December 17, 2018 31 comments

Pura-pura

Jangan pura-pura memperhatikanku. Jangan pura-pura mendengarkan dan selalu ingin tahu ceritaku. Jangan tersenyum dan membuatku semakin menggebu-gebu. Kau tahu kelemahan terbesarku adalah lengkungan bibirmu dan suara di balik itu.
Kau selalu membuatku ingin terus mendekat. Meski sebenarnya sedekat apa pun tempat kita berdiri, hatimu takkan pernah mau melekat.

Jangan pura-pura mencariku. Jangan bertanya aku ke mana saat aku tak ada. Jangan mengirimkan pesan-pesan tuntutan untuk bertemu. Kau tahu aku tak bisa menolaknya bahkan saat aku tahu kau hanya butuh teman cerita. Jangan marah saat aku salah. Jangan bilang kau sudah menunggu sedari tadi, jangan buat aku selalu ingin berharap lebih banyak dari ini. Aku ingin turun. Aku tidak ingin terbang lebih tinggi.

Jangan pura-pura merindukanku. Jangan selalu periksa pola makanku. Jangan kesal saat aku pergi bukan denganmu. Jangan terus mendatangiku. Jangan mengajakku mengobrol dari postingan media sosialku. Jangan melulu ingin kulihat. Aku tidak ingin akhirnya menjadi terbiasa bersama.
Karena apa guna terus berdua kalau tak saling menginginkan antara keduanya?

Jujur saja. Tak apa. Tak ada masalah kau suka atau tidak. Tak ada masalah, kau bisa membalas perasaanku atau tidak. Dari awal memang aku telah menganggap cinta adalah sebuah risiko. Yang ketika aku berani jatuh ke dalamnya, risiko sudah tertera di mana-mana. Termasuk mungkin tidak dicintai kamu, salah satunya.

Sudah, jangan mengasihaniku. Walau mungkin kau tak berniat begitu, kau tetap terlihat sedang melakukannya. Karena aku tahu, cinta di dalam dadamu tak pernah benar-benar ada. Semakin kau ingin terus dekat denganku, semakin aku merasa, dirimu padaku hanya sebatas iba.
December 2, 2018 14 comments

Lovember

Senang mengenalmu. Senang karena yang ingin kaukenal adalah aku.
Senang karena yang akhirnya meredakan badai adalah damai tatapmu.
Aku tenggelam di sana, sejak pertama kali kita bertegur sapa. Menyukai segala apa yang ada di depan dan belakangmu. Semua; mulai dari yang bisa kuraih, sampai pada yang hanya bisa kupandangi satu per satu.

Aku terkejut karena tiba-tiba merasa takdir kita sewarna. Aku menjadi serakah karena ingin lekas memeluk hidupmu tanpa perlu menunggu lama. Pertama kali melihat tanganmu, aku tahu ibu jariku dan anak-anaknya akan terasa pas di sana. Pertama kali menangkap bentuk bibirmu, aku tahu keningku akan mengerti kecupanmu sengaja didatangkan untuknya. Pertama kali aku melihat kamu berjalan mendekatiku, aku tahu dadamu adalah setepat-tepatnya tempat untuk membenamkan kepala.

Mulanya, aku kira aku akan sendiri dulu untuk beberapa waktu. Apalagi setelah kekacauan pada September lalu, aku tak pernah menduga akan semudah ini menemukanmu.
Berawal dari sebuah kalimat basa-basi, kini kabarmu menjadi yang paling kunanti-nanti.
Aku tak ingin terlihat seperti buaya yang menemukan mangsa, tapi, ayolah. Kamu terlalu sempurna untuk kudiamkan begitu saja.

Hey. Jangan tersenyum. Nanti aku semakin gila.

Kalau memang kita adalah dua potong teka-teki yang perlu disatukan, semoga kaki-kaki kita akan selalu diberi jalan. Kalau memang kita hanya bertemu untuk sebuah selamat tinggal, bantu aku berdoa lebih keras agar persandingan kita tak bisa disangkal.

Berakhir di mana pun dan seperti apa pun kita nanti, kau pasti mengerti aku bersyukur kita kini saling melengkapi.

***

Balasannya, Keras Kepala.
 
;