January 15, 2019 12 comments

Sebelum Kata Kelak


Apa itu rasa syahdu saat bersandar di pundakmu? Bagaimana rasanya kauusap kepalaku saat tengah kaudekap dengan lenganmu? Sehangat apa rasanya mendekatkan wajahku pada wajahmu? Akan sedahsyat apa jantungku pada saat itu?

Bagaimana rasanya menjadi dia?
Yang selalu kaujadikan urutan pertama tanpa dia pinta. Yang matanya selalu kaugambarkan seluas sebuah dunia. Yang ceritanya selalu ada di urutan paling kiri. Yang ketika dia angkat kaki, kamu tak pernah ingin beranjak pergi untuk berhenti menanti.

Seperti apa rasanya menjadi dia?
Tak perlu menghilang sudah kaucari. Tertawa sedikit kau jatuh hati. Tak pernah berdarah-darah tapi selalu kauhargai. Anggun menawan di mata lelaki. Baik dan tak pernah merasa dijauhi. Seperti apa rasanya menjadi dia, yang sangat amat ingin kaumiliki?

Harus sesempurna apa menjadi seorang wanita? Haruskah aku belajar menjadi dirinya hanya agar aku tahu bagaimana rasanya kaucinta?
Aku yang berlari, dia yang juara. Aku yang belajar, dia yang menerima piala. Mengapa aku merasa telah berkorban tapi dia tak pernah menjadi terdakwa?
Ini tak adil tapi aku tak bisa membela. Aku seperti gagal merasa jatuh cinta. Alih-alih dicinta, aku malah jatuh celaka sedalam-dalamnya.

Mengapa sebuah kisah harus setragis mengejar yang sedang mengejar?
Membuat semua ini terasa melelahkan dan ingin segera sampai pada kata “kelak”.
Kelak, ceritaku pasti lebih indah dari hanya menikmati getirnya kalah telak.         
January 3, 2019 23 comments

Rampung

Akhirnya, tak ada lagi jarak yang merenggangkan. Kini kita telah sepenuhnya terpisahkan.
Akhirnya selesai sudah hubungan yang kemarin memberatkan. Kini kita tak punya lagi rangkaian masa depan yang harus dikabulkan.

Telah berlalu langkah kita dari titik pertemuan. Bebas dari hak atas mengekang atau membuang. Tak ada lagi genggaman tangan, tak ada lagi berdua sepanjang jalan kenangan. Kini kita kembali lagi memakai sayap kita sendiri untuk berkelana dan terbang.

Menyebalkan sebelum menyenangkan. Karena melepaskan selalu lebih sulit dari mencintai walau itu harus bertepuk sebelah tangan.

Sekarang mari tamatkan ini tanpa perayaan, tanpa menyeka air mata yang turun tak pernah sopan.
Hanya melangkah menjauh, seperti biasa. Seperti saat kita bertemu untuk kali pertama. Yang terjadi begitu saja. Tak ada persyaratan, tak ada keberatan. Murni hanya melibatkan aku, kamu, dan sebuah kesungguhan.
Tak ada cerita yang buruk untuk dibagi, tak ada kekurangan yang pantas untuk ditertawai, kita sudah sama-sama dewasa. Sudah tahu, sebaiknya hubungan kita kemarin memang hanya kita yang menjaga.

Tak perlu ada drama.
Tak perlu saling sindir, tapi tak perlu juga setiap hari saling menyapa. Tak perlu berselisih, tapi tak perlu juga terus merasa memiliki. Aku yakin kita bisa berakhir sendiri. Dengan cara-cara yang tak perlu terpublikasi.
Tak perlu marah, tak perlu mengeraskan kepala untuk memvonis siapa yang salah. Kita selesaikan saja ini semua sesederhana ciuman pertama.

Kalau seandainya menghapus kenangan masih belum bisa, menghapus nomor dari daftar kontak sudah merupakan awal yang baik dari segalanya. Kalau pergi jauh meninggalkan juga belum bisa, berhenti mencari tahu saja nanti juga terbiasa.

Setuju?
Bisa kita mulai lagi dari awal?
Aku sendiri, kau sendiri, kita tak pernah bertemu.

Tak perlu ada kata kembali. Daripada mengulang "sampai jumpa" hingga dua kali, mari kita izinkan saja hati yang lain untuk datang dan menghuni.
 
;