July 20, 2017 14 comments

Orang Ketiga

Aku tak pernah membayangkan ini sebelumnya.
Bahwa di antara kami berdua, kamu akan hadir memperlihatkan hal-hal baru yang tak pernah aku tunjukkan padanya, kau permanis sedemikian rupa hingga dia suka dengan pertunjukanmu, lalu kau telah menjadi orang ketiga.

Saat kami berdua mulai merasa jenuh karena jarak dan segala macam kesibukan, segala hal di tengah kami menjadi hambar dan biasa saja, kamu datang memberi senyuman dan sedikit harapan padanya, dia lengah, kemudian kamu terus melanjutkan langkahmu sebagai orang ketiga.

Lantas saat dia berpikir bahwa dia mulai merasa bosan denganku, hari-harinya menjadi tidak menyenangkan karena menurut dia, aku telah membuat hubungan kami menjadi tak semanis dulu. Apa? Kamu mendekat dan membuatnya tertawa? Kau tahu? Dia asumsikan itu sebagai rasa nyaman kemudian dia simpulkan bahwa seseorang telah menjadi lebih baik di matanya, dialah kamu, orang ketiga.

Bukankah kamu tahu dirimu kejam? Bukankah ini keterlaluan? Bahkan kita ini sama-sama perempuan harusnya kau mengerti bagaimana berada di posisiku. Tapi kau malah melangkah masuk saat aku sama sekali tak mampu melepasnya. Aku tak pernah berpikir ini akan berakhir tapi kau membuat ini semua terlihat nyata. Semua orang kau buat percaya bahwa aku bukan pasangan yang baik. Kau buat seolah-olah kami telah saling melepaskan bahkan dulu ketika hubungan kami masih berjalan. Dia kau buat menyerah denganku lalu berjuang dengan yang baru. Tidakkah kau berpikir ini menyakitkan? Tidakkah seminggu dua minggu tak akan cukup untuk menyesalinya?
Harusnya aku menjaganya. Harusnya dia bahagia bersamaku. Harusnya kamu tidak pernah datang dan membuat hatinya goyah. Harusnya dia tidak pernah mengenalmu. Harusnya aku bisa membuatnya bertahan. Harusnya hanya ada kami, tidak ada kamu.

Tapi aku mengerti, memang akan selalu ada yang terlihat lebih baik dari apa yang dia punya. Akan selalu ada orang yang terlihat lebih menjamin banyak kebahagiaan untuk dia dapatkan.
Dia hanya sedang lelah mengingat siapa yang menemaninya dari awal. Dia hanya sedang ingin melihatku menjadi perempuan yang lebih tegar.
Dia hanya ingin bersama dengan yang dia sayangi, selalu ada, dekat, dan menyayanginya. Dia ingin bersamamu.
Dia tidak ingin lagi bersama denganku yang hanya merindu, menuntut ini dan itu, jauh, dan selalu meminta untuk menjaga kepercayaanku.

Dulu aku percaya bahwa dia akan menjaga hatiku sebaik aku menjaga hatinya. Tapi kini dia lenyapkan semua kepercayaanku beserta kenangan kami, kemudian dia menggantinya dengan memori-memori manis bersamamu.

Selama kamu masih bisa, jagalah apa yang seharusnya kamu jaga. Kamu takkan mengerti bagaimana itu akan meninggalkanmu suatu saat nanti.

Aku menitipkannya padamu.
Bukan karena aku tak mau menjaganya, itu karena dia merasa kamu lebih baik dariku.
Jangan biarkan dia menyesal dengan keputusannya telah melepasku untuk bisa bersamamu, karena mungkin saat itu aku telah benar-benar merelakannya dan menjalani kisah yang baru.
Sampaikan salamku untuknya, “Jangan pernah kembali sekalipun kamu ingin mengulang lagi yang dulu kita jalani”.

Aku mundur. Semoga kalian bahagia, semoga tak ada orang ketiga diantara kamu dan dia. Jangan sampai kamu tahu rasanya menjadi aku. Karena sakitnya dikhianati itu luar biasa.
 
;