October 29, 2018

Lembar Kedua

Ada perasaan yang baru saja tiba dan lalu membuka kedua mata. Untuk kesekian kali, aku ingin berhenti dalam perjalanan mencari-cari di mana sesungguhnya cerminan diriku berada.

Belum lama kekacauan menyandera jiwa, kau datang menawarkan rasa untuk kujaga.
Belum sempat kutamatkan cinta di lembar pertama, sudah kau ajak aku menulis di lembar kedua.

Bagaimana mungkin aku tak jatuh cinta?

Jadi kini, kau tak perlu lagi bertanya. Hatiku ini sudah hampir kaurampas seutuhnya.
Tak perlu rasanya kutulis berbaris-baris kalimat cinta, karena kita berdua sudah jauh lebih manis dari rangkaian-rangkaian kata.
Kau bahkan tak perlu menyematkan nama lain dalam perbincangan kita hanya untuk memastikan aku akan secemburu apa.

Kita tak perlu bersusah payah, kita hanya ditugaskan untuk melangkah. Berdua.

Lagi, kau tak perlu berjanji untuk tak akan pergi.
Berjanjilah saja bahwa kau ini bukanlah sebuah mimpi.
Kau pergi setelah ini pun aku tak apa.
Asal kau beri izin untukku mengejar mengikuti.

Aku mau kita benar-benar tersimpan rapi di dalam kepala. Menjadi yang paling ingin diingat dan dimaknai keberadaannya.
Aku mau kita berdiri di atas ketentuan untuk saling menjaga. Aku mau, kita masing-masing menjadi satu-satunya.

Terakhir, sebelum kau tersenyum lagi.
"Aku jatuh cinta denganmu" adalah milikku. Yang boleh menjadi milikmu hanyalah "Aku pun begitu".

***
Balasannya di sini.
Ditulis oleh Alfin Rizal.

2 comments:

kecoak update said...

Bagaimana aku tidak jatuh cinta,
kepedulianmu itu membuatku luluh

Ayu Fitria said...

Dan gimna aku ga jatuh cintaa sama kak naw kalo semua tulisannya kak naw tuh pasti ngewakilin perasaan banget :)

Post a Comment

 
;