August 19, 2017 2 comments

Karma


Apa kabar? Semoga kau selalu baik-baik saja seperti terakhir kali kita bertemu tanpa bersapa.
Jadi bagaimana? Siapa perempuanmu yang sekarang sedang menderita? Yang kau ambil hatinya di awal secara paksa hingga dia jatuh hati dengan amat sangat, lalu membuangnya seperti tak pernah ingat pernah bersama.
Kalau dia masih terlihat bahagia dan begitu kasmaran padamu, semoga hingga nanti dia akan tetap seperti itu. Karena disakiti kamu itu melelahkan. Apalagi saat kamu tak peduli akan itu.

Aku ragu kau masih sama seperti dulu, menganggap semua perempuan tak pernah punya hati seperti kamu. Sehingga ketika kamu menyakitinya, APA? Kamu merasa tidak melukai hatinya?
Kamu malah merasa dia hanya sedang tidak bahagia dan itu bukan karenamu?

Kamu ini apa?
Kamu tidak pernah merasa telah membuat sebuah kesalahan dengan perempuan manapun. Kamu selalu membuat dirimu menjadi benar atas segala hal. Padahal kamu pun manusia, tempatnya salah dan dosa.

Kamu, yang pandai meninggalkan, tak ada bedanya, dengan mereka yang datang dan pergi tanpa kejelasan, dengan mereka yang selalu suka menggantung hubungan, dengan mereka yang mendua tanpa takut akan sebuah penyesalan. Kamu sama dengan mereka, melukai hati perempuan secara terang-terangan.

Mungkin ketika kamu sedang berani-beraninya menyakiti hati perempuan, kamu lupa dengan fakta itu. Fakta bahwa dari rahim perempuan kamu dilahirkan.

Baiklah katakan saja dulu kamu punya alasan, katakanlah kamu juga punya hak untuk meninggalkan. Kalau begitu, bukankah aku juga punya hak untuk mempertahankan? Bukankah aku punya hak untuk meminta penjelasan? Bukannya terlalu sayang, aku pun mampu menjadi seperti kamu, benci dengan perkenalan kita, berharap aku kembali pada saat sebelum bertemu kamu dan memutuskan untuk jatuh cinta.
Aku juga bisa meninggalkan dan mengubur semua kenangan kita. Lebih jauh dan lebih dalam dari yang kamu kira. Hanya saja aku tak mau kamu menderita. Karena untuk soal ini, aku tak sama seperti kamu. Aku iba, pada seseorang yang ditinggalkan dengan alasan tak masuk akal.
Dan ya, aku iba pada diriku sendiri. Waktu itu.

Tapi dulu, setelah ditinggalkan kamu, kemudian waktu berlalu, kemudian aku berani memutuskan untuk melepaskan kamu, berani membiarkan kamu akan berjalan sendirian dan menunduk menyesali semuanya, ternyata ditinggalkan kamu tidak sebegitu menyedihkannya.

Dan, kamu harus tahu, meski bukan dari aku, meski ini bukan mauku, kupastikan kamu tetap akan tahu rasanya ditinggalkan, disia-siakan, diduakan, digantung tanpa penjelasan, dipermainkan, dikecewakan, dilukai hatimu, dirusak kepercayaanmu.

Tak perlu repot-repot menolaknya, karena memang semua akan berjalan seperti seharusnya.

Jadi,
Ketika kamu sengaja menciptakan luka, sebenarnya kamu hanya menciptakan hal yang serupa,
untuk dirimu sendiri.
Tapi terima kasih telah pergi, ternyata aku lebih kuat dari yang aku kira.




August 2, 2017 15 comments

Meredup

“Semua yang dimulai, pasti akan selesai”

Harusnya aku menyadarinya sejak awal. Bukannya malah “Kita kan belum memulai, apa yang harus diselesaikan?!”. Aku hanya telah lupa rasanya ditinggalkan. Aku lupa rasanya kehilangan, karena bersama kamu aku selalu belajar menjaga dan mempertahankan.

Kau harus tahu, sejak pertama kali bertemu denganmu, aku menjadi begitu bahagia hingga merasa aku tak perlu mempersiapkan sebuah perpisahan. Karena itu aku menjadi sebegitu percayanya bahwa semua akan berjalan baik-baik saja seperti yang aku mau. Karena itu aku tak pernah menyiapkan hatiku untuk menjadi seperti ini.
Aku, kacau.
Aku menginginkanmu kembali. Aku ingin kembali merasa disayangi. Aku ingin kembali merasa dijaga dan dihargai. Aku menginginkan tawa dan hatimu, aku membenci kau yang membuat basah pipi dan daguku.
Boros tisu, tau!

Baiklah, kalau kau berniat mengakhiri ini semua, silahkan akhiri. Tapi jangan sisakan senyummu disini. Jangan menyiksaku. Jangan membuat dirimu masih ada tapi hampa. Menjauhlah dari jangkauanku. Setidaknya ijinkan aku belajar terbiasa dengan ketiadaanmu.

Kalau kau masih disini, bagaimana caraku melupakan semuanya? Bagaimana melupakan bahwa aku pernah kau bahagiakan seindah itu? Bahwa aku pernah kau jadikan istimewa. Bahwa kita pernah membicarakan masa-masa yang kita belum tahu bagaimana akhirnya. Bahwa kau pernah berjanji kita akan pergi ke Malang untuk makan siang kemudian pulang. Bagaimana melupakan semua panggilan sayangmu, semua stiker-stiker Line saat kamu begitu merindukanku, semua chat itu:
"Kok aku kangen kamu ya", "Aku kangen kamu", "Nanti jam 10 aku telfon", dan semua momen itu: saat kita basah kuyup karena hujan berdua, gosong karena terik matahari berdua, masuk supermarket membawa keranjang belanja hanya untuk 4 buah mi instan. bahkan momen kamu datang membawa boneka jerapah empat hari lalu. Bagaimana aku akan melupakannyaaaaaaaaa?

Kamu ingat? Kita pernah duduk berdua bersebelahan, kamu di ujung kursi sebelah sana, aku di ujung kursi sebelah sini, kau kudiamkan untuk waktu yang lama. Lalu kemudian aku bertanya, “Enak gak aku cuekin?”
Kamu ingat apa jawabanmu? “Enggak”
Sayang, kamu kudiamkan saja tak mau, mengapa akhirnya kau memilih untuk meninggalkanku?
:(

Aku tersiksa. Karena kamu masih ada tapi jauh. Kamu ada tapi redup. Aku tersiksa karena kita harus saling pergi saat kita masih saling menyayangi.

***

Paham atau belum? Aku ini tidak menginginkan sebuah perpisahan. Aku tak sungguh-sungguh menyuruhmu menjauh dari jangkauanku. Sayang, aku sudah tahu rasanya kau tinggalkan, sekarang kembalilah. Aku tak mau kehilangan. Aku tak suka kehilangan. Aku akan berusaha. Aku akan belajar menjadi perempuan yang baik, yang kamu mau. Tapi kembalilah, aku ingin memikirkanmu dengan senyuman, bukan dengan tangisan. Aku tak mau. Aku tak suka kita saat ini. Membayangkannya saja sudah meneteskan banyak sekali air mata.

Kalau kau inginkan sebuah perubahan dariku, katakan itu tanpa menyakitiku. Tuntun aku dalam perubahanku, jangan malah pergi meninggalkan. Karena perasaanku ini benar-benar nyata, bukan hanya sekedar bahan candaan.
 
;