February 24, 2018 3 comments

Sebuah Jeda


Mungkin kini kita sedang berada di sebuah ruang kosong yang bernamakan ‘’jeda”. Tempat saat seluruh keinginan untuk berjalan berdua, terhenti sementara.
Saat kita tiba-tiba merasa ingin menggunakan sisa-sisa waktu untuk sendiri saja. Saat kita merasa ingin sejenak melepaskan beban memberi kabar atau semacamnya.

Mungkin kita tengah berada pada situasi ingin dimengerti tanpa harus mengerti. Ingin dipahami tanpa harus memahami.
Mungkin obrolan-obrolan kita sudah mulai basi. Atau mungkin ada sesuatu yang begitu mengganggu dan menuntut diri untuk mengistirahatkan hati.

Kita telah mempertemukan dua kekurangan dan sepakat untuk menutupinya dengan ketulusan. Dengan komitmen untuk terus berjalan walau sedang tercekik rasa bosan.
Jadi satu hal yang kupinta adalah, jangan pernah melangkah menjauh untuk meninggalkan. Walaupun di dalam hatimu kau merasa benar-benar ingin sendirian.

Sejak awal, dalam hubungan kita, apa yang tak bisa kita selesaikan?
Masalah seperti apa yang tak bisa kita pecahkan?
Bukankah kita ini berdua?
Bukankah aku ini masih ada?

Satu hal yang kupercaya saat perasaan kita tengah berjarak.
Kamu masih menjadi milikku meski ada sesuatu di dalam hati kita yang sedang memberontak.

Aku tahu kita tak benar-benar membuang muka. Karena sejatinya tangan kita selalu ingin menggenggam dan menjaga. Kurasa memang ini hanyalah sebuah jeda, untuk kita nanti kembali merangkai cerita.

Barangkali memang ada halaman yang harus kosong tanpa perlu diisi. Agar halaman-halaman yang telah dan akan kita penuhi, benar-benar memiliki arti.

Lalu jangan pernah jadikan kekuranganku sebagai alasanmu untuk pergi. Karena aku tak ingin menjadikan satupun kekuranganmu sebagai alasanku untuk berhenti mencintai.

February 19, 2018 3 comments

Jadilah Milikku

Adakah cinta yang bisa datang terlalu pagi?
Mungkinkah semua yang kurasakan padamu masih terlalu dini?

Pernah tidak kau berpikir bahwa mungkin pertemuan kita memang telah tertuliskan?
Bahwa mungkin, semua persoalan tentang kita memang sudah tergariskan.
Walau pada akhirnya harus aku dulu yang merasakan manisnya perasaan yang timbul pelan-pelan. Walau harus aku yang lebih dulu melangkah mendekat diam-diam.

Aku tak pernah menyangka akan terbalut dalam sebuah rasa. Kukira awalnya kita hanya berjalan begini saja. Hingga sesuatu hadir di dalam jiwa, terasa begitu damai dan menenangkan lalu melahirkan sebuah asa.
Aku ingin mendapatkan hatimu kalau seandainya bisa. Akan kupeluk erat-erat semua milikmu, selama-lamanya.

Barangkali memang jatuh cinta selalu semendebarkan ini. Barangkali membicarakanmu selalu semenyenangkan ini. Aku selalu larut dalam caramu melengkungkan bibirmu. Aku bahkan merasa aku tak lagi menjadi aku saat sedang menatap dirimu.

Kau terlalu indah untuk tak menjadi milikku.

Kau tak akan tahu, ke mana sebenarnya tulisan ini akan bermuara. Kau tak akan mengerti, kepada siapa tulisan ini bercerita. Kau tak mungkin menyangka bahwa kau adalah jawabannya. Karena kau tak pernah mencari tahu bahwa yang kurasakan semuanya memang benar adanya.

Aku di sampingmu saat kau mencari-cari arti cinta.
Aku selalu di situ, saat kau ingin meluapkan duka.

Hal yang mana yang tak kau mengerti bahwa ketulusanku memang punyamu?
Pada bagian mana yang tak kau pahami bahwa seluruh perasaanku berteriak ingin segera kau pangku?

Aku jatuh cinta denganmu.
Jatuh cinta, dengan ketidak tahuanmu atas segala maksud kalimatku.
February 9, 2018 1 comments

Terlara-lara


Aku lambat mengerti bahwa seluruh yang ada padaku akan hilang suatu saat.
Kukira semua yang memang untukku akan selamanya melekat.
Karena telah kuhabiskan seluruh cinta dan waktuku untuk menjaganya kuat-kuat.
Aku tak tahu kalau jari-jariku tak bisa menggenggam tanganmu dengan erat.


Kini telah hilang semua yang kudoakan selalu ada.
Telah habis semua cinta yang kau punya, tak lagi tersisa. 
Aku adalah perempuan paling dekat dengan nestapa.
Aku bahkan tak bisa mempertahankan yang sangat kucinta.


Begini mungkin akhir dari sebuah penantian.
Kebahagiaan pergi dan menyisakan harapan.
Kalau saja aku bisa kembali ke pelukanmu yang teramat nyaman,
bisakah kau mewujudkannya meski harus berlalu secepat kenangan?
February 6, 2018 0 comments

Biar Kututup Lukamu

Kita sama-sama punya masa lalu.
Sudah banyak pahit manis yang aku dan kamu rasakan sebelum kita bertemu.
Kamu pasti punya banyak luka, kamu pasti telah menerima beribu lara.
Aku ingin datang padamu dan menutup segala keraguan yang ada.
Aku ingin kita bekerja sama, agar kita tak hanya punya cinta, tapi juga rasa percaya.

Izinkan aku memeluk lukamu dengan kesungguhan yang kubawa saat aku datang.
Kepedihan itu mungkin tak benar-benar hilang, tapi biarkan dulu aku berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaanmu tentang, "Bisakah kupulihkan seluruh cacat di hatiku? Bisakah seseorang menempatinya saat hatiku penuh dengan rasa pilu?".

Aku tahu betul rasanya kehilangan.
Menunggu sendirian dalam kekosongan yang panjang hingga seseorang bersedia datang dan mengisi ruang hati yang telah usang.
Aku tahu rasanya dikhianati.
Tercabik-cabik oleh harapan karena ditinggal saat sedang giat-giatnya mencintai.

Aku akan menggantikan dia.
Aku akan menutup seluruh rasa sakit yang dulu pernah kau terima.
Aku akan membahagiakan kamu dengan cara yang berbeda.
Yang akan membuatmu lupa dan melepaskan semua ingatan tentangnya.

Akan kuisi sebagian jiwamu dengan sukacita.
Sebagian lagi untuk kekecewaan yang juga ikut serta.
Karena sesungguhnya, kesedihan diredakan hanya untuk menerima kesedihan yang selanjutnya.
Tapi saat ini mari kita fokus untuk bahagia saja.
Selebihnya biar waktu yang bekerja.
 
;