September 23, 2018 10 comments

Kita Ini Apa?

Kita ini apa?
Kita ini bagaimana?

Terlalu jauh untuk menjadi dekat. Terlalu dekat tapi tak punya tempat.

Kita ini saling menemukan tapi tak punya nyali untuk memulai. Mengumpulkan banyak kata tapi tak tahu bagaimana cara merangkai. Kita berdua ini pengecut; ingin disatukan semesta, tapi langkah pertama untuk mendekat pun tak ada.

Apa jangan-jangan kita hanya sebatas jiwa yang ingin berdua?
Apa kita ini kesalahan yang dipaksa?
Apakah kita hanya dua hati yang berbunga-bunga? Yang lalu akan layu begitu saja?
Ataukah memang selama ini semua hanya pementasan sebuah drama?

Aku bertaruh, saat ini kau sedang merindukanku, tapi kau tak tahu bagaimana cara untuk mengaku. Karena tanpa kausetujui, aku pun merindukanmu setiap hari. Ingin semua yang kita bicarakan sejak dulu menjadi obrolan nyata. Semuanya jelas, di hadapan mata. Di tengah-tengah kau dan aku, di tengah sumpah kita yang terlalu ingin menyatu.

Tapi tunggu dulu, biar kutanya kau sesuatu. Atas kedekatan ini, adakah ternyata sebuah ego yang diam-diam telah dikesampingkan?
Atas nama kesungguhan hati, adakah mungkin kepercayaan lain yang telah dikorbankan?
Sudah benarkah kalau aku bilang kita sama-sama terjerat dalam kenyamanan?
Karena tak peduli seberapa pun kerasnya aku menentang, kamu tetaplah satu-satunya yang aku inginkan.

Lalu bisakah kau terus di sini bahkan saat keadaan mendorongmu pergi?
Bolehkah kita terus berdua walau tak bersama?
Adilkah pada yang lainnya saat kuminta dunia hanya milik kita saja?

Bisakah kau menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang entah di mana ujungnya?

***

Balasannya, "Sedang Kuusahakan", dari Kak Menda (@fermendkis). Baca saja. Mana tahu mendapat kejelasan atas pertanyaanmu.
September 15, 2018 2 comments

Bukan Saatnya

Di hari kesekian setelah aku mulai kehabisan makna, kamu mendekat dengan hati penuh doa.
Aku seperti dahaga di gurun pasir ternama, kamu melangkah dengan tatapan sedalam samudera.

Hadirmu membuatku teralih, dari kekandasan jalinan yang mencekik mati secara perlahan. Akhirnya, bukan hanya sebuah dalih, aku terlepas dari kenyataan-kenyataan yang bergerak menyudutkan.

Dia berhasil membuangku jauh. Kemudi telah hilang kendali dan menjadikanku tak ingin berlabuh. Kemudian kamu datang menjanjikanku ribuan alasan untuk berbahagia. Kamu memang laki-laki yang tak boleh berakhir sia-sia.

Tapi, rasanya tak pantas memaksa diri untuk kembali berdua hanya agar dia tahu bahwa aku sanggup tanpa hadirnya. Rasanya tak pantas menjadikanmu seorang "pengganti", bahkan ketika memang seperti kamulah yang sejak kemarin kunanti-nanti.
Aku ingin menemuimu sebagai seseorang yang benar-benar harus kutemui, bukan untuk menutupi luka-luka yang seharusnya menjadi urusanku sendiri.

Aku selalu siap untuk kembali jatuh cinta. Tapi, bukan ini saatnya. Bukan ketika aku baru saja diasingkan dari lingkaran kejujuran yang ternyata maya. Bukan ketika tiba-tiba mataku menangkap keberadaanmu sebagai pereda badai di kepala.

Aku tak lelah percaya dengan laki-laki. Bahkan saat seluruh kalimatnya hanyalah bualan yang memperkeruh hati. Aku hanya mulai merasa lelah dengan fase-fase "kasmaran lalu kehilangan". Bosan dengan urutan yang sejak dulu tak pernah ada perubahan.

Ini bukan sebuah penolakan, aku tak pernah menganggapmu datang dengan segenggam permintaan. Terserah padamu mau bagaimana, di sini menemani, atau pergi mencari perempuan lain yang bisa membalas perasaanmu dengan senyata-nyatanya janji.

Pada akhirnya, jawabanku nanti hanya satu:
"berkomitmen, atau tidak sama sekali".

---

Psst! Tulisan ini berpasangan. Baca di sini.
September 2, 2018 28 comments

Terurai

Setiap manusia diberi hati untuk merasakan kepekaan sekitar. Tapi, anehnya, aku tak peka saat kau bilang perasaan di dalam dirimu mulai memudar. Semua berjalan terlalu baik-baik saja untuk aku menyadari bahwa hatiku sudah di ujung lempar. Sehingga aku harus membongkar semak belukar, mencari-cari alasan kenapa yang manis selalu akan menghambar?

Aku kira kita telah berada di usia "berkomitmen atau tidak sama sekali". Artinya, bukan lagi masanya untuk kita datang, bilang cinta, lalu pergi.

Sepertinya ini hanya soal kebiasaan. Kau melatih dirimu untuk biasa menerima, atau biasa mencari lagi saat mulai merasa hampa. Jadi mungkin bukan salahku ketika kau pergi tapi tak ingin mengakhiri. Bukan pula salahmu yang menganggap kita masih belum waktunya untuk berjanji. Sepertinya memang sudah waktunya. Sepertinya restu dunia bukan lagi milik kita.

Aku tak mau mengguruimu, tak mau mendikte perlakuanmu padaku. Biar kau belajar sendiri, bahwa sebab-akibat itu benar ada dan perlu dipahami. Seandainya kau mau berpikir dua kali, seandainya kau tahu tak semua menyediakan kesempatan kedua kali, kau tak akan kehilanganku, aku takkan semarah ini denganmu.

Kukira kita sudah harus belajar dewasa. Tapi, kau masih saja fokus pada "apa yang membuatmu bahagia, apa yang bisa dipotong saat itu juga". Seperti seorang anak di dalam masa tumbuh, belajar memisahkan mana yang menurutnya berguna dan tidak berguna.

Kapan-kapan, menulislah kau dengan tanganmu sendiri. Jujur saja apa yang sedang terjadi, apa yang mengganggu, apa yang ingin sekali kaubenahi. Pasti yang salah selalu bisa diperbaiki. tak bisa serta-merta dihancurkan, tak bisa serta-merta hilang arti.

Kita sudah pernah berkali-kali berjuang sebelum ini. Sebelum pertemuan kita pun, harusnya ada kehilangan yang akan membuatmu tak ingin mengalaminya dua kali. Harusnya, dulu, sebelum kau mencoba untuk menelaahku, kau harus mengkaji dirimu sendiri. Setelah itu mungkin baru kautahu, sebesar apa harapan yang harus kauberikan, agar di akhir aku tak merasa terlalu dikecewakan.

Kalau kisah hanya tersisa kisah, kalau kau belum juga berkaca dan ingin berubah, aku berani untuk hidup sendiri.
Kalau ikatan tali sudah terurai, kalau keeratan kita sudah selesai, aku berani melangkah pergi.
 
;