March 28, 2018 2 comments

:)

Aku ini wanita biasa.
Aku hanya punya beribu-ribu macam cara. Untuk membuat kau menderita, atau tergila-gila.
Maka jangan berharap apa pun dariku. Karena aku tak tahu bahwa mungkin aku ini tak sepantas yang kaukira.

Sesungguhnya aku ini perempuan biasa. Caramu mencintaiku yang menjadikanku istimewa.

Aku pun mungkin tak akan selalu baik padamu. Aku mungkin tak akan selalu sekasmaran ini denganmu. Mungkin suatu saat aku akan berubah menjadi pasangan paling membosankan yang pernah kau temui selama kau menghabiskan waktu. Tapi memang seperti itulah aku; serangkai tulang rusuk yang tak bisa kau ubah sekeras apa pun kaumau.

Apalagi kita masih punya banyak sekali hal-hal untuk dibahas. Perjalanan kita masih jauh, kita bisa saja tiba-tiba menjadi dua orang yang ingin lepas.
Karena datang dan hilangnya perasaan tak pernah menyertakan alasan. Semua hadir dan berlalu begitu saja tanpa perkenan.

Aku ini, manusia biasa yang kebetulan saat ini sedang kaucintai.
Lusa aku tak tahu. Mungkin terus seperti ini, mungkin pula kita perlahan akan hilang arti.

Aku hanya seseorang yang dianugerahi sebuah hati.
Dengan sebuah izin untuk kau miliki. Untuk kauisi kekosongan-kekosongan ini.

Apapun yang terjadi nanti, ingatlah selalu bahwa kita pernah saling jatuh cinta sedalam ini.
March 22, 2018 11 comments

Jangan Kembali

Kamu tidak perlu kembali. Kamu tidak perlu melangkah mendekatiku lagi. Kamu tidak perlu, membuat puluhan panggilan tak terjawab hanya untuk bilang padaku bahwa kau saat ini tengah menyesali. Karena percuma, kamu terlambat datang, aku sudah tidak peduli.

Biarkan saja janji-janji yang dulu hilang sendiri. Jangan mengingat-ingat lagi sehingga kamu tak perlu susah-susah mencariku untuk menepati janji. Aku tak mau terseret ke dalam ingatan saat kau buang aku begitu saja seperti tak punya arti.

Saat itu, aku telah mengizinkanmu bebas mencari yang kau mau. Aku juga menerima kenyataan bahwa perempuan itu bukanlah aku. Aku mencoba mengerti lalu aku berani untuk berjalan menjauhimu. Pada saat itu aku berpikir bahwa mungkin bukan denganku kamu akan menyatu.

Lalu kini, setelah seluruh pertarungan antara hatiku yang ingin terus tinggal, dengan otakku yang ingin lupa, kau datang tiba-tiba membawa air mata? Setelah semua kekacauan ini aku lewati sendiri, kau datang dan berani berkata bahwa aku yang ternyata kaucinta?

Jangan begini. Jangan sampai kita kembali hanya untuk saling menyakiti. Kau tahu aku sudah tak semenyenangkan itu. Sekali-kali aku ingin menjadi muak dengan masa lalu.
Aku bosan dengan seluruh pergelaran drama yang kau tuliskan. Kamu masih terlalu mudah goyah untuk kuperjuangkan.

Carilah yang lebih baik dari aku. Seperti dulu saat kamu akan meninggalkanku. Ciptakan lagi pilihan-pilihan itu. Seperti dulu saat kamu menjadikanku opsi kedua saat kau temukan perempuan baru.

Kau harus tahu aku juga punya hati. Aku ini bukan tempat untuk kau datang dan pergi. Pergilah dariku, carilah yang baru. Lalu belajarlah untuk setia. Terus bersamanya hingga kamu tak sadar bahwa kamu telah larut dalam keteguhan cinta.

Maka dengan senang hati aku akan mendoakanmu. Dengan senang hati aku akan berbahagia atas dirimu.

Tapi kalau kau belum ingin menetap pada satu hati, jangan datang merayu lalu pergi. Semua perempuan itu sama, tak menyediakan kesempatan kedua untuk laki-laki yang mudah menyakiti.
March 18, 2018 4 comments

Perpisahan

Bagaimana bisa kamu menyudahi seluruhnya dengan satu langkah pergi?

Apa bagimu arti sebuah perpisahan?
Membiasakan diri untuk tak lagi saling mencintai? Atau hanya sekadar melonggarkan ikatan dan mengakhiri janji?
Seperti apa bagimu sebuah perpisahan?
Sebuah keputusan akhir yang kauyakini takkan memunculkan penyesalan?
Mengapa kamu harus lari, saat aku mulai mempererat genggaman?

Mungkin bagimu, kita hanya akan belajar terbiasa tertawa tanpa saling menghibur satu sama lain. Kita akan belajar tersenyum tanpa harus saling memandangi satu sama lain. 

Mungkin mudah bagimu.
Mungkin, kamu tak pernah benar-benar memikirkanku.

Asal kamu tahu.
Bagiku, perpisahan bukan hanya sebuah tuntutan dua hati untuk berjalan ke arah yang berbeda. Perpisahan berarti aku harus melipat rapi dan menyimpan semua tentang kita di dalam kotak yang takkan pernah lagi kubuka. Aku harus menghapus semua ingatan tentang kita hingga aku bisa mendefinisikanmu sebagai hampa. Aku harus mulai menata segala yang kacau dan kembali mencoba percaya pada yang lainnya.

Kalau saja melupakan semudah membatalkan perjanjian,
kalau saja memaafkan semudah pergi dari sebuah pertanggungjawaban,
kalau saja, semua proses melepaskan, melupakan, dan mengikhlaskan bisa kupersingkat agar bisa segera kuakhiri tanpa penyiksaan,
aku mungkin akan diam saja dan menikmati semua kegagalan kita.
Karena saat ini, tak peduli seberapapun kuatnya aku ingin lupa, aku tetap mengingat semuanya dari baris kenangan pertama.

Tapi...
Mengapa yang bagiku begitu berat menjadi terlalu mudah untuk kauselesaikan?
Mengapa perpisahan kita seperti ratusan persoalan yang harus kupecahkan sendirian?
Kepada siapa kini aku harus meminta bantuan saat aku melaluinya dengan penuh kesulitan?
Kepada siapa aku harus mengeluhkan keadaan, saat satu-satunya orang tempat kubergantung telah melepaskan diri dari pelukan?
March 7, 2018 9 comments

Kita

Ketika kita telah berjanji untuk terus bersama, mau tak mau kita harus terus bersama. Walau tak semua hal harus kita jalani berdua.

Aku diajarkan untuk selalu setia dan bertahan dengan pilihanku apapun keadaannya. Susah ataupun senang, aku harus selalu ada. Dengan beban atau tanpa beban, dengan masalah atau tanpa masalah, aku harus terus berdiri di sana.
Menjalani sebuah komitmen memang tak sederhana, karena itu aku mengajak kamu melakukan ini berdua. Melawan semua halangan buruk di depan mata, saling mendukung, menjaga, dan menerima.

Sulit memang untuk selalu terpaku pada satu nama. Sulit untuk selalu melihat dan berdiskusi dengan orang yang sama untuk waktu yang lama. Apalagi harus terus mencari cara untuk tak pernah merasa beda. Tapi satu hal yang membuatku tetap bertahan adalah, kita ini manusia yang akan terus belajar hingga waktu "pulang" tiba.
Kita belajar menyambut seluruh kekurangan sebagai separuh diri kita. Seperti kita belajar untuk mensyukuri kelebihan sebagai alasan untuk menetap lebih lama.
Kita akan selalu belajar, memperbaiki kualitas diri dan kualitas hati untuk sebuah hubungan antar dua manusia.

Bersamamu, menciptakan sebuah perjanjian untuk saling bertahan bukanlah hal yang terlalu sukar untuk diselesaikan. Bersamamu semua selalu terasa menyenangkan.
Sekalipun kita adalah dua pribadi yang mudah sekali merasa bosan, kita tak pernah berpikir semua telah berakhir hanya karena hubungan kita mulai tak semanis awal pendekatan.

Saat aku bertanya "bagaimana bisa akhirnya aku bertemu dan jatuh cinta denganmu?" pada saat itu, aku tahu jawabannya cuma satu. Pertemuan kita bukanlah sebuah kebetulan semata, cerita kita mungkin sudah tertulis dan tercipta. Punya banyak arti walau kita tak tahu ke mana kita akhirnya. Yang aku yakini hanyalah, semua tentang kita telah terangkai manis dengan segala tawa dan air matanya yang ikut serta. Bahkan jauh sebelum kita dikeluarkan dari rahim bunda.

Kita tak pernah tahu masa depan itu bentuknya bagaimana. Di mana akhirnya harapan-harapan kita berdua akan bermuara. Berpisah atau terus bersama hingga tua, ditinggal pergi atau ditinggal mati, kita tak tahu halaman terakhir cerita kita akan tertulis seperti apa.

Selama aku denganmu, aku takkan mencoba untuk lari. Aku akan tetap berjalan di sampingmu seperti ini. Seperti saat kita setuju untuk saling menaruh hati.
Kita telah menghadapi berbagai masalah hingga sejauh ini. Dan untuk semua masalah di masa depan yang akan kita temui, kuharap kita masih mau untuk senantiasa mengisi ruas-ruas jari.
Kuharap, cerita kita akan selalu menyenangkan untuk dikenang dan diceritakan kembali. Nanti, saat kita berdua sudah terikat sempurna dan memutuskan untuk tak ingin lagi mencari yang lebih baik dari ini.
March 5, 2018 12 comments

Menginginkanmu

Malam ini aku berniat untuk menulis tanpa mengingat kamu. Tapi aku gagal. Aksara-aksara itu masih tentang kamu. Tercipta dan terangkai indah untuk mengekalkanmu.

Aku mau kamu terus ada, bahkan saat kelak hal-hal manis tentangmu telah kulupa.
Aku mau tujuh miliar pasang mata itu melihat, bahwa di depanku ada seseorang yang pantas dicintai dengan sangat.
Aku mau seisi dunia setuju denganku, bahwa takdir harus menyandingkan aku denganmu.

Kamu menggenggam apa yang telah lama aku cari-cari.
Kamu memiliki apa yang sejak dulu ingin aku temui.
Di dalam tubuhmu ada hati yang ingin sekali aku curi.
Di dalam dirimu, ada sebuah celah kecil yang ingin aku isi.

Tunggu aku datang. Tunggu hingga yang kupunya bukan hanya rasa sayang.
Tunggu saat aku telah bersungguh-sungguh. Saat aku bertekad untuk menjaga cintamu agar tak sampai luruh.
Tunggu hingga aku bisa membuat hatimu yang dingin itu tersentuh, lalu kamu paham bahwa kamu terlalu mengagumkan untuk hanya kupandangi dari jauh.

Meski pada kenyataannya, memandangimu memang cara membunuh waktu termanis yang pernah kutahu.
Meski pada akhirnya, menemukanmu di sudut pandanganku adalah usaha paling indah untuk menggembirakan harapan-harapanku.
March 3, 2018 7 comments

Sebuah Jeda #2

Semakin lama, kusadari bahwa kita semakin melangkah menjauh satu sama lain. Kita semakin merenggangkan diri dari rasa peduli. Kurasa ini waktunya kita harus berjarak, sejauh-jauhnya.

Aku tak bilang kita harus berpisah. Karena aku tak ingin kita berpisah. Aku masih menyayangimu dan kau tahu itu. Aku hanya tak tahu sekarang seberapa banyak sisa ruang yang kau sediakan untuk namaku.

Sayang, dengarlah.
Sejauh apapun kita saat ini, selebar dan setinggi apapun dinding yang sedang menghalangi, aku berjanji tak akan pergi.
Aku takkan mencari kebahagiaan bersama laki-laki lain walaupun kita sedang di ambang ketidakjelasan, karena aku tak ingin kamu mendapatkan apa yang selama ini tak bisa kuberikan dari lain perempuan.
Aku takkan berpaling meski seorang laki-laki datang dan bilang padaku bahwa ia punya rasa cinta yang lebih besar dan tulus darimu.
Karena percuma saja, kau dulu juga bilang begitu padaku.
Kau bilang akan selalu mencari cara untuk selalu jatuh cinta denganku.

Tapi kalaupun saat ini kau tidak seperti apa yang kau ucapkan dulu, mungkin bukan karena kau mulai tak acuh. Mungkin kau hanya lupa bahwa dulu kau pernah mengatakan itu.

Sayang, maafkan aku.
Maafkan perempuan ini-dengan seluruh kekurangannya-karena masih terus memohon belas kasihmu.
Maafkan aku tak bisa menjadi sempurna, layaknya perempuan yang kau damba-damba.
Tapi inilah aku, seorang perempuan biasa yang tulus dengan hatinya-yang hanya ingin kau cintai selama-lamanya.

Meski memang aku tidak tahu ke mana arah jalan kita nanti. Meski aku tak bisa menjamin akan selalu ada untukmu seperti saat ini.

Kalau boleh aku meminta, jangan pernah pergi hanya karena kamu merasa kita sudah tak serasi lagi. Bertahanlah denganku, dengan hubungan ini. Walau sulit, cobalah mengingat bagaimana perjuangan kita saat sebelum kita menyatakan cinta satu sama lain.

Berhentilah menuntut apapun dariku, dan mulailah menerima.
Isi duniamu memang bukan hanya aku, tapi aku mau kau ada saat aku ingin berbahagia.
March 1, 2018 0 comments

Ingin

Aku ingin menjadikan hatimu terisi sempurna walau perasaan yang kupunya masih sederhana.
Aku ingin ikut serta dalam semua langkah-langkahmu walau perjalanannya akan begitu panjang dan lama.
Aku bersedia menghabiskan banyak waktu hanya untuk duduk di sebelahmu. Mendengarkan segala yang kau sematkan di telingaku; seluruh cerita suka dan dukamu, apapun itu.
Karena sejak dulu, ada perasaan yang begitu nyata dan mendekap erat seluruh harapanku tiap kali kunikmati senyumanmu.
Ada doa-doa yang mengalir di dalam nadiku tiap kali kutulis namamu.

Kini aku mulai bermimpi kelak kau akan menjadi milikku.
Melengkapi sebagian diriku yang kosongyang selalu merindukan hadirmu.
Aku mulai berharap kelak kita akan bertemu.
Setelah seluruh ketidakpedulianmu atas keberadaanku.
Setelah seluruh lelah penantianku atas perasaanmu.
Setelah seluruh perjuanganku membuatmu mengerti arti hadirku.
Aku berharap semua yang kulalui ini akan terbayar manis dengan tulus hatimu.

Aku yakin, bagian-bagian kita berdua telah ditentukan.
Sangat jelas dan benar tanpa ada kesalahan.
Biarlah sekarang keindahanmu hanya bisa kusimpan sendiri.
Mungkin nanti aku bisa menikmatinya tanpa harus diam-diam seperti saat ini.

Ingatlah, apapun siapapun kebahagiaanmu, aku akan selalu ada di sampingmu. Menemanimu mencari apa yang kau sebut dengan cinta. Mendampingimu menemukan apa yang kau sebut dengan bahagia.
Hingga esok, lusa, seterusnya—selama aku bisa.
 
;