September 16, 2017

Jatuh Cinta

Kurasa aku telah jatuh cinta.
Karena setiap kudengar namanya, sebutan itu tidak pernah memekakkan telinga. Setiap kali kutatap matanya, mereka seperti mau berjanji untuk sebuah ketulusan yang nyata.
Tiap kali dia bercerita untukku, pipiku mengangkat kemudian mengembang begitu saja tanpa ragu.
Tiap kali dia tersenyum, astaga, rasanya hatiku akan meledak saat itu juga.

Kurasa aku telah jatuh cinta.
Mataku telah terkunci pada arah dirinya.
Wajahnya itu tak akan pernah kujadikan sia-sia.
Tapi ini jelas bukan hanya wajahnya, kurasa aku telah jatuh cinta pada semua aspek yang ada padanya. Rasanya dengan terus memandanginya pun tak akan mampu menghentikanku yang semakin hari semakin merasakan candu atas dirinya.

Lalu senyumnya. Senyumnya itu. Senyuman yang hanya ada satu di dunia. Yang diciptakan begitu pas, cocok, dan tanpa kekeliruan. Bagiku itu adalah lambang keikhlasan, karena untuk soal senyuman, dia tak pernah memaksakan.
Dan saat itu, matanya ikut tersenyum. Seolah membawaku larut dalam pandangannya. Begitu menenangkan karena kulihat penuh sekali arti di bola matanya.

Cara dia menatapku, bagiku adalah caranya mengambil seluruh hati dan pikiranku. Karena saat aku merasa telah jatuh cinta, aku merasa bodoh dan semuanya menjadi tidak masuk akal dalam beberapa waktu.

Aku ingin terus dilihat menjadi perempuan yang sempurna meski sejatinya tak akan pernah bisa, tapi aku ingin, menjadi perempuan yang bisa melakukan apa saja, yang akan membuatnya kagum dan jatuh cinta, sedalam aku.
Aku ingin menjadi kuat seperti perempuan yang mandiri, tapi aku ingin menjadi lembut, seperti perempuan yang ingin dilindungi. Aku ingin saat dia bertemu denganku, dia selalu punya alasan untuk tersenyum, seperti aku. Entahlah, saat aku jatuh cinta, semua hal-hal ini turut muncul dalam otakku.

Dan, kurasa aku telah benar-benar jatuh cinta. Menulis tentangnya seperti ini selalu membuatku tersenyum, sendiri, pada tulisanku.

Teman-teman, apa iya jatuh cinta itu definisi lain dari gila?

Tapi saat aku jatuh cinta, hatiku terbawa begitu saja. Tiba-tiba aku menjadi lebih sabar dari biasanya, lebih tabah dan lebih bisa menerima, tiba-tiba dia menjadi dunia yang aku cari-cari sebelumnya.

Kurasa benar. Aku telah jatuh cinta sebegitu dalamnya. Karena, bukankah itu tidak masuk akal untuk menganggap marah dan cemburunya terasa begitu manis?
Semakin dia cemburu karenaku, aku semakin merasa dijaga. Semakin dia menjadi dingin dan kaku, aku semakin ingin berlari menemuinya. Semakin dia menjadi manis dan romantis, astaga, rasanya aku hanya ingin menyuruhnya diam, kemudian membungkus dan membawanya pulang.


2 comments:

Desya Auril said...

Setelah meredup karena jarak dan orang ketiga, akhirnya jatuh cinta juga :)

Putri Agustina said...

Aaa kak naw, baper 💕💕

Post a Comment

 
;