September 27, 2017 33 comments

Kukira Aku

Aku kira ini ketertarikan, ternyata hanya sebuah perhatian yang kuterima dengan nyaman. Lalu kuakui itu sebagai harapan. Aku pikir dia hanya datang kepadaku dan akan terus menetap. Ternyata aku telah keliru. Ternyata aku hanya terlalu hebat dalam menciptakan segenap ekspektasi dengan hatiku.

Aku kira dia bersedia memperjuangkanku sesiap aku berjuang untuknya. Ternyata tidak. Dia tidak pernah mau memperjuangkan hal-hal yang bukan kebahagiaannya. Dan tentu, baginya, aku bukan sebuah kebahagiaan. Yang dia cari-cari bukanlah aku. Aku bukan sebuah kebutuhan. Aku hanya... sebuah pertanyaan tanpa jawaban.

Aku selalu menunggu kabarnya, dengan senang hati kujadikan dia prioritasku. Aku lakukan itu terus-menerus. Kupikir dia akan luluh dan menjadikanku orang yang juga harus diprioritaskan. Ternyata, dia, menjadikanku sebagai pilihan saja tak pernah terpikirkan, apalagi menomorsatukanku.

Aku kira dia mulai menjadi sayang karena denganku dia tak pernah menolak untuk berbincang.
Lalu ketika dia mulai berhenti menghubungiku, kupikir aku telah melakukan sebuah kesalahan. Nyatanya dia tak pernah menganggapku lebih dari seorang teman.

Ketika aku mencoba menghilang, aku pikir dia akan merindukanku sebanyak aku. Ternyata sejak kepergianku, hingga aku datang kembali, tak pernah sekalipun tersirat olehnya untuk mencariku.

Sekarang aku tahu, kalau dari awal, nama yang dia sematkan, bayangan yang dia cari-cari, rindu-rindu yang dia teriakkan, bukanlah aku.


Selama ini kuanggap dia rumah, ternyata baginya aku hanyalah seorang bocah yang berulah. Perasaanku tak pernah dianggap nyata. Ketulusanku tak pernah dianggap ada.
September 25, 2017 4 comments

Nanti

Untukmu laki-laki yang akan kutemani seluruh hidupnya.
Kalau nanti waktunya telah tiba, setiap hari setelahnya, kamu akan terus melihat seorang perempuan dengan tulisannya, karena dia akan menulis hingga tua, denganmu. Setiap hari kamu akan mendengarkan semua keluh kesah dan manjanya. Kamu akan mendengarkan kalimat-kalimat sederhana seperti “aku pingin sate ayam”, “ya Allah jerawat”, “yang, aku gendutan ya?”, atau “Mas, aku laper” setiap hari. Walaupun aku tahu nanti kau akan bosan dan mengabaikanku, mudah-mudahan kamu tidak akan pernah mengkhianati bahkan meninggalkanku.
Karena aku menginginkan ini hanya sekali, seumur hidupku. Aku ingin ini benar-benar akan menjadi sebuah ikatan yang sakral. Yang sekalipun kau atau aku telah mati, kita masih menyandang status suami dan istri.

Untukmu laki-laki yang akan menyempurnakan separuh agamaku.
Kalau nanti kita diberikan izin untuk terus beribadah bersama, meraih restu dan hidayah-Nya berdua, aku ingin terus menjadi makmum untuk setiap salat wajib dan sunnahmu.
Berbakti penuh karena kamu menjadi pemimpinku. Karena kita terikat untuk saling melengkapi. Untuk saling membenarkan yang keliru. Untuk saling memperbaiki yang belum baik. Untuk saling menguatkan yang jatuh. Untuk saling menyayangi karena ini bukan lagi soal aku dan kamu, ini soal kita berdua.

Untukmu yang akan menjagaku dan akan kujaga seumur hidupnya.
Kau tahu? Ayahku adalah laki-laki yang telah mencintaiku bahkan saat aku belum dilahirkan. Ia membesarkanku dengan sangat baik. Ia mengenalkanku dengan kasih sayang. Ia selalu memantau dengan laki-laki seperti apa aku berteman. Kami memang tidak seakrab anak-ayah yang lain, tapi aku sangat menghormatinya. Saat ia setuju untuk menyerahkanku padamu, bukankah itu karena ia menganggapmu adalah seorang laki-laki yang baik? Bukankah itu karena ia yakin kamu akan menjaga dan memperlakukanku sebaik yang ia selalu lakukan?
Hormati ia seperti aku menghormatinya, seperti kamu menghormati ayahmu. Jadilah seperti mereka yang begitu mencintai keluarganya. Aku selalu terkagum-kagum pada laki-laki yang mau bertanggung jawab, yang mau mengorbankan dan memperjuangkan keluarganya seolah-olah ia sedang menyelamatkan dirinya sendiri.

Untukmu yang akan terus duduk di sampingku, menggenggam tanganku, pun kepercayaanku.
Kau tahu aku terlalu mudah terkesima pada hal-hal baru. Aku suka dengan tempat-tempat baru. terlepas dari, akan betah atau tidak, jauh atau dekat, dua hari atau dua bulan.
Dimanapun, selama aku bersama kamu, tak akan ada alasan untuk menyesalinya. Maka sebisa mungkin, ajak aku mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah aku tahu. Bawa aku pergi ke tempat-tempat menyenangkan. Untuk melihat kebesaran Tuhan, untuk kuingat sebagai bahan cerita saat kita menua.
Kita harus selalu bahagia.
Kita harus menjelajah dunia.

Untuk kamu yang saat ini masih hidup dalam duniamu.

Aku tunggu, dua atau lima tahun lagi. Saat kamu benar-benar bersedia untuk tak hanya mencintaiku, tapi juga membahagiakanku, menafkahiku, melindungiku, mencukupiku, menemani untuk selalu menyeimbangkan dunia dan akhiratku.
September 23, 2017 6 comments

Friendzone

Friendzone. Saat dia menganggapmu teman, padahal kamu berharap lebih.

“Kak Naw, bikin tulisan tentang friendzone dong!”
Okay, Let’s do this!

Semoga nggak akan terhapus lagi karena tulisan yang dulu terpaksa dihapus, ada yang bacanya cemburu gitu deh, padahal ini cuman pengalaman masa lalu, cuman bahan ajar untuk masa depan. Biar lain kali nggak perlu dulu berharap lebih, biar lain kali bisa menahan diri buat nggak keburu baper.

Baiklah. Waktu SMA dulu, aku ada di posisi ini. Kenapa ceritanya dulu banget pas SMA? Karena setelah kejadian itu, perasaanku nggak pernah lagi masuk friendzone. Nggak pernah lagi. Selalu terbalas. Cie.

Tahun 2011, aku masuk di SMA yang dulu Ayah aku juga sekolah di sana. Belum apa-apa, aku sudah membuat prestasi: mendapatkan seorang laki-laki untuk kuincar di kelas. Karena waktu itu dia terlihat yang paling “bener” tampilannya. Yang lain, ya gitu deh.
Entah gimana awal kenalnya, ingatanku langsung loncat saat tiba-tiba aku dan anak itu ­bertukar pesan alias SMS-an. Waktu itu masih zaman pake SMS, chatting cuman adanya di Facebook. Awal ketemu aja sudah bikin kesemsem, bisa di SMS dia tiap hari apalagi. Demi panjangnya sebuah percakapan, aku rela mikir keras untuk bahasan selanjutnya. Padahal sekarang enggak. Kalau si cowok nggak punya bahasan, biar dia yang mikir, aku terima beres aja. #SorryNoSorry nih. Ehehe. Ehe :)

Atas percakapan yang menghabiskan pulsa lumayan itu, aku merasa ada kemajuan, dia satu ekstrakurikuler sama aku. Ahay! Makin sering nih bos, ketemunya! :p
Selama kenal dengan anak itu, nggak jarang akhirnya aku ke kantin bareng, berangkat ekstra Pramuka bareng, duduk sebelahan, ketawa bareng. Sampai ada saatnya mulai ada satu temen yang peka. Dia tahu kalau aku naksir sama anak itu. Dih! Ko bisa tau sih? Bahaya nih kalo dia bocor. Ancaman terdeteksi!
Tapi aku teteup kaleum. Siapa tahu anak itu juga sebenarnya naksir aku. Semakin hari, semakin aku pepet dia. Aku belikan dia es krim, aku belikan dia coklat. Tapi bukan yang tiba-tiba datang ke hadapannya langsung ngasih, bukan. Aku beli dua, aku pura-pura makan di depannya sampai dia lihat aku, saat matanya mulai tertuju dengan coklat dan eskrim dalam genggamanku, aku menawarinya.
“Mau?”
Kalau dia mau, aku langsung senyum-senyum kegirangan dalam hati, balik badan, terus... Asik! Sogokan mayan juga nih, buat bahasan nanti di rumah kalo dia bilang makasih.
Iya, aku selicik itu, iya.
Tapi karena dia nggak selalu mau, karena ada waktuya juga dia nolak. Maka aku siap untuk mengantisipasi. Di depannya aku sok bilang “Ya udah! Aku makan sendiri dua-duanya”, tapi dalam hati, yaaaah, padahal beli udah dua. Yaaah, gagal. Yaaah rugi. Yaaah.

Dulu, nggak ada alasan buat nggak suka dengan anak itu. Manisnya dimana-mana. Senyumnya manis, tingkah lakunya manis, cara jalannya manis, cara nolehnya manis. Banyak manisnya, seolah bisa untuk cadangan tahun-tahun ke depan saat pelajaran sekolah mulai terasa pahit.
Nggak memungkiri juga, aku mulai berani sayang dengan dia. Aku mau terus lihat senyumnya, aku mau terus dengar suaranya, aku mau terus bicara sama dia, aku mau dia selalu ada untuk aku.
Semakin lama juga aku merasa kami semakin dekat. Jalan berdua itu bukan sekali dua kali lagi. sampai naik kelas dan naik kelas lagi.
Pernah waktu itu, saat kami jalan berdua, kami bertemu adik kelas yang kebetulan kami bertiga saling kenal, dan dia menyebarkan gosip yang jelas hoax tapi indah: katanya, Kak Nawang dan Kak “itu” pacaran. Astaga bahagianya bukan main. Tapi yang membuat janggal, dia menanggapi hal itu seperti itu memang benar-benar bahan candaan, padahal aku nggak.

Dari situ, aku mulai ragu dengan perasaannya, aku mulai ragu dengan semua tawa, kebaikan, dan perhatiannya.

Ternyata benar, pada suatu waktu, saat seorang teman (yang di awal tadi menyadari perasaanku) mulai membahasnya dengan anak itu, dia mengatakan hal-hal yang tidak pernah aku inginkan ada.

“Hahaha. Aku ini cuman temen sama Nawang. Aku sering jalan bareng dia karena dia diajak kemana-mana nemenin aku mesti mau”

Deg.

Belum pernah aku merasakan yang seperti ini.
Dia cuman menganggap aku sebagai teman ketika aku telah benar-benar menyayanginya.

Ternyata, yah... Beberapa bulan setelah pernyataan itu, saat kami kembali jalan berdua, dia bercerita tentang seorang perempuan yang sedang dia dekati.
Oh, jadi bener. Kamu dari awal cuman ngeliat aku sebagai temen, nggak pernah ngeliat aku sebagai seorang perempuan.

Setelah itu aku putuskan untuk tidak jatuh lebih dalam lagi.




Tamat. Yey :p
September 16, 2017 2 comments

Jatuh Cinta

Kurasa aku telah jatuh cinta.
Karena setiap kudengar namanya, sebutan itu tidak pernah memekakkan telinga. Setiap kali kutatap matanya, mereka seperti mau berjanji untuk sebuah ketulusan yang nyata.
Tiap kali dia bercerita untukku, pipiku mengangkat kemudian mengembang begitu saja tanpa ragu.
Tiap kali dia tersenyum, astaga, rasanya hatiku akan meledak saat itu juga.

Kurasa aku telah jatuh cinta.
Mataku telah terkunci pada arah dirinya.
Wajahnya itu tak akan pernah kujadikan sia-sia.
Tapi ini jelas bukan hanya wajahnya, kurasa aku telah jatuh cinta pada semua aspek yang ada padanya. Rasanya dengan terus memandanginya pun tak akan mampu menghentikanku yang semakin hari semakin merasakan candu atas dirinya.

Lalu senyumnya. Senyumnya itu. Senyuman yang hanya ada satu di dunia. Yang diciptakan begitu pas, cocok, dan tanpa kekeliruan. Bagiku itu adalah lambang keikhlasan, karena untuk soal senyuman, dia tak pernah memaksakan.
Dan saat itu, matanya ikut tersenyum. Seolah membawaku larut dalam pandangannya. Begitu menenangkan karena kulihat penuh sekali arti di bola matanya.

Cara dia menatapku, bagiku adalah caranya mengambil seluruh hati dan pikiranku. Karena saat aku merasa telah jatuh cinta, aku merasa bodoh dan semuanya menjadi tidak masuk akal dalam beberapa waktu.

Aku ingin terus dilihat menjadi perempuan yang sempurna meski sejatinya tak akan pernah bisa, tapi aku ingin, menjadi perempuan yang bisa melakukan apa saja, yang akan membuatnya kagum dan jatuh cinta, sedalam aku.
Aku ingin menjadi kuat seperti perempuan yang mandiri, tapi aku ingin menjadi lembut, seperti perempuan yang ingin dilindungi. Aku ingin saat dia bertemu denganku, dia selalu punya alasan untuk tersenyum, seperti aku. Entahlah, saat aku jatuh cinta, semua hal-hal ini turut muncul dalam otakku.

Dan, kurasa aku telah benar-benar jatuh cinta. Menulis tentangnya seperti ini selalu membuatku tersenyum, sendiri, pada tulisanku.

Teman-teman, apa iya jatuh cinta itu definisi lain dari gila?

Tapi saat aku jatuh cinta, hatiku terbawa begitu saja. Tiba-tiba aku menjadi lebih sabar dari biasanya, lebih tabah dan lebih bisa menerima, tiba-tiba dia menjadi dunia yang aku cari-cari sebelumnya.

Kurasa benar. Aku telah jatuh cinta sebegitu dalamnya. Karena, bukankah itu tidak masuk akal untuk menganggap marah dan cemburunya terasa begitu manis?
Semakin dia cemburu karenaku, aku semakin merasa dijaga. Semakin dia menjadi dingin dan kaku, aku semakin ingin berlari menemuinya. Semakin dia menjadi manis dan romantis, astaga, rasanya aku hanya ingin menyuruhnya diam, kemudian membungkus dan membawanya pulang.


September 13, 2017 0 comments

Jarak

Sejak sore tadi, saat aku melihatmu pergi jauh dari jangkauanku, saat itu aku menyadari bahwa ternyata aku telah membenci sesuatu.
Aku membenci jarak, ia membuatmu jauh dariku.
Kata orang, selayaknya sebuah jeda, jarak itu harus ada.
Tanpa jarak, sebuah kalimat juga takkan terbaca dengan mudah.

Tapi tidak begitu bagiku. Jarak membuat rinduku yang awalnya biasa-biasa saja, terasa menyesakkan karena menemuimu menjadi tak semudah dulu. Jarak membuat senyummu yang awalnya selalu bisa kunikmati, jadi hanya tertulis menjadi titik dua dan tutup kurung seperti ini :)

Sejak sore tadi, aku menyadari bahwa daripada melihatmu pergi, lebih baik aku menunggumu kembali. Karena pergi membuatmu jauh. Tapi dengan menunggumu kembali, kau yang mendekat padaku menjadi hal yang pasti.

Berkat jarak ini, kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Iya, aku mengerti, aku harus mempercayaimu, tapi kenyataannya tak bisa semudah itu. Entah karena kita yang telah terbiasa bersama, entah karena aku yang terlalu cinta, tapi sungguh, jarak ini begitu menyiksa.

Aku terus menulis rindu berkali-kali, tetap tak bisa membuatmu di sini.
Aku terus mengeluh ingin bertemu, tetap tak bisa memangkas tiap kilometer yang memisahkan kamu denganku.

Rindu ini tak semestinya kuhabiskan sendiri, kemarin aku masih memilikimu untuk berbagi, tapi kini tidak lagi, setelah kau pergi. Setelah kita menjadi dua orang dengan urusan masing-masing.

Apa kau tau apa yang membuatku menjadi tidak menyukai jarak?
Aku khawatir, kau menjadi terbiasa tanpaku. Sedangkan aku? Aku sama sekali tidak pernah memikirkan itu akan terjadi suatu saat nanti. Aku cemas kau akan mulai menganggap dirimu menjadi seperti seorang diri, seperti tak pernah ada orang yang menunggu untuk kau kembali.

Tapi biarlah.
Kamu kembali atau tidak, itu urusan nanti.

Untuk saat ini,
Biar saja ada ratusan kilometer di tengah kita, biar pun ini masih akan berlangsung untuk waktu yang lama, aku tak apa selama kamu masih ada.

Selama hatimu masih untukku, selama itu masih benar-benar untukku, akan aku tunggu.
Hingga tak ada lagi kilometer yang berani merenggangkan kita.
 
;