August 29, 2018 11 comments

Self Love

Untuk yang kusayang, diriku sendiri.
Kalau aku harus menentukan siapa yang menjadi pihak terpenting dalam urutan hidupku, jawabku sudah pasti kau. Selama ini, kaupikir untuk apa aku menjadi selalu ingin menang? Untuk apa dulu aku "sendiri" kalau bukan agar kau merasa tenang? Atau, saat ini, untuk apa aku berdua kalau bukan agar kau bahagia?

Aku tahu, kau sedang berada di usia rajin-rajinnya. Rajin belajar, bersekolah, rajin mencari informasi, ilmu, mencari restu, mencari jati diri, rezeki, atau sekadar mencari-cari perhatian seseorang yang tak pernah kaudapatkan sejak dulu. Selama kau percaya yang kaulakukan adalah baik, selama kau punya keimanan untuk hal-hal yang hanya bisa kauyakini dengan baik, lakukanlah, selesaikanlah. Tuai seluruh rasa bangga dari segala apa yang sejak dulu kautanam dengan kerja keras. Kelelahanmu itu berarti, untuk kau mempelajari dirimu sendiri.

Tak usah iri pada kehidupan orang lain yang bahkan kau tak tahu baik dan buruknya. Pikirkanlah walau harus berkali-kali, kau diberikan hidup untuk disyukuri atau disia-siakan dengan hati dan kepala yang panas setiap hari? Percayalah, mereka itu tidak hidup beruntung, kau hanya tak tahu bagaimana perjuangannya. Mereka itu tidak serta-merta punya segalanya, kau hanya tak tahu segiat apa mereka berusaha. "Hidup enak" yang kaubilang itu tak mungkin tak ada durasi dalam prosesnya. Kau bahkan tak tahu selantang dan sepanjang apa doa-doanya.

Untuk yang kusayang, diriku sendiri.
Memang, aku pun setuju, kewajiban paling berat mungkin adalah menerima. Tinggal di lingkungan yang menyakitkan, atau belajar di sekolah yang tak begitu dikenal, atau bekerja bukan pada perusahaan ternama, atau, bahkan hanya menerima kalau kau bukan seseorang yang ingin dia curi hatinya. Sungguh, kalau semua hal tak menyenangkan bisa dan mau ditulis, semua jari-jari manusia pasti sudah mati rasa.

Tapi, tenang. Menerima tidak hanya diperuntukkan bagimu saja. Setiap orang pasti punya titik terendah dalam hidupnya dan mereka pun dituntut untuk menerima. Bedanya, mereka bisa menerima ketentuan-ketentuan dengan lapang dada, kau yang di sini malah masih saja berkutat dengan sumpah serapah atas ketidakberhasilanmu. Kalau sampai setelah ini kau masih sulit menerima, kau, sungguh, benar-benar tak tahu malu.

Untuk yang paling kusayang, diriku sendiri.
Ini pun penting, selagi kau masih bujang, masih belum ada tanggungan lamar-melamar, berlarilah dengan kakimu sampai kau menjadi insan yang paling bebas, berkarya positif tanpa batas, percaya dirilah walau cintamu harus berkali-kali kandas. Jangan terlalu bersandar pada harap-harap atas kriteria pasangan yang akan kaunikahi nanti. Tuhan tahu kau pantas untuk seseorang yang seperti apa.

Aku terlihat bagus bersanding dengannya.
Senyumnya terlihat bagus untuk kukecup setiap paginya.

Tidak sesederhana itu. Pantaskan diri dahulu agar kriteriayang kausebutkan setiap hari di dalam hatiitu boleh menjadi milikmu. Mutiara akan pantas bersama emas atau perak, tidak dengan besi yang dingin dan bau. Jangan lagi meminta banyak hal lalu kesal sendiri kalau tak terkabulkan. Lihat dulu ke belakang, usaha apa saja yang sudah kaulakukan? Jodoh yang kauidam-idamkan tidak begitu saja turun dari langit, harus dijemput. Paling tidak, minimal, sifat, karakter, dan kebiasaan yang kaumau itu sudah ada dalam dirimu sendiri.

Tapi, satu yang harus kauingat, sebebas-bebasnya kau berlarian, kau harus tetap tahu aturan. Karena menjadi muda itu bukan hanya soal tumbuh menua, kau pun harus belajar mengendalikan beban dan tanggungan. Ada pengorbanan waktu, tenaga, dan pengorbanan-pengorbanan lain yang mungkin dulu tak pernah kauduga.

Diriku sendiri, tak perlu jauh-jauh membanggakan dunia, banggakan aku terlebih dahulu. Buat aku percaya kau bisa menaklukan musuh-musuh yang selalu timbul dari dalam hatimu. Bangkitlah gunakan pijakan terkuatmu, bertekadlah gunakan iman-imanmu.

Fokuslah dahulu pada pembelajaran diri, buat dirimu manusia yang paling mengerti dengan kecacatan pun keunggulanmu sendiri. Aku tak kan ke mana-mana. Tuhanmu apalagi, yang punya semua rencana.

Satu lagi, terakhir. Diriku sendiri yang kusayangi, berhentilah khawatir soal jodoh dan rezeki. Sama halnya dengan usia, tiga hal itu sudah disediakan Tuhan untuk kaujemput sendiri. Kau tahu Tuhan tak kan memberikan hal baik begitu saja. Harus ada kemauan dari hamba-Nya.
Ini bukan omong kosong, kau pasti akan menyadarinya nanti. Alasan satu-satunya kau menjalani hidup seperti ini, adalah karena memang hanya kau yang bisa melaluinya, orang lain belum tentu mampu.
Kau benar-benar seistimewa itu.

Oh, iya. Maaf selama ini kau harus terlalu sering mengalah walau tak salah. Maaf kau harus berkali-kali melepaskan yang bahkan belum sempat kaugenggam. Terima kasih karena selalu kuat. Terima kasih karena kau masih hidup dan terus belajar hal-hal hebat.
Aku menyayangimu, sungguh.
August 18, 2018 2 comments

Kekeliruan Rasa

Ada yang lebih hangat dari mentari pagi.
Terbit bukan dari timur, tapi dari dalam hati.
Ada hasrat ingin menyapanya dari selatan.
Yang tak akan sanggup kuutarakan.

Sungguh dua kaki ini tak berarti.
Jalan melewatinya saja aku tak berani.
Sore kini terasa sia-sia.
Senja kini terasa seperti hanya sebuah nama.

Warna putih perlahan mulai memerah.
Seperti kedua pipi saat senyumannya merekah.
Jatuh cinta memang tak pernah tak terasa indah.
Termasuk bahkan perasaan yang sudah ditolak mentah-mentah.

Luka-luka membias di kerling mata.
Mohon ampun agar tiada sakit yang lebih menyiksa.
Aku sungguh, menyukainya.
Dan hal sialan itu terus tumbuh, pada kekeliruannya.

Ingin memaksa, tapi tak kuasa.
Jelas satu rasa bukan untuk aku saja.
Sekarang timbul kembali kata tanya "mengapa".
Mengapa aku merasa berdosa ketika aku hanya jatuh cinta pada teman lama?

Barangkali persahabatan terlalu erat.
Barangkali jalinan cinta akan terlalu mengikat.
Demi jarak yang amat dekat,
terbukakah matamu untuk aku yang tak sengaja terpikat?

Sesederhana itu perasaanku.
Baru tumbuh satu sudah dicabik waktu.
Apa jadinya saat berjumlah seribu?
Apa kemerdekaan memang bukan milikku?

Harapan kini tinggal hembusan angin.
Tertiup lepas, kalah dari kekuatan "amin".

Apalah arti janji walau sekokoh raksasa?
Kalau hingga detik ini pun hatinya tak kunjung peka.

Sudah lama aku hidup dalam hitam kelam kehilangan.
Kertas sudah penuh dengan caci-makian.
Kini, setelah aku ternyata menemukan,
bodohnya aku, dia adalah seorang teman.

Satu hal terakhir.
Kalau teman memang hanya untuk menjadi teman, tolong jelaskan perasaan apa yang kini sedang semesta limpahkan.
Benarkah ini hanya untukku sendiri?
Tak adakah sisa untuk dia nikmati?
August 9, 2018 9 comments

Keluh

Aku benci dengan kata "mulai". Lebih benci dengan saat-saat sebelum memulai. Hal-hal baru selalu kuanggap menyebalkan karena prosesnya pasti panjang. Padahal aku ingin seluruhnya sesingkat merebus mi instan. Aku benci harus merangkak sebelum berjalan. Aku ingin langsung berlari begitu aku mengepalkan tangan.

Aku benci ketika seluruh keyakinan lenyap tiba-tiba, pergi dariku, lepas dari pelukan doa-doa. Percuma rasanya aku merangkai tekad sebulat-bulatnya.
Aku ingin berhenti khawatir pada takdir yang terus mengalir. Aku ingin berhenti mencari tahu, ingin membunuh tanda tanya baru, ingin berhenti haus akan jawaban. Aku ingin menghapus kata "mengapa" atau "bagaimana bisa". Aku ingin dunia berhenti memakai kata "kapan" setelah membanding-bandingkan. Aku benci dengan perbandingan. Karena salah satu harus terpaksa terlihat kurang agar satunya bisa diunggulkan.

Aku ingin hidup setingkat di bawah Tuhan dan orangtua. Tak ingin ada bos, atasan, ketua, atau penguasa. Iya memang, mereka pun pasti memulai dari anak tangga pertama, persis di tempat ini--tempatku berada. Tapi melihat mereka yang selalu seenaknya sendiri, aku menjadi ingin sering berdoa. Mendoakan mereka berhenti menjadi manusia.

Aku ingin kembali menjadi anak kecil berumur empat tahun, saat orang-orang bahagia melihatku membaca. Pasti bahagia sekali saat itu bisa menyenangkan orang-orang dewasa. Karena setelah aku tahu, tinggal di usia kepala dua benar-benar menguras waktu dan tenaga. Aku hampir selalu dituntut untuk mencari hiburan selain liburan. Apa pun di mana pun, asal aku bisa keluar dari area pekerjaan. Yang menuntut? Tentu diriku sendiri.

Aku butuh teman untuk berbicara, tapi aku benci dengan ekor cerita. Karena selalu ada mulut yang mengikuti. Artinya, aku benci dengan sebuah topik yang merembet ke mana-mana. Mulainya apa, akhirnya apa. Disambung-sambung terus, tak juga jera.
Sampai rasanya seluruh kalimat tentang ekonomi, cinta, politik, janji, dan lain-lainnya, ingin kuberi titik sebesar jagad raya.

Aku ingin kedamaian untuk entah apa yang kini sedang riuh di pangkal hati.

Aku ingin mereka yang datang akan menetap walau tak bersumpah. Kurasa diam bertahan walau tak memberikan apa-apa itu tidak terlalu susah.

Aku ingin melimpahkan maaf untuk diriku sendiri. Salah setitik atau sebelanga, aku ingin segera menganggap itu semua tak pernah terjadi. Aku bosan menganggap diriku adalah penyebab dari tiap-tiap kekacauan. Harus berapa kali aku tersesat dalam pikiran dan kebodohan yang menyesatkan? Bukannya menyelamatkan diri, aku malah terjun ke dalam jurang.

Aku mungkin adalah satu di antara milyaran perempuan yang Tuhan tuntut untuk mengerti. Bebanku harus kunikmati agar tak menyiksa nurani. Aku harus tahu diri, dan tahu arti--apa guna diciptakan pundak dan kaki.

Aku ingin merdeka.
Bebas, tak terkurung dalam nestapa.
Aku ingin berlayar berujung samudra. Pasifik atau pun Hindia, asal lautnya membuat jiwa tenang saat itu juga.

Aku ingin, aku--yang selalu mengeluh ini--tahu, bahwa, anak sekolah saja paham, tugas itu untuk diselesaikan. Mereka tahu, masalah itu untuk dipecahkan. Bukan untuk dikeluhkan dan dituangkan dalam barisan-barisan kemarahan. Aku seperti sedang berperang tapi tak tahu dengan apa dan atas alasan apa. Terus-menerus merasa kalah tapi tak ada pemenangnya.

Sudah. Aku sudah punya banyak keluhan. Yang belum punya hanyalah ampunan. Serta cara untuk berhenti mengeluhkan keadaan.

Benarkah bersyukur adalah satu-satunya jalan?
 
;