August 4, 2015 3 comments

Surat bulan Agustus

Untuk kamu yang pernah memperjuangkanku, berhasil atau tidak mendapatkan cintaku. Terimakasih karena setidaknya aku tidak berjuang sendirian sejak dulu. Sekarang aku sudah diperjuangkan, meski bukan dengan orang yang sama, yang sejak dulu aku harapkan. Sejak perkenalan kita, aku tau sesaat setelah itu aku harus berjuang, entah berjuang mendapatkanmu, berjuang dalam menolakmu, berjuang pergi darimu, atau sekedar berjuang untuk sadar, bahwa kamu bukanlah dia.

Semoga aku bukan wanita yang sombong, karna aku hanya sulit melepaskan ketika aku menjadi benar-benar sayang dan takut kehilangan.

Untuk kamu yang pernah memperjuangkanku, berjuanglah lagi, setidaknya lama seperti saat aku berjuang untuknya, buat aku jatuh cinta hingga menyesal pernah memperjuangkannya dulu.

Rangkailah ucapan selamat pagi agar hari-hariku berwarna, tidak lagi hitam putih abu seperti dulu. Berikan aku ucapan penutup malam, doakan aku agar pagi nanti masih bernafas. Karena setidaknya, jika aku lebih lama bernafas, lebih banyak waktu untukku sadar.

Ceritakan padaku kisah-kisah perjuangan yang belum pernah kudengar. Apapun, entah yang berjudul penyesalan yang selalu datang diakhir, tentang menyia-nyiakan hati, cinta yang datang tidak pada waktunya, apapun untuk menampar hatiku.

Nyanyikan aku sebuah lagu, atau tuliskan aku sebuah puisi, atau berdoalah pada Tuhanmu untuk segera membuka hatiku, menjelaskannya padaku tentang ketulusanmu. Karena sekarang aku sangat rindu dengan kata “tulus”. Ini sudah tahun ke-lima tidak ada yang mengerti ketulusanku.

Lakukan apapun agar aku lekas jatuh cinta. Agar aku mulai terbiasa dengan hadirnya orang baru, dengan kebiasaan baru, warna-warna baru.

Jadilah orang baru yang mengerti, karena mungkin tibatiba kenangan lalu muncul saat kita berada di tempat yang pernah kami datangi. Jangan memarahiku, jangan memaksa merubahku, jangan jadi kaku dan kasar. Jadilah lembut, manis dan misterius agar aku bisa jatuh cinta sepenuhnya. Tak masalah jika itu hanya manis diawal, yang jelas aku sudah jatuh pada hati yang baru, yang penuh perjuangan mendapatkan hatiku.

Tunjukkan padaku kebahagiaan seperti apa yang setiap hari akan kudapatkan jika aku milikmu.

Jangan terlalu romantis, karena penyesalanku akan semakin menjadi. Besar dan biasanya sulit kutangani sendiri. Kalau mungkin kamu datang empat tahun lalu, aku tidak akan pernah menyesal berjuang untuk angin.
Iya angin, karena semua yang kulakukan tak pernah terlihat meski bisa dirasakan. Sadis memang, dan aku tidak ingin menjadi seperti itu untukmu.

Tuhan selalu punya pembelajaran yang hebat, aku sudah belajar jadi lebih sabar saat mencintainya dalam kebisuan. Jika saat ini aku masih belum bisa menerima perjuanganmu, percayalah, Tuhanmu pasti ingin kamu belajar sesuatu, sepertiku. Mungkin supaya nanti kamu lebih bisa menghadapi orang-orang baru, atau mungkin nanti, kita dipertemukan kembali saat kita sama-sama tau rasanya berjuang sepenuh hati.

Aku selalu percaya pada apapun yang akan indah pada waktunya. Langit tak mungkin seterusnya berwarna gelap. Pasti ada warna biru, ada pelangi. Jika sekarang kamu masih belum melihatnya, mungkin kamu belum bersyukur. Karena pelangi akan datang saat ada air hujan, air hujan datang saat ada awan tebal. Bersyukurlah.

Untuk kamu yang pernah memperjuangkanku, terimakasih, karena kamu, aku bisa menulis ini, yang bisa ku baca berulang-ulang setiap hari. Aku juga bisa memberi tahu banyak orang tentang berjuang. Berjuang dalam ceritaku, atau dalam ceritamu mendapatkanku.

Untuk kamu yang pernah atau baru saja memperjuangkanku. Yang kamu harus tau, aku masih belum bisa membuka hati yang baru meski hati yang lama sudah tertutup rapi.

“Berjuanglah agar ku perjuangkan.”
“Buat aku jatuh cinta sekarang, agar aku bisa jatuh cinta setiap hari.”



@nndlt
 
;