August 29, 2018

Self Love

Untuk yang kusayang, diriku sendiri.
Kalau aku harus menentukan siapa yang menjadi pihak terpenting dalam urutan hidupku, jawabku sudah pasti kau. Selama ini, kaupikir untuk apa aku menjadi selalu ingin menang? Untuk apa dulu aku "sendiri" kalau bukan agar kau merasa tenang? Atau, saat ini, untuk apa aku berdua kalau bukan agar kau bahagia?

Aku tahu, kau sedang berada di usia rajin-rajinnya. Rajin belajar, bersekolah, rajin mencari informasi, ilmu, mencari restu, mencari jati diri, rezeki, atau sekadar mencari-cari perhatian seseorang yang tak pernah kaudapatkan sejak dulu. Selama kau percaya yang kaulakukan adalah baik, selama kau punya keimanan untuk hal-hal yang hanya bisa kauyakini dengan baik, lakukanlah, selesaikanlah. Tuai seluruh rasa bangga dari segala apa yang sejak dulu kautanam dengan kerja keras. Kelelahanmu itu berarti, untuk kau mempelajari dirimu sendiri.

Tak usah iri pada kehidupan orang lain yang bahkan kau tak tahu baik dan buruknya. Pikirkanlah walau harus berkali-kali, kau diberikan hidup untuk disyukuri atau disia-siakan dengan hati dan kepala yang panas setiap hari? Percayalah, mereka itu tidak hidup beruntung, kau hanya tak tahu bagaimana perjuangannya. Mereka itu tidak serta-merta punya segalanya, kau hanya tak tahu segiat apa mereka berusaha. "Hidup enak" yang kaubilang itu tak mungkin tak ada durasi dalam prosesnya. Kau bahkan tak tahu selantang dan sepanjang apa doa-doanya.

Untuk yang kusayang, diriku sendiri.
Memang, aku pun setuju, kewajiban paling berat mungkin adalah menerima. Tinggal di lingkungan yang menyakitkan, atau belajar di sekolah yang tak begitu dikenal, atau bekerja bukan pada perusahaan ternama, atau, bahkan hanya menerima kalau kau bukan seseorang yang ingin dia curi hatinya. Sungguh, kalau semua hal tak menyenangkan bisa dan mau ditulis, semua jari-jari manusia pasti sudah mati rasa.

Tapi, tenang. Menerima tidak hanya diperuntukkan bagimu saja. Setiap orang pasti punya titik terendah dalam hidupnya dan mereka pun dituntut untuk menerima. Bedanya, mereka bisa menerima ketentuan-ketentuan dengan lapang dada, kau yang di sini malah masih saja berkutat dengan sumpah serapah atas ketidakberhasilanmu. Kalau sampai setelah ini kau masih sulit menerima, kau, sungguh, benar-benar tak tahu malu.

Untuk yang paling kusayang, diriku sendiri.
Ini pun penting, selagi kau masih bujang, masih belum ada tanggungan lamar-melamar, berlarilah dengan kakimu sampai kau menjadi insan yang paling bebas, berkarya positif tanpa batas, percaya dirilah walau cintamu harus berkali-kali kandas. Jangan terlalu bersandar pada harap-harap atas kriteria pasangan yang akan kaunikahi nanti. Tuhan tahu kau pantas untuk seseorang yang seperti apa.

Aku terlihat bagus bersanding dengannya.
Senyumnya terlihat bagus untuk kukecup setiap paginya.

Tidak sesederhana itu. Pantaskan diri dahulu agar kriteriayang kausebutkan setiap hari di dalam hatiitu boleh menjadi milikmu. Mutiara akan pantas bersama emas atau perak, tidak dengan besi yang dingin dan bau. Jangan lagi meminta banyak hal lalu kesal sendiri kalau tak terkabulkan. Lihat dulu ke belakang, usaha apa saja yang sudah kaulakukan? Jodoh yang kauidam-idamkan tidak begitu saja turun dari langit, harus dijemput. Paling tidak, minimal, sifat, karakter, dan kebiasaan yang kaumau itu sudah ada dalam dirimu sendiri.

Tapi, satu yang harus kauingat, sebebas-bebasnya kau berlarian, kau harus tetap tahu aturan. Karena menjadi muda itu bukan hanya soal tumbuh menua, kau pun harus belajar mengendalikan beban dan tanggungan. Ada pengorbanan waktu, tenaga, dan pengorbanan-pengorbanan lain yang mungkin dulu tak pernah kauduga.

Diriku sendiri, tak perlu jauh-jauh membanggakan dunia, banggakan aku terlebih dahulu. Buat aku percaya kau bisa menaklukan musuh-musuh yang selalu timbul dari dalam hatimu. Bangkitlah gunakan pijakan terkuatmu, bertekadlah gunakan iman-imanmu.

Fokuslah dahulu pada pembelajaran diri, buat dirimu manusia yang paling mengerti dengan kecacatan pun keunggulanmu sendiri. Aku tak kan ke mana-mana. Tuhanmu apalagi, yang punya semua rencana.

Satu lagi, terakhir. Diriku sendiri yang kusayangi, berhentilah khawatir soal jodoh dan rezeki. Sama halnya dengan usia, tiga hal itu sudah disediakan Tuhan untuk kaujemput sendiri. Kau tahu Tuhan tak kan memberikan hal baik begitu saja. Harus ada kemauan dari hamba-Nya.
Ini bukan omong kosong, kau pasti akan menyadarinya nanti. Alasan satu-satunya kau menjalani hidup seperti ini, adalah karena memang hanya kau yang bisa melaluinya, orang lain belum tentu mampu.
Kau benar-benar seistimewa itu.

Oh, iya. Maaf selama ini kau harus terlalu sering mengalah walau tak salah. Maaf kau harus berkali-kali melepaskan yang bahkan belum sempat kaugenggam. Terima kasih karena selalu kuat. Terima kasih karena kau masih hidup dan terus belajar hal-hal hebat.
Aku menyayangimu, sungguh.

11 comments:

Unknown said...

Yuhuuu

Unknown said...

💔💔

Nurul fauzi said...

Ga nyadar, air mata netes baca ini ka naw.. makasih karena tulisanmu selalu mewakili perasaanku💔

Nawang Nidlo Titisari said...

Puk puk. Sama-sama, ya. Terima kasih kembali ❤ *nyodorin tisu*

Rizka Agusfiana said...

deep and i'm in tears😢

Aviani Rahmawati said...

:')

Andi Asmaul Husna said...

ku sedih bacanya kak but i love it!!❤️

Unknown said...

Terimakasih sudah menulis tulisan seindah ini. Penyemangat sekali ❤

Unknown said...

Aku senang berulang kali membaca tulisanmu kak, apalagi sekarang saat sedang rapuh-rapuhnya, rasanya aku ingin tumbuh menjulang dan semakin kuat

Nawang Nidlo Titisari said...

semangat, sayang!

Sherrina B said...

tulisan yang indah 💕 semangat terus kak💖

Post a Comment

 
;