January 31, 2016

Perempuan Banyak Pengharapan

Aku perempuan yang tak apa menjadi gila. Kalau memang mencintaimu hanya nyata dalam lamunan. Aku tak apa menjadi narapidana. Kalau memang mencintaimu adalah tindak kekerasan. Aku tak apa menjadi tua dan menyebalkan. Kalau memang mencintaimu tak bisa kurasakan di usia belasan.

Selama kamu masih menjadi sebuah alasan, kenapa aku harus pergi dan meninggalkan? Selama aku masih bisa bertahan, kenapa aku harus menyerah dan menciptakan penyesalan?

Kehidupan tak selalu berjalan mulus dan lancar. Ada lubang dan tanjakan. Dan ini bukan soal bagaimana caramu sampai di ujung jalan. Ini tentang sekuat apa kakimu berpijak di bumi untuk meneruskan langkah-langkahmu. Pun demikian, cinta yang sedang duduk manis menantiku. Di ujung sana, jauh sekali, seseorang menantikanku dengan cerita-ceritaku, dengan pengalaman-pengalamanku, apa saja yang aku lalui, apa saja yang aku dapatkan, ilmu dan gelar apa yang telah ku raih. Dia akan mendengarkan semua ceritaku. Dengan perhatian dan senyuman manis, menghargaiku.

Lalu, entah kenapa, sejak kapan dan bagaimana, aku telah berharap dan meminta pada Tuhanku, seseorang itu adalah kamu.

Maka untuk sekarang, biarlah teman menjadi teman. Semua memang berawal dari teman. Untuk sekarang, aku akan menjadi teman yang baik untukmu dan menjadikanmu teman yang baik untukku. 

Selanjutnya, entah apa, terserah pada usaha, doa, dan semesta. Hanya akan menjadikan kita sebuah cerita, atau malah sepasang kekasih yang berbahagia.

Tapi munafik jika aku hanya akan mengikuti alur dengan biasa-biasa saja. Bahkan untuk perkenalan kita yang lamanya belum seberapa, aku mulai ketakutan. Aku takut ada seseorang datang mengacaukan. Aku takut ada perempuan lain yang datang dan dia lebih mahir membuatmu nyaman. Aku takut ada laki-laki datang dan merayu, dan kamu sama sekali tidak ketakutan. Aku ketakutan. Aku takut kamu tidak pernah merasa takut sepertiku.

Suatu saat, akan kutanyakan padamu, apa pandanganmu tentang perempuan yang berjuang diam-diam, sendirian dan penuh ketakutan? Kalau kamu menjawab mereka lemah, itu karena kamu tidak datang untuk menguatkan. Kalau kamu menjawab tidak ada perempuan yang benar-benar seperti itu, itu karena kamu tidak datang untuk membenarkan.

Datanglah, mari kita lihat dan buktikan, perempuan yang berjuang sendirian diam-diam penuh ketakutan itu benar adanya, atau hanya tokoh dalam narasi biasa.

Kalau ada, perjuangkan aku. Dekap aku karena ketakutanku. Jadikan aku ratu dan bahagiakan aku. Karena, aku perempuan yang seperti itu. Tak pernah bilang apa saja selama ini yang aku korbankan, bagaimana ku lalui malam tanpa kabar, bagaimana aku mengatur pikiranku sendiri untuk sebuah prasangka baik dan menenangkan. Aku perempuan yang seperti itu, sendiri karena kamu belum datang menemani, kesepian menggigil karena rindu yang dingin ku habiskan sendiri. Aku perempuan yang seperti itu, kamu tahu? Begitu ketakutan hingga rasanya ingin berlari kepadamu, berteriak didepan wajahmu, “aku suka padamu!”, kemudian membatu menunggu kamu mengerti dan menerjemahkan sendiri teriakanku.

Kalau kamu sudah selesai membaca, perkenalkan. Aku perempuan tidak tahu diri banyak pengharapan, Nawang Nidlo Titisari.



Bondowoso, akhir bulan, awal tahun.

11 comments:

Pramoedya Ardhi Krishnamurti said...

ternyata ada seorang wanita kecil yang imut,lucu dan selalu ceria..punya pengharapan yang begitu tua...hahahaha

aku suka yang "“aku suka padamu!”, kemudian membatu menunggu kamu mengerti dan menerjemahkan sendiri teriakanku." nice :D

Nawang Nidlo Titisari said...

Astagaaa, pengharapanku setua itu kah mas sampe terbaca tua :|
Terimakasiiih xD

Pramoedya Ardhi Krishnamurti said...

lama-lama harapanmu yg tak bersambut itu nanti jd fosil..mungkin laku dijual kaya batu akik..hahaha

Nawang Nidlo Titisari said...

Gak papa. Segaknya harapanku nemuin ujungnya, meskipun berakhir jadi fosil. Haha

deni febri said...

Sepertinya aku fans barumu mbak hehehe

ftwrhmsbtn said...

Mbaaakkkk naw, kamu keren, apa kita senasib hahahaha

Nawang Nidlo Titisari said...

Senasib maksudnya samasama keren? Haha, makasih ❤

Rizkytria Octasiana said...

Bagus.. Lama lama jadi pengunjung setia blognya kak Naw nih :v

Nawang Nidlo Titisari said...

Asik, tengkyuuuu. Boleh boleeehhh baca terus yaaaaaa❤

Nawang Nidlo Titisari said...
This comment has been removed by the author.
Murni Mitochika said...

Naw, saya kembali meminta izin untuk repost 😍😍😍

Post a Comment

 
;