April 18, 2018 47 comments

Mas

Mas, jadilah laki-laki paling menjengkelkan di hidupku. Jadilah egois yang selalu ingin mengalahkanku. Jadilah hangat dan menenangkan. Jadilah manis dengan sikap-sikapmu yang menyebalkan.

Jadilah kamu kekasih yang kepala batu. Bilang pada semua orang bahwa kamu hanya mau aku. Minta aku menjadikanmu nomor satu. Curi semua hatiku lalu cemburu pada siapa pun dan apa pun di dekatku.

Teruslah di sampingku dan maafkan apa pun kekeliruanku. Buat seluruh perempuan bertengkar karena ingin menggantikan posisiku. Beri tahu dunia bahwa kamu terlalu pantas untuk diperjuangkan. Karena kamu memang seindah itu untuk dikagumi tanpa butuh panjang penjelasan.

Mas, seberuntung itu aku akhirnya bisa memenangkan kamu.
Karena cacat dan lukaku yang kau rawat. Karena lemah dan rapuhku yang kau jadikan kuat.
Maka apa lagi yang harus kucari saat Tuhan telah memberikanku kamu? Tempat dengan ketenteraman seperti apa lagi yang harus kusinggahi saat kini kamu-duniaku-sedang duduk manis menatapku?

Mas, beri tahu aku apa pun yang menjadikanmu gundah. Jadikan aku seseorang yang kauinginkan ada saat kau mulai resah. Biar aku datang dan mendengarkannya satu-persatu. Akan kudamaikan kekalutanmu seperti dulu saat kau hampiri aku dan menyelamatkan seluruh haru biruku.

Jadikan aku satu-satunya yang melihat kekacauanmu. Agar hanya aku yang mengerti dirimu. Luapkan kegagalanmu seluruhnya dalam pelukanku.
Biar dunia melihatmu sebagai hati yang tak pernah kecewa. Biar dunia mengingatmu sebagai laki-laki yang sempurna.
Tapi terlepas dari semua itu, Mas, terima kasih karena telah menemukanku. Terima kasih, karena perempuan itu adalah aku.
April 14, 2018 34 comments

Setelah Kamu Pergi

Setahun setelah kamu pergi, hatiku masih belum mengerti cara melangkah untuk menyudahi ini. Aku masih berdiri sendiri, masih larut dalam bekas genggaman tanganmu, masih terpenjara dalam kenangan saat kita berdua belum sejauh ini.

Entah bagaimana atau dari mana aku harus memulai untuk menjelaskannya.
Tentang apa yang membuatku jatuh sedalam ini, atau kapan aku akan berhenti.
Aku kehilangan kata untuk mengartikan kerumitan perasaanku sendiri.

Aku selalu merentangkan kedua lenganku untuk kau merebahkan diri dalam pelukanku.
Aku masih mengantar doa-doa yang akan menjagamu kalau mungkin lengan-lenganku tak bisa mendekapmu.
Aku selalu melakukannya tanpa kauminta. Tanpa kau peduli.

Tapi melihatmu kini bersama yang lain, aku mulai ingin beranjak dari kekalahan ini.

Selebar itu senyumanmu saat bersamanya.
Semudah itu kaujadikan aku sebagai sebuah cerita lama.
Sebahagia itu kalian berdua.
Sesulit itu memintamu mengerti bahwa aku satu-satunya di sini yang menerima ribuan lara.

Tanyakan padanya, maukah dia menerimamu sebagai seorang laki-laki yang selalu ingin dimengerti?
Pastikan sendiri, siapa yang lebih baik untukmu hingga saat ini.
Suatu saat nanti, saat kau telah menemukan jawabannya, silakan kembali.

Karena sesungguhnya aku telah memaafkan seluruh kesalahanmu. Kembalilah tanpa bilang padaku bahwa aku terlalu baik untukmu.
Jangan bicara omong kosong denganku. Cukup datang padaku lalu peluk aku.
Katakan padaku kau takkan mengulanginya dan berjanji untuk selalu bersama denganku.
Atau kembalilah saat kau tahu rumahmu adalah aku.
Bukan dia.
April 7, 2018 16 comments

Bersedihlah

Mengeluhlah kalau kau ingin mengeluh. Lepaskan rasa sakit di dadamu yang mulai riuh. Akui saja bahwa hatimu juga punya sisi yang sangat rapuh. Yang perlahan akan terkikis walau kaujaga dengan sungguh-sungguh.

Bersedihlah kalau kau harus bersedih. Tulis siapa dan apa saja yang membuat lukamu terasa semakin perih. Percayalah bersedih takkan membuat harga dirimu tersisih. Karena sejatinya kau hanya membenarkan bahwa kini jiwamu sedang begitu letih.

Teriaklah kalau kaurasa kau patut berteriak. Luapkan segala emosi di dalam dirimu yang saat ini sedang bergejolak. Keluarkan kekesalan itu sebelum semakin meruak. Terimalah saja sedikit rasa pahit atas harapan-harapanmu yang telah koyak.

Menangislah kalau kautahu ini sudah waktunya menangis. Terima semua kekalahan-kekalahan itu yang perlahan menjadikan batinmu teriris. Tumpahkan semua air matamu sampai habis. Kau pun tahu masalah-masalah yang datang tak akan bisa selalu kau tepis. Jangan bersikeras menghadapi dunia dengan kelemahan ini, egois!

Tak perlu takut untuk terlihat lemah. Bilang saja kalau kau sedang resah. Beri izin dirimu sendiri untuk merasakan apa yang membuatmu gundah. Kau tak perlu khawatir akan kalah. Mungkin saat ini keteguhan hatimu sedang diasah.

Sediakan ruang untuk dirimu sendiri. Biarkan kekeruhan ini terus mengalir hingga perasaanmu jernih kembali. Pahami kesedihan mana yang harus kauganti. Cari tahu kebahagiaan sebesar apa yang harus kaucari untuk membuatmu hidup lagi.

Kau tak perlu memaksa untuk terus terlihat ceria.
Hidup selalu punya rasa pahit sebelum rasa manis tercipta.

Bersedihlah selagi kau masih bisa.
Selanjutnya, silakan kau berbahagia.
Jadikan dirimu insan yang paling kaya akan makna.
Kau yang paling memahami dirimu dibanding seluruh isi dunia.
 
;