May 6, 2016 2 comments

Ask.fm



Ada seorang gadis kecil bertanya padaku, “Sejak kapan kakak suka menulis?” kemudian aku menjawabnya dengan seseorang ada dalam pikiranku saat itu, “Sejak aku tau perempuan sulit mengungkapkan”. Sejak aku tau perempuan tidak bisa memulai duluan, sejak aku tau perempuan hanya bisa menciptakan penantian. Maka aku hanya boleh menulis. Karena aku tau, tidak semua perasaan dan cerita harus disuarakan, ada bagian-bagian yang hanya bisa dituliskan.

Kemudian dia bertanya lagi padaku, “Siapa orang yang menginspirasi kakak dalam menulis?”. Aku menjawab bahwa ada orang yang berbeda di setiap cerita yang kuberi judul berbeda. Tapi untuk yang terakhir, aku menulisnya karena seseorang yang saat ini sedang berada di tempat dengan jarak ratusan kilometer dari rumah. Aku mulai berani menyematkan namanya sejak pertama kali aku dibuatnya terpesona. Bulan Desember tahun lalu, 2015. Saat pertama kami bertemu, saat pertama dia benar-benar tersenyum untukku, kaos merah dan parfum yang otomatis terekam di memori sebagai pengingat bau. Aku pikir jika sewaktu-waktu aku berada di keramaian, kemudian kucium bau yang sama persis seperti bulan itu, boleh jadi kami berada di tempat yang sama, boleh jadi kami dipertemukan, boleh jadi kami berjodoh. Kemungkinan baik didoakan saja, aamiin.

Ada satu lagi gadis kecil, dia pernah bertanya soal seperti apa laki-laki idaman itu. Pertanyaan ini butuh waktu lumayan lama untuk menjawabnya, hingga kemudian kujawab dengan mantap, “Laki-laki yang dunia dan akhiratnya seimbang”. Hatiku sontak bergetar membacanya. Memangnya ada laki-laki yang seperti 
itu? Kalaupun ada, memangnya kamu merasa kamu sudah cukup pantas untuknya? Memangnya dunia dan akhiratmu sudah seimbang? Jodohmu adalah cerminmu, ‘kan? Ya, ya, ya, kembali lagi ke paragraf awal, perempuan hanya bisa menunggu, tapi di paragraf ini, perempuan hanya bisa menunggu, dan memperbaiki kualitas diri. Menjadi seimbang adalah usaha yang sulit, kalau tidak mau bertekad. Belum tentu juga ibadahnya diterima. Tapi, laki-laki yang berusaha untuk menyeimbangkan keduanya itu yang menjadi idaman perempuan. Bukan yang setiap jumat siang selalu tulis status “Berangkat masjid biar ganteng”. Sesungguhnya ketampanan laki-laki bukan dinilai dari apa yang membuatnya tampan, tapi siapa yang melihatnya menjadi tampan. Pahami.

Gadis itu bertanya lagi, “Apa suka duka kakak dalam mencintai sendirian?”. Saat aku membaca ini, aku tiba-tiba saja berkata Heeeey ayolah kamu masih kecil, sudah berani bicara soal mencintai sendirian? Sudah pernah jatuh dan lututmu luka? Dulu, seumur kamu, aku cuman tau soal itu, bukan mencintai sendirian, manis. Tapi bukan itu jawabanku. Aku menjawab pertanyaanya seperti ini, “Aku bisa menghabiskan semua senyumnya, tapi dia tak pernah tau itu”. Terbaca? Mana sukanya mana dukanya? Karena jatuh cinta itu satu paket. Kalau tidak mau jatuh dalam mencinta, tidak usah lah pasang-pasang poster soal Mencintai Sendirian dimana-mana. Karena memang kebanyakan, sesuatu awalnya harus buruk agar baiknya terlihat sempurna. Langit awalnya harus mendung agar pelangi terlihat sempurna. Wajah awalnya harus menangis agar senyuman terlihat sempurna. Maka mencintai awalnya harus rela sendirian, agar berdua terasa sempurna. Betul?


Nawang Nidlo Titisari. 6 Mei 2016. 00.15 WIB
 
;