June 29, 2018 11 comments

Untukku, Miliknya


Sebuah ruang menjadi dua, dipisahkan kaca, yang nyata.
Kamu, ada di sana, dengan sejuta rasa penuh tanda tanya.

Tanpa pernah mempersiapkan dan mempersilakan, kamu tiba-tiba memberi makna.
Aku—perempuan tak tahu malu—percaya, kita akan dijadikan pasangan oleh dunia.
Bahkan tak takut berjanji untuk menjadikanmu satu-satunya.
Karena kamu datang ke hadapanku dengan perasaan paling kuat dari siapa pun.
Mendebarkan dada lebih raya dari kapan pun.


Tapi, kenyataannya, kita adalah kesalahan yang paling berani. Mencelakai diri untuk bisa saling mencintai.
Barangkali, perasaan kita adalah apa yang tak terasa di dalam nadi. Tak peduli walau akhirnya kita akan mati karena pilihan kita sendiri.

Masa depan denganmu yang seharusnya kupeluk, menjadi sebatas bayangan samar-samar di ufuk.
Kita yang selalu ingin mendekat, terus-menerus kehabisan cara mengalahkan sekat.
Aku mencintaimu, dan kau pun begitu.
Tapi tak peduli sekuat apa ingin menyatu, kita tetap hanya sebatas aku dan kamu.
Saling melihat, tapi terhambat.
Seperti ini mungkin rasanya mencintai tapi tak ada perkenan untuk memiliki.
Karena meski aku yang menang dalam lomba, tetaplah dia yang jadi juara.
Meski aku yang berjuang mati-matian di dalam kaca, tetaplah dia yang hidup dalam sebuah kisah cinta.

Pada akhirnya, kita hanya sebatas “saling cinta” yang tak bisa berdua.
Pada akhirnya, hatimu—sekali lagi—tak bisa kuminta untuk selamanya ada.
Karena kamu datang dengan hati yang ingin tapi tak ingin.
Karena, kamu datang padaku sebagai milik orang lain.
June 13, 2018 1 comments

Pengingat Diri

Malam ini aku mendengar kabar baik dari seorang teman, saaangat baik. Saking baiknya, aku hampir menangis. Berpikir betapa beruntungnya dia, diberi jalan yang (terlihat) mulus oleh Tuhan. Betapa bangga orang tuanya, memiliki anak perempuan yang luar biasa. Tentu saja, aku tahu dia tak kan mendapatkannya dengan menengadahkan telapak tangan begitu saja. Butuh banyak kekuatan dan proses pembelajaran sebelum sampai pada pencapaiannya.

Kami berteman hampir enam tahun, tapi baru bersahabat dan mulai sering berdiskusi baru sejak dua tahun terakhir. Tapi meski begitu, aku tahu betul kalau dia seorang pekerja keras. Di sekolah dulu, dia aktif di semua mata pelajaran, terutama Bahasa Indonesia. Pidato, membaca puisi, menulis esai, adalah hal yang biasa. Itulah kenapa, sekarang dia sedang mengerjakan skripsi di program studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Dulu, semasa sekolah, dia hampir selalu juara satu. Kalau tidak juara satu, juara dua. Tak pernah merasakan bagaimana orang tua marah karena kepintarannya ada di urutan belasan atau puluhan. Beberapa kali juga mendapatkan juara paralel. Artinya, di antara siswa-siswa yang juara satu, dia yang nomor satu. Bagaimana tak bangga?

Perempuan ini, sangat mencintai dunia teater beserta panggungnya. Dari SD sampai di Perguruan Tinggi, dia tetap menggeluti akting. Mungkin karena itulah, dia menjadi pandai sekali mengganti air wajahnya menjadi tenang dan tak ada apa-apa, meski sebenarnya kekalutan sedang menggerogoti senyumnya.

Aku tak tahu kalau dunia punya seseorang yang seperti ini, apalagi, dia perempuan. Sekuat itu dia mengartikan hidup dan terus berjalan menikmatinya sebagai sebuah tetapan dari Tuhan. Aku tak bilang dia tak pernah menangis. Tentu saja dia juga sama sepertiku dan remaja perempuan pada umumnya—menangis dan terluka. Beberapa kali dia menangis di depanku saat bercerita. Aku? Jelas ikut terluka. Ternyata, seorang perempuan yang terlihat tegar, tak pernah benar-benar tegar. Kita tak pernah tahu bagaimana isi hati seseorang kalau dia tak bercerita. Kalaupun bercerita, kita tak tahu apakah itu benar-benar kenyataannya, atau dia hanya bicara dusta.

Tadi, setelah dia bercerita tentang kabar baiknya, aku terbawa suasana. Rasanya sesak, ingin menangis dan berteriak. Tapi entah soal apa. Apakah aku terlalu bahagia mendengar temanku sedang berbangga? Ataukah aku kembali menilai diriku tak pernah seberuntung dirinya?

Di atas motor, aku mengatakan ini, “selamat, ya! Aku seneng dengernya. Aku seneng hidupmu lancar. Hidupku loh, kayak gak pernah lancar. Dari tahun lalu aku nyari sesuatu yang bener-bener aku butuhkan, sampai sekarang belum dapet juga”.

Dia menjawab, “masalah orang itu beda-beda”.

Aku merasa tenang dan tertampar dalam waktu yang sama.

Memang benar. Hidup seseorang itu seperti sungai. Panjang, dan terus mengalir. Setiap sungai memiliki rintangan yang berbeda-beda. Ada yang berbatu, ada yang alurnya terlalu deras hingga sulit menyeimbangkan, ada yang terlihat dangkal dan memalukan, ada yang bahkan terlalu dalam dan menyusahkan. Padahal, pada akhirnya, semua tetap akan bermuara pada sebuah kebahagiaan; laut yang tenang.

Aku selalu suka berdiskusi soal kehidupan. Saling belajar untuk memperbaiki, saling mengingatkan kalau kita tak sendiri, pun saling menjaga dari hal-hal yang menyakiti.

Aku bersyukur diberi masalah oleh Tuhan. Karena aku akhirnya bisa berbicara dan mendengarkan.

Sejatinya, porsi tawa dan air mata setiap manusia itu sudah ditetapkan, arah hidup kita pun juga sudah tertulis bahkan jauh sebelum kita dilahirkan. Sejatinya, aku tahu kalau rezeki bukan hanya soal materi dunia. Selama ini aku dilimpahkan hal-hal membahagiakan, tapi dengan bodohnya masih saja terkadang berprasangka buruk dengan Tuhan. Aku melihat kesempurnaan di hidup seseorang, sampai lupa memeriksa kembali anugrah yang Tuhan berikan. Aku juga tahu, kalau patah hati bukan hanya soal ‘melihat kehidupan orang lain lebih bahagia’. Hidup ini jauh lebih luas dari hanya sekadar iri dan menginginkan apa yang tak bisa kita genggam.

Porsinya sama. Seimbang. Letaknya saja yang berbeda. Melihat ke atas hanya diperuntukkan untuk memotivasi, bukan untuk merasa tak percaya diri apalagi rendah diri. Alasan Tuhan, hanya Tuhan yang tahu. Kita, jalan begini saja. Berusaha sekuat-kuatnya, berdoa segigih-gigihnya. Tuhan tak kan menjadikan langkah kita sia-sia.
Semoga saja.

Satu lagi, terima kasih, C, mau selalu mendengar dan bertukar isi kepala. Mau saling menguatkan dan menemani. Mau mengajari tanpa menggurui. Mau menjaga tanpa memaksa. Semoga masih banyak kabar-kabar baik dan buruk yang akan kita bagi, berdua.


temanmu.
June 3, 2018 3 comments

Sebuah Jawaban

Halo! Sebelum baca "Sebuah Jawaban", baca dulu "Sebuah Tanya" di sini.

***

Sejak awal aku sudah menyangka suatu saat yang pergi akan merangkak menyesali. Ternyata benar, kini kau ingin berjuang memilikiku lagi. Kau terlambat datang, Sayang. Aku sudah tak sama seperti perempuan yang dulu tahu-tahu kau tinggalkan. Panggilan “Sayang” untukmu saja sudah terasa hambar tak terselip kesungguhan.

Tapi, sungguh, aku baru tahu alasan kau akhirnya memilih pergi. Apa? Mengobati luka? Apa sesakit itu bersanding dengan ketidaksempurnaanku? Apa memutus yang salah selalu lebih mudah dari pada memberi tahu yang benar?

Rasa dendam itu memang sudah meredam. Sudah tak ada lagi bagian darimu yang membuatku marah ataupun gundah. Aku bahkan bersedia kita berteman, tapi ... kalau mengulang jalinan perasaan, jawabanku adalah tidak. Sudah terlalu banyak kekuatan diri yang dulu kupatahkan sendiri. Sedalam itu aku jatuh cinta denganmu. Benar-benar sedalam itu. Hingga saat kita gagal, kuanggap darimulah seluruh sebab berpangkal.

Aku terlalu sibuk mencari cara untuk terus membahagiakanmu, sampai lupa cara belajar menyelamatkan kebahagiaanku sendiri.

Buktinya, dulu, belum sempat aku berangkat untuk mengagungkan kita, kau sudah menghilang sekerling mata. Belum sempat kupeluk kau dengan hangat, tiba-tiba hatimu berubah arah dengan cepat.
Kemudian, kini, kau bilang ingin kembali, membawa setengah hati yang sudah lama tak kudengar kabarnya lagi. Entahlah, keterlambatanmu membuat aku tak ingin menyiapkan kesempatan lain. Sudah habis rasanya garis-garis senyum yang kau cari-cari.

Tapi terima kasih kau akhirnya menyadari, bahwa ternyata memang akulah perempuan satu-satunya yang paling mengerti. Maaf, aku tak ingin patah hati kedua kali. Tak perlu bersumpah menjadikan kita abadi, dulu kau juga pernah berjanji tak akan pernah menjadikanku sendiri. Ternyata? Dusta.

Pergilah, pergi.
Jangan datang hanya untuk menyesali dan bilang ingin kembali.

Pergilah, pergi sajalah, lagi.

Aku berhenti.
 
;