November 27, 2017 3 comments

Sebuah Anugerah

Dicintai kamu, adalah pemberian Tuhan paling istimewa. Membuatku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia. Aku tidak perlu khawatir dengan apapun karena disampingmu aku selalu bisa menjadi diriku. Aku menangis dan tertawa di depanmu. Kamu selalu tahu cara menyelesaikan amarahku. Kamu yang paling mengerti keegoisanku. Aku mencintaimu.

Dijaga denganmu, adalah hal yang harus aku syukuri. Bersama kamu aku merasa tidak perlu lagi takut diganggu. Kamu adalah tameng tertampan yang aku miliki. Kamu adalah tempat ternyaman untukku bersembunyi.

Aku tidak peduli dengan awalnya. Bagaimana akhirnya kita putuskan untuk saling jatuh cinta. Aku tidak peduli rasa cintamu akan bertahan sejauh mana.
Biarlah yang aku tahu saat ini kamu menyayangiku sebesar kamu mencintai dirimu sendiri.

Terima kasih karena kamu telah memilihku untuk kau cintai. Karena kamu telah memilihku menjadi lawan bertengkar setiap hari. Karena kamu membuatku merasa dimiliki.
Terima kasih karena kamu telah membuat hatiku tidak berbunga-bunga seorang diri.
Karena kamu membalas perasaanku, bahkan lebih besar dan lebih banyak dari yang aku miliki.

Aku tidak pernah sebahagia ini. Mencintai seorang laki-laki yang begitu mencintaiku.

Kamu ini anugerah terindah.
Mudah-mudahan kamu bisa selalu jadi rumah

Untuk segala keluh dan kesah.

Selama kamu menganggapku ada
Kupastikan perjuangan kita selama ini tidak akan sia-sia.
November 12, 2017 5 comments

Terjebak pada Sebuah Masa

Aku terjebak pada sebuah cerita. Saat sebuah masa masih menjadi milik kita berdua.
Saat yang kita nikmati bersama adalah tawa, bukan air mata. Saat aku masih menjadi perempuan yang kau cinta. Hingga kau memutuskan untuk pergi menyisakan kenangan kita di depan mata.

Senyummu masih terlukis jelas. Menggambarkan kasih sayang yang paling ikhlas. Saat senyummu berjanji agar kita tak saling lepas. Hingga semuanya berubah, sejak hari itu, sejak aku tak lagi kau jadikan sebagai sebuah prioritas.

Tanganku masih hafal rasanya kau genggam. Saat kau berjanji ingin terus menuntunku berjalan bila pandanganku memburam. Tapi perlahan kau ciptakan luka yang dalam. Kemudian pergi meninggalkan tanpa memberi salam.

Gambar wajah kita masih aku simpan. Agar aku ingat kita pernah sampai pada sebuah kebahagiaan. Agar aku tak kehilangan akal saat aku mulai merindukan. Saat harapanku, hanyalah sebuah harapan.

Lidahku kelu. Masih kusimpulkan ini bagian dari mimpi burukku. Aku tahu suatu waktu aku akan terjaga dan kembali melihatmu. Meski dengan kenyataan bahwa kau bukan lagi milikku.

Melupakanmu tak pernah mudah. Karena kita dulu begitu indah.
 
;