October 30, 2016 0 comments

Jika cinta adalah

Sayang, jika ketulusan dinilai dari seberapa lama kamu menunggu, aku telah menghabiskan banyak waktu dalam rindu. Jika kebenaran cinta dilihat dari seberapa tangguh kamu bertahan, aku telah membaca dan menjalani berbagai macam penantian.

Sayang, jika cinta adalah bodoh, adalah aku. Melawan bosan mati-matian, ingin dicintai hingga beratus-ratus bulan, meninggalkan arti kejelasan, bertahan terus untuk kamu yang semakin hari semakin ahli mengabaikan.

Sayang, jika cinta adalah kenyamanan, maka kita sudah pasti saling cinta.
Jika cinta adalah rahasia, maka akan kuhapus semua hal yang membukakan keadaan kita, hanya agar kamu tahu bahwa aku cinta.
Jika cinta adalah diam, akan ku bungkam seluruh dunia, biar suaramu saja yang menggema, biar cintamu saja yang memekakkan telinga.
Jika cinta adalah menerima, maka aku telah mencintai dari awal, sebab ini bukan kali pertama aku menjadi pihak yang tidak punya pilihan.

Sayang, sekalipun hatimu batu, sudah kusiapkan ribuan kebahagiaan untuk itu. Jika kau berkata mustahil menjadi pecah, akhirnya kamu tahu bahwa hatimu memang benar-benar batu.

Sayang, aku sudah siap kalah telak dengan siapapun dan apapun yang kamu inginkan.

Mudah-mudahan kamu selalu bisa membahagiakan dirimu sendiri kalau sewaktu-waktu aku tak mendapatkan kembali ijin untuk itu.

Apapun yang kamu pilih nanti, lakukan itu untuk senyummu.
Maka aku hanya tinggal membawanya pulang untukku sendiri.




October 15, 2016 3 comments

Perubahan

Selama ini apa aku pernah memintamu untuk tetap tinggal denganku? Apa aku pernah memintamu untuk selalu pulang padaku kemanapun pergimu? Apa aku pernah menuntut perasaan yang hebat yang sama denganku? Apa aku pernah memaksamu menghiburku, menghapus air mataku ketika penyebab semua itu adalah kamu?
Aku selalu merelakan kepergianmu, aku selalu menunggumu dibalik rindu dengan pintu-pintu yang tidak pernah kamu buka dengan tanganmu. Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan; mencintaimu semauku. Tapi nyatanya kamu malah juga melakukan apa yang ingin kamu lakukan; membahagiakan dirimu sendiri, dengan atau tanpaku.

Tanpa penjelasan apapun, kamu datang dan pergi seperti itu, tak memperdulikan apapun kecuali kamu dan hatimu. Hingga kamu tak menyadarinya, bahwa ada yang lebih menyukaimu daripada dirinya sendiri. Bahwa ada yang menyampingkan egonya untuk egomu. Jika kamu berniat untuk berubah menjadi seperti ini, katakan saja. Katakan agar aku tidak semakin menjadi seperti orang gila. Agar aku bisa meluruskan perasaanku sendiri. Agar tak banyak lagi orang yang salah paham dengan semua tulisanku.

“Kamu ngejar-ngejar dia ya?”
“Dia gak suka ya sama kamu?”

Aku tidak pernah menyalahkan kamu ketika kamu ingin terus sendiri. Aku tidak keberatan bahwa kita hanya menjadi teman. Karena dulu kamu terlihat seperti bisa menjanjikan banyak kebahagiaan untukku terlepas dari apapun status di tengah kita.
Aku pernah menulis “Lebih baik berteman tapi saling peduli dan memperhatikan, daripada menjalin hubungan tapi saling curiga dan mengabaikan”, dulu tulisan itu sempat menjadi bunga dalam pertemanan kita yang aku bangga-banggakan itu. Kamu tidak tau bukan? Bagaimana irinya mereka karena kita terlihat sangat bahagia meski hanya menjadi teman? Jelas kamu tidak tau, kamu tidak pernah peduli dengan semua itu. Semua hal yang aku besar-besarkan adalah omong kosong. Dulu seperti itu, sekarang? Sekarang bahkan ketika aku tidak punya lagi hal untuk kubanggakan di depan mereka, kamu masih saja menjadi laki-laki yang dingin, yang tidak peduli dengan hal-hal indah meski itu kecil. Karena kamu terus berlari, karena kamu tidak pernah berjalan untuk menikmati sebuah genggaman tangan. Karena itu aku selalu menghabiskan rinduku sendiri. Aku yang berjuang agar terus terlihat bahagia, agar pertemanan kita masih terlihat hangat seperti yang sejak dulu mereka inginkan.

Pun aku tak pernah memaksamu untuk membaca semua tulisan ini. Semua masih terserah kamu, apapun yang akan kamu lakukan di masa depan masih akan menjadi benar dimataku. Karena aku sudah memilih ini dari awal. Aku memilih bertahan dengan apapun yang kamu berikan. Aku akan tetap pada pilihanku, hingga kita sampai pada titiknya. Jangan lakukan apapun, jangan berjanji dan memberiku hal-hal manis, aku akan mencarinya sendiri dari dirimu. Kamu tidak perlu berusaha membuat cerita, aku telah menuliskan beberapa, yang ku tau itu akan kukenang sendiri nanti.

Aku tak berencana untuk meminta maaf ketika kamu bilang ini semua berlebihan. Karena kamu tidak berhak menentukan apa yang pantas atau tidak pantas kulakukan.
Biar aku melakukan apapun semauku. Aku tidak akan membatasi apapun darimu, teman.
 
;