak kamu melakukan ini berdua. Melawan semua halangan buruk di depan mata, saling mendukung, menjaga, dan menerima.

Sulit memang untuk selalu terpaku pada satu nama. Sulit untuk selalu melihat dan berdiskusi dengan orang yang sama untuk waktu yang lama. Apalagi harus terus mencari cara untuk tak pernah merasa beda. Tapi satu hal yang membuatku tetap bertahan adalah, kita ini manusia yang akan terus belajar hingga waktu "pulang" tiba.
Kita belajar menyambut seluruh kekurangan sebagai separuh diri kita. Seperti kita belajar untuk mensyukuri kelebihan sebagai alasan untuk menetap lebih lama.
Kita akan selalu belajar, memperbaiki kualitas diri dan kualitas hati untuk sebuah hubungan antar dua manusia.

Bersamamu, menciptakan sebuah perjanjian untuk saling bertahan bukanlah hal yang terlalu sukar untuk diselesaikan. Bersamamu semua selalu terasa menyenangkan.
Sekalipun kita adalah dua pribadi yang mudah sekali merasa bosan, kita tak pernah berpikir semua telah berakhir hanya karena hubungan kita mulai tak semanis awal pendekatan.

Saat aku bertanya "bagaimana bisa akhirnya aku bertemu dan jatuh cinta denganmu?" pada saat itu, aku tahu jawabannya cuma satu. Pertemuan kita bukanlah sebuah kebetulan semata, cerita kita mungkin sudah tertulis dan tercipta. Punya banyak arti walau kita tak tahu ke mana kita akhirnya. Yang aku yakini hanyalah, semua tentang kita telah terangkai manis dengan segala tawa dan air matanya yang ikut serta. Bahkan jauh sebelum kita dikeluarkan dari rahim bunda.

Kita tak pernah tahu masa depan itu bentuknya bagaimana. Di mana akhirnya harapan-harapan kita berdua akan bermuara. Berpisah atau terus bersama hingga tua, ditinggal pergi atau ditinggal mati, kita tak tahu halaman terakhir cerita kita akan tertulis seperti apa.

Selama aku denganmu, aku takkan mencoba untuk lari. Aku akan tetap berjalan di sampingmu seperti ini. Seperti saat kita setuju untuk saling menaruh hati.
Kita telah menghadapi berbagai masalah hingga sejauh ini. Dan untuk semua masalah di masa depan yang akan kita temui, kuharap kita masih mau untuk senantiasa mengisi ruas-ruas jari.
Kuharap, cerita kita akan selalu menyenangkan untuk dikenang dan diceritakan kembali. Nanti, saat kita berdua sudah terikat sempurna dan memutuskan untuk tak ingin lagi mencari yang lebih baik dari ini.
March 5, 2018 12 comments

Menginginkanmu

Malam ini aku berniat untuk menulis tanpa mengingat kamu. Tapi aku gagal. Aksara-aksara itu masih tentang kamu. Tercipta dan terangkai indah untuk mengekalkanmu.

Aku mau kamu terus ada, bahkan saat kelak hal-hal manis tentangmu telah kulupa.
Aku mau tujuh miliar pasang mata itu melihat, bahwa di depanku ada seseorang yang pantas dicintai dengan sangat.
Aku mau seisi dunia setuju denganku, bahwa takdir harus menyandingkan aku denganmu.

Kamu menggenggam apa yang telah lama aku cari-cari.
Kamu memiliki apa yang sejak dulu ingin aku temui.
Di dalam tubuhmu ada hati yang ingin sekali aku curi.
Di dalam dirimu, ada sebuah celah kecil yang ingin aku isi.

Tunggu aku datang. Tunggu hingga yang kupunya bukan hanya rasa sayang.
Tunggu saat aku telah bersungguh-sungguh. Saat aku bertekad untuk menjaga cintamu agar tak sampai luruh.
Tunggu hingga aku bisa membuat hatimu yang dingin itu tersentuh, lalu kamu paham bahwa kamu terlalu mengagumkan untuk hanya kupandangi dari jauh.

Meski pada kenyataannya, memandangimu memang cara membunuh waktu termanis yang pernah kutahu.
Meski pada akhirnya, menemukanmu di sudut pandanganku adalah usaha paling indah untuk menggembirakan harapan-harapanku.
March 3, 2018 7 comments

Sebuah Jeda #2

Semakin lama, kusadari bahwa kita semakin melangkah menjauh satu sama lain. Kita semakin merenggangkan diri dari rasa peduli. Kurasa ini waktunya kita harus berjarak, sejauh-jauhnya.

Aku tak bilang kita harus berpisah. Karena aku tak ingin kita berpisah. Aku masih menyayangimu dan kau tahu itu. Aku hanya tak tahu sekarang seberapa banyak sisa ruang yang kau sediakan untuk namaku.

Sayang, dengarlah.
Sejauh apapun kita saat ini, selebar dan setinggi apapun dinding yang sedang menghalangi, aku berjanji tak akan pergi.
Aku takkan mencari kebahagiaan bersama laki-laki lain walaupun kita sedang di ambang ketidakjelasan, karena aku tak ingin kamu mendapatkan apa yang selama ini tak bisa kuberikan dari lain perempuan.
Aku takkan berpaling meski seorang laki-laki datang dan bilang padaku bahwa ia punya rasa cinta yang lebih besar dan tulus darimu.
Karena percuma saja, kau dulu juga bilang begitu padaku.
Kau bilang akan selalu mencari cara untuk selalu jatuh cinta denganku.

Tapi kalaupun saat ini kau tidak seperti apa yang kau ucapkan dulu, mungkin bukan karena kau mulai tak acuh. Mungkin kau hanya lupa bahwa dulu kau pernah mengatakan itu.

Sayang, maafkan aku.
Maafkan perempuan ini-dengan seluruh kekurangannya-karena masih terus memohon belas kasihmu.
Maafkan aku tak bisa menjadi sempurna, layaknya perempuan yang kau damba-damba.
Tapi inilah aku, seorang perempuan biasa yang tulus dengan hatinya-yang hanya ingin kau cintai selama-lamanya.

Meski memang aku tidak tahu ke mana arah jalan kita nanti. Meski aku tak bisa menjamin akan selalu ada untukmu seperti saat ini.

Kalau boleh aku meminta, jangan pernah pergi hanya karena kamu merasa kita sudah tak serasi lagi. Bertahanlah denganku, dengan hubungan ini. Walau sulit, cobalah mengingat bagaimana perjuangan kita saat sebelum kita menyatakan cinta satu sama lain.

Berhentilah menuntut apapun dariku, dan mulailah menerima.
Isi duniamu memang bukan hanya aku, tapi aku mau kau ada saat aku ingin berbahagia.
March 1, 2018 0 comments

Ingin

Aku ingin menjadikan hatimu terisi sempurna walau perasaan yang kupunya masih sederhana.
Aku ingin ikut serta dalam semua langkah-langkahmu walau perjalanannya akan begitu panjang dan lama.
Aku bersedia menghabiskan banyak waktu hanya untuk duduk di sebelahmu. Mendengarkan segala yang kau sematkan di telingaku; seluruh cerita suka dan dukamu, apapun itu.
Karena sejak dulu, ada perasaan yang begitu nyata dan mendekap erat seluruh harapanku tiap kali kunikmati senyumanmu.
Ada doa-doa yang mengalir di dalam nadiku tiap kali kutulis namamu.

Kini aku mulai bermimpi kelak kau akan menjadi milikku.
Melengkapi sebagian diriku yang kosongyang selalu merindukan hadirmu.
Aku mulai berharap kelak kita akan bertemu.
Setelah seluruh ketidakpedulianmu atas keberadaanku.
Setelah seluruh lelah penantianku atas perasaanmu.
Setelah seluruh perjuanganku membuatmu mengerti arti hadirku.
Aku berharap semua yang kulalui ini akan terbayar manis dengan tulus hatimu.

Aku yakin, bagian-bagian kita berdua telah ditentukan.
Sangat jelas dan benar tanpa ada kesalahan.
Biarlah sekarang keindahanmu hanya bisa kusimpan sendiri.
Mungkin nanti aku bisa menikmatinya tanpa harus diam-diam seperti saat ini.

Ingatlah, apapun siapapun kebahagiaanmu, aku akan selalu ada di sampingmu. Menemanimu mencari apa yang kau sebut dengan cinta. Mendampingimu menemukan apa yang kau sebut dengan bahagia.
Hingga esok, lusa, seterusnya—selama aku bisa.
February 24, 2018 3 comments

Sebuah Jeda


Mungkin kini kita sedang berada di sebuah ruang kosong yang bernamakan ‘’jeda”. Tempat saat seluruh keinginan untuk berjalan berdua, terhenti sementara.
Saat kita tiba-tiba merasa ingin menggunakan sisa-sisa waktu untuk sendiri saja. Saat kita merasa ingin sejenak melepaskan beban memberi kabar atau semacamnya.

Mungkin kita tengah berada pada situasi ingin dimengerti tanpa harus mengerti. Ingin dipahami tanpa harus memahami.
Mungkin obrolan-obrolan kita sudah mulai basi. Atau mungkin ada sesuatu yang begitu mengganggu dan menuntut diri untuk mengistirahatkan hati.

Kita telah mempertemukan dua kekurangan dan sepakat untuk menutupinya dengan ketulusan. Dengan komitmen untuk terus berjalan walau sedang tercekik rasa bosan.
Jadi satu hal yang kupinta adalah, jangan pernah melangkah menjauh untuk meninggalkan. Walaupun di dalam hatimu kau merasa benar-benar ingin sendirian.

Sejak awal, dalam hubungan kita, apa yang tak bisa kita selesaikan?
Masalah seperti apa yang tak bisa kita pecahkan?
Bukankah kita ini berdua?
Bukankah aku ini masih ada?

Satu hal yang kupercaya saat perasaan kita tengah berjarak.
Kamu masih menjadi milikku meski ada sesuatu di dalam hati kita yang sedang memberontak.

Aku tahu kita tak benar-benar membuang muka. Karena sejatinya tangan kita selalu ingin menggenggam dan menjaga. Kurasa memang ini hanyalah sebuah jeda, untuk kita nanti kembali merangkai cerita.

Barangkali memang ada halaman yang harus kosong tanpa perlu diisi. Agar halaman-halaman yang telah dan akan kita penuhi, benar-benar memiliki arti.

Lalu jangan pernah jadikan kekuranganku sebagai alasanmu untuk pergi. Karena aku tak ingin menjadikan satupun kekuranganmu sebagai alasanku untuk berhenti mencintai.

February 19, 2018 3 comments

Jadilah Milikku

Adakah cinta yang bisa datang terlalu pagi?
Mungkinkah semua yang kurasakan padamu masih terlalu dini?

Pernah tidak kau berpikir bahwa mungkin pertemuan kita memang telah tertuliskan?
Bahwa mungkin, semua persoalan tentang kita memang sudah tergariskan.
Walau pada akhirnya harus aku dulu yang merasakan manisnya perasaan yang timbul pelan-pelan. Walau harus aku yang lebih dulu melangkah mendekat diam-diam.

Aku tak pernah menyangka akan terbalut dalam sebuah rasa. Kukira awalnya kita hanya berjalan begini saja. Hingga sesuatu hadir di dalam jiwa, terasa begitu damai dan menenangkan lalu melahirkan sebuah asa.
Aku ingin mendapatkan hatimu kalau seandainya bisa. Akan kupeluk erat-erat semua milikmu, selama-lamanya.

Barangkali memang jatuh cinta selalu semendebarkan ini. Barangkali membicarakanmu selalu semenyenangkan ini. Aku selalu larut dalam caramu melengkungkan bibirmu. Aku bahkan merasa aku tak lagi menjadi aku saat sedang menatap dirimu.

Kau terlalu indah untuk tak menjadi milikku.

Kau tak akan tahu, ke mana sebenarnya tulisan ini akan bermuara. Kau tak akan mengerti, kepada siapa tulisan ini bercerita. Kau tak mungkin menyangka bahwa kau adalah jawabannya. Karena kau tak pernah mencari tahu bahwa yang kurasakan semuanya memang benar adanya.

Aku di sampingmu saat kau mencari-cari arti cinta.
Aku selalu di situ, saat kau ingin meluapkan duka.

Hal yang mana yang tak kau mengerti bahwa ketulusanku memang punyamu?
Pada bagian mana yang tak kau pahami bahwa seluruh perasaanku berteriak ingin segera kau pangku?

Aku jatuh cinta denganmu.
Jatuh cinta, dengan ketidak tahuanmu atas segala maksud kalimatku.
February 9, 2018 1 comments

Terlara-lara


Aku lambat mengerti bahwa seluruh yang ada padaku akan hilang suatu saat.
Kukira semua yang memang untukku akan selamanya melekat.
Karena telah kuhabiskan seluruh cinta dan waktuku untuk menjaganya kuat-kuat.
Aku tak tahu kalau jari-jariku tak bisa menggenggam tanganmu dengan erat.


Kini telah hilang semua yang kudoakan selalu ada.
Telah habis semua cinta yang kau punya, tak lagi tersisa. 
Aku adalah perempuan paling dekat dengan nestapa.
Aku bahkan tak bisa mempertahankan yang sangat kucinta.


Begini mungkin akhir dari sebuah penantian.
Kebahagiaan pergi dan menyisakan harapan.
Kalau saja aku bisa kembali ke pelukanmu yang teramat nyaman,
bisakah kau mewujudkannya meski harus berlalu secepat kenangan?
February 6, 2018 0 comments

Biar Kututup Lukamu

Kita sama-sama punya masa lalu.
Sudah banyak pahit manis yang aku dan kamu rasakan sebelum kita bertemu.
Kamu pasti punya banyak luka, kamu pasti telah menerima beribu lara.
Aku ingin datang padamu dan menutup segala keraguan yang ada.
Aku ingin kita bekerja sama, agar kita tak hanya punya cinta, tapi juga rasa percaya.

Izinkan aku memeluk lukamu dengan kesungguhan yang kubawa saat aku datang.
Kepedihan itu mungkin tak benar-benar hilang, tapi biarkan dulu aku berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaanmu tentang, "Bisakah kupulihkan seluruh cacat di hatiku? Bisakah seseorang menempatinya saat hatiku penuh dengan rasa pilu?".

Aku tahu betul rasanya kehilangan.
Menunggu sendirian dalam kekosongan yang panjang hingga seseorang bersedia datang dan mengisi ruang hati yang telah usang.
Aku tahu rasanya dikhianati.
Tercabik-cabik oleh harapan karena ditinggal saat sedang giat-giatnya mencintai.

Aku akan menggantikan dia.
Aku akan menutup seluruh rasa sakit yang dulu pernah kau terima.
Aku akan membahagiakan kamu dengan cara yang berbeda.
Yang akan membuatmu lupa dan melepaskan semua ingatan tentangnya.

Akan kuisi sebagian jiwamu dengan sukacita.
Sebagian lagi untuk kekecewaan yang juga ikut serta.
Karena sesungguhnya, kesedihan diredakan hanya untuk menerima kesedihan yang selanjutnya.
Tapi saat ini mari kita fokus untuk bahagia saja.
Selebihnya biar waktu yang bekerja.
January 26, 2018 1 comments

Sebelum dan Setelah Ada Kamu

Dulu, aku adalah perempuan yang mudah menangis.
Air mata selalu jatuh tiap kali hatiku teriris.
Turun satu persatu mengairi pipi serupa gerimis.
Seolah lupa bagaimana rasanya tersenyum manis.

Dulu aku seperti perempuan yang tak punya makna.
Rasanya seluruh harapan yang kucipta pasti akan sia-sia.
Aku hampir tak lagi pernah merasa bahagia.
Semua yang kuterima hanyalah, luka dan duka.

Dulu,
sebelum ada kamu,
satu-satunya yang kucintai hanyalah diriku.

Namun kini, setelah kamu datang dan menetap,
segala yang pedih seakan-akan lenyap.
Sejak kamu ada, hidupku tak lagi gelap.
Aku adalah perempuan yang hatinya telah bebastak lagi terperangkap.

Sejak kamu memutuskan untuk tinggal dan menemani,
aku tak mengira bahwa cintaku akan jatuh sedalam ini.
Hingga kemudian kau tunjukkan padaku bahwa aku pun berhak menerima cinta yang murni.
Yang benar-benar tulus dan datang dari hati.

Aku merasa menjadi perempuan yang paling disayangi.
Karena keberadaanku benar-benar kau hargai.

Betapa beruntungnya aku bisa menemukanmu.
Betapa beruntungnya aku. Bisa dicintai kamu.

Mudah-mudahan kamu hanya mengerti caranya mencuri hati lalu mencintai.
Bukan meninggalkan dan pergi.
Karena kini aku sudah terlanjur jatuh hati.
Dalam sekali.

Dan bila seandainya suatu saat kamu telah merasa bosan,
bolehkah kuminta agar kamu tetap bertahan?

Agar kita tak saling kehilangan.
Agar kita tak saling meninggalkan.
Agar kita saling menjaga.
Agar kita, terus melangkah bersama.
 
;