August 9, 2018

Keluh

3

Aku benci dengan kata "mulai". Lebih benci dengan saat-saat sebelum memulai. Hal-hal baru selalu kuanggap menyebalkan karena prosesnya pasti panjang. Padahal aku ingin seluruhnya sesingkat merebus mi instan. Aku benci harus merangkak sebelum berjalan. Aku ingin langsung berlari begitu aku mengepalkan tangan.

Aku benci ketika seluruh keyakinan lenyap tiba-tiba, pergi dariku, lepas dari pelukan doa-doa. Percuma rasanya aku merangkai tekad sebulat-bulatnya.
Aku ingin berhenti khawatir pada takdir yang terus mengalir. Aku ingin berhenti mencari tahu, ingin membunuh tanda tanya baru, ingin berhenti haus akan jawaban. Aku ingin menghapus kata "mengapa" atau "bagaimana bisa". Aku ingin dunia berhenti memakai kata "kapan" setelah membanding-bandingkan. Aku benci dengan perbandingan. Karena salah satu harus terpaksa terlihat kurang agar satunya bisa diunggulkan.

Aku ingin hidup setingkat di bawah Tuhan dan orangtua. Tak ingin ada bos, atasan, ketua, atau penguasa. Iya memang, mereka pun pasti memulai dari anak tangga pertama, persis di tempat ini--tempatku berada. Tapi melihat mereka yang selalu seenaknya sendiri, aku menjadi ingin sering berdoa. Mendoakan mereka berhenti menjadi manusia.

Aku ingin kembali menjadi anak kecil berumur empat tahun, saat orang-orang bahagia melihatku membaca. Pasti bahagia sekali saat itu bisa menyenangkan orang-orang dewasa. Karena setelah aku tahu, tinggal di usia kepala dua benar-benar menguras waktu dan tenaga. Aku hampir selalu dituntut untuk mencari hiburan selain liburan. Apa pun di mana pun, asal aku bisa keluar dari area pekerjaan. Yang menuntut? Tentu diriku sendiri.

Aku butuh teman untuk berbicara, tapi aku benci dengan ekor cerita. Karena selalu ada mulut yang mengikuti. Artinya, aku benci dengan sebuah topik yang merembet ke mana-mana. Mulainya apa, akhirnya apa. Disambung-sambung terus, tak juga jera.
Sampai rasanya seluruh kalimat tentang ekonomi, cinta, politik, janji, dan lain-lainnya, ingin kuberi titik sebesar jagad raya.

Aku ingin kedamaian untuk entah apa yang kini sedang riuh di pangkal hati.

Aku ingin mereka yang datang akan menetap walau tak bersumpah. Kurasa diam bertahan walau tak memberikan apa-apa itu tidak terlalu susah.

Aku ingin melimpahkan maaf untuk diriku sendiri. Salah setitik atau sebelanga, aku ingin segera menganggap itu semua tak pernah terjadi. Aku bosan menganggap diriku adalah penyebab dari tiap-tiap kekacauan. Harus berapa kali aku tersesat dalam pikiran dan kebodohan yang menyesatkan? Bukannya menyelamatkan diri, aku malah terjun ke dalam jurang.

Aku mungkin adalah satu di antara milyaran perempuan yang Tuhan tuntut untuk mengerti. Bebanku harus kunikmati agar tak menyiksa nurani. Aku harus tahu diri, dan tahu arti--apa guna diciptakan pundak dan kaki.

Aku ingin merdeka.
Bebas, tak terkurung dalam nestapa.
Aku ingin berlayar berujung samudra. Pasifik atau pun Hindia, asal lautnya membuat jiwa tenang saat itu juga.

Aku ingin, aku--yang selalu mengeluh ini--tahu. Anak sekolah pun paham, tugas itu untuk diselesaikan. Mereka tahu, masalah itu untuk dipecahkan. Bukan untuk dikeluhkan dan dituangkan dalam barisan-barisan kemarahan. Aku seperti sedang berperang tapi tak tahu dengan apa dan atas alasan apa. Terus-menerus merasa kalah tapi tak ada pemenangnya.

Sudah. Aku sudah punya banyak keluhan. Yang belum punya hanyalah ampunan. Serta cara untuk berhenti mengeluhkan keadaan.

Benarkah bersyukur adalah satu-satunya jalan?

July 28, 2018

Puisi?

3

Untuk laki-laki yang masih mendekap dan terperangkap.

Sampai kapan kau menjadi debu?
Diterbangkan ke sana kemari
Akhirnya terdiam juga di sampul buku

Sampai kapan kau izinkan jantungmu terhunus?
Sampai kapan, matamu mati melihat aku yang tulus?

Jangan memaksa menggapai apa yang tak santai
Jangan berlari di jalan yang memperlambat kakimu sampai

Berhentilah mencari
Berhenti kehilangan dirimu sendiri
Tak usah berdarah-darah dan membuatku marah
Sadarlah,
bangun dari mimpi panjangmu
Temui aku
Aku punya separuh untuk melengkapimu

Jangan lagi membanding lalu membanting
Aku ini kepatahhatian yang tak bisa berpaling

Jangan lagi sendu
Jangan lagi keliru
Jangan lagi tersesat
Jangan lagi terhambat
Kau punya aku
Mari selesaikan puisi ini dengan satu kata 'tamat'

Dariku,
cinta yang tak pernah sempat.

July 7, 2018

Rumit

6

Aku terkejut kau benar-benar hilang. Membawa lari lembaran kisah yang rumpang. Kurasakan kini hatiku telah benar-benar usang. Kita telah terlampau jauh--kau tak lagi berada di seberang. Ada kehampaan yang menyekik hati, begitu aku tahu kau kini tak lagi peduli.

Mungkin memang tidak tertulis di garis tangan kita untuk saling melengkapi. Dan aku percaya, aku memaklumi. Kalau memang aku bukan jodohmu, mau bagaimana lagi? Toh, semua yang kulakukan untukmu tak pernah berarti. Pikirkanlah saja, kalau benar kita saling menerima, mengapa saat ini kau tak ada di depan mata? Kalau benar kita ini masih saling mencintai, ke mana pergimu meninggalkan aku seorang diri?

Apa iya kebohongan di kepalaku tentang ketidaktulusanmu benar-benar nyata? Apa iya, hanya aku yang dulu terlalu mencinta? Jawablah, setidaknya satu, untuk mewakili semuanya.
Apa kau pernah benar-benar ada?

Kalau saja ternyata kita dulu bertemu di waktu yang salah hingga kini harus terpisah, mari bertemu lagi di sudut jalan. Menyatukan lagi perasaan-perasaan yang dulu tak sepenuhnya bertuan. Aku ingin nanti permohonanku terbalaskan. Sayang ... tak ibakah kau melihatku berlutut meminta pengakuan?
Atau kalau ternyata kita dulu menyatu di pemikiran yang belum matang, mari kembali bertemu dan saling bertukar pandang. Aku sungguh merinduimu, asal kau tahu. Perasaan ini terlalu besar untuk menjadi rahasia kecil di dalam doa-doaku. Tak kan bisa lagi berbohong kalau kau memanglah satu yang kumau. Tak apa meski dulu hanya aku yang berjuang, meski kau selalu pergi dan jarang datang. Tak masalah meski dulu aku jatuh dan bangun seorang diri. Tak masalah dulu aku hanya mendengar janji-janji. Aku tak peduli dengan perhitungan-perhitungan itu. Aku peduli denganmu.

Kalau kau kelak membaca tulisan ini, mulai saat itu, cobalah berhenti menjadi pribadi yang selalu ingin menang sendiri. Yang selalu melakukan semuanya tanpa merasa harus ditemani. Aku pun ingin kaujadikan teman berdiskusi, aku ingin dianggap, dimintai pendapat, diajak mencari jalan keluar, atau sekadar ditenangkan kecemasannya. Aku ini ada. Jangan hidup sendiri. Jangan menjadi egois lagi denganku. Kau tahu aku tak kan selamanya mengalah denganmu. Memang benar aku punya hati, cukup besar kalau hanya untuk memaafkanmu--sekali dua kali. Tapi kalau seterusnya kau akan begini, sudahlah, sepertinya memang tak ada kesempatan kedua yang kucari-cari.

Kau terlalu angkuh untuk kuhormati sebagai laki-laki. Kau terlalu nyaman berada di jalanmu sendiri. Tanyakanlah lagi pada dirimu, apa kau sadar selama ini aku setia di sisi? Apa kau sadar saat kaubilang "aku mencintai"? Apa buktinya? Kenapa kau malah pergi, menyesal, tapi tetap tak mau berubah sama sekali?

Kukira ini semua karena kisah kita yang rumit. Ternyata, untuk sepenuhnya mendapatkanmu dari awal memanglah sulit.





Baca "Runyam", di sini, lalu simpulkan sendiri siapa yang paling sakit.

July 4, 2018

Kepada yang Dulu Tersayang

6

Kepada yang dulu tersayang.
Kalau menghapus bukan satu-satunya jalan, maka biar saja kegagalan ini menjadi paragraf-paragraf di keabadian. Untuk seluruh angan yang kemarin belum sempat kita kabulkan, tinggalkan saja semuanya. Jangan sampai ada sisa. Karena percuma. Kau tahu kita sudah tak punya waktu untuk membahasnya berdua.

Nanti, ketika kita telah menemukan jalan berbelok yang terpisah, aku akan berusaha selalu ingat, bahwa “kita” bukan lagi tempat aku memusatkan arah. Cerita kita yang dulu rutin tertulis, harus kurelakan terpotong begitu adanya. Kita tak harus berakhir bahagia seperti dongeng-dongeng anak yang pernah kita baca berdua. Karena sejatinya memang apa yang kita sebut “rumah”, tak pernah semewah istana.

Untuk kesalahan-kesalahan yang belum sempat kita perbaiki, benahi saja dengan cara kita sendiri. Kita tak perlu lagi marah dan merasa kalah. Kita tak perlu lagi berdebat soal ketidakselarasan hati. Kamu kini milikmu, aku kini milikku sendiri. Kita sudah bebas tersenyum dan bermain dengan semua orang tanpa takut dicemburui. Kita sudah bebas berlari ke mana saja dengan siapa saja tanpa takut dicurigai.

Tak ada yang boleh disalahkan dengan perpisahan ini. Terlepas dari fakta siapa yang lebih sakit, atau siapa yang tega mengakhiri, kita tetap dua orang yang pernah saling mencintai.

Kepada yang dulu tersayang.
Segala apa yang pernah kita raih dari sebuah juang, ingat itu sebagai kerja kerasmu sendiri. Jangan libatkan aku lagi. Suatu saat, mau tak mau, kelak kau pasti menemukan pengganti. Lalu jangan pernah ungkit namaku, lebih-lebih kisah kita sebelum ini. Kalaupun seandainya suatu saat terlintas di kepalamu pertanyaan bagaimana kabarku, jangan lakukan apa pun. Jangan mencari kabarku, jangan menghubungi teman-temanku, apalagi berlari ke hadapanku. Kau tahu urusan paling melelahkan adalah dengan masa lalu. Sekuat apa pun ia disingkirkan, ia akan tetap berada di situ. Karena masa lalu tak kan hilang, ia hanya tertutup oleh masa yang baru.

Yang dulu tersayang...
Siap tidak siap, terbit sudah akhir ceritanya. Halaman terakhir yang berisi paragraf-paragraf terakhir, harus segera ditutup agar perasaan berhenti mengalir. Yang boleh kau ingat hanyalah kita pernah saling mencintai. Tak usah mengingat bagaimana cara mendapatkan cintaku lagi.

Kepada yang dulu tersayang.
Aku memaafkanmu, maafkan juga aku. Berhentilah mencari tahu apa yang dulu mengikis hubungan kita. Jangan menolak siapa pun yang nanti datang padamu menawarkan hatinya. Karena aku percaya, cara terdahsyat untuk menutup luka lama, adalah dengan kembali jatuh cinta. Aku telah mengizinkanmu berbahagia, walau bukan aku lagi sebagai alasannya.

Terima sajalah kenyataan—bahwa kita ternyata hanya sepotong masa lalu, bukan teka-teki masa depan.

June 29, 2018

Untukku, Miliknya

9


Sebuah ruang menjadi dua, dipisahkan kaca, yang nyata.
Kamu, ada di sana, dengan sejuta rasa penuh tanda tanya.

Tanpa pernah mempersiapkan dan mempersilakan, kamu tiba-tiba memberi makna.
Aku—perempuan tak tahu malu—percaya, kita akan dijadikan pasangan oleh dunia.
Bahkan tak takut berjanji untuk menjadikanmu satu-satunya.
Karena kamu datang ke hadapanku dengan perasaan paling kuat dari siapa pun.
Mendebarkan dada lebih raya dari kapan pun.


Tapi, kenyataannya, kita adalah kesalahan yang paling berani. Mencelakai diri untuk bisa saling mencintai.
Barangkali, perasaan kita adalah apa yang tak terasa di dalam nadi. Tak peduli walau akhirnya kita akan mati karena pilihan kita sendiri.

Masa depan denganmu yang seharusnya kupeluk, menjadi sebatas bayangan samar-samar di ufuk.
Kita yang selalu ingin mendekat, terus-menerus kehabisan cara mengalahkan sekat.
Aku mencintaimu, dan kau pun begitu.
Tapi tak peduli sekuat apa ingin menyatu, kita tetap hanya sebatas aku dan kamu.
Saling melihat, tapi terhambat.
Seperti ini mungkin rasanya mencintai tapi tak ada perkenan untuk memiliki.
Karena meski aku yang menang dalam lomba, tetaplah dia yang jadi juara.
Meski aku yang berjuang mati-matian di dalam kaca, tetaplah dia yang hidup dalam sebuah kisah cinta.

Pada akhirnya, kita hanya sebatas “saling cinta” yang tak bisa berdua.
Pada akhirnya, hatimu—sekali lagi—tak bisa kuminta untuk selamanya ada.
Karena kamu datang dengan hati yang ingin tapi tak ingin.
Karena, kamu datang padaku sebagai milik orang lain.

June 13, 2018

Pengingat Diri

1

Malam ini aku mendengar kabar baik dari seorang teman, saaangat baik. Saking baiknya, aku hampir menangis. Berpikir betapa beruntungnya dia, diberi jalan yang (terlihat) mulus oleh Tuhan. Betapa bangga orang tuanya, memiliki anak perempuan yang luar biasa. Tentu saja, aku tahu dia tak kan mendapatkannya dengan menengadahkan telapak tangan begitu saja. Butuh banyak kekuatan dan proses pembelajaran sebelum sampai pada pencapaiannya.

Kami berteman hampir enam tahun, tapi baru bersahabat dan mulai sering berdiskusi baru sejak dua tahun terakhir. Tapi meski begitu, aku tahu betul kalau dia seorang pekerja keras. Di sekolah dulu, dia aktif di semua mata pelajaran, terutama Bahasa Indonesia. Pidato, membaca puisi, menulis esai, adalah hal yang biasa. Itulah kenapa, sekarang dia sedang mengerjakan skripsi di program studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Dulu, semasa sekolah, dia hampir selalu juara satu. Kalau tidak juara satu, juara dua. Tak pernah merasakan bagaimana orang tua marah karena kepintarannya ada di urutan belasan atau puluhan. Beberapa kali juga mendapatkan juara paralel. Artinya, di antara siswa-siswa yang juara satu, dia yang nomor satu. Bagaimana tak bangga?

Perempuan ini, sangat mencintai dunia teater beserta panggungnya. Dari SD sampai di Perguruan Tinggi, dia tetap menggeluti akting. Mungkin karena itulah, dia menjadi pandai sekali mengganti air wajahnya menjadi tenang dan tak ada apa-apa, meski sebenarnya kekalutan sedang menggerogoti senyumnya.

Aku tak tahu kalau dunia punya seseorang yang seperti ini, apalagi, dia perempuan. Sekuat itu dia mengartikan hidup dan terus berjalan menikmatinya sebagai sebuah tetapan dari Tuhan. Aku tak bilang dia tak pernah menangis. Tentu saja dia juga sama sepertiku dan remaja perempuan pada umumnya—menangis dan terluka. Beberapa kali dia menangis di depanku saat bercerita. Aku? Jelas ikut terluka. Ternyata, seorang perempuan yang terlihat tegar, tak pernah benar-benar tegar. Kita tak pernah tahu bagaimana isi hati seseorang kalau dia tak bercerita. Kalaupun bercerita, kita tak tahu apakah itu benar-benar kenyataannya, atau dia hanya bicara dusta.

Tadi, setelah dia bercerita tentang kabar baiknya, aku terbawa suasana. Rasanya sesak, ingin menangis dan berteriak. Tapi entah soal apa. Apakah aku terlalu bahagia mendengar temanku sedang berbangga? Ataukah aku kembali menilai diriku tak pernah seberuntung dirinya?

Di atas motor, aku mengatakan ini, “selamat, ya! Aku seneng dengernya. Aku seneng hidupmu lancar. Hidupku loh, kayak gak pernah lancar. Dari tahun lalu aku nyari sesuatu yang bener-bener aku butuhkan, sampai sekarang belum dapet juga”.

Dia menjawab, “masalah orang itu beda-beda”.

Aku merasa tenang dan tertampar dalam waktu yang sama.

Memang benar. Hidup seseorang itu seperti sungai. Panjang, dan terus mengalir. Setiap sungai memiliki rintangan yang berbeda-beda. Ada yang berbatu, ada yang alurnya terlalu deras hingga sulit menyeimbangkan, ada yang terlihat dangkal dan memalukan, ada yang bahkan terlalu dalam dan menyusahkan. Padahal, pada akhirnya, semua tetap akan bermuara pada sebuah kebahagiaan; laut yang tenang.

Aku selalu suka berdiskusi soal kehidupan. Saling belajar untuk memperbaiki, saling mengingatkan kalau kita tak sendiri, pun saling menjaga dari hal-hal yang menyakiti.

Aku bersyukur diberi masalah oleh Tuhan. Karena aku akhirnya bisa berbicara dan mendengarkan.

Sejatinya, porsi tawa dan air mata setiap manusia itu sudah ditetapkan, arah hidup kita pun juga sudah tertulis bahkan jauh sebelum kita dilahirkan. Sejatinya, aku tahu kalau rezeki bukan hanya soal materi dunia. Selama ini aku dilimpahkan hal-hal membahagiakan, tapi dengan bodohnya masih saja terkadang berprasangka buruk dengan Tuhan. Aku melihat kesempurnaan di hidup seseorang, sampai lupa memeriksa kembali anugrah yang Tuhan berikan. Aku juga tahu, kalau patah hati bukan hanya soal ‘melihat kehidupan orang lain lebih bahagia’. Hidup ini jauh lebih luas dari hanya sekadar iri dan menginginkan apa yang tak bisa kita genggam.

Porsinya sama. Seimbang. Letaknya saja yang berbeda. Melihat ke atas hanya diperuntukkan untuk memotivasi, bukan untuk merasa tak percaya diri apalagi rendah diri. Alasan Tuhan, hanya Tuhan yang tahu. Kita, jalan begini saja. Berusaha sekuat-kuatnya, berdoa segigih-gigihnya. Tuhan tak kan menjadikan langkah kita sia-sia.
Semoga saja.

Satu lagi, terima kasih, C, mau selalu mendengar dan bertukar isi kepala. Mau saling menguatkan dan menemani. Mau mengajari tanpa menggurui. Mau menjaga tanpa memaksa. Semoga masih banyak kabar-kabar baik dan buruk yang akan kita bagi, berdua.


temanmu.

June 3, 2018

Sebuah Jawaban

3

Halo! Sebelum baca "Sebuah Jawaban", baca dulu "Sebuah Tanya" di sini.

***

Sejak awal aku sudah menyangka suatu saat yang pergi akan merangkak menyesali. Ternyata benar, kini kau ingin berjuang memilikiku lagi. Kau terlambat datang, Sayang. Aku sudah tak sama seperti perempuan yang dulu tahu-tahu kau tinggalkan. Panggilan “Sayang” untukmu saja sudah terasa hambar tak terselip kesungguhan.

Tapi, sungguh, aku baru tahu alasan kau akhirnya memilih pergi. Apa? Mengobati luka? Apa sesakit itu bersanding dengan ketidaksempurnaanku? Apa memutus yang salah selalu lebih mudah dari pada memberi tahu yang benar?

Rasa dendam itu memang sudah meredam. Sudah tak ada lagi bagian darimu yang membuatku marah ataupun gundah. Aku bahkan bersedia kita berteman, tapi ... kalau mengulang jalinan perasaan, jawabanku adalah tidak. Sudah terlalu banyak kekuatan diri yang dulu kupatahkan sendiri. Sedalam itu aku jatuh cinta denganmu. Benar-benar sedalam itu. Hingga saat kita gagal, kuanggap darimulah seluruh sebab berpangkal.

Aku terlalu sibuk mencari cara untuk terus membahagiakanmu, sampai lupa cara belajar menyelamatkan kebahagiaanku sendiri.

Buktinya, dulu, belum sempat aku berangkat untuk mengagungkan kita, kau sudah menghilang sekerling mata. Belum sempat kupeluk kau dengan hangat, tiba-tiba hatimu berubah arah dengan cepat.
Kemudian, kini, kau bilang ingin kembali, membawa setengah hati yang sudah lama tak kudengar kabarnya lagi. Entahlah, keterlambatanmu membuat aku tak ingin menyiapkan kesempatan lain. Sudah habis rasanya garis-garis senyum yang kau cari-cari.

Tapi terima kasih kau akhirnya menyadari, bahwa ternyata memang akulah perempuan satu-satunya yang paling mengerti. Maaf, aku tak ingin patah hati kedua kali. Tak perlu bersumpah menjadikan kita abadi, dulu kau juga pernah berjanji tak akan pernah menjadikanku sendiri. Ternyata? Dusta.

Pergilah, pergi.
Jangan datang hanya untuk menyesali dan bilang ingin kembali.

Pergilah, pergi sajalah, lagi.

Aku berhenti.

May 27, 2018

Fiksi #1

31


“Aku merindukanmu.”
“:)”, balasan yang terlalu singkat, untuk keinginan bertemu yang terlalu kuat.

Saat itu pukul 03.37 sore di Mataram. Fala menatap profile picture milik seorang laki-laki yang saat ini sedang amat ia cintai. Matanya berkaca-kaca.

Hubungan yang tidak terikat status, menjadikan mereka merasa seperti punya batas, bahkan dalam hal menyayangi. Ditambah, bentangan jarak 700 km yang kini memberatkan mereka untuk bertemu meski mereka mau. Belum lagi libur perkuliahan yang tak sama, biaya berangkat dan pulang, restu orang tua, dan masih banyak lagi yang berani menahan kaki mereka untuk membayar lunas janji-janji pertemuan. Minggu depan, genap sudah 24 bulan penantian Fala untuk kedatangan Fajar yang selalu ia singgung setiap malam.

“Jar ...”, Fala mengirim pesan lagi, dua jam setelah pesan berisi simbol senyuman diterima.
“Iya?”
“Kamu kenapa? Ada masalah apa?”. Saat ini yang Fala rasakan hanya kumpulan rasa cemas yang mengabuti kepalanya. Tumben, Jar?
Tak ada balasan dari Fajar. Yang ada hanya tanda kalau pesan itu sudah diterima, dan dibaca.

Solo-Mataram sudah bukan hanya soal beda kota, ini sudah tentang beda pulau, beda pembagian waktu. Fajar harus menyeberang pulau Bali untuk sampai di pulau Lombok—pulau yang dulu bagi Fajar hanya berisi dua hal; Kota Mataram, dan Fala.
Tapi, sejak kecelakaan pesawat telah merenggut nyawa ayah angkatnya lima bulan lalu, Fajar tak mau lagi menaiki pesawat terbang untuk beberapa tahun ke depan. Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Dulu, saat mereka berdua masih di bangku SMA, mereka bisa bertemu seminggu sekali, sekarang, hampir dua tahun, mereka belum juga bertemu. Dulu, setiap hari mereka bertukar kabar, sekarang, mendapat kabar seminggu sekali saja sudah untung.

Empat tahun bagi Fala bukanlah waktu yang sebentar untuk menjalani sebuah hubungan. Fajar adalah orang pertama yang akhirnya membuat Fala berani untuk jatuh cinta. Empat tahun, Fala diajarkan bagaimana menyatukan hatinya dengan hati lain yang mencintainya, bagaimana menerima perbedaan isi kepala dua orang yang disandingkan, bagaimana cara menutupi kekurangan dan menerima bahwa tak ada satu manusia pun yang terlahir sempurna. Kelas 2 SMA, Fala tak percaya Fajar akan bisa menembus hatinya. Tapi siapa kira ternyata Fajar membuat Fala kini tak bisa lepas darinya.

Setelah empat tahun berlalu baik-baik saja, saat ini, bulan Maret 2016, Fajar tiba-tiba mulai menjadi seseorang yang lain dan beda. Fala mulai mengeruhkan isi otaknya sendiri, mengotori ketulusan-ketulusannya dengan deretan prasangka. Seharian yang ia pikirkan hanya, apa yang telah ia lakukan hingga Fajar berubah drastis menjadi dingin seperti tadi. Padahal sebelumnya, sesibuk dan semarah apapun Fajar, tak pernah Fala menerima pesan sesingkat simbol titik dua dan kurung tutup. Paling singkat, ya ... “Iya, Sayang.”

Jangan menjadi rumit, Jar, tolong.

Di luar lamunannya tentang Fajar, Fala masihlah seorang mahasiswi semester IV yang punya banyak tugas dan tanggung jawab. Ia membawa tiga kewajiban dan tanggung jawab yang besar di dua pundaknya yang lemah. Menjadi bendahara umum di UKM Kesenian, menjadi pianis di band fakultasnya, satu yang terakhir, menjadi koordinator kelas. Kesibukan di perkuliahan menjadikan Fala seringkali lupa menanyakan kabar Fajar, bagaimana hari-harinya, bagaimana organisasinya, Fala lupa, kalau masih ada seseorang yang harus ia jaga hati dan perasaannya.
Mana tahu Fala kalau ternyata tiga tugas baru itu, menjadikannya semakin jauh dari Fajar. Dari yang raganya hanya berjarak 700 km, kini hatinya juga berjarak—ribuan kilometer. Mana tahu Fala kalau ternyata tanya kabar akan menjadi sepenting itu dalam sebuah hubungan. Apalagi untuk mereka-mereka yang cintanya berjarak.

Saat dua orang sudah terlalu sulit untuk bertemu, apalagi yang tetap menguatkan kalau bukan komunikasi yang baik?

***

“La.”
Fala tahu, Fajar pasti punya sesuatu yang harus didiskusikan. Fala juga merasa kalau saat ini mereka sedang berada pada situasi yang paling rumit, selama empat tahun mereka berhubungan, selama dua tahun mereka jauh dari gapaian. Ayo selesaikan ini, Sayang.
“Telepon aja, Jar.”
Fajar langsung menelepon Fala.
“Halo, La”, suara Fajar terdengar tidak terlalu semangat. Tidak seperti telepon-telepon yang lalu. Saat yang mereka bicarakan seluruhnya tentang rindu, dan rindu.
“Halo. Ada apa?”
“La, aku tahu kamu pasti mengerti sekarang aku sedang merasakan apa. Akhir-akhir ini aku merindukanmu dengan sangat, tapi telepon dan pesanku kamu abaikan berminggu-minggu. La, aku rindu. Aku rindu tapi kamu tak ada di situ.”
Hati Fala tersayat. Ia tak tahu kalau Fajar ternyata diam-diam kesakitan, karena rindu-rindu itu harus ia habiskan sendirian. Walau sebenarnya Fala juga rindu, ia tak tahu kalau kesibukannya—yang justru ia lakukan untuk mengalihkan kerinduannya pada Fajar—malah membuat Fajar patah.

“Maaf, aku salah. Bulan ini sedang banyak acara di kampus. Ponselku hanya kupakai untuk urusan acara. Aku juga rindu, tapi mau bagaimana lagi? Fajar, dua tahun aku menunggu kamu datang. Waktu itu kau bilang bersedia mendatangiku meski kita harus kuliah di beda Universitas, kau bilang kau mau melunasi rindu-rindumu, tapi mana? Sampai saat ini aku tunggu kamu, yang aku terima masih hanya ratusan pesan berisi rindu. Jar, rinduku juga sama hebatnya dengan milikmu. Tapi kalau tak ada usaha apa pun untuk bertemu, jutaan pesan berisi rindu akan menjadi seperti menulis surat cinta dengan pena tanpa tinta. Sia-sia, Jar. Sia-sia.”

Mereka, saling menyalahkan.

Fala menangis.
Hati Fajar semakin terluka. Karena saat ia mendengar wanitanya menangis, ia tak ada di sana untuk menenangkannya.
“La ... “
“Jar, bukan hanya kamu, aku juga terluka. Dua tahun aku terkurung dalam ketakutan. Aku takut kau berpaling. Aku takut kau tak setia. Aku takut janji-janjimu akan berakhir menjadi dusta. Jar, aku mencintaimu, tapi kalau kita menjauh karena ego kita sendiri, lebih baik, kita berhenti.”

“Kita belum memulai apa pun, La. Apa yang mau kau sudahi?”
“Untuk hatiku yang terus-menerus khawatir, untuk hatimu yang ingin terus ditemani, mari kita jadikan saja jarak 700 km ini sebagai sebenar-benarnya jarak, antara kita. Aku tahu kau pasti benci mendengarku menangis. Aku pun benci harus terus menanti. Kalau kita berhenti di sini, tak kan ada lagi tangisan yang kau dengar. Tak kan ada lagi janji-janji yang harus kutagih. Kita bebaskan saja diri kita sendiri. Seperti dulu, saat kita belum saling mengenal dan jatuh hati. Aku masih akan terus mencintaimu. Percayalah, aku masih akan selalu mencintaimu. Terima kasih telah menjadi cinta pertama yang indah. Kalau suatu saat kita diizinkan untuk bertemu, aku berjanji akan memelukmu erat. Aku berjanji, akan mencintaimu dengan perasaan yang lebih kuat. Tapi kalau ternyata kita tak diizinkan untuk bertemu lagi, hingga salah satu antara kita menemukan hati yang lain lalu mulai mencintai, biar sudah seperti ini. Jangan lagi bilang rindu. Aku takut akan nekat menemuimu. Maaf, Jar. Aku harus membicarakan ini lewat telepon. Selamat malam.”

Fala mematikan teleponnya. Lalu menangis, sejadi-jadinya.

Malam itu, adalah malam paling menyakitkan untuk Fala. Karena harus melepaskan saat sedang cinta-cintanya. Saat ia harus menyerah tanpa tahu mengapa ia melakukannya. Seketika ia benci pada dirinya sendiri. Karena ia harus memilih untuk selesai, daripada mencari jalan keluar. Ia benci, karena ia menjadi pecundang atas perasaannya sendiri.

Dua bulan berlalu...

Malam hari, 26 Mei 2016, Fala di atas panggung bersama teman-temannya. Mereka membawakan lagu terakhir, lagu ciptaan Fala.
“Lagu ini, ciptaan Nona Fala, yang cintanya terpaksa selesai, sebelum dimulai”, ucap vokalis band itu.

Telah tersemat sebuah nama
Jauh melekat di dalam jiwa
Dulu semuanya sempurna
Sebelum semesta, memisahkan kita

Kini habislah sudah
Dongeng kita yang dulu indah
Selesai sebelum dimulai
Berlalu sebelum bertemu

Tak ada tangan untuk menggenggam
Tak ada kaki untuk berlari
Bahkan saat matahari sudah tenggelam
Aku belum bisa melepas pagi

Bahkan saat bayanganmu sudah menghilang
Aku masih saja terus mencari


Setelah lagu terakhir selesai dimainkan, semuanya bertepuk tangan. Lalu, tiba-tiba ... seseorang di belakang penonton berdiri dan bertepuk tangan. “Dia wanitaku!”, teriaknya. Semua mata penonton sontak melihat ke arahnya. “Pianis itu, sang pencipta lagu, dia wanitaku!”.
Fala terkejut dengan apa yang sedang ia lihat saat itu. Ia berdiri tercengang. Menunggu bayangan pemilik suara tadi mendekat dan menampakkan wajahnya. Meski sebenarnya ia sudah tahu, kalau suara itu milik Fajar, laki-laki yang dua tahun dia tunggu untuk datang. Yang kini sedang berdiri di depan panggung menatap Fala. Yang lalu merentangkan kedua tangannya. Menyiapkan dadanya sebagai sebenar-benarnya tempat untuk Fala mengadu.
Fajar tersenyum. Fala berlari turun dari panggung. Ia menangis menuju pelukan Fajar. Dipeluknya erat laki-laki yang masih sangat ia cintai itu.
“Kembalilah padaku”, Fajar berbisik di pelukan Fala.
Fala menangis.
Fajar melepaskan pelukannya. Memandangi wajah Fala yang dua tahun terakhir hanya bisa ia lihat dari layar ponselnya.
“La, aku minta, mulai sekarang, kamu hanya boleh menangis kalau ada aku. Kalau tak ada aku, jangan. Mau, kan? Memulai semuanya dari awal dengan ikatan baru? La ... mau, ya? Menjadi yang paling kucari saat aku kalut, menjadi satu-satunya tujuan saat aku pergi, dan satu-satunya rumah tempatku pulang. Aku mencintaimu, semua boleh kau katakan, asal bukan tentang perpisahan.”
Fala tersenyum, laki-laki itu terdengar begitu mencintainya. Karena kedatangan dan pengakuannya, kini Fala tahu bahwa—ia harus membenarkan apa yang salah, membenahi apa yang kacau, bukan memotong ikatan dengan satu ucapan “selamat malam” di ujung telepon.
Fala memeluknya sekali lagi.
***
Seluruh pasang mata iri sekali pada saat itu menyaksikan kami.
Saat ini, aku sedang menunggu Fajar keluar dari gedung. Hari ini dia wisuda! Tentu saja, aku sedang bersama orang tua dan adik-adiknya. Kami sudah berjanji, akan terus bertahan bersama. Menerima dan menyelesaikan seluruh tugas yang telah disiapkan semesta. Ya, mungkin hingga nanti, hingga anak cucu kami menceritakan kembali kisah-kisah ini untuk kami berdua.
Semoga Fajar selalu dalam lindungan-Nya. Selalu datang menghangatkan seperti namanya. Beruntung sekali aku, mencintai dan dicintai orang yang sama.
Solo, 26 Mei 2018
dengan kasih sayang Fajar dalam genggamannya,
Rafala Amikadea.

May 20, 2018

Saat Kamu Memutuskan untuk Berpaling

44

Satu-satunya yang aku pikirkan saat aku akhirnya tahu kamu sedang berpaling adalah, "apa yang selama ini kamu cari?". Karena kalau sesuatu yang tak ada padaku telah kau temukan di dalam dirinya, tak ada lagi yang bisa kujadikan alasan untuk menjadi juara. Asal kamu tahu, saat pertama kali kamu berinisiatif untuk mengenal dia lebih baik dari sebelumnya, saat itu juga aku pantas sekali disebut sebagai pecundang. Iya, kan? Ke mana saja aku? Apa saja yang selama ini kuberikan pada kekasihku? Kenapa masih ada celah yang bisa ia pakai untuk menemukan saat masih tengah memiliki? Sebegitu tidak becusnya aku menjaga. Sepayah itu aku menyayangi. Sehingga kekasihku satu-satunya, harus berpaling karena merasa aku sudah tak layak untuk menemani.

Aku yang salah. Bukan. Kesalahan bukan pada kamu yang menyakiti aku. Bukan pula dia yang merebutmu dariku. Aku. Segala kepatahhatianku ini, berasal dari diriku. Yang tidak bisa membuatmu tinggal lebih lama di sini; aku. Yang tidak bisa memagari hubungan kita dengan kuat; aku. Aku yang salah. Karena tidak bisa membuatmu melihatku sebagai seseorang yang patut kau beri ketulusan. Sampai kamu berani menggeser posisiku untuk mendapatkannya. Mengabaikan aku untuk menjadi lebih dekat dengannya.

Seandainya saja, telingaku adalah tempat untukmu yang paling nyaman untuk mengeluh dan menceritakan apa pun di balik seluruh peluh. Seandainya, pundak-pundakku mau kau gunakan sebagai tempat rebah dari seluruh lelah, tentu sampai saat ini aku masih menjadi kekasih yang tak ada duanya. Tentu saat ini di hatimu tak pernah ada cinta lain yang kini sedang kau megah-megahkan namanya.

Apa lagi lalu yang bisa kulakukan selain menerima?

Kalau sudah begini keadaannya, mana mungkin aku tega menjadi orang ketiga dalam hubunganmu dengannya? Mana mungkin aku sampai hati membuat dia merasakan sakit yang sama dalamnya dengan saat aku melihat kalian berdua? Kalau benar akhirnya aku yang harus pergi, tak apa. Aku akan belajar bagaimana menjadi teman tumbuh yang baik, agar kekasihku yang selanjutnya, takkan meninggalkanku untuk cinta baru yang menurutnya lebih baik.

April 18, 2018

Mas

45

Mas, jadilah laki-laki paling menjengkelkan di hidupku. Jadilah egois yang selalu ingin mengalahkanku. Jadilah hangat dan menenangkan. Jadilah manis dengan sikap-sikapmu yang menyebalkan.

Jadilah kamu kekasih yang kepala batu. Bilang pada semua orang bahwa kamu hanya mau aku. Minta aku menjadikanmu nomor satu. Curi semua hatiku lalu cemburu pada siapa pun dan apa pun di dekatku.

Teruslah di sampingku dan maafkan apa pun kekeliruanku. Buat seluruh perempuan bertengkar karena ingin menggantikan posisiku. Beri tahu dunia bahwa kamu terlalu pantas untuk diperjuangkan. Karena kamu memang seindah itu untuk dikagumi tanpa butuh panjang penjelasan.

Mas, seberuntung itu aku akhirnya bisa memenangkan kamu.
Karena cacat dan lukaku yang kau rawat. Karena lemah dan rapuhku yang kau jadikan kuat.
Maka apa lagi yang harus kucari saat Tuhan telah memberikanku kamu? Tempat dengan ketenteraman seperti apa lagi yang harus kusinggahi saat kini kamu-duniaku-sedang duduk manis menatapku?

Mas, beri tahu aku apa pun yang menjadikanmu gundah. Jadikan aku seseorang yang kauinginkan ada saat kau mulai resah. Biar aku datang dan mendengarkannya satu-persatu. Akan kudamaikan kekalutanmu seperti dulu saat kau hampiri aku dan menyelamatkan seluruh haru biruku.

Jadikan aku satu-satunya yang melihat kekacauanmu. Agar hanya aku yang mengerti dirimu. Luapkan kegagalanmu seluruhnya dalam pelukanku.
Biar dunia melihatmu sebagai hati yang tak pernah kecewa. Biar dunia mengingatmu sebagai laki-laki yang sempurna.
Tapi terlepas dari semua itu, Mas, terima kasih karena telah menemukanku. Terima kasih, karena perempuan itu adalah aku.