June 28, 2016 4 comments

Cuman Temen



Ini masih seputar kamu, yang kutemui Desember lalu. Tentang bagaimana aku menghadapi perasaan yang tidak seharusnya ada.

Aku pernah merindukanmu. Dia ada dan jelas, serta tak bisa kusampaikan.
Tiap kali aku rindu, aku pikir aku harus mengatakannya tapi kemudian aku sadar, aku perempuan. Seberapa seringpun orang-orang berkata bahwa perempuan juga berhak memulai karena siapapun harus berjuang untuk mendapatkan, aku tetap menolak fakta itu. Aku menolak rinduku harus kusampaikan. Aku menolak rinduku ada.
Tiap kali aku rindu, aku menahan diriku, lalu membentak hatiku. “Rindu siapa? Ha? Siapa yang membuatmu menulis banyak rindu dimana-mana? Seperti apa orangnya? Kamu bahkan tidak tau dia juga merindukanmu atau bahkan tidak sama sekali. Berhenti!”
Tiap kali aku rindu, aku menyadarkan diriku lagi, bahwa kamu adalah seorang laki-laki. Kamu tidak pernah menangis, kamu hanya tertawa dan itu membuatku jatuh cinta. Lalu bagaimana membuatku berada disampingmu, ketika tidak ada air mata yang harus kukeringkan? Bagaimana kamu akan menjawab ini ketika kalimat itu tidak bisa kupertanyakan?

Karena kita hanya sebatas teman, banyak rindu yang akhirnya tidak bisa aku utarakan. Pertemuan kita tak bisa kuakui sebagai sebuah kencan. Aku tidak berhak merasa terlalu khawatir dan cemburu dengan sekitarmu. Aku tidak berhak manja padamu, aku tidak berhak merayakan tanggal-tanggal penting denganmu, aku tidak berhak melakukan dan menerima hal-hal manis seperti kejutan, tiup lilin, kado kecil, bunga, cokelat dan sebagainya, aku tidak berhak marah atas salahmu, aku tidak berhak menjadi perempuan yang selalu benar, seperti umumnya sebuah pasangan. Karena kita, hanya sebatas teman.

Pun hujan hanyalah hujan, peristiwa jatuhnya butir-butir air dari langit. Tidak berhak kusangkut-pautkan dengan kenangan sekalipun kita berdua pernah terjebak di dalamnya. Pertemuan hanyalah pertemuan, aku dan kamu disana, duduk berdua seperti terikat dalam sebuah hubungan, tertawa dan membicarakan hari-hari, pengalaman ini dan itu, tapi lagi-lagi, tidak berhak kuklaim sebagai kebiasaan yang harus kita lakukan setiap kali aku rindu.

Aku tidak bisa berkata “Kamu gak kangen aku? Aku kangen”, sekalipun kamu bisa kutelepon, kamu bisa kutemui dengan alasan selain rindu. Tapi aku tidak mampu, karena kita berdua hanya sebatas teman. Tidak pernah lebih dari itu.

Tapi setidaknya aku memerlukannya, aku perlu kau jadikan temanmu. Aku perlu kau anggap ada, sekalipun itu hanya berjudul teman.
 
;