May 27, 2018 31 comments

Fiksi #1


“Aku merindukanmu.”
“:)”, balasan yang terlalu singkat, untuk keinginan bertemu yang terlalu kuat.

Saat itu pukul 03.37 sore di Mataram. Fala menatap profile picture milik seorang laki-laki yang saat ini sedang amat ia cintai. Matanya berkaca-kaca.

Hubungan yang tidak terikat status, menjadikan mereka merasa seperti punya batas, bahkan dalam hal menyayangi. Ditambah, bentangan jarak 700 km yang kini memberatkan mereka untuk bertemu meski mereka mau. Belum lagi libur perkuliahan yang tak sama, biaya berangkat dan pulang, restu orang tua, dan masih banyak lagi yang berani menahan kaki mereka untuk membayar lunas janji-janji pertemuan. Minggu depan, genap sudah 24 bulan penantian Fala untuk kedatangan Fajar yang selalu ia singgung setiap malam.

“Jar ...”, Fala mengirim pesan lagi, dua jam setelah pesan berisi simbol senyuman diterima.
“Iya?”
“Kamu kenapa? Ada masalah apa?”. Saat ini yang Fala rasakan hanya kumpulan rasa cemas yang mengabuti kepalanya. Tumben, Jar?
Tak ada balasan dari Fajar. Yang ada hanya tanda kalau pesan itu sudah diterima, dan dibaca.

Solo-Mataram sudah bukan hanya soal beda kota, ini sudah tentang beda pulau, beda pembagian waktu. Fajar harus menyeberang pulau Bali untuk sampai di pulau Lombok—pulau yang dulu bagi Fajar hanya berisi dua hal; Kota Mataram, dan Fala.
Tapi, sejak kecelakaan pesawat telah merenggut nyawa ayah angkatnya lima bulan lalu, Fajar tak mau lagi menaiki pesawat terbang untuk beberapa tahun ke depan. Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Dulu, saat mereka berdua masih di bangku SMA, mereka bisa bertemu seminggu sekali, sekarang, hampir dua tahun, mereka belum juga bertemu. Dulu, setiap hari mereka bertukar kabar, sekarang, mendapat kabar seminggu sekali saja sudah untung.

Empat tahun bagi Fala bukanlah waktu yang sebentar untuk menjalani sebuah hubungan. Fajar adalah orang pertama yang akhirnya membuat Fala berani untuk jatuh cinta. Empat tahun, Fala diajarkan bagaimana menyatukan hatinya dengan hati lain yang mencintainya, bagaimana menerima perbedaan isi kepala dua orang yang disandingkan, bagaimana cara menutupi kekurangan dan menerima bahwa tak ada satu manusia pun yang terlahir sempurna. Kelas 2 SMA, Fala tak percaya Fajar akan bisa menembus hatinya. Tapi siapa kira ternyata Fajar membuat Fala kini tak bisa lepas darinya.

Setelah empat tahun berlalu baik-baik saja, saat ini, bulan Maret 2016, Fajar tiba-tiba mulai menjadi seseorang yang lain dan beda. Fala mulai mengeruhkan isi otaknya sendiri, mengotori ketulusan-ketulusannya dengan deretan prasangka. Seharian yang ia pikirkan hanya, apa yang telah ia lakukan hingga Fajar berubah drastis menjadi dingin seperti tadi. Padahal sebelumnya, sesibuk dan semarah apapun Fajar, tak pernah Fala menerima pesan sesingkat simbol titik dua dan kurung tutup. Paling singkat, ya ... “Iya, Sayang.”

Jangan menjadi rumit, Jar, tolong.

Di luar lamunannya tentang Fajar, Fala masihlah seorang mahasiswi semester IV yang punya banyak tugas dan tanggung jawab. Ia membawa tiga kewajiban dan tanggung jawab yang besar di dua pundaknya yang lemah. Menjadi bendahara umum di UKM Kesenian, menjadi pianis di band fakultasnya, satu yang terakhir, menjadi koordinator kelas. Kesibukan di perkuliahan menjadikan Fala seringkali lupa menanyakan kabar Fajar, bagaimana hari-harinya, bagaimana organisasinya, Fala lupa, kalau masih ada seseorang yang harus ia jaga hati dan perasaannya.
Mana tahu Fala kalau ternyata tiga tugas baru itu, menjadikannya semakin jauh dari Fajar. Dari yang raganya hanya berjarak 700 km, kini hatinya juga berjarak—ribuan kilometer. Mana tahu Fala kalau ternyata tanya kabar akan menjadi sepenting itu dalam sebuah hubungan. Apalagi untuk mereka-mereka yang cintanya berjarak.

Saat dua orang sudah terlalu sulit untuk bertemu, apalagi yang tetap menguatkan kalau bukan komunikasi yang baik?

***

“La.”
Fala tahu, Fajar pasti punya sesuatu yang harus didiskusikan. Fala juga merasa kalau saat ini mereka sedang berada pada situasi yang paling rumit, selama empat tahun mereka berhubungan, selama dua tahun mereka jauh dari gapaian. Ayo selesaikan ini, Sayang.
“Telepon aja, Jar.”
Fajar langsung menelepon Fala.
“Halo, La”, suara Fajar terdengar tidak terlalu semangat. Tidak seperti telepon-telepon yang lalu. Saat yang mereka bicarakan seluruhnya tentang rindu, dan rindu.
“Halo. Ada apa?”
“La, aku tahu kamu pasti mengerti sekarang aku sedang merasakan apa. Akhir-akhir ini aku merindukanmu dengan sangat, tapi telepon dan pesanku kamu abaikan berminggu-minggu. La, aku rindu. Aku rindu tapi kamu tak ada di situ.”
Hati Fala tersayat. Ia tak tahu kalau Fajar ternyata diam-diam kesakitan, karena rindu-rindu itu harus ia habiskan sendirian. Walau sebenarnya Fala juga rindu, ia tak tahu kalau kesibukannya—yang justru ia lakukan untuk mengalihkan kerinduannya pada Fajar—malah membuat Fajar patah.

“Maaf, aku salah. Bulan ini sedang banyak acara di kampus. Ponselku hanya kupakai untuk urusan acara. Aku juga rindu, tapi mau bagaimana lagi? Fajar, dua tahun aku menunggu kamu datang. Waktu itu kau bilang bersedia mendatangiku meski kita harus kuliah di beda Universitas, kau bilang kau mau melunasi rindu-rindumu, tapi mana? Sampai saat ini aku tunggu kamu, yang aku terima masih hanya ratusan pesan berisi rindu. Jar, rinduku juga sama hebatnya dengan milikmu. Tapi kalau tak ada usaha apa pun untuk bertemu, jutaan pesan berisi rindu akan menjadi seperti menulis surat cinta dengan pena tanpa tinta. Sia-sia, Jar. Sia-sia.”

Mereka, saling menyalahkan.

Fala menangis.
Hati Fajar semakin terluka. Karena saat ia mendengar wanitanya menangis, ia tak ada di sana untuk menenangkannya.
“La ... “
“Jar, bukan hanya kamu, aku juga terluka. Dua tahun aku terkurung dalam ketakutan. Aku takut kau berpaling. Aku takut kau tak setia. Aku takut janji-janjimu akan berakhir menjadi dusta. Jar, aku mencintaimu, tapi kalau kita menjauh karena ego kita sendiri, lebih baik, kita berhenti.”

“Kita belum memulai apa pun, La. Apa yang mau kau sudahi?”
“Untuk hatiku yang terus-menerus khawatir, untuk hatimu yang ingin terus ditemani, mari kita jadikan saja jarak 700 km ini sebagai sebenar-benarnya jarak, antara kita. Aku tahu kau pasti benci mendengarku menangis. Aku pun benci harus terus menanti. Kalau kita berhenti di sini, tak kan ada lagi tangisan yang kau dengar. Tak kan ada lagi janji-janji yang harus kutagih. Kita bebaskan saja diri kita sendiri. Seperti dulu, saat kita belum saling mengenal dan jatuh hati. Aku masih akan terus mencintaimu. Percayalah, aku masih akan selalu mencintaimu. Terima kasih telah menjadi cinta pertama yang indah. Kalau suatu saat kita diizinkan untuk bertemu, aku berjanji akan memelukmu erat. Aku berjanji, akan mencintaimu dengan perasaan yang lebih kuat. Tapi kalau ternyata kita tak diizinkan untuk bertemu lagi, hingga salah satu antara kita menemukan hati yang lain lalu mulai mencintai, biar sudah seperti ini. Jangan lagi bilang rindu. Aku takut akan nekat menemuimu. Maaf, Jar. Aku harus membicarakan ini lewat telepon. Selamat malam.”

Fala mematikan teleponnya. Lalu menangis, sejadi-jadinya.

Malam itu, adalah malam paling menyakitkan untuk Fala. Karena harus melepaskan saat sedang cinta-cintanya. Saat ia harus menyerah tanpa tahu mengapa ia melakukannya. Seketika ia benci pada dirinya sendiri. Karena ia harus memilih untuk selesai, daripada mencari jalan keluar. Ia benci, karena ia menjadi pecundang atas perasaannya sendiri.

Dua bulan berlalu...

Malam hari, 26 Mei 2016, Fala di atas panggung bersama teman-temannya. Mereka membawakan lagu terakhir, lagu ciptaan Fala.
“Lagu ini, ciptaan Nona Fala, yang cintanya terpaksa selesai, sebelum dimulai”, ucap vokalis band itu.

Telah tersemat sebuah nama
Jauh melekat di dalam jiwa
Dulu semuanya sempurna
Sebelum semesta, memisahkan kita

Kini habislah sudah
Dongeng kita yang dulu indah
Selesai sebelum dimulai
Berlalu sebelum bertemu

Tak ada tangan untuk menggenggam
Tak ada kaki untuk berlari
Bahkan saat matahari sudah tenggelam
Aku belum bisa melepas pagi

Bahkan saat bayanganmu sudah menghilang
Aku masih saja terus mencari


Setelah lagu terakhir selesai dimainkan, semuanya bertepuk tangan. Lalu, tiba-tiba ... seseorang di belakang penonton berdiri dan bertepuk tangan. “Dia wanitaku!”, teriaknya. Semua mata penonton sontak melihat ke arahnya. “Pianis itu, sang pencipta lagu, dia wanitaku!”.
Fala terkejut dengan apa yang sedang ia lihat saat itu. Ia berdiri tercengang. Menunggu bayangan pemilik suara tadi mendekat dan menampakkan wajahnya. Meski sebenarnya ia sudah tahu, kalau suara itu milik Fajar, laki-laki yang dua tahun dia tunggu untuk datang. Yang kini sedang berdiri di depan panggung menatap Fala. Yang lalu merentangkan kedua tangannya. Menyiapkan dadanya sebagai sebenar-benarnya tempat untuk Fala mengadu.
Fajar tersenyum. Fala berlari turun dari panggung. Ia menangis menuju pelukan Fajar. Dipeluknya erat laki-laki yang masih sangat ia cintai itu.
“Kembalilah padaku”, Fajar berbisik di pelukan Fala.
Fala menangis.
Fajar melepaskan pelukannya. Memandangi wajah Fala yang dua tahun terakhir hanya bisa ia lihat dari layar ponselnya.
“La, aku minta, mulai sekarang, kamu hanya boleh menangis kalau ada aku. Kalau tak ada aku, jangan. Mau, kan? Memulai semuanya dari awal dengan ikatan baru? La ... mau, ya? Menjadi yang paling kucari saat aku kalut, menjadi satu-satunya tujuan saat aku pergi, dan satu-satunya rumah tempatku pulang. Aku mencintaimu, semua boleh kau katakan, asal bukan tentang perpisahan.”
Fala tersenyum, laki-laki itu terdengar begitu mencintainya. Karena kedatangan dan pengakuannya, kini Fala tahu bahwa—ia harus membenarkan apa yang salah, membenahi apa yang kacau, bukan memotong ikatan dengan satu ucapan “selamat malam” di ujung telepon.
Fala memeluknya sekali lagi.
***
Seluruh pasang mata iri sekali pada saat itu menyaksikan kami.
Saat ini, aku sedang menunggu Fajar keluar dari gedung. Hari ini dia wisuda! Tentu saja, aku sedang bersama orang tua dan adik-adiknya. Kami sudah berjanji, akan terus bertahan bersama. Menerima dan menyelesaikan seluruh tugas yang telah disiapkan semesta. Ya, mungkin hingga nanti, hingga anak cucu kami menceritakan kembali kisah-kisah ini untuk kami berdua.
Semoga Fajar selalu dalam lindungan-Nya. Selalu datang menghangatkan seperti namanya. Beruntung sekali aku, mencintai dan dicintai orang yang sama.
Solo, 26 Mei 2018
dengan kasih sayang Fajar dalam genggamannya,
Rafala Amikadea.
May 20, 2018 45 comments

Saat Kamu Memutuskan untuk Berpaling

Satu-satunya yang aku pikirkan saat aku akhirnya tahu kamu sedang berpaling adalah, "apa yang selama ini kamu cari?". Karena kalau sesuatu yang tak ada padaku telah kau temukan di dalam dirinya, tak ada lagi yang bisa kujadikan alasan untuk menjadi juara. Asal kamu tahu, saat pertama kali kamu berinisiatif untuk mengenal dia lebih baik dari sebelumnya, saat itu juga aku pantas sekali disebut sebagai pecundang. Iya, kan? Ke mana saja aku? Apa saja yang selama ini kuberikan pada kekasihku? Kenapa masih ada celah yang bisa ia pakai untuk menemukan saat masih tengah memiliki? Sebegitu tidak becusnya aku menjaga. Sepayah itu aku menyayangi. Sehingga kekasihku satu-satunya, harus berpaling karena merasa aku sudah tak layak untuk menemani.

Aku yang salah. Bukan. Kesalahan bukan pada kamu yang menyakiti aku. Bukan pula dia yang merebutmu dariku. Aku. Segala kepatahhatianku ini, berasal dari diriku. Yang tidak bisa membuatmu tinggal lebih lama di sini; aku. Yang tidak bisa memagari hubungan kita dengan kuat; aku. Aku yang salah. Karena tidak bisa membuatmu melihatku sebagai seseorang yang patut kau beri ketulusan. Sampai kamu berani menggeser posisiku untuk mendapatkannya. Mengabaikan aku untuk menjadi lebih dekat dengannya.

Seandainya saja, telingaku adalah tempat untukmu yang paling nyaman untuk mengeluh dan menceritakan apa pun di balik seluruh peluh. Seandainya, pundak-pundakku mau kau gunakan sebagai tempat rebah dari seluruh lelah, tentu sampai saat ini aku masih menjadi kekasih yang tak ada duanya. Tentu saat ini di hatimu tak pernah ada cinta lain yang kini sedang kau megah-megahkan namanya.

Apa lagi lalu yang bisa kulakukan selain menerima?

Kalau sudah begini keadaannya, mana mungkin aku tega menjadi orang ketiga dalam hubunganmu dengannya? Mana mungkin aku sampai hati membuat dia merasakan sakit yang sama dalamnya dengan saat aku melihat kalian berdua? Kalau benar akhirnya aku yang harus pergi, tak apa. Aku akan belajar bagaimana menjadi teman tumbuh yang baik, agar kekasihku yang selanjutnya, takkan meninggalkanku untuk cinta baru yang menurutnya lebih baik.
 
;