November 22, 2018

Self Talk

Mengapa aku harus bertanya untuk mengerti hal baru? Mengapa tak semuanya dijelaskan saja tanpa aku merasa penasaran terlebih dahulu? Mengapa harus ada lingkungan baru? Mengapa aku harus beradaptasi? Mengapa aku yang harus meleburkan diri? Mengapa terkadang hanya disediakan pilihan 'ya' atau 'ya'? Mengapa sering kali, menerima adalah satu-satunya jalan keluar yang ada?

Belum apa-apa sudah ada tujuh 'mengapa' dan masih banyak sekali pertanyaan di dalam kepala. Yang kalau aku tulis semua, entahlah akan jadi sepanjang apa.

Jadi, pertanyaan pertama. Mengapa penyesalan selalu terletak di akhir? Mengapa kemungkinan-kemungkinan yang nantinya akan disesali, sering kali lolos dari pemikiran awal sebelum keputusan kuambil? Aku takut kalau akhirnya setiap pilihan yang kuputuskan begitu saja, akan mengantarkanku pada penyesalan yang selalu terlambat dan berlangsung lama.
Menyesal itu perasaan paling menjengkelkan. Aku harus tiba-tiba menyalahkan diriku sendiri atas kesalahan yang pada saat itu masih kuanggap benar. Mau menyalahkan orang lain pun ... penyesalan tetaplah aku yang merasakan.

Kedua. Mengapa setia menjadi hal yang sangat rumit dan sulit, bahkan ketika aku hanya perlu bertahan dan fokus pada satu komitmen bersama seseorang? Mengapa harus menjadi goyah dan ragu pada pasangan setiap kali ada kenyamanan baru--yang bahkan tak ada jaminannya bahwa dia memang benar-benar sayang? Bagaimana kalau dia hanya penasaran? Bagaimana kalau akhirnya dia pergi meninggalkan? Nanti aku lagi yang kehilangan. Kehilangan dua-duanya pula.
Mengapa, sukar sekali memercayai diri sendiri kalau aku bisa melawan kekeliruan-kekeliruan yang berdiri tegak di samping keyakinan hati? Hal-hal itu keliru, tapi, aku masih saja seperti orang bodoh yang ingin tahu. "Bagaimana, ya, rasanya mendua?"
Tolol. Lebih baik kau pergi kawini egomu itu!

Lalu, ketiga. Mengapa menjadi egois terkadang dilarang? Selalu saja ada kondisi-kondisi yang memosisikan aku ada di titik kalah--yang karena rasa gengsi, jadi aku sebut dengan 'mengalah'. Karena kerap kali urusanku terlihat tidak lebih penting daripada milik mereka. Seolah-olah aku ini tak pantas menjadi sebuah prioritas. Padahal, jauh di dalam hati, kalau boleh, aku juga ingin menjadi egois. Aku ingin tidak peduli dengan perasaan-perasaan orang lain. Aku ingin ke sana kemari seenakku sendiri. Aku menginginkan banyak hal yang bisa kulakukan dengan meninggikan ego. Tapi, aku takut hilang kendali dan akan sulit kembali menjadi diriku yang saat ini.

Keempat. Kelima. Nanti saja sisanya. Aku malu kalau harus mengeluhkan semuanya.
Pada akhirnya, ya, aku hanya perlu keluasan hati yang lebih, dari kemarin.
Pada akhirnya, setiap 'mengapa' harus kujawab, kubantah, dan kuselesaikankan sendiri.
Pada akhirnya, yang kuajak bertengkar dan berbahagia, ya, siapa lagi kalau bukan diriku sendiri?

8 comments:

Rudi elek said...

Kata kak naw Selalu mewakili perasaan ku,

I love you so much kak naw

Sucy Rahayu Pratiwi said...

omg :((

Venny Diski Habsari said...

kenapa aku selalu terbawa ketika membaca tulisanmu kak :') dan menangis sejadi-jadinya

Ayu Rusdya said...

wow. wow. your conversation to yourself is extremely deep. such a blessing to know you Naw. :)))

Multia Rahayu said...

Masalah tentang diri sendiri yang benar-benar terwakili

Anonymous said...

Kenapa kamu membuatku selalu masuk pada semua tulisanmu?

Unknown said...

"Bagaimana, ya, rasanya mendua?" Diriku ketika sedang bercermin:((

Limasta Putri said...

Semuanya sama seperti apa yg aku rasakan. Aku juga ingin egois. Tapii itu, aku takut.
Tulisannya memang the best naw. Aku suka

Post a Comment

 
;