October 14, 2018

Surat Terakhir: Kamu Lupa

6

Kamu lupa kita pernah ada.
Kamu lupa kita pernah bersikeras untuk menyamakan masa depan yang sewarna. Pernah mengalah demi usia hubungan yang lama. Pernah berjanji untuk berhenti mencari, karena terlalu yakin dengan keselarasan jiwa. Kamu lupa aku selalu punya sandar dan peluk saat kau lelah mengerti kemauan dunia.

Kamu lupa, bahwa melupakan tak pernah tak butuh usaha. Kamu lupa bahwa kedatanganmu yang sebentar itu, selalu memutar semua kembali seperti semula. Sehingga aku harus kembali terjatuh di kedalaman rasa yang sama, dan memulainya lagi dari langkah pertama.

Kamu lupa memberitahuku cara berhenti memanjakan asa. Aku masih saja ingin ragaku kausanding lagi sebagai pasangannya. Kamu lupa memberiku pintu untuk pergi dari arena. Aku kaubuat harus terus berkelahi dengan logika.
Mengapa yang bagimu mudah, bagiku tak ada jalan keluarnya?

Kamu lupa aku ini cuma insan. Yang kebetulan mudah mencintai, sulit melepaskan. Apalagi dulu beberapa kali kaubuatku merasa dinomorsatukan.
Rasanya memang kesepian ini tak akan mudah aku ramaikan.

Tapi apa harus seterjal ini sebuah perjalanan? Yang hanya untuk melupakanmu, aku harus melenyapkan senyuman dan harap-harap di angan.
Apa harus serumit ini kisah seorang perempuan? Yang hanya karena ditinggalkan, ia harus menulis ratusan huruf kesedihan dalam rangkaian.

Tak perlu berpura-pura menyelamatkan karena aku tahu tangan itu adalah sebuah lambaian untuk perpisahan. Tak perlu berpura-pura tanya kabar dan keadaan karena aku tahu kau tidak benar-benar merindukan.

Bebaskan saja seluruh ikatan yang pernah kita karang. Agar aku benar-benar punya ruang untuk mengenang tanpa mengulang.

Kalaupun ternyata kita masih bisa mencoba bersikap dewasa dan terus berjalan sebagai dua orang teman, aku tidak menyepakatinya. Berada di sebelahmu dengan perasaan yang sudah tak ada balasannya, untuk apa?

Kamu lupa mengakhiri semuanya.
Ini kubuatkan "titik" dari seluruh tentang kita.
Semoga kamu berbahagia.

September 23, 2018

Kita Ini Apa?

8

Kita ini apa?
Kita ini bagaimana?

Terlalu jauh untuk menjadi dekat. Terlalu dekat tapi tak punya tempat.

Kita ini saling menemukan tapi tak punya nyali untuk memulai. Mengumpulkan banyak kata tapi tak tahu bagaimana cara merangkai. Kita berdua ini pengecut; ingin disatukan semesta, tapi langkah pertama untuk mendekat pun tak ada.

Apa jangan-jangan kita hanya sebatas jiwa yang ingin berdua?
Apa kita ini kesalahan yang dipaksa?
Apakah kita hanya dua hati yang berbunga-bunga? Yang lalu akan layu begitu saja?
Ataukah memang selama ini semua hanya pementasan sebuah drama?

Aku bertaruh, saat ini kau sedang merindukanku, tapi kau tak tahu bagaimana cara untuk mengaku. Karena tanpa kausetujui, aku pun merindukanmu setiap hari. Ingin semua yang kita bicarakan sejak dulu menjadi obrolan nyata. Semuanya jelas, di hadapan mata. Di tengah-tengah kau dan aku, di tengah sumpah kita yang terlalu ingin menyatu.

Tapi tunggu dulu, biar kutanya kau sesuatu. Atas kedekatan ini, adakah ternyata sebuah ego yang diam-diam telah dikesampingkan?
Atas nama kesungguhan hati, adakah mungkin kepercayaan lain yang telah dikorbankan?
Sudah benarkah kalau aku bilang kita sama-sama terjerat dalam kenyamanan?
Karena tak peduli seberapa pun kerasnya aku menentang, kamu tetaplah satu-satunya yang aku inginkan.

Lalu bisakah kau terus di sini bahkan saat keadaan mendorongmu pergi?
Bolehkah kita terus berdua walau tak bersama?
Adilkah pada yang lainnya saat kuminta dunia hanya milik kita saja?

Bisakah kau menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang entah di mana ujungnya?

***

Balasannya, "Sedang Kuusahakan", dari Kak Menda (@fermendkis). Baca saja. Mana tahu mendapat kejelasan atas pertanyaanmu.

September 15, 2018

Bukan Saatnya

1

Di hari kesekian setelah aku mulai kehabisan makna, kamu mendekat dengan hati penuh doa.
Aku seperti dahaga di gurun pasir ternama, kamu melangkah dengan tatapan sedalam samudera.

Hadirmu membuatku teralih, dari kekandasan jalinan yang mencekik mati secara perlahan. Akhirnya, bukan hanya sebuah dalih, aku terlepas dari kenyataan-kenyataan yang bergerak menyudutkan.

Dia berhasil membuangku jauh. Kemudi telah hilang kendali dan menjadikanku tak ingin berlabuh. Kemudian kamu datang menjanjikanku ribuan alasan untuk berbahagia. Kamu memang laki-laki yang tak boleh berakhir sia-sia.

Tapi, rasanya tak pantas memaksa diri untuk kembali berdua hanya agar dia tahu bahwa aku sanggup tanpa hadirnya. Rasanya tak pantas menjadikanmu seorang "pengganti", bahkan ketika memang seperti kamulah yang sejak kemarin kunanti-nanti.
Aku ingin menemuimu sebagai seseorang yang benar-benar harus kutemui, bukan untuk menutupi luka-luka yang seharusnya menjadi urusanku sendiri.

Aku selalu siap untuk kembali jatuh cinta. Tapi, bukan ini saatnya. Bukan ketika aku baru saja diasingkan dari lingkaran kejujuran yang ternyata maya. Bukan ketika tiba-tiba mataku menangkap keberadaanmu sebagai pereda badai di kepala.

Aku tak lelah percaya dengan laki-laki. Bahkan saat seluruh kalimatnya hanyalah bualan yang memperkeruh hati. Aku hanya mulai merasa lelah dengan fase-fase "kasmaran lalu kehilangan". Bosan dengan urutan yang sejak dulu tak pernah ada perubahan.

Ini bukan sebuah penolakan, aku tak pernah menganggapmu datang dengan segenggam permintaan. Terserah padamu mau bagaimana, di sini menemani, atau pergi mencari perempuan lain yang bisa membalas perasaanmu dengan senyata-nyatanya janji.

Pada akhirnya, jawabanku nanti hanya satu:
"berkomitmen, atau tidak sama sekali".

---

Psst! Tulisan ini berpasangan. Baca di sini.

September 2, 2018

Terurai

14

Setiap manusia diberi hati untuk merasakan kepekaan sekitar. Tapi, anehnya, aku tak peka saat kau bilang perasaan di dalam dirimu mulai memudar. Semua berjalan terlalu baik-baik saja untuk aku menyadari bahwa hatiku sudah di ujung lempar. Sehingga aku harus membongkar semak belukar, mencari-cari alasan kenapa yang manis selalu akan menghambar?

Aku kira kita telah berada di usia "berkomitmen atau tidak sama sekali". Artinya, bukan lagi masanya untuk kita datang, bilang cinta, lalu pergi.

Sepertinya ini hanya soal kebiasaan. Kau melatih dirimu untuk biasa menerima, atau biasa mencari lagi saat mulai merasa hampa. Jadi mungkin bukan salahku ketika kau pergi tapi tak ingin mengakhiri. Bukan pula salahmu yang menganggap kita masih belum waktunya untuk berjanji. Sepertinya memang sudah waktunya. Sepertinya restu dunia bukan lagi milik kita.

Aku tak mau mengguruimu, tak mau mendikte perlakuanmu padaku. Biar kau belajar sendiri, bahwa sebab-akibat itu benar ada dan perlu dipahami. Seandainya kau mau berpikir dua kali, seandainya kau tahu tak semua menyediakan kesempatan kedua kali, kau tak akan kehilanganku, aku takkan semarah ini denganmu.

Kukira kita sudah harus belajar dewasa. Tapi, kau masih saja fokus pada "apa yang membuatmu bahagia, apa yang bisa dipotong saat itu juga". Seperti seorang anak di dalam masa tumbuh, belajar memisahkan mana yang menurutnya berguna dan tidak berguna.

Kapan-kapan, menulislah kau dengan tanganmu sendiri. Jujur saja apa yang sedang terjadi, apa yang mengganggu, apa yang ingin sekali kaubenahi. Pasti yang salah selalu bisa diperbaiki. tak bisa serta-merta dihancurkan, tak bisa serta-merta hilang arti.

Kita sudah pernah berkali-kali berjuang sebelum ini. Sebelum pertemuan kita pun, harusnya ada kehilangan yang akan membuatmu tak ingin mengalaminya dua kali. Harusnya, dulu, sebelum kau mencoba untuk menelaahku, kau harus mengkaji dirimu sendiri. Setelah itu mungkin baru kautahu, sebesar apa harapan yang harus kauberikan, agar di akhir aku tak merasa terlalu dikecewakan.

Kalau kisah hanya tersisa kisah, kalau kau belum juga berkaca dan ingin berubah, aku berani untuk hidup sendiri.
Kalau ikatan tali sudah terurai, kalau keeratan kita sudah selesai, aku berani melangkah pergi.

August 29, 2018

Self Love

11

Untuk yang kusayang, diriku sendiri.
Kalau aku harus menentukan siapa yang menjadi pihak terpenting dalam urutan hidupku, jawabku sudah pasti kau. Selama ini, kaupikir untuk apa aku menjadi selalu ingin menang? Untuk apa dulu aku "sendiri" kalau bukan agar kau merasa tenang? Atau, saat ini, untuk apa aku berdua kalau bukan agar kau bahagia?

Aku tahu, kau sedang berada di usia rajin-rajinnya. Rajin belajar, bersekolah, rajin mencari informasi, ilmu, mencari restu, mencari jati diri, rezeki, atau sekadar mencari-cari perhatian seseorang yang tak pernah kaudapatkan sejak dulu. Selama kau percaya yang kaulakukan adalah baik, selama kau punya keimanan untuk hal-hal yang hanya bisa kauyakini dengan baik, lakukanlah, selesaikanlah. Tuai seluruh rasa bangga dari segala apa yang sejak dulu kautanam dengan kerja keras. Kelelahanmu itu berarti, untuk kau mempelajari dirimu sendiri.

Tak usah iri pada kehidupan orang lain yang bahkan kau tak tahu baik dan buruknya. Pikirkanlah walau harus berkali-kali, kau diberikan hidup untuk disyukuri atau disia-siakan dengan hati dan kepala yang panas setiap hari? Percayalah, mereka itu tidak hidup beruntung, kau hanya tak tahu bagaimana perjuangannya. Mereka itu tidak serta-merta punya segalanya, kau hanya tak tahu segiat apa mereka berusaha. "Hidup enak" yang kaubilang itu tak mungkin tak ada durasi dalam prosesnya. Kau bahkan tak tahu selantang dan sepanjang apa doa-doanya.

Untuk yang kusayang, diriku sendiri.
Memang, aku pun setuju, kewajiban paling berat mungkin adalah menerima. Tinggal di lingkungan yang menyakitkan, atau belajar di sekolah yang tak begitu dikenal, atau bekerja bukan pada perusahaan ternama, atau, bahkan hanya menerima kalau kau bukan seseorang yang ingin dia curi hatinya. Sungguh, kalau semua hal tak menyenangkan bisa dan mau ditulis, semua jari-jari manusia pasti sudah mati rasa.

Tapi, tenang. Menerima tidak hanya diperuntukkan bagimu saja. Setiap orang pasti punya titik terendah dalam hidupnya dan mereka pun dituntut untuk menerima. Bedanya, mereka bisa menerima ketentuan-ketentuan dengan lapang dada, kau yang di sini malah masih saja berkutat dengan sumpah serapah atas ketidakberhasilanmu. Kalau sampai setelah ini kau masih sulit menerima, kau, sungguh, benar-benar tak tahu malu.

Untuk yang paling kusayang, diriku sendiri.
Ini pun penting, selagi kau masih bujang, masih belum ada tanggungan lamar-melamar, berlarilah dengan kakimu sampai kau menjadi insan yang paling bebas, berkarya positif tanpa batas, percaya dirilah walau cintamu harus berkali-kali kandas. Jangan terlalu bersandar pada harap-harap atas kriteria pasangan yang akan kaunikahi nanti. Tuhan tahu kau pantas untuk seseorang yang seperti apa.

Aku terlihat bagus bersanding dengannya.
Senyumnya terlihat bagus untuk kukecup setiap paginya.

Tidak sesederhana itu. Pantaskan diri dahulu agar kriteriayang kausebutkan setiap hari di dalam hatiitu boleh menjadi milikmu. Mutiara akan pantas bersama emas atau perak, tidak dengan besi yang dingin dan bau. Jangan lagi meminta banyak hal lalu kesal sendiri kalau tak terkabulkan. Lihat dulu ke belakang, usaha apa saja yang sudah kaulakukan? Jodoh yang kauidam-idamkan tidak begitu saja turun dari langit, harus dijemput. Paling tidak, minimal, sifat, karakter, dan kebiasaan yang kaumau itu sudah ada dalam dirimu sendiri.

Tapi, satu yang harus kauingat, sebebas-bebasnya kau berlarian, kau harus tetap tahu aturan. Karena menjadi muda itu bukan hanya soal tumbuh menua, kau pun harus belajar mengendalikan beban dan tanggungan. Ada pengorbanan waktu, tenaga, dan pengorbanan-pengorbanan lain yang mungkin dulu tak pernah kauduga.

Diriku sendiri, tak perlu jauh-jauh membanggakan dunia, banggakan aku terlebih dahulu. Buat aku percaya kau bisa menaklukan musuh-musuh yang selalu timbul dari dalam hatimu. Bangkitlah gunakan pijakan terkuatmu, bertekadlah gunakan iman-imanmu.

Fokuslah dahulu pada pembelajaran diri, buat dirimu manusia yang paling mengerti dengan kecacatan pun keunggulanmu sendiri. Aku tak kan ke mana-mana. Tuhanmu apalagi, yang punya semua rencana.

Satu lagi, terakhir. Diriku sendiri yang kusayangi, berhentilah khawatir soal jodoh dan rezeki. Sama halnya dengan usia, tiga hal itu sudah disediakan Tuhan untuk kaujemput sendiri. Kau tahu Tuhan tak kan memberikan hal baik begitu saja. Harus ada kemauan dari hamba-Nya.
Ini bukan omong kosong, kau pasti akan menyadarinya nanti. Alasan satu-satunya kau menjalani hidup seperti ini, adalah karena memang hanya kau yang bisa melaluinya, orang lain belum tentu mampu.
Kau benar-benar seistimewa itu.

Oh, iya. Maaf selama ini kau harus terlalu sering mengalah walau tak salah. Maaf kau harus berkali-kali melepaskan yang bahkan belum sempat kaugenggam. Terima kasih karena selalu kuat. Terima kasih karena kau masih hidup dan terus belajar hal-hal hebat.
Aku menyayangimu, sungguh.

August 18, 2018

Kekeliruan Rasa

2

Ada yang lebih hangat dari mentari pagi.
Terbit bukan dari timur, tapi dari dalam hati.
Ada hasrat ingin menyapanya dari selatan.
Yang tak akan sanggup kuutarakan.

Sungguh dua kaki ini tak berarti.
Jalan melewatinya saja aku tak berani.
Sore kini terasa sia-sia.
Senja kini terasa seperti hanya sebuah nama.

Warna putih perlahan mulai memerah.
Seperti kedua pipi saat senyumannya merekah.
Jatuh cinta memang tak pernah tak terasa indah.
Termasuk bahkan perasaan yang sudah ditolak mentah-mentah.

Luka-luka membias di kerling mata.
Mohon ampun agar tiada sakit yang lebih menyiksa.
Aku sungguh, menyukainya.
Dan hal sialan itu terus tumbuh, pada kekeliruannya.

Ingin memaksa, tapi tak kuasa.
Jelas satu rasa bukan untuk aku saja.
Sekarang timbul kembali kata tanya "mengapa".
Mengapa aku merasa berdosa ketika aku hanya jatuh cinta pada teman lama?

Barangkali persahabatan terlalu erat.
Barangkali jalinan cinta akan terlalu mengikat.
Demi jarak yang amat dekat,
terbukakah matamu untuk aku yang tak sengaja terpikat?

Sesederhana itu perasaanku.
Baru tumbuh satu sudah dicabik waktu.
Apa jadinya saat berjumlah seribu?
Apa kemerdekaan memang bukan milikku?

Harapan kini tinggal hembusan angin.
Tertiup lepas, kalah dari kekuatan "amin".

Apalah arti janji walau sekokoh raksasa?
Kalau hingga detik ini pun hatinya tak kunjung peka.

Sudah lama aku hidup dalam hitam kelam kehilangan.
Kertas sudah penuh dengan caci-makian.
Kini, setelah aku ternyata menemukan,
bodohnya aku, dia adalah seorang teman.

Satu hal terakhir.
Kalau teman memang hanya untuk menjadi teman, tolong jelaskan perasaan apa yang kini sedang semesta limpahkan.
Benarkah ini hanya untukku sendiri?
Tak adakah sisa untuk dia nikmati?

August 9, 2018

Keluh

9

Aku benci dengan kata "mulai". Lebih benci dengan saat-saat sebelum memulai. Hal-hal baru selalu kuanggap menyebalkan karena prosesnya pasti panjang. Padahal aku ingin seluruhnya sesingkat merebus mi instan. Aku benci harus merangkak sebelum berjalan. Aku ingin langsung berlari begitu aku mengepalkan tangan.

Aku benci ketika seluruh keyakinan lenyap tiba-tiba, pergi dariku, lepas dari pelukan doa-doa. Percuma rasanya aku merangkai tekad sebulat-bulatnya.
Aku ingin berhenti khawatir pada takdir yang terus mengalir. Aku ingin berhenti mencari tahu, ingin membunuh tanda tanya baru, ingin berhenti haus akan jawaban. Aku ingin menghapus kata "mengapa" atau "bagaimana bisa". Aku ingin dunia berhenti memakai kata "kapan" setelah membanding-bandingkan. Aku benci dengan perbandingan. Karena salah satu harus terpaksa terlihat kurang agar satunya bisa diunggulkan.

Aku ingin hidup setingkat di bawah Tuhan dan orangtua. Tak ingin ada bos, atasan, ketua, atau penguasa. Iya memang, mereka pun pasti memulai dari anak tangga pertama, persis di tempat ini--tempatku berada. Tapi melihat mereka yang selalu seenaknya sendiri, aku menjadi ingin sering berdoa. Mendoakan mereka berhenti menjadi manusia.

Aku ingin kembali menjadi anak kecil berumur empat tahun, saat orang-orang bahagia melihatku membaca. Pasti bahagia sekali saat itu bisa menyenangkan orang-orang dewasa. Karena setelah aku tahu, tinggal di usia kepala dua benar-benar menguras waktu dan tenaga. Aku hampir selalu dituntut untuk mencari hiburan selain liburan. Apa pun di mana pun, asal aku bisa keluar dari area pekerjaan. Yang menuntut? Tentu diriku sendiri.

Aku butuh teman untuk berbicara, tapi aku benci dengan ekor cerita. Karena selalu ada mulut yang mengikuti. Artinya, aku benci dengan sebuah topik yang merembet ke mana-mana. Mulainya apa, akhirnya apa. Disambung-sambung terus, tak juga jera.
Sampai rasanya seluruh kalimat tentang ekonomi, cinta, politik, janji, dan lain-lainnya, ingin kuberi titik sebesar jagad raya.

Aku ingin kedamaian untuk entah apa yang kini sedang riuh di pangkal hati.

Aku ingin mereka yang datang akan menetap walau tak bersumpah. Kurasa diam bertahan walau tak memberikan apa-apa itu tidak terlalu susah.

Aku ingin melimpahkan maaf untuk diriku sendiri. Salah setitik atau sebelanga, aku ingin segera menganggap itu semua tak pernah terjadi. Aku bosan menganggap diriku adalah penyebab dari tiap-tiap kekacauan. Harus berapa kali aku tersesat dalam pikiran dan kebodohan yang menyesatkan? Bukannya menyelamatkan diri, aku malah terjun ke dalam jurang.

Aku mungkin adalah satu di antara milyaran perempuan yang Tuhan tuntut untuk mengerti. Bebanku harus kunikmati agar tak menyiksa nurani. Aku harus tahu diri, dan tahu arti--apa guna diciptakan pundak dan kaki.

Aku ingin merdeka.
Bebas, tak terkurung dalam nestapa.
Aku ingin berlayar berujung samudra. Pasifik atau pun Hindia, asal lautnya membuat jiwa tenang saat itu juga.

Aku ingin, aku--yang selalu mengeluh ini--tahu, bahwa, anak sekolah saja paham, tugas itu untuk diselesaikan. Mereka tahu, masalah itu untuk dipecahkan. Bukan untuk dikeluhkan dan dituangkan dalam barisan-barisan kemarahan. Aku seperti sedang berperang tapi tak tahu dengan apa dan atas alasan apa. Terus-menerus merasa kalah tapi tak ada pemenangnya.

Sudah. Aku sudah punya banyak keluhan. Yang belum punya hanyalah ampunan. Serta cara untuk berhenti mengeluhkan keadaan.

Benarkah bersyukur adalah satu-satunya jalan?

July 28, 2018

Puisi?

3

Untuk laki-laki yang masih mendekap dan terperangkap.

Sampai kapan kau menjadi debu?
Diterbangkan ke sana kemari
Akhirnya terdiam juga di sampul buku

Sampai kapan kau izinkan jantungmu terhunus?
Sampai kapan, matamu mati melihat aku yang tulus?

Jangan memaksa menggapai apa yang tak santai
Jangan berlari di jalan yang memperlambat kakimu sampai

Berhentilah mencari
Berhenti kehilangan dirimu sendiri
Tak usah berdarah-darah dan membuatku marah
Sadarlah,
bangun dari mimpi panjangmu
Temui aku
Aku punya separuh untuk melengkapimu

Jangan lagi membanding lalu membanting
Aku ini kepatahhatian yang tak bisa berpaling

Jangan lagi sendu
Jangan lagi keliru
Jangan lagi tersesat
Jangan lagi terhambat
Kau punya aku
Mari selesaikan puisi ini dengan satu kata 'tamat'

Dariku,
cinta yang tak pernah sempat.

July 7, 2018

Rumit

9

Aku terkejut kau benar-benar hilang. Membawa lari lembaran kisah yang rumpang. Kurasakan kini hatiku telah benar-benar usang. Kita telah terlampau jauh--kau tak lagi berada di seberang. Ada kehampaan yang menyekik hati, begitu aku tahu kau kini tak lagi peduli.

Mungkin memang tidak tertulis di garis tangan kita untuk saling melengkapi. Dan aku percaya, aku memaklumi. Kalau memang aku bukan jodohmu, mau bagaimana lagi? Toh, semua yang kulakukan untukmu tak pernah berarti. Pikirkanlah saja, kalau benar kita saling menerima, mengapa saat ini kau tak ada di depan mata? Kalau benar kita ini masih saling mencintai, ke mana pergimu meninggalkan aku seorang diri?

Apa iya kebohongan di kepalaku tentang ketidaktulusanmu benar-benar nyata? Apa iya, hanya aku yang dulu terlalu mencinta? Jawablah, setidaknya satu, untuk mewakili semuanya.
Apa kau pernah benar-benar ada?

Kalau saja ternyata kita dulu bertemu di waktu yang salah hingga kini harus terpisah, mari bertemu lagi di sudut jalan. Menyatukan lagi perasaan-perasaan yang dulu tak sepenuhnya bertuan. Aku ingin nanti permohonanku terbalaskan. Sayang ... tak ibakah kau melihatku berlutut meminta pengakuan?
Atau kalau ternyata kita dulu menyatu di pemikiran yang belum matang, mari kembali bertemu dan saling bertukar pandang. Aku sungguh merinduimu, asal kau tahu. Perasaan ini terlalu besar untuk menjadi rahasia kecil di dalam doa-doaku. Tak kan bisa lagi berbohong kalau kau memanglah satu yang kumau. Tak apa meski dulu hanya aku yang berjuang, meski kau selalu pergi dan jarang datang. Tak masalah meski dulu aku jatuh dan bangun seorang diri. Tak masalah dulu aku hanya mendengar janji-janji. Aku tak peduli dengan perhitungan-perhitungan itu. Aku peduli denganmu.

Kalau kau kelak membaca tulisan ini, mulai saat itu, cobalah berhenti menjadi pribadi yang selalu ingin menang sendiri. Yang selalu melakukan semuanya tanpa merasa harus ditemani. Aku pun ingin kaujadikan teman berdiskusi, aku ingin dianggap, dimintai pendapat, diajak mencari jalan keluar, atau sekadar ditenangkan kecemasannya. Aku ini ada. Jangan hidup sendiri. Jangan menjadi egois lagi denganku. Kau tahu aku tak kan selamanya mengalah denganmu. Memang benar aku punya hati, cukup besar kalau hanya untuk memaafkanmu--sekali dua kali. Tapi kalau seterusnya kau akan begini, sudahlah, sepertinya memang tak ada kesempatan kedua yang kucari-cari.

Kau terlalu angkuh untuk kuhormati sebagai laki-laki. Kau terlalu nyaman berada di jalanmu sendiri. Tanyakanlah lagi pada dirimu, apa kau sadar selama ini aku setia di sisi? Apa kau sadar saat kaubilang "aku mencintai"? Apa buktinya? Kenapa kau malah pergi, menyesal, tapi tetap tak mau berubah sama sekali?

Kukira ini semua karena kisah kita yang rumit. Ternyata, untuk sepenuhnya mendapatkanmu dari awal memanglah sulit.





Baca "Runyam", di sini, lalu simpulkan sendiri siapa yang paling sakit.

July 4, 2018

Kepada yang Dulu Tersayang

6

Kepada yang dulu tersayang.
Kalau menghapus bukan satu-satunya jalan, maka biar saja kegagalan ini menjadi paragraf-paragraf di keabadian. Untuk seluruh angan yang kemarin belum sempat kita kabulkan, tinggalkan saja semuanya. Jangan sampai ada sisa. Karena percuma. Kau tahu kita sudah tak punya waktu untuk membahasnya berdua.

Nanti, ketika kita telah menemukan jalan berbelok yang terpisah, aku akan berusaha selalu ingat, bahwa “kita” bukan lagi tempat aku memusatkan arah. Cerita kita yang dulu rutin tertulis, harus kurelakan terpotong begitu adanya. Kita tak harus berakhir bahagia seperti dongeng-dongeng anak yang pernah kita baca berdua. Karena sejatinya memang apa yang kita sebut “rumah”, tak pernah semewah istana.

Untuk kesalahan-kesalahan yang belum sempat kita perbaiki, benahi saja dengan cara kita sendiri. Kita tak perlu lagi marah dan merasa kalah. Kita tak perlu lagi berdebat soal ketidakselarasan hati. Kamu kini milikmu, aku kini milikku sendiri. Kita sudah bebas tersenyum dan bermain dengan semua orang tanpa takut dicemburui. Kita sudah bebas berlari ke mana saja dengan siapa saja tanpa takut dicurigai.

Tak ada yang boleh disalahkan dengan perpisahan ini. Terlepas dari fakta siapa yang lebih sakit, atau siapa yang tega mengakhiri, kita tetap dua orang yang pernah saling mencintai.

Kepada yang dulu tersayang.
Segala apa yang pernah kita raih dari sebuah juang, ingat itu sebagai kerja kerasmu sendiri. Jangan libatkan aku lagi. Suatu saat, mau tak mau, kelak kau pasti menemukan pengganti. Lalu jangan pernah ungkit namaku, lebih-lebih kisah kita sebelum ini. Kalaupun seandainya suatu saat terlintas di kepalamu pertanyaan bagaimana kabarku, jangan lakukan apa pun. Jangan mencari kabarku, jangan menghubungi teman-temanku, apalagi berlari ke hadapanku. Kau tahu urusan paling melelahkan adalah dengan masa lalu. Sekuat apa pun ia disingkirkan, ia akan tetap berada di situ. Karena masa lalu tak kan hilang, ia hanya tertutup oleh masa yang baru.

Yang dulu tersayang...
Siap tidak siap, terbit sudah akhir ceritanya. Halaman terakhir yang berisi paragraf-paragraf terakhir, harus segera ditutup agar perasaan berhenti mengalir. Yang boleh kau ingat hanyalah kita pernah saling mencintai. Tak usah mengingat bagaimana cara mendapatkan cintaku lagi.

Kepada yang dulu tersayang.
Aku memaafkanmu, maafkan juga aku. Berhentilah mencari tahu apa yang dulu mengikis hubungan kita. Jangan menolak siapa pun yang nanti datang padamu menawarkan hatinya. Karena aku percaya, cara terdahsyat untuk menutup luka lama, adalah dengan kembali jatuh cinta. Aku telah mengizinkanmu berbahagia, walau bukan aku lagi sebagai alasannya.

Terima sajalah kenyataan—bahwa kita ternyata hanya sepotong masa lalu, bukan teka-teki masa depan.