November 12, 2018 37 comments

Bertahun-tahun pada Satu Nama

Bertahun-tahun pada satu nama. Lelah bagimu harus sesakit apa?
Bertahun-tahun ceritamu hanya seputar dirinya.
Penolakan bagimu harus sekeras apa?

Kapan kau akan mencari tahu mengapa semuanya harus berjalan bertahun-tahun?
Sampai kapan kausebut dirimu setia, ketika bahkan tak ada sebuah tangan untuk kautuntun?

Kau yakin tak bisa berhenti menyebut namanya?
Apa itu bukan karena memang kau tak ingin ada nama lain yang menggantikan kekuasaannya?
Kau yakin itu karena kau benar-benar cinta?
Apa bukan karena kau memang tak mau mengenal orang-orang di luar sifat dan kebiasaannya?
Kau yakin ingin sendiri dulu sampai dia menyadari penantianmu?
Apa kau memang seyakin itu kalau dia akan berbalik badan, memeluk, dan meminta maaf karena membuatmu lama menunggu?
Kau yakin alasanmu bertahan adalah senyumannya?
Meski senyum itu bukan untukmu? Kau masih rela? Sungguh?

Kau ini, apa tidak pernah berkaca? Apa tak pernah merasa iba pada garis wajah yang selalu kaumirip-miripkan dengannya? Apa kau tak ingin berhenti? Apa air matamu tak habis menangisi alasan yang itu-itu saja?

Rindu tapi cuma bisa memandang dari layar dalam genggaman. Sayang tapi sudah bertahun-tahun terlupakan. Kau tak rindu dipeluk?
Kau tak rindu ditenangkan?

Kau itu tidak sedang hidup dalam drama sebuah anak remaja. Hidup yang berlalu, membawa perasaannya ikut serta. Artinya, tak ada jaminan penantianmu yang bertahun-tahun itu akan menjadi ketukan-ketukan manis di depan hatinya.

Barangkali masalahnya bukan karena kau tak bisa pergi. Tapi, karena kau terlalu memaksa menanti cinta yang tak pasti.

Berhenti menuliskan namanya. Setidaknya sampai kau mendapat tanda bahwa bertahun-tahun kemarin tak akan menjadi sia-sia.
Berhenti memperpanjang waktumu untuk kaubuang-buang. Kalau bukan untukmu, dia takkan ada dalam dekapanmu, walau mulutmu harus berbusa mendoakan kehadirannya berulang-ulang.

Lagipula, kalau kau cukup berani untuk bertahun-tahun bertahan. Seharusnya kau lebih berani untuk melepaskan dan memaafkan diri sendiri karena terlambat sadar.
Kau itu pantas bersenang-senang tanpa harus menunggu bertahun-tahun seperti yang masih kaulakukan sekarang.
 
;