October 24, 2017 10 comments

Tanpa Status

Sejak dulu, tiap kali hatiku dimenangkan seorang laki-laki, aku selalu diberi kejelasan, tanpa harus meminta.
Selalu jelas bahwa dia milikku dan aku miliknya.
Sama sekali tidak pernah terpikir untuk menjalani sebuah hubungan tanpa status—yang hanya ada komitmen di dalamnya untuk saling mencinta dan menjaga. Tanpa penjelasan kepada dunia dua orang ini sedang dalam hubungan apa.

Lalu kamu meminta masuk dalam hidupku.
Menjadi bagian kecil dalam hatiku.
Seorang laki-laki yang jelas beda sifat, karakter, dan prinsipnya dengan yang dulu-dulu.

Jatuh cinta yang kali ini, aku juga punya toleransi.
Ketika kamu memintaku sepakat dengan keputusanmu untuk menjalani hubungan tanpa sebuah status, aku pikir awalnya tidak akan berhasil.
Bagaimana jika suatu saat, dengan tidak adanya status yang menjaga kita, kau bisa seenaknya menebar pesona pada perempuan-perempuan di sana?
Bagaimana jika nanti kau menganggapku mudah hanya karena aku sudah terlanjur cinta?

Aku seragu itu sebelumnya, tapi sekarang kau benar-benar buktikan bahwa kita bisa menjalaninya.

Tanpa dunia harus tahu, kita tetap dua insan yang saling mencinta.
Tanpa harus dijelaskan, kita tetap tahu hati ini milik siapa.

Semua kebahagiaan kita adalah milik kita berdua.
Semua masalah yang ada, pun masalah kita berdua.
Yang harus kita selesaikan, yang harus kita cari jalan keluarnya.
Tanpa campur tangan dia, ataupun mereka.
Mereka tak perlu mengerti komitmen seperti apa yang kita jaga.
Karena sejatinya yang kita butuhkan bukan pengakuan dunia.
Tapi rasa cinta yang nyata.
Yang ada bentuknya.
Yang ada buktinya.

Menyayangi setulus-tulusnya.
Memberi tanpa ingin menerima.
Menjaga hati dan kepercayaanmu hingga saat ini, walau dunia melihatku seperti seorang perempuan yang terus sendiri.
Karena untuk mencintai, aku hanya butuh hatimu untuk kumiliki, bukan hubungan yang harus terpublikasi.


Aku akan terus berada di titik ini, untuk bersama denganmu. Bahkan ketika kamu memilih untuk menjalani sebuah hubungan tanpa status denganku.
October 22, 2017 9 comments

Tersandung Jarak

Semakin lama kita terhalang jarak, semakin mengesalkan.
Semakin aku merasa kita telah terbiasa untuk melakukan segala hal sendirian.

Kita dibuat menjadi semakin jauh, oleh kesibukan-kesibukan.
Kita semakin dikuasai prasangka-prasangka tanpa alasan.
Aku semakin takut kau tinggalkan, aku takut kau mengakhirinya karena bosan.
Karena aku selalu merinduimu, dan membahasnya pada setiap percakapan.

Jarak ini membuatku gila.
Aku ingin kau tiba-tiba berada di sampingku saat aku berdoa.
Saat aku meminta agar kau datang menemuiku hari ini juga.

Bukannya tidak percaya, tapi perasaanku ini bukanlah sebuah dusta.
Sekali aku menjatuhkan diriku pada sebuah cinta, itu akan bertahan untuk waktu yang sangat lama.
Tanpa mengapa dan bagaimana bisa.

Dan berada jauh darimu, membuatku khawatir dengan hal-hal sederhana.
Bertanya-tanya sendiri soal seberapa banyak usahamu mencari cara untuk selalu jatuh cinta denganku, seberapa sering kau rindu aku, seberapa kuat kau menahan diri untuk tidak menoleh pada cinta yang baru.

Kau tahu tidak, mengapa aku bertindak sampai sejauh ini?
Mengapa aku terlalu banyak bicara soal jarak?
Mengapa aku terlihat sebegitu tidak percayanya dengan kesungguhanmu pada sebuah hubungan yang hanya mengandalkan percaya dan pasrah?

Aku pernah sangat percaya pada seseorang.
Dulu hubungan kami pun berjalan seperti ini; terbatas layar.
Awalnya ku kira jarak tidak akan memengaruhi apapun.
Ternyata, hanya karena jarak, dia berubah.
Dari yang dulu tak ingin kehilanganku, menjadi pergi menghilang dariku.

Lalu aku pun berubah, jarak membuatku menjadi tak pernah baik-baik saja.
Karenanya, aku mau itu cukup terjadi sekali.
Jangan terjadi lagi.
Jangan sampai kamu juga menyerah dan pergi.
October 8, 2017 12 comments

Pengkhianatan

Lucu, saat hubungan kita tiba-tiba terhenti persis sekali seperti apa yang kemarin kamu minta.
Kau datang padaku, kau minta aku melengkapimu, kau pula yang pergi menjauh dari jangkauanku.

Terakhir kau bilang kita lebih baik jadi teman saja.
Kemudian setelah itu kau menjadi sejengkal lebih jauh, dan lebih jauh. Terus lebih jauh hingga harus kulepaskan genggamanku.
Kau, telah membentangkan sebuah jarak yang luas di tengah kita tanpa persetujuanku.

Sebenarnya kau ini benar-benar lupa atau cuman pura-pura lupa?
Dulu saat kita sepakat untuk saling jatuh cinta, kau janjikan padaku sejuta rasa; damai dan bahagia untuk waktu yang sangat lama. Tapi belum sempat kau tuntaskan janjimu, yang kuterima kemudian hanyalah luka, dan luka.

Kau bilang padaku bahwa aku satu-satunya. Tapi nyatanya, ada dia dan dia.
Kau bilang padaku kita harus saling menjaga perasaan dan kepercayaan. Nyatanya kau satu-satunya yang menciptakan pengkhianatan.
Apa aku ini terlalu gampang kau dapatkan? Sehingga aku menjadi terlalu gampang kau main-mainkan?
Aku ini apa buatmu?
Pelampiasan?

Kau mungkin tak mengerti, sekuat apa dulu aku bertahan agar kita tak saling kehilangan.
Tapi rasanya percuma menjelaskan, kau selalu anggap usahaku adalah nol; berwujud tapi tak bernilai.

Lalu atas semua itu, kau vonis aku penyebab pecahnya hubungan kita. Kau sebar-sebarkan berita akulah pendosanya. Kau tulis keburukanku tanpa jeda.
Kau lakukan ini dan itu hanya untuk membangun citra. Karena kau tak mau terlihat buruk di depan mereka.

Tapi setelah waktu berlalu, aku kembali pada aku yang seharusnya.
Tak ada lagi luka, tak ada lagi air mata.
Tak ada gunanya.

Toh, yang kau berikan padaku dulu semuanya dusta.
 
;