July 28, 2018

Untuk laki-laki yang masih mendekap dan terperangkap.

Sampai kapan kau menjadi debu?
Diterbangkan ke sana kemari
Akhirnya terdiam juga di sampul buku

Sampai kapan kau izinkan jantungmu terhunus?
Sampai kapan, matamu mati melihat aku yang tulus?

Jangan memaksa menggapai apa yang tak santai
Jangan berlari di jalan yang memperlambat kakimu sampai

Berhentilah mencari
Berhenti kehilangan dirimu sendiri
Tak usah berdarah-darah dan membuatku marah
Sadarlah,
bangun dari mimpi panjangmu
Temui aku
Aku punya separuh untuk melengkapimu

Jangan lagi membanding lalu membanting
Aku ini kepatahhatian yang tak bisa berpaling

Jangan lagi sendu
Jangan lagi keliru
Jangan lagi tersesat
Jangan lagi terhambat
Kau punya aku
Mari selesaikan puisi ini dengan satu kata 'tamat'

Dariku,
cinta yang tak pernah sempat.

6 comments

Sip, domainnya udah diaktifkan privasinya. Jadi kapan blokir media sosialku dibuka?

REPLY

sampai kapan, matamu mati melihat aku yang tulus ?
ya allah pas baca bagian itu hatiku langsung tertancap pedang goblin sakit namun tak terlihat

REPLY

ini pas dengan tgl lahirku, dan seperti yg saya rasakan sekarang, mungkin bukan kebeltulan tapi takdir hinggal aku menemukan tulisan ini.

REPLY

Nawang Nidlo Titisari . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates