April 4, 2019

Senin, pukul 11:47, baru keluar kelas dan siap-siap ke taman fakultas untuk perekrutan UKM Kesenian Fakultas. Baru melewati pintu, hilang jangkauan AC, sudahlah memerah pasti mukaku ini kena panas.
“32 derajat anjir panas banget. Abri mana sih, aku butuh yang adem selain AC,” rutinitas setiap Senin setelah kuliah siang: mengeluhkan Surabaya sambil menyipitkan mata, menyaring dari sudut fakultas ke sudut yang lain. Mencari seorang laki-laki yang—sumpah—nggak ada buluk-buluknya. Potongan rambutnya itu lho. Tipis rapi di samping dan belakang, tapi tebal dan acak-acakan di atas. Lengkap dengan kacamata, tas gendong, dan botol minum di tangan kiri. Celana jeans yang bolong di dengkulnya saja terlihat bagus. Heran. Kalau seandainya detik itu aku boleh menikah, akan kunikahi Abri cuma untuk kupandangi dari pagi sampai pagi lagi. Ganteng banget, gila. Nggak mandi aja tetep bagus saking terawatnya. Tapi aku nggak akan bisa menikah. Karena arti pernikahan pasti jauh lebih kompleks dari sekadar memandangi ketampanan pasangan, oh, atau, disebutnya suami. Aku juga masih kuliah semester tiga. Dan dia jelas nggak mungkin lah suatu saat jadi suamiku. Bertatapan muka saja nggak pernah. Hahaha. Ha.
“Sekarang Abri, kemarin siapa lagi itu yang anak Manajemen Bisnis?”
“Iya astaga, Sapiii! Itu dia keren banget kemarin nyanyi sendiri bawa gitar di panggung dies natalis FEB nyanyi Kenangan Terindah. Suaranya ampun, nggak usah minum alkohol aja aku udah mabok.”
“Sendiri pake gitar? Pengamen dong? Hahaha, oke masih dua. Besok-besok ada lagi pasti? Dunia kamu kan luas. Satu laki-laki untuk satu lingkungan. Ya kan? Hahaha," ternyata Seviu sudah mengenal aku dengan baik.
Belum selesai senyum-senyum membahas mas penyanyi, ponselku bunyi.

Kau membuatku mengerti hidup ini~
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
Dan terwujud harmoniii

“Halo assalamualaikum. Ini siapa? Lah ini siapa? Ha? Oh salah sambung, Mas.”
“Siapa, Yor?” Seviu menatap dengan sebuah tanda tanya, aku mengangkat dua pundak sebagai tanda entah.

Kau membuatku mengerti hidup ini~ Nomor telepon yang tadi. Aku memandang Seviu karena mulai cemas dengan nomor baru yang terlihat memaksa.
Kita terlahir bagai sel—
“Halo? Salah sambung, Mas.” Kuputuskan teleponnya sebelum orang itu berbicara. Masih mengingat-ingat suara dan nomor ini, aku melamun menatapi layar ponsel. Seperti tahu, tapi sepertinya juga tidak. Sedang khusyuk membingungkan itu, Seviu menyenggolku. “Yor, ada orang,” aku langsung menaruh ponselku di tas dan refleks bicara, “Mau daftar, ya? Sebentar, sebentar.” Ponsel masuk ke dalam tas, aku mengambil formulir pendaftaran, menyerahkan formulir itu kepada seseorang yang baru saja datang, lalu aku tiba-tiba lemas. Bersandar seperti tidak punya daya apa-apa. Abri, sedang, berdiri, di depanku. Iya. Abri Fajar Muhammad kesayanganku kegilaanku doaku menyertaimu selalu. Iyaaa Abri yang itu!

Ngos-ngosan.

Ya Tuhan, hamba dan Abri sedang memegang kertas yang sama. Apakah ini pertanda kalau suatu saat kami akan menggenggam masa depan yang sama? GR sekebon. Anak cupu yang bisanya cuma anjir-anjiran setiap melihat Abri, yang nggak pernah berjarak kurang dari 500m dari Abri, sekarang sedekat ini, dan, oh, wow. Semakin dekat, semakin membuat aku ingin bertaubat karena setiap hari cuma mengeluhkan Surabaya. Tanpa mensyukuri isi di dalamnya.
Siang itu, Surabaya menjadi lebih dingin karena seorang mahasiswa Hubungan Internasional yang kuidam-idamkan, berdiri bahkan berbicara denganku. Sedekat itu. Aku bahkan bisa melihat wajahnya yang glowing dan minim pori-pori, menerka-nerka skincare apa yang dia pakai untuk ukuran mahasiswa. Dan detik itu pula, aku merasa gagal menjadi perempuan.

Kau membuatku mengerti hidup ini~~
Kit—

Mengintip ponsel dari luar tas, reject.

Kau membuatku mengerti hidup ini~~~
Kita ter—

Nomor yang sama. Reject. Kali ini aku pegang dulu ponselku. Memastikan kalau sebentar lagi dia menelepon lagi,

Kau membuatku meng—
“Jancuk. Sopo seh iki telpan telpon tok. Salah sambung, Cuk! Jancuk. Mas kalo habis ini telpon saya lagi, saya laporin sama Mama saya, ya, mau? Gak mau? Gak usah telpon lagi ya makasih samlekom.” Aku membanting ponsel ke dalam tas. Lalu tersadar, lalu terdiam. Lama sekali. Bergerak dengan slow motion mode, hanya melirik ke kanan-kiri, mengerutkan dahi, megkhawatirkan hal memalukan yang baru saja terjadi, memegangi sisi atas tas dan mengenggamnya erat seperti sedang memeras baju basah. Mampus. Lupa. Di sini kan ada Abri, bego, ah! Aku salah tingkah. Mencoba kembali ke posisi awal dengan mulai dari melepas sisi tas dari genggaman, mengarahkan badan menghadap depan, mengangkat dagu, menoleh kanan, menangkap tatapan Seviu yang sekarang sedang tertuju ke arahku. Abri pun. Sial. Mata mereka sedikit terbelalak seolah-olah bertanya, mohon maaf itu tadi apa, Saudari Yora Iftita Putri?
Aku tetap memilih diam, cari aman. Menunggu Abri menyelesaikan formulirnya sebentar, lalu saat jaraknya sudah 12 langkah lebih jauh dari tempatku, aku buru-buru menarik Seviu berdiri dan mengajaknya pergi. Kembali ke indekos.
Sampai di depan kamar, mencari kunci yang agak lumayan lama, Seviu lagi-lagi menyenggolku dengan sengaja.
“Yor.”
“Hm?”
“Mas yang nyanyi itu kata kamu siapa namanya?”
“Gak tau. Masih jadi rahasia negara. dan secepatnya harus aku bobol. Btw ini mana sih kunciii?! Ah elah, susah amat kayak nyari nilai A.”
“Yor. Kenangan terindah, dies natalis FEB 26 Januari. Gigih Andreas.”
“Hah?” Aku nggak paham. Apa barusan itu adalah soal TTS? Apa di sekitar kamarku kini sedang ada kamera tersembunyi? Apa Seviu ternyata presenter sebuah program televisi? Apa sebentar lagi aku akan menjadi viral?
“Yooor Yor Yor Yor Yor! Yang telepon kamu dari tadi itu mas-mas penyanyi itu. Pake topi item kan?”
“Anjir, Sap! Mana?!” Aku kaget. Buru-buru kurampas ponselnya. Dan ternyata, wow, sebuah DM di instagram Seviu.

Andreasgigih: Halo, temen Yora, kan? Aku Gigih. Eh, mau tanya dong. Yora temen kamu itu galak amat dah? Aku tadi telepon mau tanya-tanya malah dipisuhi. Ada jam-jam tertentu biar dia jinak, gak?
Andreasgigih: Oh, kalau kamu bingung, singgung soal dies natalis ekbis sama lagu Samsons. Yora pasti tau. Makasih ya

Well, aku nggak percaya dengan kebetulan. Semua pasti sudah direncanakan oleh Tuhan. seperti aku yang akhirnya terpaksa kuliah di jurusan pilihan orang tua, diselingkuhi lalu diputusi, sampai satu UKM dengan Abri, bahkan sekarang Mas Gigih sudah terpampang nyata di depan mata. 
Rasanya tidak adil untuk memandang semua hal yang Tuhan beri dengan sebelah mata. Ternyata kebencian yang dulu karena tidak bisa menjalani hidup seperti apa yang aku mau, terbayar lunas dan lebih dengan kehidupanku saat ini. Aku percaya, saat kita merasa tidak beruntung, pada saat itu juga sesungguhnya ada kado indah yang menunggu kita di depan. Cara meraihnya? Tentu saja, dengan terus berjalan. Siapa yang tahu di dalam perjalanan malah justru banyak kejutan?

Ini sudah tahun kedua setelah peristiwa itu. Sekarang, sepertinya kebahagiaan untukku mulai datang satu per satu.

23 comments

mesoh nya gaukur kak wkwk :v

REPLY

Mau lanjottttt ����

REPLY

Ngakak kak naw. Lanjuttt

REPLY

Kak naw, posting di wattpad dong :')

REPLY

uwuwuwuwuww akhirnya. ayok kolab. jangan sama cowok aja, sama aku jugak

REPLY

Uwu uwu naw, ga sabar pengen lanjottt nii

REPLY

misuhnya surabaya banget kak 😂

REPLY

Misuhnya kurang ngegas mbak naw ihh

REPLY

Sukaaaa lanjuutt kak❤

REPLY

kak naaaaw, i love your words!
mau lagi, boleh?

REPLY

Kapan update si kaaak huhu

REPLY

Nawang Nidlo Titisari . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates