June 13, 2018

Pengingat Diri

1

Malam ini aku mendengar kabar baik dari seorang teman, saaangat baik. Saking baiknya, aku hampir menangis. Berpikir betapa beruntungnya dia, diberi jalan yang (terlihat) mulus oleh Tuhan. Betapa bangga orang tuanya, memiliki anak perempuan yang luar biasa. Tentu saja, aku tahu dia tak kan mendapatkannya dengan menengadahkan telapak tangan begitu saja. Butuh banyak kekuatan dan proses pembelajaran sebelum sampai pada pencapaiannya.

Kami berteman hampir enam tahun, tapi baru bersahabat dan mulai sering berdiskusi baru sejak dua tahun terakhir. Tapi meski begitu, aku tahu betul kalau dia seorang pekerja keras. Di sekolah dulu, dia aktif di semua mata pelajaran, terutama Bahasa Indonesia. Pidato, membaca puisi, menulis esai, adalah hal yang biasa. Itulah kenapa, sekarang dia sedang mengerjakan skripsi di program studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Dulu, semasa sekolah, dia hampir selalu juara satu. Kalau tidak juara satu, juara dua. Tak pernah merasakan bagaimana orang tua marah karena kepintarannya ada di urutan belasan atau puluhan. Beberapa kali juga mendapatkan juara paralel. Artinya, di antara siswa-siswa yang juara satu, dia yang nomor satu. Bagaimana tak bangga?

Perempuan ini, sangat mencintai dunia teater beserta panggungnya. Dari SD sampai di Perguruan Tinggi, dia tetap menggeluti akting. Mungkin karena itulah, dia menjadi pandai sekali mengganti air wajahnya menjadi tenang dan tak ada apa-apa, meski sebenarnya kekalutan sedang menggerogoti senyumnya.

Aku tak tahu kalau dunia punya seseorang yang seperti ini, apalagi, dia perempuan. Sekuat itu dia mengartikan hidup dan terus berjalan menikmatinya sebagai sebuah tetapan dari Tuhan. Aku tak bilang dia tak pernah menangis. Tentu saja dia juga sama sepertiku dan remaja perempuan pada umumnya—menangis dan terluka. Beberapa kali dia menangis di depanku saat bercerita. Aku? Jelas ikut terluka. Ternyata, seorang perempuan yang terlihat tegar, tak pernah benar-benar tegar. Kita tak pernah tahu bagaimana isi hati seseorang kalau dia tak bercerita. Kalaupun bercerita, kita tak tahu apakah itu benar-benar kenyataannya, atau dia hanya bicara dusta.

Tadi, setelah dia bercerita tentang kabar baiknya, aku terbawa suasana. Rasanya sesak, ingin menangis dan berteriak. Tapi entah soal apa. Apakah aku terlalu bahagia mendengar temanku sedang berbangga? Ataukah aku kembali menilai diriku tak pernah seberuntung dirinya?

Di atas motor, aku mengatakan ini, “selamat, ya! Aku seneng dengernya. Aku seneng hidupmu lancar. Hidupku loh, kayak gak pernah lancar. Dari tahun lalu aku nyari sesuatu yang bener-bener aku butuhkan, sampai sekarang belum dapet juga”.

Dia menjawab, “masalah orang itu beda-beda”.

Aku merasa tenang dan tertampar dalam waktu yang sama.

Memang benar. Hidup seseorang itu seperti sungai. Panjang, dan terus mengalir. Setiap sungai memiliki rintangan yang berbeda-beda. Ada yang berbatu, ada yang alurnya terlalu deras hingga sulit menyeimbangkan, ada yang terlihat dangkal dan memalukan, ada yang bahkan terlalu dalam dan menyusahkan. Padahal, pada akhirnya, semua tetap akan bermuara pada sebuah kebahagiaan; laut yang tenang.

Aku selalu suka berdiskusi soal kehidupan. Saling belajar untuk memperbaiki, saling mengingatkan kalau kita tak sendiri, pun saling menjaga dari hal-hal yang menyakiti.

Aku bersyukur diberi masalah oleh Tuhan. Karena aku akhirnya bisa berbicara dan mendengarkan.

Sejatinya, porsi tawa dan air mata setiap manusia itu sudah ditetapkan, arah hidup kita pun juga sudah tertulis bahkan jauh sebelum kita dilahirkan. Sejatinya, aku tahu kalau rezeki bukan hanya soal materi dunia. Selama ini aku dilimpahkan hal-hal membahagiakan, tapi dengan bodohnya masih saja terkadang berprasangka buruk dengan Tuhan. Aku melihat kesempurnaan di hidup seseorang, sampai lupa memeriksa kembali anugrah yang Tuhan berikan. Aku juga tahu, kalau patah hati bukan hanya soal ‘melihat kehidupan orang lain lebih bahagia’. Hidup ini jauh lebih luas dari hanya sekadar iri dan menginginkan apa yang tak bisa kita genggam.

Porsinya sama. Seimbang. Letaknya saja yang berbeda. Melihat ke atas hanya diperuntukkan untuk memotivasi, bukan untuk merasa tak percaya diri apalagi rendah diri. Alasan Tuhan, hanya Tuhan yang tahu. Kita, jalan begini saja. Berusaha sekuat-kuatnya, berdoa segigih-gigihnya. Tuhan tak kan menjadikan langkah kita sia-sia.
Semoga saja.

Satu lagi, terima kasih, C, mau selalu mendengar dan bertukar isi kepala. Mau saling menguatkan dan menemani. Mau mengajari tanpa menggurui. Mau menjaga tanpa memaksa. Semoga masih banyak kabar-kabar baik dan buruk yang akan kita bagi, berdua.


temanmu.

June 3, 2018

Sebuah Jawaban

3

Halo! Sebelum baca "Sebuah Jawaban", baca dulu "Sebuah Tanya" di sini.

***

Sejak awal aku sudah menyangka suatu saat yang pergi akan merangkak menyesali. Ternyata benar, kini kau ingin berjuang memilikiku lagi. Kau terlambat datang, Sayang. Aku sudah tak sama seperti perempuan yang dulu tahu-tahu kau tinggalkan. Panggilan “Sayang” untukmu saja sudah terasa hambar tak terselip kesungguhan.

Tapi, sungguh, aku baru tahu alasan kau akhirnya memilih pergi. Apa? Mengobati luka? Apa sesakit itu bersanding dengan ketidaksempurnaanku? Apa memutus yang salah selalu lebih mudah dari pada memberi tahu yang benar?

Rasa dendam itu memang sudah meredam. Sudah tak ada lagi bagian darimu yang membuatku marah ataupun gundah. Aku bahkan bersedia kita berteman, tapi ... kalau mengulang jalinan perasaan, jawabanku adalah tidak. Sudah terlalu banyak kekuatan diri yang dulu kupatahkan sendiri. Sedalam itu aku jatuh cinta denganmu. Benar-benar sedalam itu. Hingga saat kita gagal, kuanggap darimulah seluruh sebab berpangkal.

Aku terlalu sibuk mencari cara untuk terus membahagiakanmu, sampai lupa cara belajar menyelamatkan kebahagiaanku sendiri.

Buktinya, dulu, belum sempat aku berangkat untuk mengagungkan kita, kau sudah menghilang sekerling mata. Belum sempat kupeluk kau dengan hangat, tiba-tiba hatimu berubah arah dengan cepat.
Kemudian, kini, kau bilang ingin kembali, membawa setengah hati yang sudah lama tak kudengar kabarnya lagi. Entahlah, keterlambatanmu membuat aku tak ingin menyiapkan kesempatan lain. Sudah habis rasanya garis-garis senyum yang kau cari-cari.

Tapi terima kasih kau akhirnya menyadari, bahwa ternyata memang akulah perempuan satu-satunya yang paling mengerti. Maaf, aku tak ingin patah hati kedua kali. Tak perlu bersumpah menjadikan kita abadi, dulu kau juga pernah berjanji tak akan pernah menjadikanku sendiri. Ternyata? Dusta.

Pergilah, pergi.
Jangan datang hanya untuk menyesali dan bilang ingin kembali.

Pergilah, pergi sajalah, lagi.

Aku berhenti.

May 27, 2018

Fiksi #1

29


“Aku merindukanmu.”
“:)”, balasan yang terlalu singkat, untuk keinginan bertemu yang terlalu kuat.

Saat itu pukul 03.37 sore di Mataram. Fala menatap profile picture milik seorang laki-laki yang saat ini sedang amat ia cintai. Matanya berkaca-kaca.

Hubungan yang tidak terikat status, menjadikan mereka merasa seperti punya batas, bahkan dalam hal menyayangi. Ditambah, bentangan jarak 700 km yang kini memberatkan mereka untuk bertemu meski mereka mau. Belum lagi libur perkuliahan yang tak sama, biaya berangkat dan pulang, restu orang tua, dan masih banyak lagi yang berani menahan kaki mereka untuk membayar lunas janji-janji pertemuan. Minggu depan, genap sudah 24 bulan penantian Fala untuk kedatangan Fajar yang selalu ia singgung setiap malam.

“Jar ...”, Fala mengirim pesan lagi, dua jam setelah pesan berisi simbol senyuman diterima.
“Iya?”
“Kamu kenapa? Ada masalah apa?”. Saat ini yang Fala rasakan hanya kumpulan rasa cemas yang mengabuti kepalanya. Tumben, Jar?
Tak ada balasan dari Fajar. Yang ada hanya tanda kalau pesan itu sudah diterima, dan dibaca.

Solo-Mataram sudah bukan hanya soal beda kota, ini sudah tentang beda pulau, beda pembagian waktu. Fajar harus menyeberang pulau Bali untuk sampai di pulau Lombok—pulau yang dulu bagi Fajar hanya berisi dua hal; Kota Mataram, dan Fala.
Tapi, sejak kecelakaan pesawat telah merenggut nyawa ayah angkatnya lima bulan lalu, Fajar tak mau lagi menaiki pesawat terbang untuk beberapa tahun ke depan. Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Dulu, saat mereka berdua masih di bangku SMA, mereka bisa bertemu seminggu sekali, sekarang, hampir dua tahun, mereka belum juga bertemu. Dulu, setiap hari mereka bertukar kabar, sekarang, mendapat kabar seminggu sekali saja sudah untung.

Empat tahun bagi Fala bukanlah waktu yang sebentar untuk menjalani sebuah hubungan. Fajar adalah orang pertama yang akhirnya membuat Fala berani untuk jatuh cinta. Empat tahun, Fala diajarkan bagaimana menyatukan hatinya dengan hati lain yang mencintainya, bagaimana menerima perbedaan isi kepala dua orang yang disandingkan, bagaimana cara menutupi kekurangan dan menerima bahwa tak ada satu manusia pun yang terlahir sempurna. Kelas 2 SMA, Fala tak percaya Fajar akan bisa menembus hatinya. Tapi siapa kira ternyata Fajar membuat Fala kini tak bisa lepas darinya.

Setelah empat tahun berlalu baik-baik saja, saat ini, bulan Maret 2016, Fajar tiba-tiba mulai menjadi seseorang yang lain dan beda. Fala mulai mengeruhkan isi otaknya sendiri, mengotori ketulusan-ketulusannya dengan deretan prasangka. Seharian yang ia pikirkan hanya, apa yang telah ia lakukan hingga Fajar berubah drastis menjadi dingin seperti tadi. Padahal sebelumnya, sesibuk dan semarah apapun Fajar, tak pernah Fala menerima pesan sesingkat simbol titik dua dan kurung tutup. Paling singkat, ya ... “Iya, Sayang.”

Jangan menjadi rumit, Jar, tolong.

Di luar lamunannya tentang Fajar, Fala masihlah seorang mahasiswi semester IV yang punya banyak tugas dan tanggung jawab. Ia membawa tiga kewajiban dan tanggung jawab yang besar di dua pundaknya yang lemah. Menjadi bendahara umum di UKM Kesenian, menjadi pianis di band fakultasnya, satu yang terakhir, menjadi koordinator kelas. Kesibukan di perkuliahan menjadikan Fala seringkali lupa menanyakan kabar Fajar, bagaimana hari-harinya, bagaimana organisasinya, Fala lupa, kalau masih ada seseorang yang harus ia jaga hati dan perasaannya.
Mana tahu Fala kalau ternyata tiga tugas baru itu, menjadikannya semakin jauh dari Fajar. Dari yang raganya hanya berjarak 700 km, kini hatinya juga berjarak—ribuan kilometer. Mana tahu Fala kalau ternyata tanya kabar akan menjadi sepenting itu dalam sebuah hubungan. Apalagi untuk mereka-mereka yang cintanya berjarak.

Saat dua orang sudah terlalu sulit untuk bertemu, apalagi yang tetap menguatkan kalau bukan komunikasi yang baik?

***

“La.”
Fala tahu, Fajar pasti punya sesuatu yang harus didiskusikan. Fala juga merasa kalau saat ini mereka sedang berada pada situasi yang paling rumit, selama empat tahun mereka berhubungan, selama dua tahun mereka jauh dari gapaian. Ayo selesaikan ini, Sayang.
“Telepon aja, Jar.”
Fajar langsung menelepon Fala.
“Halo, La”, suara Fajar terdengar tidak terlalu semangat. Tidak seperti telepon-telepon yang lalu. Saat yang mereka bicarakan seluruhnya tentang rindu, dan rindu.
“Halo. Ada apa?”
“La, aku tahu kamu pasti mengerti sekarang aku sedang merasakan apa. Akhir-akhir ini aku merindukanmu dengan sangat, tapi telepon dan pesanku kamu abaikan berminggu-minggu. La, aku rindu. Aku rindu tapi kamu tak ada di situ.”
Hati Fala tersayat. Ia tak tahu kalau Fajar ternyata diam-diam kesakitan, karena rindu-rindu itu harus ia habiskan sendirian. Walau sebenarnya Fala juga rindu, ia tak tahu kalau kesibukannya—yang justru ia lakukan untuk mengalihkan kerinduannya pada Fajar—malah membuat Fajar patah.

“Maaf, aku salah. Bulan ini sedang banyak acara di kampus. Ponselku hanya kupakai untuk urusan acara. Aku juga rindu, tapi mau bagaimana lagi? Fajar, dua tahun aku menunggu kamu datang. Waktu itu kau bilang bersedia mendatangiku meski kita harus kuliah di beda Universitas, kau bilang kau mau melunasi rindu-rindumu, tapi mana? Sampai saat ini aku tunggu kamu, yang aku terima masih hanya ratusan pesan berisi rindu. Jar, rinduku juga sama hebatnya dengan milikmu. Tapi kalau tak ada usaha apa pun untuk bertemu, jutaan pesan berisi rindu akan menjadi seperti menulis surat cinta dengan pena tanpa tinta. Sia-sia, Jar. Sia-sia.”

Mereka, saling menyalahkan.

Fala menangis.
Hati Fajar semakin terluka. Karena saat ia mendengar wanitanya menangis, ia tak ada di sana untuk menenangkannya.
“La ... “
“Jar, bukan hanya kamu, aku juga terluka. Dua tahun aku terkurung dalam ketakutan. Aku takut kau berpaling. Aku takut kau tak setia. Aku takut janji-janjimu akan berakhir menjadi dusta. Jar, aku mencintaimu, tapi kalau kita menjauh karena ego kita sendiri, lebih baik, kita berhenti.”

“Kita belum memulai apa pun, La. Apa yang mau kau sudahi?”
“Untuk hatiku yang terus-menerus khawatir, untuk hatimu yang ingin terus ditemani, mari kita jadikan saja jarak 700 km ini sebagai sebenar-benarnya jarak, antara kita. Aku tahu kau pasti benci mendengarku menangis. Aku pun benci harus terus menanti. Kalau kita berhenti di sini, tak kan ada lagi tangisan yang kau dengar. Tak kan ada lagi janji-janji yang harus kutagih. Kita bebaskan saja diri kita sendiri. Seperti dulu, saat kita belum saling mengenal dan jatuh hati. Aku masih akan terus mencintaimu. Percayalah, aku masih akan selalu mencintaimu. Terima kasih telah menjadi cinta pertama yang indah. Kalau suatu saat kita diizinkan untuk bertemu, aku berjanji akan memelukmu erat. Aku berjanji, akan mencintaimu dengan perasaan yang lebih kuat. Tapi kalau ternyata kita tak diizinkan untuk bertemu lagi, hingga salah satu antara kita menemukan hati yang lain lalu mulai mencintai, biar sudah seperti ini. Jangan lagi bilang rindu. Aku takut akan nekat menemuimu. Maaf, Jar. Aku harus membicarakan ini lewat telepon. Selamat malam.”

Fala mematikan teleponnya. Lalu menangis, sejadi-jadinya.

Malam itu, adalah malam paling menyakitkan untuk Fala. Karena harus melepaskan saat sedang cinta-cintanya. Saat ia harus menyerah tanpa tahu mengapa ia melakukannya. Seketika ia benci pada dirinya sendiri. Karena ia harus memilih untuk selesai, daripada mencari jalan keluar. Ia benci, karena ia menjadi pecundang atas perasaannya sendiri.

Dua bulan berlalu...

Malam hari, 26 Mei 2016, Fala di atas panggung bersama teman-temannya. Mereka membawakan lagu terakhir, lagu ciptaan Fala.
“Lagu ini, ciptaan Nona Fala, yang cintanya terpaksa selesai, sebelum dimulai”, ucap vokalis band itu.

Telah tersemat sebuah nama
Jauh melekat di dalam jiwa
Dulu semuanya sempurna
Sebelum semesta, memisahkan kita

Kini habislah sudah
Dongeng kita yang dulu indah
Selesai sebelum dimulai
Berlalu sebelum bertemu

Tak ada tangan untuk menggenggam
Tak ada kaki untuk berlari
Bahkan saat matahari sudah tenggelam
Aku belum bisa melepas pagi

Bahkan saat bayanganmu sudah menghilang
Aku masih saja terus mencari


Setelah lagu terakhir selesai dimainkan, semuanya bertepuk tangan. Lalu, tiba-tiba ... seseorang di belakang penonton berdiri dan bertepuk tangan. “Dia wanitaku!”, teriaknya. Semua mata penonton sontak melihat ke arahnya. “Pianis itu, sang pencipta lagu, dia wanitaku!”.
Fala terkejut dengan apa yang sedang ia lihat saat itu. Ia berdiri tercengang. Menunggu bayangan pemilik suara tadi mendekat dan menampakkan wajahnya. Meski sebenarnya ia sudah tahu, kalau suara itu milik Fajar, laki-laki yang dua tahun dia tunggu untuk datang. Yang kini sedang berdiri di depan panggung menatap Fala. Yang lalu merentangkan kedua tangannya. Menyiapkan dadanya sebagai sebenar-benarnya tempat untuk Fala mengadu.
Fajar tersenyum. Fala berlari turun dari panggung. Ia menangis menuju pelukan Fajar. Dipeluknya erat laki-laki yang masih sangat ia cintai itu.
“Kembalilah padaku”, Fajar berbisik di pelukan Fala.
Fala menangis.
Fajar melepaskan pelukannya. Memandangi wajah Fala yang dua tahun terakhir hanya bisa ia lihat dari layar ponselnya.
“La, aku minta, mulai sekarang, kamu hanya boleh menangis kalau ada aku. Kalau tak ada aku, jangan. Mau, kan? Memulai semuanya dari awal dengan ikatan baru? La ... mau, ya? Menjadi yang paling kucari saat aku kalut, menjadi satu-satunya tujuan saat aku pergi, dan satu-satunya rumah tempatku pulang. Aku mencintaimu, semua boleh kau katakan, asal bukan tentang perpisahan.”
Fala tersenyum, laki-laki itu terdengar begitu mencintainya. Karena kedatangan dan pengakuannya, kini Fala tahu bahwa—ia harus membenarkan apa yang salah, membenahi apa yang kacau, bukan memotong ikatan dengan satu ucapan “selamat malam” di ujung telepon.
Fala memeluknya sekali lagi.
***
Seluruh pasang mata iri sekali pada saat itu menyaksikan kami.
Saat ini, aku sedang menunggu Fajar keluar dari gedung. Hari ini dia wisuda! Tentu saja, aku sedang bersama orang tua dan adik-adiknya. Kami sudah berjanji, akan terus bertahan bersama. Menerima dan menyelesaikan seluruh tugas yang telah disiapkan semesta. Ya, mungkin hingga nanti, hingga anak cucu kami menceritakan kembali kisah-kisah ini untuk kami berdua.
Semoga Fajar selalu dalam lindungan-Nya. Selalu datang menghangatkan seperti namanya. Beruntung sekali aku, mencintai dan dicintai orang yang sama.
Solo, 26 Mei 2018
dengan kasih sayang Fajar dalam genggamannya,
Rafala Amikadea.

May 20, 2018

Saat Kamu Memutuskan untuk Berpaling

40

Satu-satunya yang aku pikirkan saat aku akhirnya tahu kamu sedang berpaling adalah, "apa yang selama ini kamu cari?". Karena kalau sesuatu yang tak ada padaku telah kau temukan di dalam dirinya, tak ada lagi yang bisa kujadikan alasan untuk menjadi juara. Asal kamu tahu, saat pertama kali kamu berinisiatif untuk mengenal dia lebih baik dari sebelumnya, saat itu juga aku pantas sekali disebut sebagai pecundang. Iya, kan? Ke mana saja aku? Apa saja yang selama ini kuberikan pada kekasihku? Kenapa masih ada celah yang bisa ia pakai untuk menemukan saat masih tengah memiliki? Sebegitu tidak becusnya aku menjaga. Sepayah itu aku menyayangi. Sehingga kekasihku satu-satunya, harus berpaling karena merasa aku sudah tak layak untuk menemani.

Aku yang salah. Bukan. Kesalahan bukan pada kamu yang menyakiti aku. Bukan pula dia yang merebutmu dariku. Aku. Segala kepatahhatianku ini, berasal dari diriku. Yang tidak bisa membuatmu tinggal lebih lama di sini; aku. Yang tidak bisa memagari hubungan kita dengan kuat; aku. Aku yang salah. Karena tidak bisa membuatmu melihatku sebagai seseorang yang patut kau beri ketulusan. Sampai kamu berani menggeser posisiku untuk mendapatkannya. Mengabaikan aku untuk menjadi lebih dekat dengannya.

Seandainya saja, telingaku adalah tempat untukmu yang paling nyaman untuk mengeluh dan menceritakan apa pun di balik seluruh peluh. Seandainya, pundak-pundakku mau kau gunakan sebagai tempat rebah dari seluruh lelah, tentu sampai saat ini aku masih menjadi kekasih yang tak ada duanya. Tentu saat ini di hatimu tak pernah ada cinta lain yang kini sedang kau megah-megahkan namanya.

Apa lagi lalu yang bisa kulakukan selain menerima?

Kalau sudah begini keadaannya, mana mungkin aku tega menjadi orang ketiga dalam hubunganmu dengannya? Mana mungkin aku sampai hati membuat dia merasakan sakit yang sama dalamnya dengan saat aku melihat kalian berdua? Kalau benar akhirnya aku yang harus pergi, tak apa. Aku akan belajar bagaimana menjadi teman tumbuh yang baik, agar kekasihku yang selanjutnya, takkan meninggalkanku untuk cinta baru yang menurutnya lebih baik.

April 18, 2018

Mas

42

Mas, jadilah laki-laki paling menjengkelkan di hidupku. Jadilah egois yang selalu ingin mengalahkanku. Jadilah hangat dan menenangkan. Jadilah manis dengan sikap-sikapmu yang menyebalkan.

Jadilah kamu kekasih yang kepala batu. Bilang pada semua orang bahwa kamu hanya mau aku. Minta aku menjadikanmu nomor satu. Curi semua hatiku lalu cemburu pada siapa pun dan apa pun di dekatku.

Teruslah di sampingku dan maafkan apa pun kekeliruanku. Buat seluruh perempuan bertengkar karena ingin menggantikan posisiku. Beri tahu dunia bahwa kamu terlalu pantas untuk diperjuangkan. Karena kamu memang seindah itu untuk dikagumi tanpa butuh panjang penjelasan.

Mas, seberuntung itu aku akhirnya bisa memenangkan kamu.
Karena cacat dan lukaku yang kau rawat. Karena lemah dan rapuhku yang kau jadikan kuat.
Maka apa lagi yang harus kucari saat Tuhan telah memberikanku kamu? Tempat dengan ketenteraman seperti apa lagi yang harus kusinggahi saat kini kamu-duniaku-sedang duduk manis menatapku?

Mas, beri tahu aku apa pun yang menjadikanmu gundah. Jadikan aku seseorang yang kauinginkan ada saat kau mulai resah. Biar aku datang dan mendengarkannya satu-persatu. Akan kudamaikan kekalutanmu seperti dulu saat kau hampiri aku dan menyelamatkan seluruh haru biruku.

Jadikan aku satu-satunya yang melihat kekacauanmu. Agar hanya aku yang mengerti dirimu. Luapkan kegagalanmu seluruhnya dalam pelukanku.
Biar dunia melihatmu sebagai hati yang tak pernah kecewa. Biar dunia mengingatmu sebagai laki-laki yang sempurna.
Tapi terlepas dari semua itu, Mas, terima kasih karena telah menemukanku. Terima kasih, karena perempuan itu adalah aku.

April 14, 2018

Setelah Kamu Pergi

30

Setahun setelah kamu pergi, hatiku masih belum mengerti cara melangkah untuk menyudahi ini. Aku masih berdiri sendiri, masih larut dalam bekas genggaman tanganmu, masih terpenjara dalam kenangan saat kita berdua belum sejauh ini.

Entah bagaimana atau dari mana aku harus memulai untuk menjelaskannya.
Tentang apa yang membuatku jatuh sedalam ini, atau kapan aku akan berhenti.
Aku kehilangan kata untuk mengartikan kerumitan perasaanku sendiri.

Aku selalu merentangkan kedua lenganku untuk kau merebahkan diri dalam pelukanku.
Aku masih mengantar doa-doa yang akan menjagamu kalau mungkin lengan-lenganku tak bisa mendekapmu.
Aku selalu melakukannya tanpa kauminta. Tanpa kau peduli.

Tapi melihatmu kini bersama yang lain, aku mulai ingin beranjak dari kekalahan ini.

Selebar itu senyumanmu saat bersamanya.
Semudah itu kaujadikan aku sebagai sebuah cerita lama.
Sebahagia itu kalian berdua.
Sesulit itu memintamu mengerti bahwa aku satu-satunya di sini yang menerima ribuan lara.

Tanyakan padanya, maukah dia menerimamu sebagai seorang laki-laki yang selalu ingin dimengerti?
Pastikan sendiri, siapa yang lebih baik untukmu hingga saat ini.
Suatu saat nanti, saat kau telah menemukan jawabannya, silakan kembali.

Karena sesungguhnya aku telah memaafkan seluruh kesalahanmu. Kembalilah tanpa bilang padaku bahwa aku terlalu baik untukmu.
Jangan bicara omong kosong denganku. Cukup datang padaku lalu peluk aku.
Katakan padaku kau takkan mengulanginya dan berjanji untuk selalu bersama denganku.
Atau kembalilah saat kau tahu rumahmu adalah aku.
Bukan dia.

April 7, 2018

Bersedihlah

12

Mengeluhlah kalau kau ingin mengeluh. Lepaskan rasa sakit di dadamu yang mulai riuh. Akui saja bahwa hatimu juga punya sisi yang sangat rapuh. Yang perlahan akan terkikis walau kaujaga dengan sungguh-sungguh.

Bersedihlah kalau kau harus bersedih. Tulis siapa dan apa saja yang membuat lukamu terasa semakin perih. Percayalah bersedih takkan membuat harga dirimu tersisih. Karena sejatinya kau hanya membenarkan bahwa kini jiwamu sedang begitu letih.

Teriaklah kalau kaurasa kau patut berteriak. Luapkan segala emosi di dalam dirimu yang saat ini sedang bergejolak. Keluarkan kekesalan itu sebelum semakin meruak. Terimalah saja sedikit rasa pahit atas harapan-harapanmu yang telah koyak.

Menangislah kalau kautahu ini sudah waktunya menangis. Terima semua kekalahan-kekalahan itu yang perlahan menjadikan batinmu teriris. Tumpahkan semua air matamu sampai habis. Kau pun tahu masalah-masalah yang datang tak akan bisa selalu kau tepis. Jangan bersikeras menghadapi dunia dengan kelemahan ini, egois!

Tak perlu takut untuk terlihat lemah. Bilang saja kalau kau sedang resah. Beri izin dirimu sendiri untuk merasakan apa yang membuatmu gundah. Kau tak perlu khawatir akan kalah. Mungkin saat ini keteguhan hatimu sedang diasah.

Sediakan ruang untuk dirimu sendiri. Biarkan kekeruhan ini terus mengalir hingga perasaanmu jernih kembali. Pahami kesedihan mana yang harus kauganti. Cari tahu kebahagiaan sebesar apa yang harus kaucari untuk membuatmu hidup lagi.

Kau tak perlu memaksa untuk terus terlihat ceria.
Hidup selalu punya rasa pahit sebelum rasa manis tercipta.

Bersedihlah selagi kau masih bisa.
Selanjutnya, silakan kau berbahagia.
Jadikan dirimu insan yang paling kaya akan makna.
Kau yang paling memahami dirimu dibanding seluruh isi dunia.

March 28, 2018

:)

1

Aku ini wanita biasa.
Aku hanya punya beribu-ribu macam cara. Untuk membuat kau menderita, atau tergila-gila.
Maka jangan berharap apa pun dariku. Karena aku tak tahu bahwa mungkin aku ini tak sepantas yang kaukira.

Sesungguhnya aku ini perempuan biasa. Caramu mencintaiku yang menjadikanku istimewa.

Aku pun mungkin tak akan selalu baik padamu. Aku mungkin tak akan selalu sekasmaran ini denganmu. Mungkin suatu saat aku akan berubah menjadi pasangan paling membosankan yang pernah kau temui selama kau menghabiskan waktu. Tapi memang seperti itulah aku; serangkai tulang rusuk yang tak bisa kau ubah sekeras apa pun kaumau.

Apalagi kita masih punya banyak sekali hal-hal untuk dibahas. Perjalanan kita masih jauh, kita bisa saja tiba-tiba menjadi dua orang yang ingin lepas.
Karena datang dan hilangnya perasaan tak pernah menyertakan alasan. Semua hadir dan berlalu begitu saja tanpa perkenan.

Aku ini, manusia biasa yang kebetulan saat ini sedang kaucintai.
Lusa aku tak tahu. Mungkin terus seperti ini, mungkin pula kita perlahan akan hilang arti.

Aku hanya seseorang yang dianugerahi sebuah hati.
Dengan sebuah izin untuk kau miliki. Untuk kauisi kekosongan-kekosongan ini.

Apapun yang terjadi nanti, ingatlah selalu bahwa kita pernah saling jatuh cinta sedalam ini.

March 22, 2018

Jangan Kembali

11

Kamu tidak perlu kembali. Kamu tidak perlu melangkah mendekatiku lagi. Kamu tidak perlu, membuat puluhan panggilan tak terjawab hanya untuk bilang padaku bahwa kau saat ini tengah menyesali. Karena percuma, kamu terlambat datang, aku sudah tidak peduli.

Biarkan saja janji-janji yang dulu hilang sendiri. Jangan mengingat-ingat lagi sehingga kamu tak perlu susah-susah mencariku untuk menepati janji. Aku tak mau terseret ke dalam ingatan saat kau buang aku begitu saja seperti tak punya arti.

Saat itu, aku telah mengizinkanmu bebas mencari yang kau mau. Aku juga menerima kenyataan bahwa perempuan itu bukanlah aku. Aku mencoba mengerti lalu aku berani untuk berjalan menjauhimu. Pada saat itu aku berpikir bahwa mungkin bukan denganku kamu akan menyatu.

Lalu kini, setelah seluruh pertarungan antara hatiku yang ingin terus tinggal, dengan otakku yang ingin lupa, kau datang tiba-tiba membawa air mata? Setelah semua kekacauan ini aku lewati sendiri, kau datang dan berani berkata bahwa aku yang ternyata kaucinta?

Jangan begini. Jangan sampai kita kembali hanya untuk saling menyakiti. Kau tahu aku sudah tak semenyenangkan itu. Sekali-kali aku ingin menjadi muak dengan masa lalu.
Aku bosan dengan seluruh pergelaran drama yang kau tuliskan. Kamu masih terlalu mudah goyah untuk kuperjuangkan.

Carilah yang lebih baik dari aku. Seperti dulu saat kamu akan meninggalkanku. Ciptakan lagi pilihan-pilihan itu. Seperti dulu saat kamu menjadikanku opsi kedua saat kau temukan perempuan baru.

Kau harus tahu aku juga punya hati. Aku ini bukan tempat untuk kau datang dan pergi. Pergilah dariku, carilah yang baru. Lalu belajarlah untuk setia. Terus bersamanya hingga kamu tak sadar bahwa kamu telah larut dalam keteguhan cinta.

Maka dengan senang hati aku akan mendoakanmu. Dengan senang hati aku akan berbahagia atas dirimu.

Tapi kalau kau belum ingin menetap pada satu hati, jangan datang merayu lalu pergi. Semua perempuan itu sama, tak menyediakan kesempatan kedua untuk laki-laki yang mudah menyakiti.

March 18, 2018

Perpisahan

4

Bagaimana bisa kamu menyudahi seluruhnya dengan satu langkah pergi?

Apa bagimu arti sebuah perpisahan?
Membiasakan diri untuk tak lagi saling mencintai? Atau hanya sekadar melonggarkan ikatan dan mengakhiri janji?
Seperti apa bagimu sebuah perpisahan?
Sebuah keputusan akhir yang kauyakini takkan memunculkan penyesalan?
Mengapa kamu harus lari, saat aku mulai mempererat genggaman?

Mungkin bagimu, kita hanya akan belajar terbiasa tertawa tanpa saling menghibur satu sama lain. Kita akan belajar tersenyum tanpa harus saling memandangi satu sama lain. 

Mungkin mudah bagimu.
Mungkin, kamu tak pernah benar-benar memikirkanku.

Asal kamu tahu.
Bagiku, perpisahan bukan hanya sebuah tuntutan dua hati untuk berjalan ke arah yang berbeda. Perpisahan berarti aku harus melipat rapi dan menyimpan semua tentang kita di dalam kotak yang takkan pernah lagi kubuka. Aku harus menghapus semua ingatan tentang kita hingga aku bisa mendefinisikanmu sebagai hampa. Aku harus mulai menata segala yang kacau dan kembali mencoba percaya pada yang lainnya.

Kalau saja melupakan semudah membatalkan perjanjian,
kalau saja memaafkan semudah pergi dari sebuah pertanggungjawaban,
kalau saja, semua proses melepaskan, melupakan, dan mengikhlaskan bisa kupersingkat agar bisa segera kuakhiri tanpa penyiksaan,
aku mungkin akan diam saja dan menikmati semua kegagalan kita.
Karena saat ini, tak peduli seberapapun kuatnya aku ingin lupa, aku tetap mengingat semuanya dari baris kenangan pertama.

Tapi...
Mengapa yang bagiku begitu berat menjadi terlalu mudah untuk kauselesaikan?
Mengapa perpisahan kita seperti ratusan persoalan yang harus kupecahkan sendirian?
Kepada siapa kini aku harus meminta bantuan saat aku melaluinya dengan penuh kesulitan?
Kepada siapa aku harus mengeluhkan keadaan, saat satu-satunya orang tempat kubergantung telah melepaskan diri dari pelukan?