December 14, 2017 8 comments

Datang dan Pergimu

Butuh waktu lama untuk mencari cara agar aku bisa sepenuhnya melupakanmu. Kau tidak sepatutnya datang dan pergi seperti ini. Karena kau tahu aku tak akan pernah bisa menolak untuk menyambutmu. Karena kau tahu aku juga tak bisa berbuat apapun saat kau pergi lagi.

Mungkin lucu bagimu bisa masuk dan keluar dari hidupku sesederhana itu. Mungkin kau belum atau tidak tahu, kesanggupanku atas datang dan pergimu itu karena aku punya rasa cinta yang jauh lebih besar dari kamu. Hingga untuk menjadi benci pun aku tak mampu. Apalagi merelakan kau yang nanti benar-benar menghilang dariku.

Aku tak cukup berani untuk menahanmu pergi.
Aku tak cukup lancang untuk memintamu datang.
Aku pun belum menyiapkan diri
Untuk sebuah waktu saat kau putuskan tuk menghilang.

Semoga kau lekas mengerti, apa arti ketulusanku selama ini.
Menanti bukan hal yang mudah, tapi aku yakin pilihanku takkan salah.
Untuk sebuah cinta, aku hanya perlu menerima.
Lalu berkorban, sebesar tekad aku ingin memenangkan.

Hatimu bukan hal yang bisa aku bawa dan kunci semauku. Aku tak pernah punya hak setinggi itu. Tapi aku tahu dengan diriku sendiri. Aku bisa memerjuangkanmu lebih dari ini.

Teruskanlah permainanmu, kau pasti temukan akhir dari datang dan pergimu.
Entah itu memilih untuk tinggal dengan hatiku, atau pergi dan tak kembali lagi.
November 27, 2017 3 comments

Sebuah Anugerah

Dicintai kamu, adalah pemberian Tuhan paling istimewa. Membuatku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia. Aku tidak perlu khawatir dengan apapun karena disampingmu aku selalu bisa menjadi diriku. Aku menangis dan tertawa di depanmu. Kamu selalu tahu cara menyelesaikan amarahku. Kamu yang paling mengerti keegoisanku. Aku mencintaimu.

Dijaga denganmu, adalah hal yang harus aku syukuri. Bersama kamu aku merasa tidak perlu lagi takut diganggu. Kamu adalah tameng tertampan yang aku miliki. Kamu adalah tempat ternyaman untukku bersembunyi.

Aku tidak peduli dengan awalnya. Bagaimana akhirnya kita putuskan untuk saling jatuh cinta. Aku tidak peduli rasa cintamu akan bertahan sejauh mana.
Biarlah yang aku tahu saat ini kamu menyayangiku sebesar kamu mencintai dirimu sendiri.

Terima kasih karena kamu telah memilihku untuk kau cintai. Karena kamu telah memilihku menjadi lawan bertengkar setiap hari. Karena kamu membuatku merasa dimiliki.
Terima kasih karena kamu telah membuat hatiku tidak berbunga-bunga seorang diri.
Karena kamu membalas perasaanku, bahkan lebih besar dan lebih banyak dari yang aku miliki.

Aku tidak pernah sebahagia ini. Mencintai seorang laki-laki yang begitu mencintaiku.

Kamu ini anugerah terindah.
Mudah-mudahan kamu bisa selalu jadi rumah

Untuk segala keluh dan kesah.

Selama kamu menganggapku ada
Kupastikan perjuangan kita selama ini tidak akan sia-sia.
November 12, 2017 5 comments

Terjebak pada Sebuah Masa

Aku terjebak pada sebuah cerita. Saat sebuah masa masih menjadi milik kita berdua.
Saat yang kita nikmati bersama adalah tawa, bukan air mata. Saat aku masih menjadi perempuan yang kau cinta. Hingga kau memutuskan untuk pergi menyisakan kenangan kita di depan mata.

Senyummu masih terlukis jelas. Menggambarkan kasih sayang yang paling ikhlas. Saat senyummu berjanji agar kita tak saling lepas. Hingga semuanya berubah, sejak hari itu, sejak aku tak lagi kau jadikan sebagai sebuah prioritas.

Tanganku masih hafal rasanya kau genggam. Saat kau berjanji ingin terus menuntunku berjalan bila pandanganku memburam. Tapi perlahan kau ciptakan luka yang dalam. Kemudian pergi meninggalkan tanpa memberi salam.

Gambar wajah kita masih aku simpan. Agar aku ingat kita pernah sampai pada sebuah kebahagiaan. Agar aku tak kehilangan akal saat aku mulai merindukan. Saat harapanku, hanyalah sebuah harapan.

Lidahku kelu. Masih kusimpulkan ini bagian dari mimpi burukku. Aku tahu suatu waktu aku akan terjaga dan kembali melihatmu. Meski dengan kenyataan bahwa kau bukan lagi milikku.

Melupakanmu tak pernah mudah. Karena kita dulu begitu indah.
October 24, 2017 10 comments

Tanpa Status

Sejak dulu, tiap kali hatiku dimenangkan seorang laki-laki, aku selalu diberi kejelasan, tanpa harus meminta.
Selalu jelas bahwa dia milikku dan aku miliknya.
Sama sekali tidak pernah terpikir untuk menjalani sebuah hubungan tanpa status—yang hanya ada komitmen di dalamnya untuk saling mencinta dan menjaga. Tanpa penjelasan kepada dunia dua orang ini sedang dalam hubungan apa.

Lalu kamu meminta masuk dalam hidupku.
Menjadi bagian kecil dalam hatiku.
Seorang laki-laki yang jelas beda sifat, karakter, dan prinsipnya dengan yang dulu-dulu.

Jatuh cinta yang kali ini, aku juga punya toleransi.
Ketika kamu memintaku sepakat dengan keputusanmu untuk menjalani hubungan tanpa sebuah status, aku pikir awalnya tidak akan berhasil.
Bagaimana jika suatu saat, dengan tidak adanya status yang menjaga kita, kau bisa seenaknya menebar pesona pada perempuan-perempuan di sana?
Bagaimana jika nanti kau menganggapku mudah hanya karena aku sudah terlanjur cinta?

Aku seragu itu sebelumnya, tapi sekarang kau benar-benar buktikan bahwa kita bisa menjalaninya.

Tanpa dunia harus tahu, kita tetap dua insan yang saling mencinta.
Tanpa harus dijelaskan, kita tetap tahu hati ini milik siapa.

Semua kebahagiaan kita adalah milik kita berdua.
Semua masalah yang ada, pun masalah kita berdua.
Yang harus kita selesaikan, yang harus kita cari jalan keluarnya.
Tanpa campur tangan dia, ataupun mereka.
Mereka tak perlu mengerti komitmen seperti apa yang kita jaga.
Karena sejatinya yang kita butuhkan bukan pengakuan dunia.
Tapi rasa cinta yang nyata.
Yang ada bentuknya.
Yang ada buktinya.

Menyayangi setulus-tulusnya.
Memberi tanpa ingin menerima.
Menjaga hati dan kepercayaanmu hingga saat ini, walau dunia melihatku seperti seorang perempuan yang terus sendiri.
Karena untuk mencintai, aku hanya butuh hatimu untuk kumiliki, bukan hubungan yang harus terpublikasi.


Aku akan terus berada di titik ini, untuk bersama denganmu. Bahkan ketika kamu memilih untuk menjalani sebuah hubungan tanpa status denganku.
October 22, 2017 9 comments

Tersandung Jarak

Semakin lama kita terhalang jarak, semakin mengesalkan.
Semakin aku merasa kita telah terbiasa untuk melakukan segala hal sendirian.

Kita dibuat menjadi semakin jauh, oleh kesibukan-kesibukan.
Kita semakin dikuasai prasangka-prasangka tanpa alasan.
Aku semakin takut kau tinggalkan, aku takut kau mengakhirinya karena bosan.
Karena aku selalu merinduimu, dan membahasnya pada setiap percakapan.

Jarak ini membuatku gila.
Aku ingin kau tiba-tiba berada di sampingku saat aku berdoa.
Saat aku meminta agar kau datang menemuiku hari ini juga.

Bukannya tidak percaya, tapi perasaanku ini bukanlah sebuah dusta.
Sekali aku menjatuhkan diriku pada sebuah cinta, itu akan bertahan untuk waktu yang sangat lama.
Tanpa mengapa dan bagaimana bisa.

Dan berada jauh darimu, membuatku khawatir dengan hal-hal sederhana.
Bertanya-tanya sendiri soal seberapa banyak usahamu mencari cara untuk selalu jatuh cinta denganku, seberapa sering kau rindu aku, seberapa kuat kau menahan diri untuk tidak menoleh pada cinta yang baru.

Kau tahu tidak, mengapa aku bertindak sampai sejauh ini?
Mengapa aku terlalu banyak bicara soal jarak?
Mengapa aku terlihat sebegitu tidak percayanya dengan kesungguhanmu pada sebuah hubungan yang hanya mengandalkan percaya dan pasrah?

Aku pernah sangat percaya pada seseorang.
Dulu hubungan kami pun berjalan seperti ini; terbatas layar.
Awalnya ku kira jarak tidak akan memengaruhi apapun.
Ternyata, hanya karena jarak, dia berubah.
Dari yang dulu tak ingin kehilanganku, menjadi pergi menghilang dariku.

Lalu aku pun berubah, jarak membuatku menjadi tak pernah baik-baik saja.
Karenanya, aku mau itu cukup terjadi sekali.
Jangan terjadi lagi.
Jangan sampai kamu juga menyerah dan pergi.
October 8, 2017 12 comments

Pengkhianatan

Lucu, saat hubungan kita tiba-tiba terhenti persis sekali seperti apa yang kemarin kamu minta.
Kau datang padaku, kau minta aku melengkapimu, kau pula yang pergi menjauh dari jangkauanku.

Terakhir kau bilang kita lebih baik jadi teman saja.
Kemudian setelah itu kau menjadi sejengkal lebih jauh, dan lebih jauh. Terus lebih jauh hingga harus kulepaskan genggamanku.
Kau, telah membentangkan sebuah jarak yang luas di tengah kita tanpa persetujuanku.

Sebenarnya kau ini benar-benar lupa atau cuman pura-pura lupa?
Dulu saat kita sepakat untuk saling jatuh cinta, kau janjikan padaku sejuta rasa; damai dan bahagia untuk waktu yang sangat lama. Tapi belum sempat kau tuntaskan janjimu, yang kuterima kemudian hanyalah luka, dan luka.

Kau bilang padaku bahwa aku satu-satunya. Tapi nyatanya, ada dia dan dia.
Kau bilang padaku kita harus saling menjaga perasaan dan kepercayaan. Nyatanya kau satu-satunya yang menciptakan pengkhianatan.
Apa aku ini terlalu gampang kau dapatkan? Sehingga aku menjadi terlalu gampang kau main-mainkan?
Aku ini apa buatmu?
Pelampiasan?

Kau mungkin tak mengerti, sekuat apa dulu aku bertahan agar kita tak saling kehilangan.
Tapi rasanya percuma menjelaskan, kau selalu anggap usahaku adalah nol; berwujud tapi tak bernilai.

Lalu atas semua itu, kau vonis aku penyebab pecahnya hubungan kita. Kau sebar-sebarkan berita akulah pendosanya. Kau tulis keburukanku tanpa jeda.
Kau lakukan ini dan itu hanya untuk membangun citra. Karena kau tak mau terlihat buruk di depan mereka.

Tapi setelah waktu berlalu, aku kembali pada aku yang seharusnya.
Tak ada lagi luka, tak ada lagi air mata.
Tak ada gunanya.

Toh, yang kau berikan padaku dulu semuanya dusta.
September 27, 2017 33 comments

Kukira Aku

Aku kira ini ketertarikan, ternyata hanya sebuah perhatian yang kuterima dengan nyaman. Lalu kuakui itu sebagai harapan. Aku pikir dia hanya datang kepadaku dan akan terus menetap. Ternyata aku telah keliru. Ternyata aku hanya terlalu hebat dalam menciptakan segenap ekspektasi dengan hatiku.

Aku kira dia bersedia memperjuangkanku sesiap aku berjuang untuknya. Ternyata tidak. Dia tidak pernah mau memperjuangkan hal-hal yang bukan kebahagiaannya. Dan tentu, baginya, aku bukan sebuah kebahagiaan. Yang dia cari-cari bukanlah aku. Aku bukan sebuah kebutuhan. Aku hanya... sebuah pertanyaan tanpa jawaban.

Aku selalu menunggu kabarnya, dengan senang hati kujadikan dia prioritasku. Aku lakukan itu terus-menerus. Kupikir dia akan luluh dan menjadikanku orang yang juga harus diprioritaskan. Ternyata, dia, menjadikanku sebagai pilihan saja tak pernah terpikirkan, apalagi menomorsatukanku.

Aku kira dia mulai menjadi sayang karena denganku dia tak pernah menolak untuk berbincang.
Lalu ketika dia mulai berhenti menghubungiku, kupikir aku telah melakukan sebuah kesalahan. Nyatanya dia tak pernah menganggapku lebih dari seorang teman.

Ketika aku mencoba menghilang, aku pikir dia akan merindukanku sebanyak aku. Ternyata sejak kepergianku, hingga aku datang kembali, tak pernah sekalipun tersirat olehnya untuk mencariku.

Sekarang aku tahu, kalau dari awal, nama yang dia sematkan, bayangan yang dia cari-cari, rindu-rindu yang dia teriakkan, bukanlah aku.


Selama ini kuanggap dia rumah, ternyata baginya aku hanyalah seorang bocah yang berulah. Perasaanku tak pernah dianggap nyata. Ketulusanku tak pernah dianggap ada.
September 25, 2017 4 comments

Nanti

Untukmu laki-laki yang akan kutemani seluruh hidupnya.
Kalau nanti waktunya telah tiba, setiap hari setelahnya, kamu akan terus melihat seorang perempuan dengan tulisannya, karena dia akan menulis hingga tua, denganmu. Setiap hari kamu akan mendengarkan semua keluh kesah dan manjanya. Kamu akan mendengarkan kalimat-kalimat sederhana seperti “aku pingin sate ayam”, “ya Allah jerawat”, “yang, aku gendutan ya?”, atau “Mas, aku laper” setiap hari. Walaupun aku tahu nanti kau akan bosan dan mengabaikanku, mudah-mudahan kamu tidak akan pernah mengkhianati bahkan meninggalkanku.
Karena aku menginginkan ini hanya sekali, seumur hidupku. Aku ingin ini benar-benar akan menjadi sebuah ikatan yang sakral. Yang sekalipun kau atau aku telah mati, kita masih menyandang status suami dan istri.

Untukmu laki-laki yang akan menyempurnakan separuh agamaku.
Kalau nanti kita diberikan izin untuk terus beribadah bersama, meraih restu dan hidayah-Nya berdua, aku ingin terus menjadi makmum untuk setiap salat wajib dan sunnahmu.
Berbakti penuh karena kamu menjadi pemimpinku. Karena kita terikat untuk saling melengkapi. Untuk saling membenarkan yang keliru. Untuk saling memperbaiki yang belum baik. Untuk saling menguatkan yang jatuh. Untuk saling menyayangi karena ini bukan lagi soal aku dan kamu, ini soal kita berdua.

Untukmu yang akan menjagaku dan akan kujaga seumur hidupnya.
Kau tahu? Ayahku adalah laki-laki yang telah mencintaiku bahkan saat aku belum dilahirkan. Ia membesarkanku dengan sangat baik. Ia mengenalkanku dengan kasih sayang. Ia selalu memantau dengan laki-laki seperti apa aku berteman. Kami memang tidak seakrab anak-ayah yang lain, tapi aku sangat menghormatinya. Saat ia setuju untuk menyerahkanku padamu, bukankah itu karena ia menganggapmu adalah seorang laki-laki yang baik? Bukankah itu karena ia yakin kamu akan menjaga dan memperlakukanku sebaik yang ia selalu lakukan?
Hormati ia seperti aku menghormatinya, seperti kamu menghormati ayahmu. Jadilah seperti mereka yang begitu mencintai keluarganya. Aku selalu terkagum-kagum pada laki-laki yang mau bertanggung jawab, yang mau mengorbankan dan memperjuangkan keluarganya seolah-olah ia sedang menyelamatkan dirinya sendiri.

Untukmu yang akan terus duduk di sampingku, menggenggam tanganku, pun kepercayaanku.
Kau tahu aku terlalu mudah terkesima pada hal-hal baru. Aku suka dengan tempat-tempat baru. terlepas dari, akan betah atau tidak, jauh atau dekat, dua hari atau dua bulan.
Dimanapun, selama aku bersama kamu, tak akan ada alasan untuk menyesalinya. Maka sebisa mungkin, ajak aku mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah aku tahu. Bawa aku pergi ke tempat-tempat menyenangkan. Untuk melihat kebesaran Tuhan, untuk kuingat sebagai bahan cerita saat kita menua.
Kita harus selalu bahagia.
Kita harus menjelajah dunia.

Untuk kamu yang saat ini masih hidup dalam duniamu.

Aku tunggu, dua atau lima tahun lagi. Saat kamu benar-benar bersedia untuk tak hanya mencintaiku, tapi juga membahagiakanku, menafkahiku, melindungiku, mencukupiku, menemani untuk selalu menyeimbangkan dunia dan akhiratku.
September 23, 2017 6 comments

Friendzone

Friendzone. Saat dia menganggapmu teman, padahal kamu berharap lebih.

“Kak Naw, bikin tulisan tentang friendzone dong!”
Okay, Let’s do this!

Semoga nggak akan terhapus lagi karena tulisan yang dulu terpaksa dihapus, ada yang bacanya cemburu gitu deh, padahal ini cuman pengalaman masa lalu, cuman bahan ajar untuk masa depan. Biar lain kali nggak perlu dulu berharap lebih, biar lain kali bisa menahan diri buat nggak keburu baper.

Baiklah. Waktu SMA dulu, aku ada di posisi ini. Kenapa ceritanya dulu banget pas SMA? Karena setelah kejadian itu, perasaanku nggak pernah lagi masuk friendzone. Nggak pernah lagi. Selalu terbalas. Cie.

Tahun 2011, aku masuk di SMA yang dulu Ayah aku juga sekolah di sana. Belum apa-apa, aku sudah membuat prestasi: mendapatkan seorang laki-laki untuk kuincar di kelas. Karena waktu itu dia terlihat yang paling “bener” tampilannya. Yang lain, ya gitu deh.
Entah gimana awal kenalnya, ingatanku langsung loncat saat tiba-tiba aku dan anak itu ­bertukar pesan alias SMS-an. Waktu itu masih zaman pake SMS, chatting cuman adanya di Facebook. Awal ketemu aja sudah bikin kesemsem, bisa di SMS dia tiap hari apalagi. Demi panjangnya sebuah percakapan, aku rela mikir keras untuk bahasan selanjutnya. Padahal sekarang enggak. Kalau si cowok nggak punya bahasan, biar dia yang mikir, aku terima beres aja. #SorryNoSorry nih. Ehehe. Ehe :)

Atas percakapan yang menghabiskan pulsa lumayan itu, aku merasa ada kemajuan, dia satu ekstrakurikuler sama aku. Ahay! Makin sering nih bos, ketemunya! :p
Selama kenal dengan anak itu, nggak jarang akhirnya aku ke kantin bareng, berangkat ekstra Pramuka bareng, duduk sebelahan, ketawa bareng. Sampai ada saatnya mulai ada satu temen yang peka. Dia tahu kalau aku naksir sama anak itu. Dih! Ko bisa tau sih? Bahaya nih kalo dia bocor. Ancaman terdeteksi!
Tapi aku teteup kaleum. Siapa tahu anak itu juga sebenarnya naksir aku. Semakin hari, semakin aku pepet dia. Aku belikan dia es krim, aku belikan dia coklat. Tapi bukan yang tiba-tiba datang ke hadapannya langsung ngasih, bukan. Aku beli dua, aku pura-pura makan di depannya sampai dia lihat aku, saat matanya mulai tertuju dengan coklat dan eskrim dalam genggamanku, aku menawarinya.
“Mau?”
Kalau dia mau, aku langsung senyum-senyum kegirangan dalam hati, balik badan, terus... Asik! Sogokan mayan juga nih, buat bahasan nanti di rumah kalo dia bilang makasih.
Iya, aku selicik itu, iya.
Tapi karena dia nggak selalu mau, karena ada waktuya juga dia nolak. Maka aku siap untuk mengantisipasi. Di depannya aku sok bilang “Ya udah! Aku makan sendiri dua-duanya”, tapi dalam hati, yaaaah, padahal beli udah dua. Yaaah, gagal. Yaaah rugi. Yaaah.

Dulu, nggak ada alasan buat nggak suka dengan anak itu. Manisnya dimana-mana. Senyumnya manis, tingkah lakunya manis, cara jalannya manis, cara nolehnya manis. Banyak manisnya, seolah bisa untuk cadangan tahun-tahun ke depan saat pelajaran sekolah mulai terasa pahit.
Nggak memungkiri juga, aku mulai berani sayang dengan dia. Aku mau terus lihat senyumnya, aku mau terus dengar suaranya, aku mau terus bicara sama dia, aku mau dia selalu ada untuk aku.
Semakin lama juga aku merasa kami semakin dekat. Jalan berdua itu bukan sekali dua kali lagi. sampai naik kelas dan naik kelas lagi.
Pernah waktu itu, saat kami jalan berdua, kami bertemu adik kelas yang kebetulan kami bertiga saling kenal, dan dia menyebarkan gosip yang jelas hoax tapi indah: katanya, Kak Nawang dan Kak “itu” pacaran. Astaga bahagianya bukan main. Tapi yang membuat janggal, dia menanggapi hal itu seperti itu memang benar-benar bahan candaan, padahal aku nggak.

Dari situ, aku mulai ragu dengan perasaannya, aku mulai ragu dengan semua tawa, kebaikan, dan perhatiannya.

Ternyata benar, pada suatu waktu, saat seorang teman (yang di awal tadi menyadari perasaanku) mulai membahasnya dengan anak itu, dia mengatakan hal-hal yang tidak pernah aku inginkan ada.

“Hahaha. Aku ini cuman temen sama Nawang. Aku sering jalan bareng dia karena dia diajak kemana-mana nemenin aku mesti mau”

Deg.

Belum pernah aku merasakan yang seperti ini.
Dia cuman menganggap aku sebagai teman ketika aku telah benar-benar menyayanginya.

Ternyata, yah... Beberapa bulan setelah pernyataan itu, saat kami kembali jalan berdua, dia bercerita tentang seorang perempuan yang sedang dia dekati.
Oh, jadi bener. Kamu dari awal cuman ngeliat aku sebagai temen, nggak pernah ngeliat aku sebagai seorang perempuan.

Setelah itu aku putuskan untuk tidak jatuh lebih dalam lagi.




Tamat. Yey :p
September 16, 2017 2 comments

Jatuh Cinta

Kurasa aku telah jatuh cinta.
Karena setiap kudengar namanya, sebutan itu tidak pernah memekakkan telinga. Setiap kali kutatap matanya, mereka seperti mau berjanji untuk sebuah ketulusan yang nyata.
Tiap kali dia bercerita untukku, pipiku mengangkat kemudian mengembang begitu saja tanpa ragu.
Tiap kali dia tersenyum, astaga, rasanya hatiku akan meledak saat itu juga.

Kurasa aku telah jatuh cinta.
Mataku telah terkunci pada arah dirinya.
Wajahnya itu tak akan pernah kujadikan sia-sia.
Tapi ini jelas bukan hanya wajahnya, kurasa aku telah jatuh cinta pada semua aspek yang ada padanya. Rasanya dengan terus memandanginya pun tak akan mampu menghentikanku yang semakin hari semakin merasakan candu atas dirinya.

Lalu senyumnya. Senyumnya itu. Senyuman yang hanya ada satu di dunia. Yang diciptakan begitu pas, cocok, dan tanpa kekeliruan. Bagiku itu adalah lambang keikhlasan, karena untuk soal senyuman, dia tak pernah memaksakan.
Dan saat itu, matanya ikut tersenyum. Seolah membawaku larut dalam pandangannya. Begitu menenangkan karena kulihat penuh sekali arti di bola matanya.

Cara dia menatapku, bagiku adalah caranya mengambil seluruh hati dan pikiranku. Karena saat aku merasa telah jatuh cinta, aku merasa bodoh dan semuanya menjadi tidak masuk akal dalam beberapa waktu.

Aku ingin terus dilihat menjadi perempuan yang sempurna meski sejatinya tak akan pernah bisa, tapi aku ingin, menjadi perempuan yang bisa melakukan apa saja, yang akan membuatnya kagum dan jatuh cinta, sedalam aku.
Aku ingin menjadi kuat seperti perempuan yang mandiri, tapi aku ingin menjadi lembut, seperti perempuan yang ingin dilindungi. Aku ingin saat dia bertemu denganku, dia selalu punya alasan untuk tersenyum, seperti aku. Entahlah, saat aku jatuh cinta, semua hal-hal ini turut muncul dalam otakku.

Dan, kurasa aku telah benar-benar jatuh cinta. Menulis tentangnya seperti ini selalu membuatku tersenyum, sendiri, pada tulisanku.

Teman-teman, apa iya jatuh cinta itu definisi lain dari gila?

Tapi saat aku jatuh cinta, hatiku terbawa begitu saja. Tiba-tiba aku menjadi lebih sabar dari biasanya, lebih tabah dan lebih bisa menerima, tiba-tiba dia menjadi dunia yang aku cari-cari sebelumnya.

Kurasa benar. Aku telah jatuh cinta sebegitu dalamnya. Karena, bukankah itu tidak masuk akal untuk menganggap marah dan cemburunya terasa begitu manis?
Semakin dia cemburu karenaku, aku semakin merasa dijaga. Semakin dia menjadi dingin dan kaku, aku semakin ingin berlari menemuinya. Semakin dia menjadi manis dan romantis, astaga, rasanya aku hanya ingin menyuruhnya diam, kemudian membungkus dan membawanya pulang.


September 13, 2017 0 comments

Jarak

Sejak sore tadi, saat aku melihatmu pergi jauh dari jangkauanku, saat itu aku menyadari bahwa ternyata aku telah membenci sesuatu.
Aku membenci jarak, ia membuatmu jauh dariku.
Kata orang, selayaknya sebuah jeda, jarak itu harus ada.
Tanpa jarak, sebuah kalimat juga takkan terbaca dengan mudah.

Tapi tidak begitu bagiku. Jarak membuat rinduku yang awalnya biasa-biasa saja, terasa menyesakkan karena menemuimu menjadi tak semudah dulu. Jarak membuat senyummu yang awalnya selalu bisa kunikmati, jadi hanya tertulis menjadi titik dua dan tutup kurung seperti ini :)

Sejak sore tadi, aku menyadari bahwa daripada melihatmu pergi, lebih baik aku menunggumu kembali. Karena pergi membuatmu jauh. Tapi dengan menunggumu kembali, kau yang mendekat padaku menjadi hal yang pasti.

Berkat jarak ini, kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Iya, aku mengerti, aku harus mempercayaimu, tapi kenyataannya tak bisa semudah itu. Entah karena kita yang telah terbiasa bersama, entah karena aku yang terlalu cinta, tapi sungguh, jarak ini begitu menyiksa.

Aku terus menulis rindu berkali-kali, tetap tak bisa membuatmu di sini.
Aku terus mengeluh ingin bertemu, tetap tak bisa memangkas tiap kilometer yang memisahkan kamu denganku.

Rindu ini tak semestinya kuhabiskan sendiri, kemarin aku masih memilikimu untuk berbagi, tapi kini tidak lagi, setelah kau pergi. Setelah kita menjadi dua orang dengan urusan masing-masing.

Apa kau tau apa yang membuatku menjadi tidak menyukai jarak?
Aku khawatir, kau menjadi terbiasa tanpaku. Sedangkan aku? Aku sama sekali tidak pernah memikirkan itu akan terjadi suatu saat nanti. Aku cemas kau akan mulai menganggap dirimu menjadi seperti seorang diri, seperti tak pernah ada orang yang menunggu untuk kau kembali.

Tapi biarlah.
Kamu kembali atau tidak, itu urusan nanti.

Untuk saat ini,
Biar saja ada ratusan kilometer di tengah kita, biar pun ini masih akan berlangsung untuk waktu yang lama, aku tak apa selama kamu masih ada.

Selama hatimu masih untukku, selama itu masih benar-benar untukku, akan aku tunggu.
Hingga tak ada lagi kilometer yang berani merenggangkan kita.
August 19, 2017 2 comments

Karma


Apa kabar? Semoga kau selalu baik-baik saja seperti terakhir kali kita bertemu tanpa bersapa.
Jadi bagaimana? Siapa perempuanmu yang sekarang sedang menderita? Yang kau ambil hatinya di awal secara paksa hingga dia jatuh hati dengan amat sangat, lalu membuangnya seperti tak pernah ingat pernah bersama.
Kalau dia masih terlihat bahagia dan begitu kasmaran padamu, semoga hingga nanti dia akan tetap seperti itu. Karena disakiti kamu itu melelahkan. Apalagi saat kamu tak peduli akan itu.

Aku ragu kau masih sama seperti dulu, menganggap semua perempuan tak pernah punya hati seperti kamu. Sehingga ketika kamu menyakitinya, APA? Kamu merasa tidak melukai hatinya?
Kamu malah merasa dia hanya sedang tidak bahagia dan itu bukan karenamu?

Kamu ini apa?
Kamu tidak pernah merasa telah membuat sebuah kesalahan dengan perempuan manapun. Kamu selalu membuat dirimu menjadi benar atas segala hal. Padahal kamu pun manusia, tempatnya salah dan dosa.

Kamu, yang pandai meninggalkan, tak ada bedanya, dengan mereka yang datang dan pergi tanpa kejelasan, dengan mereka yang selalu suka menggantung hubungan, dengan mereka yang mendua tanpa takut akan sebuah penyesalan. Kamu sama dengan mereka, melukai hati perempuan secara terang-terangan.

Mungkin ketika kamu sedang berani-beraninya menyakiti hati perempuan, kamu lupa dengan fakta itu. Fakta bahwa dari rahim perempuan kamu dilahirkan.

Baiklah katakan saja dulu kamu punya alasan, katakanlah kamu juga punya hak untuk meninggalkan. Kalau begitu, bukankah aku juga punya hak untuk mempertahankan? Bukankah aku punya hak untuk meminta penjelasan? Bukannya terlalu sayang, aku pun mampu menjadi seperti kamu, benci dengan perkenalan kita, berharap aku kembali pada saat sebelum bertemu kamu dan memutuskan untuk jatuh cinta.
Aku juga bisa meninggalkan dan mengubur semua kenangan kita. Lebih jauh dan lebih dalam dari yang kamu kira. Hanya saja aku tak mau kamu menderita. Karena untuk soal ini, aku tak sama seperti kamu. Aku iba, pada seseorang yang ditinggalkan dengan alasan tak masuk akal.
Dan ya, aku iba pada diriku sendiri. Waktu itu.

Tapi dulu, setelah ditinggalkan kamu, kemudian waktu berlalu, kemudian aku berani memutuskan untuk melepaskan kamu, berani membiarkan kamu akan berjalan sendirian dan menunduk menyesali semuanya, ternyata ditinggalkan kamu tidak sebegitu menyedihkannya.

Dan, kamu harus tahu, meski bukan dari aku, meski ini bukan mauku, kupastikan kamu tetap akan tahu rasanya ditinggalkan, disia-siakan, diduakan, digantung tanpa penjelasan, dipermainkan, dikecewakan, dilukai hatimu, dirusak kepercayaanmu.

Tak perlu repot-repot menolaknya, karena memang semua akan berjalan seperti seharusnya.

Jadi,
Ketika kamu sengaja menciptakan luka, sebenarnya kamu hanya menciptakan hal yang serupa,
untuk dirimu sendiri.
Tapi terima kasih telah pergi, ternyata aku lebih kuat dari yang aku kira.




August 2, 2017 15 comments

Meredup

“Semua yang dimulai, pasti akan selesai”

Harusnya aku menyadarinya sejak awal. Bukannya malah “Kita kan belum memulai, apa yang harus diselesaikan?!”. Aku hanya telah lupa rasanya ditinggalkan. Aku lupa rasanya kehilangan, karena bersama kamu aku selalu belajar menjaga dan mempertahankan.

Kau harus tahu, sejak pertama kali bertemu denganmu, aku menjadi begitu bahagia hingga merasa aku tak perlu mempersiapkan sebuah perpisahan. Karena itu aku menjadi sebegitu percayanya bahwa semua akan berjalan baik-baik saja seperti yang aku mau. Karena itu aku tak pernah menyiapkan hatiku untuk menjadi seperti ini.
Aku, kacau.
Aku menginginkanmu kembali. Aku ingin kembali merasa disayangi. Aku ingin kembali merasa dijaga dan dihargai. Aku menginginkan tawa dan hatimu, aku membenci kau yang membuat basah pipi dan daguku.
Boros tisu, tau!

Baiklah, kalau kau berniat mengakhiri ini semua, silahkan akhiri. Tapi jangan sisakan senyummu disini. Jangan menyiksaku. Jangan membuat dirimu masih ada tapi hampa. Menjauhlah dari jangkauanku. Setidaknya ijinkan aku belajar terbiasa dengan ketiadaanmu.

Kalau kau masih disini, bagaimana caraku melupakan semuanya? Bagaimana melupakan bahwa aku pernah kau bahagiakan seindah itu? Bahwa aku pernah kau jadikan istimewa. Bahwa kita pernah membicarakan masa-masa yang kita belum tahu bagaimana akhirnya. Bahwa kau pernah berjanji kita akan pergi ke Malang untuk makan siang kemudian pulang. Bagaimana melupakan semua panggilan sayangmu, semua stiker-stiker Line saat kamu begitu merindukanku, semua chat itu:
"Kok aku kangen kamu ya", "Aku kangen kamu", "Nanti jam 10 aku telfon", dan semua momen itu: saat kita basah kuyup karena hujan berdua, gosong karena terik matahari berdua, masuk supermarket membawa keranjang belanja hanya untuk 4 buah mi instan. bahkan momen kamu datang membawa boneka jerapah empat hari lalu. Bagaimana aku akan melupakannyaaaaaaaaa?

Kamu ingat? Kita pernah duduk berdua bersebelahan, kamu di ujung kursi sebelah sana, aku di ujung kursi sebelah sini, kau kudiamkan untuk waktu yang lama. Lalu kemudian aku bertanya, “Enak gak aku cuekin?”
Kamu ingat apa jawabanmu? “Enggak”
Sayang, kamu kudiamkan saja tak mau, mengapa akhirnya kau memilih untuk meninggalkanku?
:(

Aku tersiksa. Karena kamu masih ada tapi jauh. Kamu ada tapi redup. Aku tersiksa karena kita harus saling pergi saat kita masih saling menyayangi.

***

Paham atau belum? Aku ini tidak menginginkan sebuah perpisahan. Aku tak sungguh-sungguh menyuruhmu menjauh dari jangkauanku. Sayang, aku sudah tahu rasanya kau tinggalkan, sekarang kembalilah. Aku tak mau kehilangan. Aku tak suka kehilangan. Aku akan berusaha. Aku akan belajar menjadi perempuan yang baik, yang kamu mau. Tapi kembalilah, aku ingin memikirkanmu dengan senyuman, bukan dengan tangisan. Aku tak mau. Aku tak suka kita saat ini. Membayangkannya saja sudah meneteskan banyak sekali air mata.

Kalau kau inginkan sebuah perubahan dariku, katakan itu tanpa menyakitiku. Tuntun aku dalam perubahanku, jangan malah pergi meninggalkan. Karena perasaanku ini benar-benar nyata, bukan hanya sekedar bahan candaan.
July 20, 2017 14 comments

Orang Ketiga

Aku tak pernah membayangkan ini sebelumnya.
Bahwa di antara kami berdua, kamu akan hadir memperlihatkan hal-hal baru yang tak pernah aku tunjukkan padanya, kau permanis sedemikian rupa hingga dia suka dengan pertunjukanmu, lalu kau telah menjadi orang ketiga.

Saat kami berdua mulai merasa jenuh karena jarak dan segala macam kesibukan, segala hal di tengah kami menjadi hambar dan biasa saja, kamu datang memberi senyuman dan sedikit harapan padanya, dia lengah, kemudian kamu terus melanjutkan langkahmu sebagai orang ketiga.

Lantas saat dia berpikir bahwa dia mulai merasa bosan denganku, hari-harinya menjadi tidak menyenangkan karena menurut dia, aku telah membuat hubungan kami menjadi tak semanis dulu. Apa? Kamu mendekat dan membuatnya tertawa? Kau tahu? Dia asumsikan itu sebagai rasa nyaman kemudian dia simpulkan bahwa seseorang telah menjadi lebih baik di matanya, dialah kamu, orang ketiga.

Bukankah kamu tahu dirimu kejam? Bukankah ini keterlaluan? Bahkan kita ini sama-sama perempuan harusnya kau mengerti bagaimana berada di posisiku. Tapi kau malah melangkah masuk saat aku sama sekali tak mampu melepasnya. Aku tak pernah berpikir ini akan berakhir tapi kau membuat ini semua terlihat nyata. Semua orang kau buat percaya bahwa aku bukan pasangan yang baik. Kau buat seolah-olah kami telah saling melepaskan bahkan dulu ketika hubungan kami masih berjalan. Dia kau buat menyerah denganku lalu berjuang dengan yang baru. Tidakkah kau berpikir ini menyakitkan? Tidakkah seminggu dua minggu tak akan cukup untuk menyesalinya?
Harusnya aku menjaganya. Harusnya dia bahagia bersamaku. Harusnya kamu tidak pernah datang dan membuat hatinya goyah. Harusnya dia tidak pernah mengenalmu. Harusnya aku bisa membuatnya bertahan. Harusnya hanya ada kami, tidak ada kamu.

Tapi aku mengerti, memang akan selalu ada yang terlihat lebih baik dari apa yang dia punya. Akan selalu ada orang yang terlihat lebih menjamin banyak kebahagiaan untuk dia dapatkan.
Dia hanya sedang lelah mengingat siapa yang menemaninya dari awal. Dia hanya sedang ingin melihatku menjadi perempuan yang lebih tegar.
Dia hanya ingin bersama dengan yang dia sayangi, selalu ada, dekat, dan menyayanginya. Dia ingin bersamamu.
Dia tidak ingin lagi bersama denganku yang hanya merindu, menuntut ini dan itu, jauh, dan selalu meminta untuk menjaga kepercayaanku.

Dulu aku percaya bahwa dia akan menjaga hatiku sebaik aku menjaga hatinya. Tapi kini dia lenyapkan semua kepercayaanku beserta kenangan kami, kemudian dia menggantinya dengan memori-memori manis bersamamu.

Selama kamu masih bisa, jagalah apa yang seharusnya kamu jaga. Kamu takkan mengerti bagaimana itu akan meninggalkanmu suatu saat nanti.

Aku menitipkannya padamu.
Bukan karena aku tak mau menjaganya, itu karena dia merasa kamu lebih baik dariku.
Jangan biarkan dia menyesal dengan keputusannya telah melepasku untuk bisa bersamamu, karena mungkin saat itu aku telah benar-benar merelakannya dan menjalani kisah yang baru.
Sampaikan salamku untuknya, “Jangan pernah kembali sekalipun kamu ingin mengulang lagi yang dulu kita jalani”.

Aku mundur. Semoga kalian bahagia, semoga tak ada orang ketiga diantara kamu dan dia. Jangan sampai kamu tahu rasanya menjadi aku. Karena sakitnya dikhianati itu luar biasa.
June 15, 2017 16 comments

gagal melepaskan.

Aku masih belum bisa membedakan.
Ini rindu, atau hanya perasaan belum terbiasa tanpa kamu.
Ini kehilangan atau hanya perasaan hampa setelah kita menjadi beda.
Aku pikir semuanya akan mudah setelah kita memiliki kehidupan yang baru.
Aku pikir lingkungan dan orang-orang baru bisa menghapusmu.
Tapi nyatanya tidak.
Nyatanya kamu masih selalu ada dalam tulisanku.
Nyatanya semua lirik lagu yang aku dengar selalu memutar semua momen manis kita dalam kepalaku.
Kini aku melihatmu dengan yang baru, memandangmu dengan senyuman yang beda.
Yang tidak pernah ku dapatkan dulu.
Kini telah dia miliki semua hatimu.
Membuatmu lupa, membuatku semakin tersiksa.
Seandainya kamu masih dapat kujaga. Seandainya kita belum terputus dan masih menjadi “kita”.
Seandainya masih aku sebagai alasanmu atas setiap kata yang ada.
Seandainya masih aku yang kamu perjuangkan.
Seandainya dulu aku tahu akan sebanyak apa sakit yang aku dapatkan dengan memutus sebuah hubungan.
Seandainya aku tahu pahitnya meninggalkan.
Ternyata bertahan tidak sesulit yang dulu kubayangkan.
Ternyata berpisah denganmu bukan sebenar-benarnya yang aku inginkan.
Ternyata berlari bebas jauh darimu belum bisa kutaklukan.
Biar kita menjadi kenangan.
Biar aku sudah kau lupakan.

Kau tak kan pernah hilang, meski aku telah berani menemukan orang lain untuk kurindukan.
May 23, 2017 4 comments

Alur

Hidup itu seperti drama. Begini begini saja alur ceritanya.
Dipertemukan dengan seseorang, kemudian dipisahkan. Baru saja bahagia, tiba-tiba berubah sikapnya. Baru saja jatuh cinta, tiba-tiba ditinggal dengan yang kedua.

***

Ingat kembali beberapa waktu lalu, kamu dikenalkan dengan seseorang yang tak pernah kamu bayangkan wajah dan kehidupannya.
Berawal dari sapaan, kemudian dia menjadi seseorang yang terus kamu rindukan.
Sehingga, atas nama segala rasa, kamu ingin dia merasakan hal yang serupa. Merindukanmu dalam doa-doa setelah sujudnya, karena pahit manisnya perkenalan bukan suatu yang asyik untuk dinikmati sendirian.

***

Namun, sesuatu yang tidak pernah kamu fikirkan, telah terjadi. Dia mulai menjauh, tawa kalian tak lagi sama. Kini semua terlihat asing, kalian telah menjadi dua orang yang berbeda, dengan alasan yang tak pernah bisa kalian maklumi.

Tapi atas itu, boleh jadi kesedihan yang kamu rasakan sedang menggelar jalan untuk datang kebahagiaan yang baru. Boleh jadi, semua kalimat yang kamu suarakan dengan lirih seiring dengan jatuhnya air mata, sedang menguntai tangga indah untuk turun pengkabulan sebuah doa.

Kehadirannya kemarin bisa jadi memang dituliskan dalam bagian penguatan hatimu. Dia memang hanya dihadirkan untuk itu. Untuk mengisi segala yang kosong padamu, sementara waktu.
Lalu kepergiannya terjadi karena mungkin kamu sudah selesai dengan perkenalannya. Kamu selesai dengan perasaan-perasaan yang ternyata hanya ada padamu, tidak padanya. Kamu selesai dengan dia.

Tapi semuanya akan berlalu. Kalau kebahagiaanmu dengannya bisa berakhir, tidakkah itu juga berlaku untuk kekecewaanmu? Jangan terpuruk terlalu lama. Jangan sampai kamu lelah menghapus air matamu. Karena masih banyak pintu-pintu yang harus kau buka dengan tanganmu. Masih banyak orang –yang lebih baik– di luar, dan akan kamu kenali satu-persatu.

Jika dia tak mau bertahan padamu, lepaskan. Masamu dengannya sudah selesai.
Tak ada yang perlu dirasa sesal. Kamu tidak kehilangannya, kalian hanya berhenti pada titik masing-masing dalam sebuah cerita.


March 19, 2017 7 comments

Temen. #2


(...)

“Kemarin kan ulang taun? Aku gak ditraktir nih?”
“Main game yuk, battle, yang kalah traktir makan ya”
“Kemarin kamu kalah dua kali, aku anggep utang ya buat traktir selanjutnya”
Berbagai macam alasan muncul untuk sebuah pertemuan.
Kala itu pertemuan terasa sulit karena alasannya harus masuk akal,
Syukurlah sekarang pertemuan kita sudah menjadi semudah “Aku kangen, jalan yuk!”

Kala itu, aku berlari, dan kau berjalan. Syukurlah sekarang kita sudah berani bergandengan tangan.
Kala itu, aku berjuang, dan kau diam saja. Syukurlah sekarang kita tahu seberapa besar perasaan yang ada.

Kita sebenarnya asing, dan menyatu dengan sendirinya. Kita sebenarnya hanya teman, dengan perasaan yang berbeda.
Aku sebenarnya tidak menyukaimu.

Aku ini mencinta.
***

“Wangiii”
Selalu. Bahumu tak pernah hambar setiap menjemputku. Mau tajam atau samar, mau kencan atau olahraga, mau makan atau hanya duduk minum jus hingga pukul sembilan malam, mau wangi ini atau wangi itu, kamu tak pernah hambar, kamu selalu wangi.

Kamu sudah tidak boleh diragukan. Kamu adalah idaman.
Mereka tidak melihat apa yang kulihat dalam dirimu. Mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya kamu memperlakukanku dengan caramu.

Tiap kali aku berkata “kita cuman teman”, mereka selalu berasumsi bahwa tidak akan ada yang spesial di sebuah pertemanan.

Padahal setiap kita berdua battle game Crisis Action, mereka tidak pernah tahu dengan ini...
“Kok diem aja? Ayo tembak! Nanti aku pergi loh”
“Sini mendekat”
“Buat apa aku mendekat lari-larian kalo akhirnya aku ditusuk”
“Aku menang!”

Bahkan...

“Aku gasuka battle pake pisau. Aku sukanya kamu”
“Aku takut lawan zombie. Temenin :(“

***

“Gak mungkin. Dia pasti juga bawa perasaan” aku meyakinkan teman-temanku. Termasuk diriku sendiri.
“Kenapa gak ditembak sampe sekarang?”
“Ya emang gamau pacaran kali. Bukannya bagus? Kan gaada pacaran dalam Islam?”
“Tapikan kalo kaya gini kamu kaya digantung, ga dikasih kejelasan. Emang kamu tau perasaannya gimana sama kamu?”
“Enggak. Yaudah terus maksudnya aku yang ngajak dia pacaran? Demi apa aku ini perempuan. Tolong.”
“Kan ada emansipasi.”
Ngawur! Tapi kalo dia makin lama makin gemesin, aku pacarin juga lama-lama.”
“hahaha”

Ini yang tersulit, bertahan menjadi teman, dengan hati yang ingin lebih dari sekedar teman.
Dari awal pertanyaanku selalu begini. “Kenapa sih, gamau pacaran aja? Kan latian kalo seandainya kita jodoh”
Sebenarnya aku tidak pernah benar-benar baik-baik saja atas keputusanmu, yang dari awal juga tidak pernah kamu utarakan sebuah keputusan untukku.
Aku selalu mencoba, dan aku selalu gagal. Percobaanku untuk terlihat baik-baik saja 99% selalu gagal. 1% berhasil karena aku ingat aku telah menyukaimu dan tidak peduli atas apapun kecuali dirimu.

***

Hari ini, Minggu, 19 Maret 2017. Gerimis, dingin, dan rindu yang tidak pernah sedikit, sedang membantuku mencarikan inspirasi untuk menulis tentangmu. Karena kamu selalu bisa dituliskan, kamu punya banyak hal untuk diceritakan. Kamu laki-laki yang hangat dan menenangkan,
seperti,
minyak telon bayi.

Saat ini aku mulai merindukan mata yang menyipit, gigi gingsul dan lesung pipit yang muncul bersamaan saat kamu tertawa.

Aku harap aku berada di Probolinggo sekarang juga.

Aku terlalu ingin menjadi sesuatu yang kau tuju. Yang kau nantikan kepulangannya. Yang ingin sekali menjadi takdirmu. Atau menjadikanmu sebagai takdirnya.
Karena semakin banyak waktu yang terlewatkan, semakin besar keinginanku mendapatkan lesung pipitmu dan seperangkat kamu. Semuanya yang ada padamu.
Semuanya.
Jadi bagaimana? Kamu mau diam saja, bertindak, atau kamu mau aku? Kalau kamu tidak mau menjawab. Tak apa. Aku tunggu dua menit lagi. kalau dua menit lagi kamu tidak cepat menjawabku. Aku anggap kamu milikku. Deal?
Aku menulis ini semua karena aku tahu kamu bisa membaca.
Kalau nanti kamu telah selesai membacanya, beritahu aku. Kita bisa bicarakan kedepannya. Ehehe.

Aku tidak pernah bisa untuk tidak menjadi seperti orang gila setiap membicarakanmu.
Aku tidak pernah bisa untuk menjadi biasa saja saat mendengar namamu.
Aku tidak pernah bisa, untuk melukis eyeliner yang sama kanan dan kirinya.
Sedih :(

***

Kamu jangan sampai kehilangan. Aku juga bisa pergi. Mungkin saat kamu tidak lagi mengerti caranya menghargai. Atau mungkin saat kamu sudah mulai lelah aku cintai. Atau mungkin saat aku sudah bosan begini.
Kata orang, menggapai itu mudah, mempertahankan yang susah. Pergi itu mudah, melepaskan yang susah. Tapi kamu? Digapai saja susah.

Aku selalu menginginkan kau memberiku jawaban tanpa kuberi pertanyaan.
Tapi selama ini aku selalu mengguruimu tentang semua yang kumau. Kamu selalu kalah dalam menerka. Aku selalu berharap dan kecewa karena kamu selalu beda dengan apa yang aku ekspektasikan.
Tapi aku bertahan.
Aku bertahan hingga aku mendapatkan sebuah keputusan.

Meninggalkan.

Atau.

Ditinggalkan.
January 2, 2017 6 comments

Temen.

Pintu satu ditutup, pintu lain akan terbuka.
Kita kenal setelah aku lagi-lagi patah hati. Kamu datang, dengan manis, dan hangat. Awalnya aku takut akan gagal lagi, tapi ternyata kita sudah melewati dua kali ulang tahunmu, dua kali ulang tahunku, dua kali tahun baru. Oke, dua itu memang bukan angka yang besar, tapi ini yang terlama bagiku, asal kamu tahu. Memalukan, bukan? Aku tidak pernah bertahan selama ini dengan berbagai macam laki-laki, karena aku perempuan yang cepat sekali bosan, mudah sekali jenuh. Tapi mudah sekali jatuh cinta.
Dengan kamu...
Aku juga pernah sesekali merasa bosan, tapi, anehnya aku selalu berhasil mengalahkannya. Aku selalu berhasil untuk tidak pernah ingin mengakhiri pertemanan kita.

***

Dulu...
November 2015...
“Dia bentar lagi ulang taun, aku kasih kado gak ya enaknya?”
“Terserah, kasih gak papa, nggak juga gak masalah, kan kalian baru kenal bulan kemarin.”
“Tapi asik kayanya kalo nanti aku kasih kado ini jadi alasan buat aku ketemu sama dia.”
“Yaudah kasih.”
“Emoh. Gak jadi. Baru kenal. Takut tiba-tiba ditinggal. Hahaha.”
“Hahaha.”

Dua minggu, empat minggu, “Oke mungkin dia belum siap ketemu aku.”
Aku sudah nyaman dengan obrolan kita setiap hari dari pagi hingga malam.
Karena kamu yang tidak segera mengajakku bertemu, aku sempat berpikir ini cinta sepihak.
“Lagi?”

Tweet-tweet @nanidlot sebelum ketemu doi
 “Apa arti rasa khawatir saat kamu memang sengaja menghilang”
“Apa arti pengharapanku yang sedemikian banyak untuk dirimu yang apatis”
“Hidupku terlalu banyak berharap atau hidupmu yang penuh pengabaian?”
“Aku yang salah, karena jatuh cintaku terlalu mudah”
“Mungkin pengorbananku terlalu awal, atau mungkin pengabaianmu yang terlalu kasar”

Sampai akhirnya...

Desember 2015
Minggu.
“Selamat ulang tahun, blablabla...”
“Makasih, semoga doanya kembali pada yang mendoakan.”
“Gak olahraga? Car free day nih.”
“Gak. Gak ada yang ngajak.”
“Olahraga yuk di alun-alun.”
“Boleh, yuk.”
“Kamu aku jemput atau gimana?
“Boleeh.”
“Atau bawa motor sendiri ke sana?”
“Nggg...”
“Yaudah aku jemput ajadeh, Gang xxx kan? Sebelah mananya rumah xxx?”
“Selatan, depan masjid. Nanti aku tunggu depan aja.”
“Oke.”

Akhirnya kita bertemu, untuk pertama kali, tepat di ulang tahunku. Kaos merah, tinggi sekali, kamu. Wangi sekali, kamu, pada saat itu.

Semakin hari, aku semakin berharap padamu. Semakin khawatir pula, takut jika kamu akan menjauhiku karena pertemuan kita. Takut jika tiba-tiba kamu mulai pergi mencari perempuan lain karena aku bukan tipe yang kamu cari.

Tweet-tweet @nanidlot pas lagi ngarep-ngarepnya
“mudah-mudahan Tuhan hadirkan kamu di mimpiku, sebagai petunjuk, sebagai jawaban, untuk pengharapan yang semakin malam semakin dalam”
“Pantas atau tidak aku untukmu, apa kata nanti, karena semuanya akan tetap berjalan terlepas dari ada atau tidaknya balasan untuk sebuah pengharapan”

Terbaca? Seberapa berharapnya aku pada orang baru?

***

Sampai setelah pertemuan kita, aku mulai memberanikan diri untuk memutuskan ini adalah rindu. Obrolan kita di dunia nyata ternyata lebih manis dari sekedar chatting sehari penuh. Lalu aku pikir aku mulai menginginkannya lagi. Aku ingin jantungku berdegup tak beraturan lagi. Aku ingin tiba-tiba salah bicara, salah tingkah, dan menunduk tersenyum menyembunyikan muka seperti orang gila lagi, tapi aku khawatir kamu tidak.
Kemudian rindu itu, menjadi
Tweet-tweet @nanidlot kalo lagi kangen
“Aku kadang kangen. Kadang kangen banget.”
“Terkutuklah rindu yang selalu datang tak kenal waktu”

Sampai disini, jangan dulu salahkan aku, karena aku tidak salah, hatiku yang salah. Hatiku yang bersikeras menginginkanmu. Aku hanya menuruti apa kata hatiku karena kebahagiaanku berasal dari sana. Salah siapa, membahagiakanku? :))))

***

Empat bulan kita kenal, bulan Februari, aku menceritakan semuanya kepada seseorang.
“Belum ditembak? Empat bulan? Jangan-jangan dia gak cuman deketin kamu.”
“Jangan gitu dong, aku udah terlanjur suka sama dia”
“Tunggu aja. Wiiih lama juga ya”
“Aku mikir positif ajasih mungkin emang dianya gak mau pacaran atau gimana. Tapi masa iya temen doang dibaperinnya parah banget”
“Iya sementara gitu aja dulu, yang penting kan bahagia”

Kemudian, ini
Tweet-tweet @nanidlot ketika dia mulai gapapa gak dikasih kejelasan
“Sekarang pertanyaannya bukan lagi kapan kita jadian, tapi, gimana caranya bikin kamu terusan nyaman”
“Senyummu menciptakan candu, membuat bibirku fasih mendoakan kamu”

Karena hubungan kita tak kamu beri perkembangan, aku mencoba menceritakannya pada Tuhan, meski Dia telah tahu apa yang kemarin, sekarang, dan akan terjadi pada aku dan kamu.
Aku mulai berterimakasih karena kamu ada, karena Dia mengenalkan kamu denganku, karena Dia mungkin punya sesuatu yang besar untuk ini.
Kemudian aku meminta tolong pada-Nya. Untuk memantaskanku, menjadi perempuan milikmu.
Kemudian aku bernegoisasi dengan-Nya. Jika kamu benar untukku, tak apa sekarang berteman, semua memang berawal dari teman. Jika tidak untukku, atau aku yang kurang pantas untukmu, aku meminta seseorang yang lebih baik dariku untukmu, seseorang yang lebih baik pula darimu untukku.
Hampir setiap hari aku memintamu pada Tuhan. Atau jika itu tidak bisa dirimu, mungkin seseorang yang mirip denganmu. Atau seseorang yang lebih baik darimu. Atau siapa saja yang pantas untukku.


Aku suka saat kamu bisa menghargai, saat kamu tahu posisi dan situasi. Saat kamu bisa menempatkan diri dan emosi dengan baik. Saat aku benar-benar kaubuat terkesan. Karena saat itu aku tau, ketika kamu menghargaiku, kamu tidak akan menyakitiku sekalipun kamu tidak cinta, padaku. Sehingga aku pun hanya perlu menjadi diriku sendiri, tidak perlu topeng ini-itu untuk mengesankanmu. Sejak saat itu, sejauh apapun aku pergi, sejauh apapun aku main, sejauh apapun aku, di sampingmu, adalah pulang dari segala rindu. Terimakasih.

***

“Jadi perempuan yang besar hatinya, biar ndak gampang sakit hati.” – ibuk

Semakin lama kita berteman, semakin banyak yang aku tahu tentang dirimu. Pahit manisnya sudah kuhabiskan sendiri. Tentang siapa-siapa yang pernah mengisi hatimu, siapa yang menemanimu di depan kelas, tersenyum di depan kamera, terlihat bahagia. “Aduh, cantik banget sih mantannya. Putih, suaranya bagus. Lah aku?”. Seketika aku kecewa pada diriku sendiri, kenapa aku harus menyakiti hatiku dengan membanding-bandingkan dua orang yang masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Kenapa aku harus sakit melihat foto lamanya ketika itu memang benar-benar foto lama. “Yaudah, toh sekarang dia udah sama aku. Kalopun mereka berdua masih saling sayang, harusnya waktu itu dia gak bbm aku, harusnya dia balikan sama mantannya. Yakan?”
Aku selalu marah dan meredakannya sendiri dengan hatiku. Aku percaya kamu adalah laki-laki yang baik, kamu akan berpikir dua kali untuk menyakitiku karena aku adalah perempuan, dan kamu juga terlahir dari seorang perempuan.
Aku tidak akan menciptakan sebuah drama. Aku tidak akan membahas ini terlalu berlebihan denganmu. Aku tidak ingin sakit hati, aku juga tidak ingin kamu mengingatnya saat aku membahasnya. Maka kuputuskan untuk menikmati kecemburuanku ini sendiri.

Tiba-tiba aku ingat sesuatu...
Ketika kalian berdua masih asik bercanda berdua di Path. Ketika seseorang berkata padaku ada Whatsapp darinya di hpmu.

Aku menangis untuk beberapa menit. Kemudian aku kembali melawan sakitku. “Bukan mereka yang salah, mereka pernah saling membahagiakan, dia punya cerita sendiri dengan mantannya sebelum kenal aku. Ngapain aku marah? Toh mereka cuman saling ngejaga silaturahmi. Aku yang salah. Karena aku yang berpersepsi mantan adalah akhir dari segalanya. Gak ada lagi saling sapa. Gak ada lagi kontak yang disimpan. Lepas, benar-benar melepaskan. Hubungan mereka ini cuman pemandangan baru buat aku.”

Oke. Selama itu bukan diniatkan untuk menyakitiku. Selama itu untuk kebaikanmu. Aku tidak akan berlebihan dalam membela hatiku. Selama kalian hanya berteman, aku tak apa-apa. Karena aku dan kamu juga hanya berteman. Aku pun akan menjaga hatimu sebisaku. Karena berada di posisi ini sangat melelahkan. Jadi silahkan berbuat apapun sesukamu, kamu yang tahu untuk siapa hatimu itu. Kamu yang tahu kemana kamu harus pulang dari mainmu.

Ternyata benar, bukan? Kamu tidak pernah kembali dengannya. Dia yang selalu aku khawatirkan akan selalu membuatmu gagal berpindah padaku, tidak pernah kembali ke kehidupanmu.
Aku, sudah tahu hatiku untuk siapa. Semoga kamu pun begitu.

(...)
 
;