August 18, 2018

Kekeliruan Rasa

Ada yang lebih hangat dari mentari pagi.
Terbit bukan dari timur, tapi dari dalam hati.
Ada hasrat ingin menyapanya dari selatan.
Yang tak akan sanggup kuutarakan.

Sungguh dua kaki ini tak berarti.
Jalan melewatinya saja aku tak berani.
Sore kini terasa sia-sia.
Senja kini terasa seperti hanya sebuah nama.

Warna putih perlahan mulai memerah.
Seperti kedua pipi saat senyumannya merekah.
Jatuh cinta memang tak pernah tak terasa indah.
Termasuk bahkan perasaan yang sudah ditolak mentah-mentah.

Luka-luka membias di kerling mata.
Mohon ampun agar tiada sakit yang lebih menyiksa.
Aku sungguh, menyukainya.
Dan hal sialan itu terus tumbuh, pada kekeliruannya.

Ingin memaksa, tapi tak kuasa.
Jelas satu rasa bukan untuk aku saja.
Sekarang timbul kembali kata tanya "mengapa".
Mengapa aku merasa berdosa ketika aku hanya jatuh cinta pada teman lama?

Barangkali persahabatan terlalu erat.
Barangkali jalinan cinta akan terlalu mengikat.
Demi jarak yang amat dekat,
terbukakah matamu untuk aku yang tak sengaja terpikat?

Sesederhana itu perasaanku.
Baru tumbuh satu sudah dicabik waktu.
Apa jadinya saat berjumlah seribu?
Apa kemerdekaan memang bukan milikku?

Harapan kini tinggal hembusan angin.
Tertiup lepas, kalah dari kekuatan "amin".

Apalah arti janji walau sekokoh raksasa?
Kalau hingga detik ini pun hatinya tak kunjung peka.

Sudah lama aku hidup dalam hitam kelam kehilangan.
Kertas sudah penuh dengan caci-makian.
Kini, setelah aku ternyata menemukan,
bodohnya aku, dia adalah seorang teman.

Satu hal terakhir.
Kalau teman memang hanya untuk menjadi teman, tolong jelaskan perasaan apa yang kini sedang semesta limpahkan.
Benarkah ini hanya untukku sendiri?
Tak adakah sisa untuk dia nikmati?

2 comments:

seya arf said...

Jika baru tumbuh satu, sudah dicabik waktu...
Apakah sanggup menahan pilu dikala tumbuh seribu ??

Unknown said...

keren banget sih ka tulisannya:)))))

Post a Comment

 
;