September 2, 2018

Terurai

Setiap manusia diberi hati untuk merasakan kepekaan sekitar. Tapi, anehnya, aku tak peka saat kau bilang perasaan di dalam dirimu mulai memudar. Semua berjalan terlalu baik-baik saja untuk aku menyadari bahwa hatiku sudah di ujung lempar. Sehingga aku harus membongkar semak belukar, mencari-cari alasan kenapa yang manis selalu akan menghambar?

Aku kira kita telah berada di usia "berkomitmen atau tidak sama sekali". Artinya, bukan lagi masanya untuk kita datang, bilang cinta, lalu pergi.

Sepertinya ini hanya soal kebiasaan. Kau melatih dirimu untuk biasa menerima, atau biasa mencari lagi saat mulai merasa hampa. Jadi mungkin bukan salahku ketika kau pergi tapi tak ingin mengakhiri. Bukan pula salahmu yang menganggap kita masih belum waktunya untuk berjanji. Sepertinya memang sudah waktunya. Sepertinya restu dunia bukan lagi milik kita.

Aku tak mau mengguruimu, tak mau mendikte perlakuanmu padaku. Biar kau belajar sendiri, bahwa sebab-akibat itu benar ada dan perlu dipahami. Seandainya kau mau berpikir dua kali, seandainya kau tahu tak semua menyediakan kesempatan kedua kali, kau tak akan kehilanganku, aku takkan semarah ini denganmu.

Kukira kita sudah harus belajar dewasa. Tapi, kau masih saja fokus pada "apa yang membuatmu bahagia, apa yang bisa dipotong saat itu juga". Seperti seorang anak di dalam masa tumbuh, belajar memisahkan mana yang menurutnya berguna dan tidak berguna.

Kapan-kapan, menulislah kau dengan tanganmu sendiri. Jujur saja apa yang sedang terjadi, apa yang mengganggu, apa yang ingin sekali kaubenahi. Pasti yang salah selalu bisa diperbaiki. tak bisa serta-merta dihancurkan, tak bisa serta-merta hilang arti.

Kita sudah pernah berkali-kali berjuang sebelum ini. Sebelum pertemuan kita pun, harusnya ada kehilangan yang akan membuatmu tak ingin mengalaminya dua kali. Harusnya, dulu, sebelum kau mencoba untuk menelaahku, kau harus mengkaji dirimu sendiri. Setelah itu mungkin baru kautahu, sebesar apa harapan yang harus kauberikan, agar di akhir aku tak merasa terlalu dikecewakan.

Kalau kisah hanya tersisa kisah, kalau kau belum juga berkaca dan ingin berubah, aku berani untuk hidup sendiri.
Kalau ikatan tali sudah terurai, kalau keeratan kita sudah selesai, aku berani melangkah pergi.
Share:

58 comments:

  1. you did great with your writing, kak naw.

    ReplyDelete
  2. Pernah denger darimu yang bisa nulis tulisan bagus dan panjang seperti ini.
    Caranya tulis aja semuanya yang ingin ditulis, bagian ini tugasnya perasaan/hati.
    Terus dibenahin kata atau diksinya, bagian ini tugasnya logika/otak.

    Meskipun begitu, nyatanya menulis tak semudah itu.

    Coba deh buka chat yang aku tulis buat kamu di L*ne yang terpendam entah udah sedalem apa. Biar...

    ReplyDelete
  3. aku sedang berada diposisi itu saat ini, dan aku memilih jalan untuk mem-blok semua yang berhubungan dengan dia, aku gatau apa itu benar atau salah, mungkin memang dengan terpaksa harus ku katakan "aku berani untuk hidup sendiri" maka dari itu ku memilih jalan tersebut, jalan yang memang masih menyakitkan sampai saat ini tapi tetap harus dijalani.

    ReplyDelete
  4. πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”

    ReplyDelete
  5. gtau lagiii terharu bgt bacanya:(((

    ReplyDelete
  6. Ka naw ini deep bat πŸ’”πŸ’”

    ReplyDelete
  7. Kak naw ini kenapa aku bgt huhu

    ReplyDelete
  8. Indah banget sih ni tulisann hmmm

    ReplyDelete
  9. Sumpah.. Kenapa jln ceritanya sama persis dengan cerita jln cerita tentang aku dak dia. . ohh tuhan ��

    ReplyDelete
  10. Dibaca saat hujan dan ini cerita saya yg baru saja terjadi:''

    ReplyDelete
  11. Hai ka naww^^ salam dr pembaca barumu, yg sepertinya akan menjadi pengagum mu hehehe ahh lopp bgt ihh tulisannya❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  12. Parahhh suka bangett dgn karya mu

    ReplyDelete
  13. Seketika teringat... Ah sudahlah.

    ReplyDelete
  14. Terlalu mudah percaya sama perkataan manis nya, sampai2 berujung luka untuk yg kesekian kali nya, saya berharap ini yg terakhir datang dan lalu pergi tanpa pamit *ah nyentuh kali tulisanmu ka:')

    ReplyDelete
  15. Merasa terwakilkan aku tuh :")

    ReplyDelete
  16. Gue seperti ditelanjangi sama yang nulis

    ReplyDelete
  17. Pernah diposisi seperti itu. Duluu dan aku berani melangkah pergi dan aku berani hidup sendiri

    ReplyDelete
  18. Sedang dalam posisi itu. Dia yg sedari awal merayu dan menebar harap . Kini ininkan ku untuk tidak berharap setelah ribuan harap kupanjatkan pada robku

    ReplyDelete
  19. Ini knp tulisannya gini amat ♡

    ReplyDelete
  20. Dan pada akhir nya aku menemukan yang sesungguh nya cerita pendek...

    Semangatt...

    ReplyDelete
  21. idak semua hati dapat dimengerti, tapi yang paling berarti adalah berjalan beriringan hingga rambut memutih dan mati

    ReplyDelete
  22. Aslii!! Ini mewakili isi hati bgt!! Aku tersentuh:(

    ReplyDelete
  23. "berkomitmen atau tidak sama sekali", dan saya berada di posisi itu.

    ReplyDelete
  24. Membaca tulisan Nidlo Titisari untuk pertama kalinya dan coment pertama

    ReplyDelete
  25. Hampir semua mungkin merasakan hal ini :') terimakasih untuk setiap kata yg telah mewakili πŸ’•

    ReplyDelete
  26. Sebuah kisah patah hati? Keren2..mbak

    ReplyDelete
  27. Monggo liat2 blog sya mbak,mngkin perlu d koreksi http://captainrandydp.blogspot.com

    ReplyDelete
  28. Berkomitmen atau tidak sama sekali , aaah saya sedang berada di posisi seperti itu :(

    ReplyDelete
  29. Aku suka bacanya sangat suka;)

    ReplyDelete
  30. Ngena banget kak , deep banget.
    Aku sampai luluh lantak di tepi bantal.

    ReplyDelete
  31. ka kamu adalah blogger pertama yang aku suka,peluk jauh

    ReplyDelete