July 7, 2018

Rumit

Aku terkejut kau benar-benar hilang. Membawa lari lembaran kisah yang rumpang. Kurasakan kini hatiku telah benar-benar usang. Kita telah terlampau jauh--kau tak lagi berada di seberang. Ada kehampaan yang menyekik hati, begitu aku tahu kau kini tak lagi peduli.

Mungkin memang tidak tertulis di garis tangan kita untuk saling melengkapi. Dan aku percaya, aku memaklumi. Kalau memang aku bukan jodohmu, mau bagaimana lagi? Toh, semua yang kulakukan untukmu tak pernah berarti. Pikirkanlah saja, kalau benar kita saling menerima, mengapa saat ini kau tak ada di depan mata? Kalau benar kita ini masih saling mencintai, ke mana pergimu meninggalkan aku seorang diri?

Apa iya kebohongan di kepalaku tentang ketidaktulusanmu benar-benar nyata? Apa iya, hanya aku yang dulu terlalu mencinta? Jawablah, setidaknya satu, untuk mewakili semuanya.
Apa kau pernah benar-benar ada?

Kalau saja ternyata kita dulu bertemu di waktu yang salah hingga kini harus terpisah, mari bertemu lagi di sudut jalan. Menyatukan lagi perasaan-perasaan yang dulu tak sepenuhnya bertuan. Aku ingin nanti permohonanku terbalaskan. Sayang ... tak ibakah kau melihatku berlutut meminta pengakuan?
Atau kalau ternyata kita dulu menyatu di pemikiran yang belum matang, mari kembali bertemu dan saling bertukar pandang. Aku sungguh merinduimu, asal kau tahu. Perasaan ini terlalu besar untuk menjadi rahasia kecil di dalam doa-doaku. Tak kan bisa lagi berbohong kalau kau memanglah satu yang kumau. Tak apa meski dulu hanya aku yang berjuang, meski kau selalu pergi dan jarang datang. Tak masalah meski dulu aku jatuh dan bangun seorang diri. Tak masalah dulu aku hanya mendengar janji-janji. Aku tak peduli dengan perhitungan-perhitungan itu. Aku peduli denganmu.

Kalau kau kelak membaca tulisan ini, mulai saat itu, cobalah berhenti menjadi pribadi yang selalu ingin menang sendiri. Yang selalu melakukan semuanya tanpa merasa harus ditemani. Aku pun ingin kaujadikan teman berdiskusi, aku ingin dianggap, dimintai pendapat, diajak mencari jalan keluar, atau sekadar ditenangkan kecemasannya. Aku ini ada. Jangan hidup sendiri. Jangan menjadi egois lagi denganku. Kau tahu aku tak kan selamanya mengalah denganmu. Memang benar aku punya hati, cukup besar kalau hanya untuk memaafkanmu--sekali dua kali. Tapi kalau seterusnya kau akan begini, sudahlah, sepertinya memang tak ada kesempatan kedua yang kucari-cari.

Kau terlalu angkuh untuk kuhormati sebagai laki-laki. Kau terlalu nyaman berada di jalanmu sendiri. Tanyakanlah lagi pada dirimu, apa kau sadar selama ini aku setia di sisi? Apa kau sadar saat kaubilang "aku mencintai"? Apa buktinya? Kenapa kau malah pergi, menyesal, tapi tetap tak mau berubah sama sekali?

Kukira ini semua karena kisah kita yang rumit. Ternyata, untuk sepenuhnya mendapatkanmu dari awal memanglah sulit.





Baca "Runyam", di sini, lalu simpulkan sendiri siapa yang paling sakit.

9 comments:

widhey widhey said...
This comment has been removed by the author.
KOBA said...

Sejujurnya, aku salah satu penggemar tulisan-tulisanmu

Nawang Nidlo Titisari said...

wah. terima kasih banyak sudah membaca!

Sulistya Pratiwi said...

Gangerti kenapa bisa jatuh cinta yang sebegitu dalamnya kesemua tulisan-tulisan Qaqak 😅

Nawang Nidlo Titisari said...

maaci mailof❤

Anonymous said...

gak ngerti lagi emang, tulisan nya selalu pas��

Unknown said...

Luar biasa mbaa👍👍👍

Annas Bakhtiar M said...

����������������

Unknown said...

Suka sekali baca part ini

Post a Comment

 
;