December 2, 2018 14 comments

Lovember

Senang mengenalmu. Senang karena yang ingin kaukenal adalah aku.
Senang karena yang akhirnya meredakan badai adalah damai tatapmu.
Aku tenggelam di sana, sejak pertama kali kita bertegur sapa. Menyukai segala apa yang ada di depan dan belakangmu. Semua; mulai dari yang bisa kuraih, sampai pada yang hanya bisa kupandangi satu per satu.

Aku terkejut karena tiba-tiba merasa takdir kita sewarna. Aku menjadi serakah karena ingin lekas memeluk hidupmu tanpa perlu menunggu lama. Pertama kali melihat tanganmu, aku tahu ibu jariku dan anak-anaknya akan terasa pas di sana. Pertama kali menangkap bentuk bibirmu, aku tahu keningku akan mengerti kecupanmu sengaja didatangkan untuknya. Pertama kali aku melihat kamu berjalan mendekatiku, aku tahu dadamu adalah setepat-tepatnya tempat untuk membenamkan kepala.

Mulanya, aku kira aku akan sendiri dulu untuk beberapa waktu. Apalagi setelah kekacauan pada September lalu, aku tak pernah menduga akan semudah ini menemukanmu.
Berawal dari sebuah kalimat basa-basi, kini kabarmu menjadi yang paling kunanti-nanti.
Aku tak ingin terlihat seperti buaya yang menemukan mangsa, tapi, ayolah. Kamu terlalu sempurna untuk kudiamkan begitu saja.

Hey. Jangan tersenyum. Nanti aku semakin gila.

Kalau memang kita adalah dua potong teka-teki yang perlu disatukan, semoga kaki-kaki kita akan selalu diberi jalan. Kalau memang kita hanya bertemu untuk sebuah selamat tinggal, bantu aku berdoa lebih keras agar persandingan kita tak bisa disangkal.

Berakhir di mana pun dan seperti apa pun kita nanti, kau pasti mengerti aku bersyukur kita kini saling melengkapi.

***

Balasannya, Keras Kepala.
 
;