July 28, 2018 3 comments

Puisi?

Untuk laki-laki yang masih mendekap dan terperangkap.

Sampai kapan kau menjadi debu?
Diterbangkan ke sana kemari
Akhirnya terdiam juga di sampul buku

Sampai kapan kau izinkan jantungmu terhunus?
Sampai kapan, matamu mati melihat aku yang tulus?

Jangan memaksa menggapai apa yang tak santai
Jangan berlari di jalan yang memperlambat kakimu sampai

Berhentilah mencari
Berhenti kehilangan dirimu sendiri
Tak usah berdarah-darah dan membuatku marah
Sadarlah,
bangun dari mimpi panjangmu
Temui aku
Aku punya separuh untuk melengkapimu

Jangan lagi membanding lalu membanting
Aku ini kepatahhatian yang tak bisa berpaling

Jangan lagi sendu
Jangan lagi keliru
Jangan lagi tersesat
Jangan lagi terhambat
Kau punya aku
Mari selesaikan puisi ini dengan satu kata 'tamat'

Dariku,
cinta yang tak pernah sempat.
July 7, 2018 9 comments

Rumit

Aku terkejut kau benar-benar hilang. Membawa lari lembaran kisah yang rumpang. Kurasakan kini hatiku telah benar-benar usang. Kita telah terlampau jauh--kau tak lagi berada di seberang. Ada kehampaan yang menyekik hati, begitu aku tahu kau kini tak lagi peduli.

Mungkin memang tidak tertulis di garis tangan kita untuk saling melengkapi. Dan aku percaya, aku memaklumi. Kalau memang aku bukan jodohmu, mau bagaimana lagi? Toh, semua yang kulakukan untukmu tak pernah berarti. Pikirkanlah saja, kalau benar kita saling menerima, mengapa saat ini kau tak ada di depan mata? Kalau benar kita ini masih saling mencintai, ke mana pergimu meninggalkan aku seorang diri?

Apa iya kebohongan di kepalaku tentang ketidaktulusanmu benar-benar nyata? Apa iya, hanya aku yang dulu terlalu mencinta? Jawablah, setidaknya satu, untuk mewakili semuanya.
Apa kau pernah benar-benar ada?

Kalau saja ternyata kita dulu bertemu di waktu yang salah hingga kini harus terpisah, mari bertemu lagi di sudut jalan. Menyatukan lagi perasaan-perasaan yang dulu tak sepenuhnya bertuan. Aku ingin nanti permohonanku terbalaskan. Sayang ... tak ibakah kau melihatku berlutut meminta pengakuan?
Atau kalau ternyata kita dulu menyatu di pemikiran yang belum matang, mari kembali bertemu dan saling bertukar pandang. Aku sungguh merinduimu, asal kau tahu. Perasaan ini terlalu besar untuk menjadi rahasia kecil di dalam doa-doaku. Tak kan bisa lagi berbohong kalau kau memanglah satu yang kumau. Tak apa meski dulu hanya aku yang berjuang, meski kau selalu pergi dan jarang datang. Tak masalah meski dulu aku jatuh dan bangun seorang diri. Tak masalah dulu aku hanya mendengar janji-janji. Aku tak peduli dengan perhitungan-perhitungan itu. Aku peduli denganmu.

Kalau kau kelak membaca tulisan ini, mulai saat itu, cobalah berhenti menjadi pribadi yang selalu ingin menang sendiri. Yang selalu melakukan semuanya tanpa merasa harus ditemani. Aku pun ingin kaujadikan teman berdiskusi, aku ingin dianggap, dimintai pendapat, diajak mencari jalan keluar, atau sekadar ditenangkan kecemasannya. Aku ini ada. Jangan hidup sendiri. Jangan menjadi egois lagi denganku. Kau tahu aku tak kan selamanya mengalah denganmu. Memang benar aku punya hati, cukup besar kalau hanya untuk memaafkanmu--sekali dua kali. Tapi kalau seterusnya kau akan begini, sudahlah, sepertinya memang tak ada kesempatan kedua yang kucari-cari.

Kau terlalu angkuh untuk kuhormati sebagai laki-laki. Kau terlalu nyaman berada di jalanmu sendiri. Tanyakanlah lagi pada dirimu, apa kau sadar selama ini aku setia di sisi? Apa kau sadar saat kaubilang "aku mencintai"? Apa buktinya? Kenapa kau malah pergi, menyesal, tapi tetap tak mau berubah sama sekali?

Kukira ini semua karena kisah kita yang rumit. Ternyata, untuk sepenuhnya mendapatkanmu dari awal memanglah sulit.





Baca "Runyam", di sini, lalu simpulkan sendiri siapa yang paling sakit.
July 4, 2018 7 comments

Kepada yang Dulu Tersayang

Kepada yang dulu tersayang.
Kalau menghapus bukan satu-satunya jalan, maka biar saja kegagalan ini menjadi paragraf-paragraf di keabadian. Untuk seluruh angan yang kemarin belum sempat kita kabulkan, tinggalkan saja semuanya. Jangan sampai ada sisa. Karena percuma. Kau tahu kita sudah tak punya waktu untuk membahasnya berdua.

Nanti, ketika kita telah menemukan jalan berbelok yang terpisah, aku akan berusaha selalu ingat, bahwa “kita” bukan lagi tempat aku memusatkan arah. Cerita kita yang dulu rutin tertulis, harus kurelakan terpotong begitu adanya. Kita tak harus berakhir bahagia seperti dongeng-dongeng anak yang pernah kita baca berdua. Karena sejatinya memang apa yang kita sebut “rumah”, tak pernah semewah istana.

Untuk kesalahan-kesalahan yang belum sempat kita perbaiki, benahi saja dengan cara kita sendiri. Kita tak perlu lagi marah dan merasa kalah. Kita tak perlu lagi berdebat soal ketidakselarasan hati. Kamu kini milikmu, aku kini milikku sendiri. Kita sudah bebas tersenyum dan bermain dengan semua orang tanpa takut dicemburui. Kita sudah bebas berlari ke mana saja dengan siapa saja tanpa takut dicurigai.

Tak ada yang boleh disalahkan dengan perpisahan ini. Terlepas dari fakta siapa yang lebih sakit, atau siapa yang tega mengakhiri, kita tetap dua orang yang pernah saling mencintai.

Kepada yang dulu tersayang.
Segala apa yang pernah kita raih dari sebuah juang, ingat itu sebagai kerja kerasmu sendiri. Jangan libatkan aku lagi. Suatu saat, mau tak mau, kelak kau pasti menemukan pengganti. Lalu jangan pernah ungkit namaku, lebih-lebih kisah kita sebelum ini. Kalaupun seandainya suatu saat terlintas di kepalamu pertanyaan bagaimana kabarku, jangan lakukan apa pun. Jangan mencari kabarku, jangan menghubungi teman-temanku, apalagi berlari ke hadapanku. Kau tahu urusan paling melelahkan adalah dengan masa lalu. Sekuat apa pun ia disingkirkan, ia akan tetap berada di situ. Karena masa lalu tak kan hilang, ia hanya tertutup oleh masa yang baru.

Yang dulu tersayang...
Siap tidak siap, terbit sudah akhir ceritanya. Halaman terakhir yang berisi paragraf-paragraf terakhir, harus segera ditutup agar perasaan berhenti mengalir. Yang boleh kau ingat hanyalah kita pernah saling mencintai. Tak usah mengingat bagaimana cara mendapatkan cintaku lagi.

Kepada yang dulu tersayang.
Aku memaafkanmu, maafkan juga aku. Berhentilah mencari tahu apa yang dulu mengikis hubungan kita. Jangan menolak siapa pun yang nanti datang padamu menawarkan hatinya. Karena aku percaya, cara terdahsyat untuk menutup luka lama, adalah dengan kembali jatuh cinta. Aku telah mengizinkanmu berbahagia, walau bukan aku lagi sebagai alasannya.

Terima sajalah kenyataan—bahwa kita ternyata hanya sepotong masa lalu, bukan teka-teki masa depan.
 
;